- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
Misteri Gunung Bengkung
TS
rizma008
Misteri Gunung Bengkung
Misteri Gunung Bengkung,Sebuah cerita fiksi horor,berlatar sejarah kelam wilayah Tasikmayala,terinspirasi dari kisah nyata tentang eksekusi para tawanan gerombolan pemberontak awal kemerdekaan yang bermarkas di goa goa lereng Galunggung.

BAB 1: Langkah yang Salah di Tapak Bengkung.
Kabut tebal berwarna kelabu pekat bergulung perlahan, menyelimuti lereng curam Gunung Bengkung saat sore mulai beranjak padam. Lima sekawan pendaki amatir sekaligus pencinta alam—Rian, Dimas, Bayu, Sela, dan Tyas—melangkah terseok-seok menembus semak belukar yang kian rapat.
Jalur pendakian yang mereka lalui bukanlah rute resmi yang biasa dipetakan oleh Perhutani. Ini adalah jalur tikus, sebuah jalan setapak purba yang tertutup ilalang setinggi dada, terisolasi di salah satu sudut sunyi Kabupaten Tasikmalaya.
Udara dingin yang berembus sore itu terasa tidak biasa; rasanya menusuk hingga ke dalam sumsum tulang, membawa hawa hampa yang membuat bulu kuduk berdiri tanpa alasan jelas.
Suasana begitu sunyi, jenis kesunyian yang mencekam di mana bahkan suara kepakan sayap burung atau derik jangkrik pun enggan terdengar.
"Rian, lu yakin kita nggak tersesat? Tolong cek lagi kompas atau GPS lu," tanya Dimas sambil menghentikan langkah. Ia menyeka keringat dingin yang mengucur deras di dahinya, meski udara di sekitar mereka sangat dingin. "Gua kepikiran omongan kakek di warung desa bawah tadi.
Dia mukanya serius banget pas melarang kita naik lewat jalur ini. Katanya ada batas gaib yang nggak boleh dilanggar sebelum waktu magrib tiba."
Rian, yang berjalan paling depan sebagai pemimpin rombongan, hanya terkekeh meremehkan. Sambil menggoyang-goyangkan ponselnya yang mulai kehilangan sinyal, ia berbalik.
"Ah, lu penakut amat jadi cowok, Dim. Zaman sekarang masih aja percaya mitos begituan. Kita ini penjelajah alam, harus rasional. Kita cuma mau cari spot foto kabut purba yang eksotis buat konten. Lagian, menurut peta lama yang gua temukan di forum pencinta alam, jalur punggungan gunung ini adalah jalan tembusan kuno yang mengarah langsung ke area lereng Galunggung. Aman, percaya sama gua."
Namun, alam seolah-olah langsung menjawab kesombongan Rian dengan pertanda buruk. Tepat ketika semburat cahaya matahari terakhir tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala, angin gunung yang tadinya berembus sepoi-sepoi mendadak mati total.
Keheningan yang luar biasa pekat menjerat seisi hutan. Detik berikutnya, hidung mereka serentak disengat oleh bau yang sangat busuk dan memualkan. Itu bukan bau bangkai binatang biasa, melainkan aroma anyir darah segar yang sangat pekat, berbaur dengan bau besi berkarat dan daging yang membusuk secara tidak wajar. Bau itu begitu kuat hingga membuat Tyas langsung membungkuk dan muntah-muntah di tanah.
"Bau apa ini? Bau ini menyengat banget, seperti bau darah segar yang baru tumpah!" bisik Tyas dengan suara bergetar hebat sambil mencengkeram erat jaket tebal milik Sela. Sela sendiri hanya bisa terdiam membeku, wajahnya mendadak pucat pasi seperti mayat.
Rian yang mulai merasa tidak enak segera menyalakan senter gunungnya yang berdaya tinggi. Sorot cahaya putih membelah kegelapan kabut yang kian menebal. Senter mereka menyapu sekeliling, hingga akhirnya sorot lampu milik Bayu berhenti dan terpaku pada sebuah objek ganjil di tengah sebuah kliring kecil. Di sana, dikelilingi oleh pepohonan tua yang batangnya meliuk-liuk aneh, terdapat sebuah batu monolith raksasa berlumut hitam.
Bagian atas batu itu tidak rata, melainkan memiliki sebuah lekukan melengkung yang sangat halus—sebuah bentuk bengkung—yang ukurannya sangat pas untuk menaruh leher seorang manusia dewasa. Di bawah batu mengerikan itu, tanah tidak berwarna cokelat seperti area sekitarnya, melainkan hitam pekat kemerahan dan mengeluarkan uap tipis yang berbau anyir. Tanah itu tampak seperti telah meminum ribuan liter darah segar selama berpuluh-puluh tahun, mengunci sebuah memori kelam dari masa lalu yang haus darah.
Apa yg akan terjadi pada mereka selanjut nya..nantikan di bab ke.2

BAB 1: Langkah yang Salah di Tapak Bengkung.
Kabut tebal berwarna kelabu pekat bergulung perlahan, menyelimuti lereng curam Gunung Bengkung saat sore mulai beranjak padam. Lima sekawan pendaki amatir sekaligus pencinta alam—Rian, Dimas, Bayu, Sela, dan Tyas—melangkah terseok-seok menembus semak belukar yang kian rapat.
Jalur pendakian yang mereka lalui bukanlah rute resmi yang biasa dipetakan oleh Perhutani. Ini adalah jalur tikus, sebuah jalan setapak purba yang tertutup ilalang setinggi dada, terisolasi di salah satu sudut sunyi Kabupaten Tasikmalaya.
Udara dingin yang berembus sore itu terasa tidak biasa; rasanya menusuk hingga ke dalam sumsum tulang, membawa hawa hampa yang membuat bulu kuduk berdiri tanpa alasan jelas.
Suasana begitu sunyi, jenis kesunyian yang mencekam di mana bahkan suara kepakan sayap burung atau derik jangkrik pun enggan terdengar.
"Rian, lu yakin kita nggak tersesat? Tolong cek lagi kompas atau GPS lu," tanya Dimas sambil menghentikan langkah. Ia menyeka keringat dingin yang mengucur deras di dahinya, meski udara di sekitar mereka sangat dingin. "Gua kepikiran omongan kakek di warung desa bawah tadi.
Dia mukanya serius banget pas melarang kita naik lewat jalur ini. Katanya ada batas gaib yang nggak boleh dilanggar sebelum waktu magrib tiba."
Rian, yang berjalan paling depan sebagai pemimpin rombongan, hanya terkekeh meremehkan. Sambil menggoyang-goyangkan ponselnya yang mulai kehilangan sinyal, ia berbalik.
"Ah, lu penakut amat jadi cowok, Dim. Zaman sekarang masih aja percaya mitos begituan. Kita ini penjelajah alam, harus rasional. Kita cuma mau cari spot foto kabut purba yang eksotis buat konten. Lagian, menurut peta lama yang gua temukan di forum pencinta alam, jalur punggungan gunung ini adalah jalan tembusan kuno yang mengarah langsung ke area lereng Galunggung. Aman, percaya sama gua."
Namun, alam seolah-olah langsung menjawab kesombongan Rian dengan pertanda buruk. Tepat ketika semburat cahaya matahari terakhir tenggelam sepenuhnya di balik cakrawala, angin gunung yang tadinya berembus sepoi-sepoi mendadak mati total.
Keheningan yang luar biasa pekat menjerat seisi hutan. Detik berikutnya, hidung mereka serentak disengat oleh bau yang sangat busuk dan memualkan. Itu bukan bau bangkai binatang biasa, melainkan aroma anyir darah segar yang sangat pekat, berbaur dengan bau besi berkarat dan daging yang membusuk secara tidak wajar. Bau itu begitu kuat hingga membuat Tyas langsung membungkuk dan muntah-muntah di tanah.
"Bau apa ini? Bau ini menyengat banget, seperti bau darah segar yang baru tumpah!" bisik Tyas dengan suara bergetar hebat sambil mencengkeram erat jaket tebal milik Sela. Sela sendiri hanya bisa terdiam membeku, wajahnya mendadak pucat pasi seperti mayat.
Rian yang mulai merasa tidak enak segera menyalakan senter gunungnya yang berdaya tinggi. Sorot cahaya putih membelah kegelapan kabut yang kian menebal. Senter mereka menyapu sekeliling, hingga akhirnya sorot lampu milik Bayu berhenti dan terpaku pada sebuah objek ganjil di tengah sebuah kliring kecil. Di sana, dikelilingi oleh pepohonan tua yang batangnya meliuk-liuk aneh, terdapat sebuah batu monolith raksasa berlumut hitam.
Bagian atas batu itu tidak rata, melainkan memiliki sebuah lekukan melengkung yang sangat halus—sebuah bentuk bengkung—yang ukurannya sangat pas untuk menaruh leher seorang manusia dewasa. Di bawah batu mengerikan itu, tanah tidak berwarna cokelat seperti area sekitarnya, melainkan hitam pekat kemerahan dan mengeluarkan uap tipis yang berbau anyir. Tanah itu tampak seperti telah meminum ribuan liter darah segar selama berpuluh-puluh tahun, mengunci sebuah memori kelam dari masa lalu yang haus darah.
Apa yg akan terjadi pada mereka selanjut nya..nantikan di bab ke.2
Diubah oleh rizma008 19-05-2026 14:01
tariganna dan kulipriok memberi reputasi
2
108
1
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan