- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Sorotan Tajam Anggota Dewan: Surplus Bank Indonesia di Tengah Tekanan Rupiah
TS
aleksandronesta
Sorotan Tajam Anggota Dewan: Surplus Bank Indonesia di Tengah Tekanan Rupiah
Quote:
Sorotan Tajam Anggota Dewan: Surplus Bank Indonesia di Tengah Tekanan Rupiah
Andy Susanto
Mei 19, 2026

Ketua Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Mukhamad Misbakhun, baru-baru ini menyuarakan keheranannya terkait lonjakan signifikan penerimaan operasional Bank Indonesia (BI) yang dilaporkan melampaui target hingga 212% untuk tahun anggaran 2025. Fenomena ini menjadi sorotan publik, terutama karena terjadi di saat mata uang Rupiah tengah menghadapi tekanan dari Dolar Amerika Serikat, yang secara umum membebani perekonomian masyarakat dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Dalam sebuah forum rapat kerja yang digelar di Kompleks DPR RI, Jakarta, pada Senin, 18 Mei 2026, Misbakhun secara lugas menyampaikan pertanyaan publik yang muncul di benaknya. Ia menyoroti paradoks di mana justru saat Rupiah mengalami pelemahan, penerimaan Bank Indonesia justru mencatatkan angka yang sangat besar. Hal ini menimbulkan spekulasi publik, seperti yang diungkapkan Misbakhun, apakah pelemahan Rupiah ini sengaja dibiarkan demi meraup keuntungan yang lebih besar bagi lembaga bank sentral tersebut.
Data yang dipaparkan oleh Bank Indonesia menunjukkan bahwa realisasi penerimaan Anggaran Operasional hingga kuartal keempat tahun 2025 telah mencapai Rp 66,80 triliun. Angka ini secara mencolok melebihi target Anggaran Tahunan BI (ATBI) yang ditetapkan sebesar Rp 31,49 triliun, atau mencapai 212,08% dari proyeksi awal. Di sisi lain, realisasi pengeluaran operasional tercatat sebesar Rp 22,86 triliun, atau 85,75% dari target yang ditentukan.
Sumber utama lonjakan penerimaan operasional BI ini ternyata berasal dari pos Hasil Pengelolaan Aset Valuta Asing (HPAV). Pos ini saja berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 66,65 triliun, jauh melampaui target awal yang hanya Rp 31,40 triliun, yang berarti realisasinya mencapai 212,25% dari target.
Meskipun angka surplus yang besar ini secara kasat mata bisa dianggap sebagai kinerja positif, Misbakhun berpendapat bahwa lonjakan penerimaan tersebut tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai sebuah prestasi gemilang. Ia menekankan bahwa kenaikan pendapatan BI ini terjadi beriringan dengan pelemahan nilai tukar Rupiah, yang justru menimbulkan beban tambahan bagi sektor industri dan stabilitas keuangan negara secara keseluruhan.
Misbakhun mengemukakan bahwa pencapaian angka di atas 100% dari target tidak otomatis berarti kinerja yang luar biasa, terutama ketika melihat konteks ekonomi yang sedang dihadapi. Ia mengingatkan bahwa di balik surplus BI tersebut, terdapat pengorbanan yang harus ditanggung oleh negara. Salah satunya adalah peningkatan alokasi anggaran dari APBN untuk program-program subsidi, seperti subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG), yang nilainya semakin besar ketika Rupiah melemah. Selain itu, industri yang masih sangat bergantung pada impor bahan baku juga merasakan dampak negatif yang signifikan akibat depresiasi Rupiah.
"Negara harus mengeluarkan dana APBN yang lebih besar untuk memberikan bantalan subsidi BBM, energi, LPG, dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Sementara di saat yang sama, Bank Indonesia justru menikmati peningkatan pendapatan yang cukup besar," ujar Misbakhun, menggambarkan kontras antara beban negara dan keuntungan BI.
Menanggapi kritik dan pertanyaan yang dilontarkan oleh Ketua Komisi XI DPR RI, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, memberikan klarifikasi. Perry dengan tegas membantah tudingan bahwa Bank Indonesia sengaja membiarkan nilai tukar Rupiah melemah demi meningkatkan pundi-pundi lembaga. Ia menjelaskan bahwa surplus yang dihasilkan oleh Bank Indonesia pada akhirnya akan kembali ke kas negara melalui mekanisme setoran kepada pemerintah dan pembayaran pajak.
Perry menekankan bahwa semua surplus yang dicapai oleh BI tidak dimaksudkan untuk memperkaya neraca lembaga semata. Sebaliknya, keuntungan tersebut dikembalikan sepenuhnya kepada pemerintah. "Surplus BI itu semuanya kembali ke pemerintah. Kami juga membayar pajak dalam jumlah besar. Jadi, jika penerimaan kami meningkat, jangan dinilai karena kami ingin menaikkan penerimaan itu sendiri. Kami membayar pajak, surplus kami kembalikan menjadi penerimaan negara. Namun, kami tetap mempertimbangkan bagaimana mencapai keseimbangan antara manfaat dan biaya secara nasional," terang Perry. Ia menambahkan bahwa Bank Indonesia selalu mempertimbangkan dampak kebijakan terhadap kepentingan nasional secara keseluruhan, termasuk aspek manfaat dan biaya dari setiap keputusan ekonomi.
Lha Bank Indonesia kan nggak nyari keuntungan
MemoryExpress dan jpnnberita memberi reputasi
2
79
Kutip
4
Balasan
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan