- Beranda
- Komunitas
- Story
- LAGILAGI AKADEMI
Petani Menunggu Panen, Buruh Menunggu Gaji, Ojol Menunggu Notifikasi!
TS
whyabd08
Petani Menunggu Panen, Buruh Menunggu Gaji, Ojol Menunggu Notifikasi!

Ada masa ketika tanah adalah segalanya.
Siapa yang punya sawah, ia punya hidup. Siapa yang bisa menanam padi, ia bisa makan. Pada masa itu, manusia bangun sebelum matahari terbit, mencangkul tanah, menunggu hujan, lalu berharap panen tidak gagal. Dunia bergerak pelan, tetapi kehidupan terasa jelas: kerja keras dibayar dengan hasil bumi.
Itulah era agraris.
Ratusan tahun manusia hidup seperti itu. Bahkan di Indonesia, sebagian besar masyarakat dahulu dikenal sebagai petani. Desa menjadi pusat kehidupan. Tanah diwariskan turun-temurun. Anak mengikuti pekerjaan orang tua. Hidup sederhana, tetapi memiliki akar.
Namun sejarah tidak pernah diam.
Ketika Revolusi Industri muncul pada akhir abad ke-18 di Inggris, dunia berubah secara brutal. Mesin mulai menggantikan tenaga manusia. Pabrik-pabrik berdiri. Kota-kota tumbuh cepat. Orang-orang meninggalkan sawah dan berbondong-bondong menjadi buruh.
Dari sinilah lahir era buruh.
Kalau sebelumnya manusia bergantung pada musim, kini mereka bergantung pada jam kerja. Waktu tidak lagi ditentukan oleh matahari, tetapi oleh sirene pabrik. Buruh bekerja belasan jam setiap hari demi upah yang sering kali tidak seberapa.
Tetapi ada satu hal penting: pekerjaan saat itu masih terasa “nyata”.
Ada tempat kerja. Ada atasan. Ada seragam. Ada jam masuk. Ada status sosial yang jelas. Bahkan banyak orang tua dahulu bangga ketika anaknya berhasil menjadi pegawai pabrik atau karyawan tetap.
Lalu internet datang.
Dan semuanya kembali berubah.
Memasuki tahun 2000-an, terutama setelah smartphone berkembang pada 2010-an, dunia kerja mengalami transformasi besar. Kini manusia tidak harus memiliki sawah. Tidak juga harus masuk pabrik. Cukup punya motor, ponsel, dan aplikasi.
Lahirlah era platform digital.
Hari ini kita melihat pengemudi ojek online di mana-mana. Kurir makanan lalu-lalang sejak pagi hingga malam. Anak muda menghasilkan uang dari live streaming, desain freelance, affiliate, hingga konten media sosial.
Kerja menjadi semakin fleksibel.
Namun di balik fleksibilitas itu, ada kenyataan yang sering luput dibicarakan.
Generasi petani dahulu memang miskin, tetapi mereka punya tanah.
Generasi buruh mungkin lelah, tetapi mereka punya kepastian kerja.
Sementara generasi digital hari ini sering kali tidak punya keduanya.
Mereka bekerja tanpa jaminan pasti. Pendapatan naik turun. Hari ini ramai order, besok bisa sepi. Hari ini algoritma aplikasi menguntungkan, besok bisa berubah tanpa penjelasan.
Ironisnya, manusia modern tampak semakin bebas, tetapi justru semakin tergantung pada sistem yang tidak mereka kendalikan.
Dahulu petani menunggu hujan.
Kini driver ojol menunggu notifikasi.
Dahulu buruh takut pada mandor pabrik.
Sekarang pekerja digital takut pada rating bintang dan algoritma aplikasi.
Perubahan zaman ternyata tidak benar-benar menghapus tekanan hidup. Ia hanya mengganti bentuknya.
Di media sosial, banyak orang memamerkan kebebasan kerja era digital. Bisa kerja di mana saja. Bisa jadi “bos untuk diri sendiri”. Bisa menghasilkan uang hanya dari ponsel.
Tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
Ekonomi berbasis digital memang membuka peluang baru, terutama bagi masyarakat kecil. Banyak orang terbantu karena bisa bekerja tanpa syarat pendidikan tinggi. Di Indonesia, layanan seperti ojol bahkan menjadi penyelamat ekonomi bagi jutaan keluarga.
Namun kita juga harus jujur melihat sisi lainnya.
Era digital membuat manusia bekerja hampir tanpa batas waktu. Ponsel membuat pekerjaan terus mengikuti ke mana pun kita pergi. Tidak ada benar-benar “libur”. Tidak ada benar-benar “pulang kerja”.
Bahkan hari ini, banyak anak muda merasa cemas jika sehari saja tidak produktif.
Ini berbeda dengan petani dahulu yang masih bisa duduk santai di teras rumah selepas magrib.
Atau buruh pabrik yang setidaknya tahu kapan jam kerja mereka selesai.
Mungkin inilah ironi terbesar perkembangan zaman.
Teknologi diciptakan untuk mempermudah hidup manusia, tetapi manusia modern justru semakin sibuk mengejar hidup.
Kita hidup lebih cepat, tetapi tidak selalu lebih tenang.
Karena itu, perubahan dari petani ke buruh lalu ke pekerja digital bukan sekadar perubahan jenis pekerjaan. Ini adalah perubahan cara manusia memandang hidup.
Dulu manusia dekat dengan alam.
Lalu manusia dekat dengan mesin.
Sekarang manusia dekat dengan layar.
Pertanyaannya sederhana:
Setelah era ojol dan platform digital ini, manusia akan berubah menjadi apa lagi?
Mungkin kecerdasan buatan akan menggantikan banyak pekerjaan.
Mungkin manusia nanti tidak lagi bekerja secara fisik, tetapi cukup mengendalikan sistem.
Atau mungkin justru manusia akan kembali mencari sesuatu yang dulu pernah hilang: ketenangan hidup.
Sebab sehebat apa pun zaman berubah, manusia tetap mencari hal yang sama sejak dulu.
Bukan sekadar uang.
Tetapi rasa aman untuk bertahan hidup.
Ditulis oleh Wahyu Abadi, Founder Lagilagi Group.
Diubah oleh whyabd08 21-05-2026 09:49
zaitunbening memberi reputasi
1
13
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan