- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Beda Respons Kelas Menengah & Bawah Soal Warga RI Tak Mau Kaya
TS
jaguarxj220
Beda Respons Kelas Menengah & Bawah Soal Warga RI Tak Mau Kaya
Bloomberg Technoz, Jakarta - Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut rakyat Indonesia tidak bermimpi menjadi kaya raya, melainkan hidup layak dan cukup, memunculkan beragam respons di tengah masyarakat.
Kalangan menengah dan bawah memiliki pandangan berbeda dalam memaknai arti “kaya” di tengah kondisi ekonomi yang sedang menghadapi tekanan, mulai dari dampak perang global hingga pelemahan rupiah.
Faris, seorang karyawan swasta, menilai pernyataan bahwa masyarakat Indonesia tidak ingin kaya raya kurang tepat. Menurut dia, banyak orang justru memiliki mimpi menjadi kaya agar bisa membantu keluarga maupun orang lain.
“Sebenarnya orang Indonesia banyak bermimpi jadi orang kaya, dan salah satunya saya mau kok jadi orang kaya, karena sudah kaya bisa membantu banyak orang,” ujar Faris kepada Bloomberg Technoz, Kamis (21/5).
Meski demikian, Faris mengaku kehidupannya saat ini masih tergolong cukup. Setelah enam tahun bekerja, pendapatannya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, menabung, hingga sesekali berlibur.
“Udah bekerja selama 6 tahun, dan justru malah cukup buat sehari-hari, buat liburan, bisa buat nabung juga. Ya karena statement-nya ngawur saja (pemerintah). Orang Indonesia mah pasti mau jadi orang kaya,” katanya.
Berbeda dengan Faris, seorang pedagang sayur bernama Inem justru memandang kekayaan tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Bagi dia, hidup yang tenang dan berkecukupan sudah lebih dari cukup.
“Aku sih ora pengin mimpi jadi orang kaya raya. Penginnya ayem tentrem, semuanya kecukupan,” ujar Inem.
Perempuan yang telah puluhan tahun berjualan sayur itu mengatakan dirinya tidak memiliki ambisi hidup bergelimang harta. Menurut dia, rasa cukup datang dari hati dan rasa syukur atas apa yang dimiliki saat ini.
“Kalau hatiku sudah merasa cukup, ya sudah alhamdulillah. Ada motor, anak bisa sekolah, ada rumah di kampung, itu sudah lebih dari cukup,” tuturnya.
Inem bahkan mengaku tidak ingin memiliki harta berlimpah karena merasa hidup sederhana justru lebih menenangkan. “Aku ndak mau yang kaya banget itu, nanti pusing mikir keluarin zakatnya,” kata dia sambil tertawa.
Perbedaan pandangan tersebut menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia saat ini. Kalangan menengah cenderung masih memiliki aspirasi untuk meningkatkan taraf hidup dan mengejar stabilitas finansial yang lebih besar, terutama di tengah biaya hidup yang terus meningkat. Sementara sebagian masyarakat kelas bawah lebih menekankan rasa aman dan kecukupan dibandingkan dengan mengejar kekayaan besar yang dianggap dapat membawa beban baru.
Sebelumnya, dalam rapat paripurna saat menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF), Presiden Prabowo Subianto mengatakan masyarakat Indonesia lebih mendambakan kehidupan yang tenang, pekerjaan layak, serta pendidikan dan kesehatan yang baik bagi keluarganya.
“Rakyat kita tidak bermimpi untuk mengalami kehidupan yang kaya raya, tapi mereka bermimpi untuk bisa hidup dengan layak, dengan baik,” ujar Prabowo.
Pernyataan itu muncul di tengah situasi ekonomi yang masih menantang. Nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat, dipicu ketidakpastian global dan arus modal asing. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran dan keuangan sehari-hari.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...-tak-mau-kaya/
Dulu pernah ane bilang, hidup di Indon ga usah ngimpi kaya..
Ga bakalan bisa, kecuali pejabat, beserta keluarga dan ani2nya.
Di Indon, cukup keluar duit buat makan, tidur, berak.
Mau kaya dari investasi, beli saham, ya musti di LN..
Kalangan menengah dan bawah memiliki pandangan berbeda dalam memaknai arti “kaya” di tengah kondisi ekonomi yang sedang menghadapi tekanan, mulai dari dampak perang global hingga pelemahan rupiah.
Faris, seorang karyawan swasta, menilai pernyataan bahwa masyarakat Indonesia tidak ingin kaya raya kurang tepat. Menurut dia, banyak orang justru memiliki mimpi menjadi kaya agar bisa membantu keluarga maupun orang lain.
“Sebenarnya orang Indonesia banyak bermimpi jadi orang kaya, dan salah satunya saya mau kok jadi orang kaya, karena sudah kaya bisa membantu banyak orang,” ujar Faris kepada Bloomberg Technoz, Kamis (21/5).
Meski demikian, Faris mengaku kehidupannya saat ini masih tergolong cukup. Setelah enam tahun bekerja, pendapatannya bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, menabung, hingga sesekali berlibur.
“Udah bekerja selama 6 tahun, dan justru malah cukup buat sehari-hari, buat liburan, bisa buat nabung juga. Ya karena statement-nya ngawur saja (pemerintah). Orang Indonesia mah pasti mau jadi orang kaya,” katanya.
Berbeda dengan Faris, seorang pedagang sayur bernama Inem justru memandang kekayaan tidak selalu identik dengan kebahagiaan. Bagi dia, hidup yang tenang dan berkecukupan sudah lebih dari cukup.
“Aku sih ora pengin mimpi jadi orang kaya raya. Penginnya ayem tentrem, semuanya kecukupan,” ujar Inem.
Perempuan yang telah puluhan tahun berjualan sayur itu mengatakan dirinya tidak memiliki ambisi hidup bergelimang harta. Menurut dia, rasa cukup datang dari hati dan rasa syukur atas apa yang dimiliki saat ini.
“Kalau hatiku sudah merasa cukup, ya sudah alhamdulillah. Ada motor, anak bisa sekolah, ada rumah di kampung, itu sudah lebih dari cukup,” tuturnya.
Inem bahkan mengaku tidak ingin memiliki harta berlimpah karena merasa hidup sederhana justru lebih menenangkan. “Aku ndak mau yang kaya banget itu, nanti pusing mikir keluarin zakatnya,” kata dia sambil tertawa.
Perbedaan pandangan tersebut menggambarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia saat ini. Kalangan menengah cenderung masih memiliki aspirasi untuk meningkatkan taraf hidup dan mengejar stabilitas finansial yang lebih besar, terutama di tengah biaya hidup yang terus meningkat. Sementara sebagian masyarakat kelas bawah lebih menekankan rasa aman dan kecukupan dibandingkan dengan mengejar kekayaan besar yang dianggap dapat membawa beban baru.
Sebelumnya, dalam rapat paripurna saat menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM PPKF), Presiden Prabowo Subianto mengatakan masyarakat Indonesia lebih mendambakan kehidupan yang tenang, pekerjaan layak, serta pendidikan dan kesehatan yang baik bagi keluarganya.
“Rakyat kita tidak bermimpi untuk mengalami kehidupan yang kaya raya, tapi mereka bermimpi untuk bisa hidup dengan layak, dengan baik,” ujar Prabowo.
Pernyataan itu muncul di tengah situasi ekonomi yang masih menantang. Nilai tukar rupiah sempat mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat, dipicu ketidakpastian global dan arus modal asing. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin berhati-hati dalam mengatur pengeluaran dan keuangan sehari-hari.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...-tak-mau-kaya/
Dulu pernah ane bilang, hidup di Indon ga usah ngimpi kaya..
Ga bakalan bisa, kecuali pejabat, beserta keluarga dan ani2nya.
Di Indon, cukup keluar duit buat makan, tidur, berak.
Mau kaya dari investasi, beli saham, ya musti di LN..
erwaleste dan 3 lainnya memberi reputasi
4
885
29
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan