- Beranda
- Komunitas
- Story
- LAGILAGI AKADEMI
Logical Fallacy: Ketika Cara Berpikir Keliru Dianggap Benar
TS
whyabd08
Logical Fallacy: Ketika Cara Berpikir Keliru Dianggap Benar

Di era media sosial seperti sekarang, manusia sangat mudah menerima dan menyebarkan informasi. Hanya dengan satu klik, berita, opini, bahkan perdebatan dapat tersebar ke berbagai tempat dalam hitungan detik. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul satu persoalan besar yang sering tidak disadari, yaitu kesalahan berpikir atau logical fallacy. Banyak orang merasa argumennya benar, padahal cara berpikir yang digunakan sebenarnya keliru dan tidak logis.
Logical fallacy merupakan kesalahan dalam proses penalaran yang menyebabkan seseorang menghasilkan kesimpulan yang tidak tepat. Kesalahan ini biasanya muncul ketika seseorang menyusun argumen yang terlihat meyakinkan, tetapi sebenarnya lemah secara logika. Dalam filsafat ilmu, logical fallacy menjadi pembahasan penting karena dapat memengaruhi kualitas pemikiran dan kebenaran suatu pengetahuan. Menurut Prasetyo (2020), kesalahan berpikir terjadi ketika proses penalaran tidak dilakukan secara rasional dan sistematis sehingga menghasilkan kesimpulan yang keliru.
Masalahnya, kesalahan berpikir tidak hanya terjadi dalam dunia akademik, tetapi juga sangat sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan tanpa disadari, media sosial menjadi tempat paling subur bagi berkembangnya logical fallacy. Banyak orang langsung mempercayai suatu informasi tanpa memeriksa sumber dan isi informasi tersebut secara kritis. Akibatnya, hoaks, fitnah, hingga kesalahpahaman sosial semakin mudah menyebar di masyarakat.
Salah satu bentuk logical fallacy yang paling sering ditemukan adalah ad hominem. Kesalahan ini terjadi ketika seseorang menyerang pribadi lawan diskusi tanpa membahas isi argumennya. Misalnya, seseorang berkata:
Quote:
Kalimat tersebut tidak membahas apakah pendapatnya benar atau salah, tetapi justru menyerang pribadi orangnya. Dalam diskusi ilmiah, cara berpikir seperti ini sangat berbahaya karena membuat orang lebih fokus pada individu dibanding isi pemikirannya. Menurut Prasetyo (2020), ad hominem dapat menghambat proses berpikir rasional dan objektif.
Selain ad hominem, ada juga kesalahan berpikir yang disebut appeal to authority. Ini terjadi ketika seseorang menganggap suatu pernyataan pasti benar hanya karena disampaikan oleh tokoh terkenal, pejabat, atau orang yang memiliki jabatan tertentu. Fenomena seperti ini sangat sering terlihat di media sosial. Banyak masyarakat langsung percaya pada informasi dari influencer atau tokoh publik tanpa melakukan pengecekan fakta terlebih dahulu.
Padahal, popularitas seseorang tidak selalu menjamin kebenaran pendapatnya. Dalam ilmu pengetahuan, suatu informasi harus diuji berdasarkan data, fakta, dan logika, bukan hanya berdasarkan siapa yang menyampaikan. Penelitian Hidayat (2021) menjelaskan bahwa kesalahan berpikir seperti ini membuat masyarakat sulit membedakan antara fakta ilmiah dan opini pribadi.
Logical fallacyjuga memiliki dampak besar dalam dunia penelitian. Penelitian ilmiah seharusnya dilakukan secara objektif dan berdasarkan data yang valid. Namun, kesalahan berpikir dapat membuat peneliti hanya memilih data yang mendukung pendapatnya dan mengabaikan data lain yang bertentangan. Akibatnya, hasil penelitian menjadi bias dan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Fenomena ini sebenarnya cukup sering terjadi dalam dunia akademik modern. Tidak sedikit penelitian yang lebih berfokus pada kepentingan tertentu dibanding pencarian kebenaran ilmiah. Karena itu, logika memiliki peran penting dalam menjaga kualitas penelitian agar proses analisis dan penarikan kesimpulan dilakukan secara rasional. Menurut Hidayat (2021), logika membantu peneliti menjaga validitas penelitian sehingga hasil yang diperoleh dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Di luar dunia penelitian, logical fallacy juga memengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Banyak orang mengambil keputusan hanya berdasarkan emosi, opini mayoritas, atau informasi viral tanpa berpikir kritis terlebih dahulu. Akibatnya, masyarakat menjadi mudah terprovokasi, mudah percaya hoaks, dan sulit membedakan antara fakta dengan opini.
Fenomena ini semakin terlihat jelas di era digital. Perdebatan di media sosial sering kali lebih dipenuhi emosi dibanding argumentasi logis. Banyak orang mempertahankan pendapat bukan karena benar, tetapi karena tidak ingin kalah dalam perdebatan. Menurut Fauzi (2022), rendahnya kemampuan berpikir logis menyebabkan masyarakat kesulitan memahami informasi secara objektif dan rasional.
Karena itu, kemampuan berpikir logis menjadi sangat penting dalam kehidupan modern. Logika membantu manusia menganalisis informasi, memeriksa fakta, serta mengambil keputusan secara bijaksana. Dengan logika, manusia tidak mudah terbawa emosi maupun terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Pada akhirnya, logical fallacy menunjukkan bahwa tidak semua argumen yang terdengar meyakinkan benar secara logis. Di tengah banjir informasi dan cepatnya perkembangan teknologi, manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan rasional. Sebab, kemajuan ilmu pengetahuan dan kehidupan sosial tidak hanya ditentukan oleh banyaknya informasi yang dimiliki manusia, tetapi juga oleh kemampuan manusia dalam memahami dan menalar informasi tersebut secara benar.
Ditulis oleh Eti Wahyuni, Mahasiswa Uniba Madura.
ganakmal.nihh memberi reputasi
1
31
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan