- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Herman Budianto dan 8 WNI Bebas dari Penjara Israel, Keluarga di Ponorogo Mengaku...
TS
rizkync108
Herman Budianto dan 8 WNI Bebas dari Penjara Israel, Keluarga di Ponorogo Mengaku...
Kompas.com, 21 Mei 2026, 21:48 WIB
Rachmawati
Editor

KOMPAS.com - Kabar lega datang dari dunia kemanusiaan internasional. Sembilan Warga Negara Indonesia (WNI), termasuk salah satunya Herman Budianto, yang sempat ditahan oleh militer Israel, akhirnya resmi dibebaskan pada Kamis (21/5/2026).
Para WNI tersebut merupakan bagian dari ratusan relawan kemanusiaan yang tergabung dalam misi pelayaran Global Sumud Flotilla (GSF). Saat ini, seluruh WNI dilaporkan tengah menjalani proses deportasi dan pemulangan ke Indonesia melalui jalur internasional.
Keluarga Mengaku Sangat Lega
Kabar pembebasan ini membawa kebahagiaan luar biasa bagi pihak keluarga di Indonesia.
Adik kandung Herman Budianto, Diah Puspasari yang tinggal di Ponorogo mengonfirmasi bahwa pihak keluarga telah menerima informasi resmi mengenai bebasnya sang kakak pada Kamis sore.
"Iya plong rasanya. Alhamdulillah sudah bebas Mas Herman. Kabar itu yang kami terima," ungkap Diah Puspasari saat dikonfirmasi, Kamis (21/5/2026).
Diah menjelaskan, informasi berharga tersebut diterima pihak keluarga sekitar waktu asar, atau sekitar pukul 15.30 WIB.
Kabar itu diteruskan oleh istri Herman Budianto yang terus memantau perkembangan kondisi para WNI melalui grup komunikasi intensif antara keluarga dan relawan pendamping.
"Jam berapa ya tadi. Kayaknya setengah empat sore saya mendapatkan informasi," papar Diah.
Meskipun saat ini belum bisa berkomunikasi atau bertemu secara langsung, pihak keluarga mengaku sangat bersyukur.
Fokus keluarga kini beralih pada pemantauan proses evakuasi dan pemulangan Herman ke tanah air.
"Iya sudah dibebaskan, cuma ini proses perpulangannya masih mantau proses perpulangannya," tambah Diah.
Saat ditanya mengenai perasaan pihak keluarga saat mendengar kabar gembira ini, Diah berulang kali mengungkapkan rasa syukurnya.
"Rasane pripun (rasanya bagaimana) mbak? Plong mbak, plong," tegasnya.
Kendati demikian, rasa khawatir belum sepenuhnya hilang dari benak keluarga. Hal ini dipicu oleh adanya informasi mengenai kondisi fisik para relawan pasca-penahanan dan pemeriksaan ketat oleh otoritas Israel.
"Ada berita butuh kesembuhan karena penyiksaan. Berdoa saja. Butuh proses dan semoga pulang dengan selamat," pungkas Diah.
Dibebaskan dari Penjara Ktziot di Gurun Negev

Secara terpisah, organisasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) turut membenarkan bahwa seluruh relawan kemanusiaan GSF, termasuk sembilan WNI, sudah keluar dari fasilitas penahanan Israel.
Koordinator Media GPCI, Harfin Naqsyabandy, menjelaskan di Jakarta bahwa para relawan sebelumnya ditahan di Penjara Ktziot, sebuah fasilitas penahanan yang terletak di Gurun Negev, dekat dengan perbatasan Jalur Gaza.
Setelah dibebaskan, para relawan langsung diarahkan menuju bandara di wilayah selatan Israel untuk segera diterbangkan keluar dari wilayah hukum negara tersebut.
"Kini mereka sedang dalam proses deportasi dan pemulangan keluar dari wilayah Israel melalui Bandara Ramon/Eilat menuju Istanbul, Turki," ujar Harfin, Kamis (21/5/2026).
Evakuasi Menggunakan Pesawat Pemerintah Turkiye
Berdasarkan laporan The Star, total ada 428 aktivis kemanusiaan lintas negara yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla yang ditangkap dan akhirnya dibebaskan oleh pasukan Israel pada Kamis ini.
Direktur Jenderal Sumud Nusantara Command Centre (SNCC), Sani Araby Abdul Alim Araby, menjelaskan dari Sepang, Malaysia, bahwa proses pemindahan ratusan aktivis dari penjara menuju Bandara Ramon dilakukan menggunakan armada bus.
Untuk mempercepat proses evakuasi, Pemerintah Turkiye mengambil langkah taktis.
Presiden Turkiye, Recep Tayyip Erdogan, dilaporkan langsung mengerahkan tiga armada pesawat komersial Turkish Airlines ke Bandara Ramon untuk menjemput seluruh aktivis.
Para relawan dijadwalkan terbang menuju Istanbul, Turkiye, menggunakan tiga penerbangan khusus yang disponsori penuh oleh Pemerintah Turkiye, yakni dengan nomor penerbangan TK6919, TK6921, dan TK6925.
"Ketiga penerbangan khusus Turkish Airlines tersebut diperkirakan berangkat dari wilayah Israel sekitar pukul 20.00 waktu Malaysia," jelas Sani Araby.
Laporan AFP juga memverifikasi pergerakan massa tersebut. Mereka menyebutkan bahwa mayoritas peserta misi kemanusiaan kini sudah berada di perjalanan atau telah sampai di Bandara Ramon di Israel selatan untuk diterbangkan.
Menteri Luar Negeri Turkiye, Hakan Fidan, menegaskan komitmen penuh negaranya untuk menjamin keselamatan seluruh aktivis, baik warga negara Turkiye maupun warga dari negara ketiga (termasuk Indonesia).
"Kami berencana membawa warga negara kami beserta para peserta dari negara ketiga ke Turkiye melalui penerbangan carter yang akan kami organisasikan hari ini," tegas Menlu Hakan Fidan.
Kronologi Pencegatan Misi Kemanusiaan Gaza
Misi pelayaran kemanusiaan Global Sumud Flotilla ini sejatinya telah dimulai sejak 14 Mei 2026. Sebanyak kurang lebih 50 kapal bertolak dari Turkiye dengan misi utama membawa bantuan logistik guna menembus blokade ketat Israel di Jalur Gaza. Dalam perjalanannya di laut lepas, sejumlah kapal kemanusiaan dari negara lain turut bergabung.
Namun, pada Senin (18/5/2026), pasukan militer Israel mencegat gelombang armada GSF saat berada di perairan internasional di lepas pantai Siprus, sebelum akhirnya melakukan penahanan terhadap seluruh kru dan relawan.
Upaya pelayaran pada Mei 2026 ini menandai percobaan ketiga dalam kurun waktu setahun terakhir oleh konsorsium internasional demi menembus blokade ketat di Gaza.
Sebagai informasi, Jalur Gaza yang saat ini dikendalikan oleh Hamas telah berada di bawah blokade penuh darat, laut, dan udara oleh Israel sejak tahun 2007. Seluruh akses pintu masuk dan keluar wilayah dikontrol ketat oleh otoritas Tel Aviv.
Kondisi kemanusiaan di Gaza kian berada di titik nadir sejak pecahnya perang terbuka antara Israel dan Hamas pada Oktober 2023.
Hingga pertengahan 2026, wilayah kantong tersebut terus didera krisis kemanusiaan yang luar biasa akibat kelangkaan parah bahan makanan, krisis air bersih, obat-obatan, fasilitas medis, hingga pasokan bahan bakar minyak.
sumber
Narasi penculikan dari ormas ijo dan zombie dasteran gagal dong? Padahal mah mereka ditangkep karena coba nerobos otoritas penjagaan ehh dibilang diculik
Udah capek2 bikin crisis center dan siap minta donasi, ehh dilepas sama israel. Kejam bet dah ngerjain orang
Rachmawati
Editor

KOMPAS.com - Kabar lega datang dari dunia kemanusiaan internasional. Sembilan Warga Negara Indonesia (WNI), termasuk salah satunya Herman Budianto, yang sempat ditahan oleh militer Israel, akhirnya resmi dibebaskan pada Kamis (21/5/2026).
Para WNI tersebut merupakan bagian dari ratusan relawan kemanusiaan yang tergabung dalam misi pelayaran Global Sumud Flotilla (GSF). Saat ini, seluruh WNI dilaporkan tengah menjalani proses deportasi dan pemulangan ke Indonesia melalui jalur internasional.
Keluarga Mengaku Sangat Lega
Kabar pembebasan ini membawa kebahagiaan luar biasa bagi pihak keluarga di Indonesia.
Adik kandung Herman Budianto, Diah Puspasari yang tinggal di Ponorogo mengonfirmasi bahwa pihak keluarga telah menerima informasi resmi mengenai bebasnya sang kakak pada Kamis sore.
"Iya plong rasanya. Alhamdulillah sudah bebas Mas Herman. Kabar itu yang kami terima," ungkap Diah Puspasari saat dikonfirmasi, Kamis (21/5/2026).
Diah menjelaskan, informasi berharga tersebut diterima pihak keluarga sekitar waktu asar, atau sekitar pukul 15.30 WIB.
Kabar itu diteruskan oleh istri Herman Budianto yang terus memantau perkembangan kondisi para WNI melalui grup komunikasi intensif antara keluarga dan relawan pendamping.
"Jam berapa ya tadi. Kayaknya setengah empat sore saya mendapatkan informasi," papar Diah.
Meskipun saat ini belum bisa berkomunikasi atau bertemu secara langsung, pihak keluarga mengaku sangat bersyukur.
Fokus keluarga kini beralih pada pemantauan proses evakuasi dan pemulangan Herman ke tanah air.
"Iya sudah dibebaskan, cuma ini proses perpulangannya masih mantau proses perpulangannya," tambah Diah.
Saat ditanya mengenai perasaan pihak keluarga saat mendengar kabar gembira ini, Diah berulang kali mengungkapkan rasa syukurnya.
"Rasane pripun (rasanya bagaimana) mbak? Plong mbak, plong," tegasnya.
Kendati demikian, rasa khawatir belum sepenuhnya hilang dari benak keluarga. Hal ini dipicu oleh adanya informasi mengenai kondisi fisik para relawan pasca-penahanan dan pemeriksaan ketat oleh otoritas Israel.
"Ada berita butuh kesembuhan karena penyiksaan. Berdoa saja. Butuh proses dan semoga pulang dengan selamat," pungkas Diah.
Dibebaskan dari Penjara Ktziot di Gurun Negev

Secara terpisah, organisasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) turut membenarkan bahwa seluruh relawan kemanusiaan GSF, termasuk sembilan WNI, sudah keluar dari fasilitas penahanan Israel.
Koordinator Media GPCI, Harfin Naqsyabandy, menjelaskan di Jakarta bahwa para relawan sebelumnya ditahan di Penjara Ktziot, sebuah fasilitas penahanan yang terletak di Gurun Negev, dekat dengan perbatasan Jalur Gaza.
Setelah dibebaskan, para relawan langsung diarahkan menuju bandara di wilayah selatan Israel untuk segera diterbangkan keluar dari wilayah hukum negara tersebut.
"Kini mereka sedang dalam proses deportasi dan pemulangan keluar dari wilayah Israel melalui Bandara Ramon/Eilat menuju Istanbul, Turki," ujar Harfin, Kamis (21/5/2026).
Evakuasi Menggunakan Pesawat Pemerintah Turkiye
Berdasarkan laporan The Star, total ada 428 aktivis kemanusiaan lintas negara yang tergabung dalam misi Global Sumud Flotilla yang ditangkap dan akhirnya dibebaskan oleh pasukan Israel pada Kamis ini.
Direktur Jenderal Sumud Nusantara Command Centre (SNCC), Sani Araby Abdul Alim Araby, menjelaskan dari Sepang, Malaysia, bahwa proses pemindahan ratusan aktivis dari penjara menuju Bandara Ramon dilakukan menggunakan armada bus.
Untuk mempercepat proses evakuasi, Pemerintah Turkiye mengambil langkah taktis.
Presiden Turkiye, Recep Tayyip Erdogan, dilaporkan langsung mengerahkan tiga armada pesawat komersial Turkish Airlines ke Bandara Ramon untuk menjemput seluruh aktivis.
Para relawan dijadwalkan terbang menuju Istanbul, Turkiye, menggunakan tiga penerbangan khusus yang disponsori penuh oleh Pemerintah Turkiye, yakni dengan nomor penerbangan TK6919, TK6921, dan TK6925.
"Ketiga penerbangan khusus Turkish Airlines tersebut diperkirakan berangkat dari wilayah Israel sekitar pukul 20.00 waktu Malaysia," jelas Sani Araby.
Laporan AFP juga memverifikasi pergerakan massa tersebut. Mereka menyebutkan bahwa mayoritas peserta misi kemanusiaan kini sudah berada di perjalanan atau telah sampai di Bandara Ramon di Israel selatan untuk diterbangkan.
Menteri Luar Negeri Turkiye, Hakan Fidan, menegaskan komitmen penuh negaranya untuk menjamin keselamatan seluruh aktivis, baik warga negara Turkiye maupun warga dari negara ketiga (termasuk Indonesia).
"Kami berencana membawa warga negara kami beserta para peserta dari negara ketiga ke Turkiye melalui penerbangan carter yang akan kami organisasikan hari ini," tegas Menlu Hakan Fidan.
Kronologi Pencegatan Misi Kemanusiaan Gaza
Misi pelayaran kemanusiaan Global Sumud Flotilla ini sejatinya telah dimulai sejak 14 Mei 2026. Sebanyak kurang lebih 50 kapal bertolak dari Turkiye dengan misi utama membawa bantuan logistik guna menembus blokade ketat Israel di Jalur Gaza. Dalam perjalanannya di laut lepas, sejumlah kapal kemanusiaan dari negara lain turut bergabung.
Namun, pada Senin (18/5/2026), pasukan militer Israel mencegat gelombang armada GSF saat berada di perairan internasional di lepas pantai Siprus, sebelum akhirnya melakukan penahanan terhadap seluruh kru dan relawan.
Upaya pelayaran pada Mei 2026 ini menandai percobaan ketiga dalam kurun waktu setahun terakhir oleh konsorsium internasional demi menembus blokade ketat di Gaza.
Sebagai informasi, Jalur Gaza yang saat ini dikendalikan oleh Hamas telah berada di bawah blokade penuh darat, laut, dan udara oleh Israel sejak tahun 2007. Seluruh akses pintu masuk dan keluar wilayah dikontrol ketat oleh otoritas Tel Aviv.
Kondisi kemanusiaan di Gaza kian berada di titik nadir sejak pecahnya perang terbuka antara Israel dan Hamas pada Oktober 2023.
Hingga pertengahan 2026, wilayah kantong tersebut terus didera krisis kemanusiaan yang luar biasa akibat kelangkaan parah bahan makanan, krisis air bersih, obat-obatan, fasilitas medis, hingga pasokan bahan bakar minyak.
sumber
Narasi penculikan dari ormas ijo dan zombie dasteran gagal dong? Padahal mah mereka ditangkep karena coba nerobos otoritas penjagaan ehh dibilang diculik

Udah capek2 bikin crisis center dan siap minta donasi, ehh dilepas sama israel. Kejam bet dah ngerjain orang

atamlee dan 2 lainnya memberi reputasi
3
251
14
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan