Kaskus

News

jaguarxj220Avatar border
TS
jaguarxj220
Kaum Rebahan dan Lelahnya Generasi Muda Menghadapi Ekonomi
Mengapa banyak generasi muda merasa hidup mereka tak kunjung maju meski terus bekerja dan meningkatkan keterampilan? Apakah “kaum rebahan” sebenarnya tanda lelah menghadapi tekanan ekonomi berkepanjangan?



Kaum Rebahan dan Lelahnya Generasi Muda Menghadapi Ekonomi

Data BPS menunjukkan sekitar 59% pekerja Indonesia masih berada di sektor informal pada 2025, mencerminkan besarnya kelompok pekerja dengan pendapatan dan keamanan kerja yang rentan


“Rasanya hidup saya kayak enggak maju-maju. Hidup cuma kayak mengandalkan gaji dari bulan ke bulan, tapi mau coba berubah juga enggak tahu ujungnya ke mana,” kata Magnus, bukan nama sebenarnya.

Di usia 32 tahun, lulusan ekonomi dari sebuah universitas swasta di Jakarta itu tidak pernah membayangkan hidupnya akan berjalan seperti sekarang. Ia sempat bekerja di sebuah startup teknologi dan merasa berada di jalur karier yang menjanjikan.

“Waktu itu semua orang bilang startup adalah masa depan. Saya juga percaya,” ujarnya.

Namun, perusahaan tempatnya bekerja tumbang setelah gelombang efisiensi dan PHK pada awal pandemi. Sejak itu, hidup Magnus berubah drastis. Ia sempat bekerja serabutan, mulai dari admin toko online hingga menjaga pom bensin.

“Yang paling capek itu sebenarnya bukan cuma soal uang, tapi rasa bingung harus mulai lagi dari mana,” katanya.

Kini Magnus bekerja sebagai staf pemasaran di Jakarta dengan gaji pokok sedikit di bawah UMR. Sebagian besar penghasilannya bergantung pada target penjualan. “Kalau target enggak masuk ya penghasilan ikut turun, tapi sekarang saya juga enggak punya banyak pilihan,” ujarnya.

Di usia kepala tiga, Magnus mengaku mulai bingung dengan arah hidupnya. Ia ingin memperbaiki nasib, tetapi merasa ruang untuk mengambil risiko semakin sempit. “Mau pindah jalur takut salah. Mau bertahan juga rasanya hidup jalan di tempat,” katanya.


Magnus sempat terpikir untuk mengambil kursus tambahan untuk meningkatkan keterampilan. Namun, cepatnya perubahan dunia kerja justru membuatnya semakin ragu. “Kadang saya kepikiran mau ambil kursus digital marketing, tapi habis itu bingung lagi, sebenarnya yang bakal kepakai yang mana?” ujarnya.

Laporan Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025menunjukkan tekanan ekonomi menjadi kekhawatiran utama generasi muda global, dengan 48% gen Z dan 46% milenial mengaku tidak merasa aman secara finansial, sementara lebih dari separuh responden menyebut hidup mereka bergantung dari gaji ke gaji di tengah kenaikan biaya hidup.


Generasi muda dalam ancaman permacrisis


Di tengah narasi optimistis pertumbuhan ekonomi, banyak generasi muda justru merasa masa depan semakin sulit diprediksi. Mereka bekerja, terus meningkatkan keterampilan, bahkan memiliki pendidikan lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Namun, di saat yang sama, rasa aman ekonomi terasa semakin jauh.


Harga rumah melambung, biaya hidup meningkat, pekerjaan makin tidak stabil, sementara tabungan dan aset sulit dibangun. Bagi sebagian anak muda, hidup terasa seperti berpindah dari satu krisis ke krisis lain tanpa sempat benar-benar pulih.

Fenomena ini kini semakin sering dibicarakan dalam konsep “
permacrisis”, istilah yang dipopulerkan setelah Collins Dictionary memilihnya sebagai Word of the Yearpada 2022.

Istilah tersebut menggambarkan kondisi ketika masyarakat terus bergerak dari satu krisis ke krisis lain tanpa sempat benar-benar pulih. Mulai dari pandemi, inflasi, perang, krisis iklim, hingga ketidakpastian ekonomi global.

Secara akademik, konsep ini berkaitan dengan gagasan “
polycrisis”, yakni kumpulan krisis yang saling berkaitan. Filsuf Prancis Edgar Morin menggambarkan dunia modern sebagai jaringan sistem yang saling terhubung sehingga gangguan di satu sektor dapat memicu krisis di sektor lain.


Generasi muda di ujung titik nadir


Menurut postdoctoral researcherdi University College London dan research affiliate di Center on Child Protection and Wellbeing (PUSKAPA) Universitas Indonesia, Clara Siagian, kondisi tersebut membuat banyak anak muda hidup dalam ketidakpastian yang berkepanjangan.

“Kalau dulu krisis dipahami sebagai sesuatu yang mengejutkan, tapi jangka pendek, sekarang kita seperti tidak pernah benar-benar keluar dari krisis,” ujarnya kepada DW.

Clara mengatakan, generasi muda saat ini berada di titik nadir transformasi sosial ekonomi global. Mereka menghadapi perubahan teknologi, disrupsi AI, ketidakstabilan ekonomi, perang, hingga perubahan iklim secara bersamaan.

“Semua datang bersamaan dan prospeknya tidak selalu menjanjikan buat orang muda,” katanya. Menurut Clara, salah satu sumber kecemasan terbesar datang dari hilangnya keyakinan bahwa pendidikan dapat menjamin masa depan yang lebih baik.

“Pendidikan dijanjikan sebagai kendaraan mobilitas sosial.
Work hard, get a good education, and then you will move up the ladder, tapi sekarang banyak orang muda melihat janji itu tidak terrealisasi,” ujarnya.

Di saat yang sama, dunia kerja semakin dipenuhi kontrak jangka pendek,
freelance, dan gig economy yang rentan. “Pekerjaan yang ada sekarang gig, freelance, dari satu kontrak ke kontrak lain. Tentunya sangat prekariat,” kata Clara.

Banyak generasi muda akhirnya merasa harus terus melakukan
upskilling agar tetap relevan. Namun, cepatnya perubahan teknologi justru membuat arah pengembangan diri terasa semakin kabur. “Dulu semua orang disuruh belajar coding. Sekarang AI datang. Jadi orang bingung sebenarnya skill apa yang aman buat masa depan,” ujarnya.


Fenomena “kaum rebahan” dan hilangnya hasrat bermobilitas


Meski pemerintah terus menekankan pertumbuhan ekonomi, banyak generasi muda merasa angka-angka ekonomi semakin jauh dari realitas hidup sehari-hari.

Menurut Clara Siagian, ukuran kesejahteraan yang terlalu bertumpu pada pendapatan sering gagal menangkap rasa tidak aman yang dialami masyarakat. “Kalau 1% orang paling kaya asetnya bertambah besar, itu juga tercatat sebagai pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Di tengah tekanan ekonomi berkepanjangan, muncul berbagai fenomena sosial seperti “
lying flat generation” di Cina dan “low desire society” di Jepang, menggambarkan generasi muda yang mulai kehilangan motivasi terhadap sistem ekonomi yang dianggap tidak lagi memberi imbalan setimpal.

Di Indonesia, ekspresi serupa muncul dalam istilah “kaum rebahan.”

Menurut Clara, fenomena itu bukan sekadar candaan media sosial, tetapi refleksi rasa lelah dan hilangnya keyakinan bahwa kerja keras dapat mengubah hidup secara signifikan. “Mereka merasa
kerja keras tidak lagi membuahkan hasil,” ujarnya.

Ia mengatakan banyak anak muda tumbuh dengan janji bahwa pendidikan dan kerja keras akan membawa mobilitas sosial. Namun, realitas yang mereka hadapi justru dipenuhi
pekerjaan tidak stabil, biaya hidup tinggi, dan ketidakpastian masa depan. “Ketika orang merasa tidak punya kesempatan untuk naik kelas sosial, itu juga bentuk kehilangan kesejahteraan,” katanya.

Menurut Clara, media sosial juga membuat keresahan tersebut terasa kolektif. Banyak anak muda menyadari bahwa rasa lelah dan kehilangan arah yang mereka alami ternyata dirasakan generasi lain di berbagai daerah. “
Tidak adil membebankan semua penyelesaian ini kepada generasi muda. Tapi setidaknya ada kesadaran bahwa mereka tidak sendiri,” ujarnya.


https://www.dw.com/id/kaum-rebahan-dan-lelahnya-generasi-muda-menghadapi-ekonomi/a-77162174


Sedih melihat milenialdan gen Z yang semestinya jadi bonus demografi Indonesia, berakhir jadi 'kaum rebahan'.


Ane sebagai gen milenial pun melihat beberapa orang seumuran yang 'gagal'.


Bingung juga mereka salah apa padahal orangnya cukup pintar, kompeten juga.

Apakah salah memilih karier, pendidikan, atau salah lahir di negara ini?

Atau sekedar ga beruntung?


Milenial saja kesusahan cari kerja, apalagi gen z yg masuk pasar kerja saat pandemi.

Apalagi kena tipu jargon '19 juta lapangan kerja'




saya.palsuAvatar border
saya.palsu memberi reputasi
1
247
22
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan