- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Rupiah Dekati Rp17.700/US$, Sudah Saatnya BI Rate Naik?
TS
jaguarxj220
Rupiah Dekati Rp17.700/US$, Sudah Saatnya BI Rate Naik?
Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini, Selasa (19/5/2026), dibuka melemah 0,11% di Rp17.675/US$. Tak lama berselang, rupiah kembali tergerus 0,19% ke Rp17.690/US$ pada pukul 09:05 WIB.
Dengan demikian, mata uang Nusantara resmi mencatat rekor terlemah baru.
Rupanya optimisme pelaku pasar terkait perang AS-Iran yang hari ini menyengat pasar Asia belum mampu meredam volatilitas mata uang Garuda. Indeks dolar AS tercatat masih bertahan di level 99,03, dan harga minyak mentah dunia masih dibanderol US$109,41 per barel, meski tercatat turun 2,4% lantaran AS disebut akan menunda serangan terhadap Iran setelah ada permintaan dari para pemimpin negara-negara sekutu di Teluk Persia yang meminta lebih banyak waktu untuk mengejar solusi diplomatik.
Namun, harga minyak mentah global bertahan tinggi di atas US$100 per barel masih menciptakan ketidakpastian di pasar Asia. Terlebih belum ada kabar baik terkait kondisi Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak.
Alhasil, hanya sedikit mata uang kawasan Asia yang bergerak di zona hijau dengan penguatan yang cenderung terbatas. Sebaliknya di zona merah, pelemahan terjadi cukup dalam di beberapa mata uang. Seperti won Korea Selatan, dolar Taiwan, dan rupiah yang menempati posisi ketiga terlemah hari ini.

Dengan demikian, mata uang Nusantara resmi mencatat rekor terlemah baru.
Rupanya optimisme pelaku pasar terkait perang AS-Iran yang hari ini menyengat pasar Asia belum mampu meredam volatilitas mata uang Garuda. Indeks dolar AS tercatat masih bertahan di level 99,03, dan harga minyak mentah dunia masih dibanderol US$109,41 per barel, meski tercatat turun 2,4% lantaran AS disebut akan menunda serangan terhadap Iran setelah ada permintaan dari para pemimpin negara-negara sekutu di Teluk Persia yang meminta lebih banyak waktu untuk mengejar solusi diplomatik.
Namun, harga minyak mentah global bertahan tinggi di atas US$100 per barel masih menciptakan ketidakpastian di pasar Asia. Terlebih belum ada kabar baik terkait kondisi Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak.
Alhasil, hanya sedikit mata uang kawasan Asia yang bergerak di zona hijau dengan penguatan yang cenderung terbatas. Sebaliknya di zona merah, pelemahan terjadi cukup dalam di beberapa mata uang. Seperti won Korea Selatan, dolar Taiwan, dan rupiah yang menempati posisi ketiga terlemah hari ini.

Mata uang kawasan Asia pada Selasa pagi (19/5/2026). (Bloomberg)
Pelemahan rupiah yang cenderung persisten ini telah memicu spekulasi dan tekanan terhadap Bank Indonesia untuk kembali mengambil langkah kebijakan yang lebih hawkish dengan menaikkan suku bunga acuan, setidaknya menjadi 5%. Sebab, intervensi yang dilakukan untuk stabilisasi belum terlihat mampu meredam volatilitas rupiah.
Fakhrul Fulvian Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia menilai kondisi saat ini bukan lagi semata-mata persoalan harga minyak atau arah suku bunga The Fed, melainkan mulai menyentuh persoalan yang lebih fundamental, yaitu kredibilitas jangkar kebijakan makroekonomi Indonesia.
“Dalam situasi seperti ini, bank sentral tidak hanya sedang mengelola inflasi. Bank sentral sedang mempertahankan policy anchoritu sendiri. Ketika pasar mulai mempertanyakan di mana terminal level rupiah, di mana inflation anchor, dan bagaimana koordinasi fiskal-moneter akan berjalan, maka biaya stabilisasi ke depan bisa menjadi jauh lebih mahal,” terang Fakhrul.
Fakhrul menilai risiko terbesar akan muncul ketika pasar mulai kehilangan keyakinan terhadap respons kebijakan yang dianggap terlalu lambat dibanding kecepatan tekanan eksternal. Dalam situasi seperti itu, volatilitas rupiah dapat meningkat jauh lebih tajam karena pelaku pasar cenderung melakukan repositioning secara agresif.
Menurut Lionel Priyadi Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, kenaikan BI Rate dibutuhkan untuk mengurangi distorsi suku bunga pada sektor perbankan.
Lionel menyebut tekanan depresiasi terhadap rupiah juga berpeluang berlanjut menuju rentang Rp17,650/US$ hingga Rp17,750/US$ hari ini. "Kami memperkirakan kenaikan BI Rate 25 basis poin (bps) menjadi 5% besok, akibat kuatnya tekanan depresiasi terhadap rupiah," sebut Lionel.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XI DPR RI, kemarin, Gubernur BI Perry Warjiyo sepertinya sudah berkirim sinyal adanya langkah hawkish yang akan ditempuh BI.
Ia mengatakan tekanan global yang meningkat membuat kebijakan moneter tidak lagi bisa sepenuhnya diarahkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi seperti tahun lalu.
“Kalau di 2025 monetary policy pada waktu prosperity and growth, maka dengan global seperti ini, monetary policy-nya tidak bisa lagi pro growth. Harus kembali kepada stability,” kata Perry.
Tingginya suku bunga AS, lonjakan yield US Treasury, hingga ketegangan geopolitik global mendorong penguatan dolar AS dan memicu pelarian modal dari negara berkembang. Menurut Perry, kondisi tersebut membuat BI harus lebih agresif menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan domestik, termasuk melalui kemungkinan penguatan kebijakan moneter.
Fakhrul Fulvian Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia menilai kondisi saat ini bukan lagi semata-mata persoalan harga minyak atau arah suku bunga The Fed, melainkan mulai menyentuh persoalan yang lebih fundamental, yaitu kredibilitas jangkar kebijakan makroekonomi Indonesia.
“Dalam situasi seperti ini, bank sentral tidak hanya sedang mengelola inflasi. Bank sentral sedang mempertahankan policy anchoritu sendiri. Ketika pasar mulai mempertanyakan di mana terminal level rupiah, di mana inflation anchor, dan bagaimana koordinasi fiskal-moneter akan berjalan, maka biaya stabilisasi ke depan bisa menjadi jauh lebih mahal,” terang Fakhrul.
Fakhrul menilai risiko terbesar akan muncul ketika pasar mulai kehilangan keyakinan terhadap respons kebijakan yang dianggap terlalu lambat dibanding kecepatan tekanan eksternal. Dalam situasi seperti itu, volatilitas rupiah dapat meningkat jauh lebih tajam karena pelaku pasar cenderung melakukan repositioning secara agresif.
Menurut Lionel Priyadi Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, kenaikan BI Rate dibutuhkan untuk mengurangi distorsi suku bunga pada sektor perbankan.
Lionel menyebut tekanan depresiasi terhadap rupiah juga berpeluang berlanjut menuju rentang Rp17,650/US$ hingga Rp17,750/US$ hari ini. "Kami memperkirakan kenaikan BI Rate 25 basis poin (bps) menjadi 5% besok, akibat kuatnya tekanan depresiasi terhadap rupiah," sebut Lionel.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XI DPR RI, kemarin, Gubernur BI Perry Warjiyo sepertinya sudah berkirim sinyal adanya langkah hawkish yang akan ditempuh BI.
Ia mengatakan tekanan global yang meningkat membuat kebijakan moneter tidak lagi bisa sepenuhnya diarahkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi seperti tahun lalu.
“Kalau di 2025 monetary policy pada waktu prosperity and growth, maka dengan global seperti ini, monetary policy-nya tidak bisa lagi pro growth. Harus kembali kepada stability,” kata Perry.
Tingginya suku bunga AS, lonjakan yield US Treasury, hingga ketegangan geopolitik global mendorong penguatan dolar AS dan memicu pelarian modal dari negara berkembang. Menurut Perry, kondisi tersebut membuat BI harus lebih agresif menjaga stabilitas rupiah dan pasar keuangan domestik, termasuk melalui kemungkinan penguatan kebijakan moneter.
Jika langkah hawkishtidak diambil, maka risiko yang dihadapi bukan hanya pelemahan rupiah yang akan berlanjut, tetapi juga meningkatnya tekanan pada pasar obligasi, likuiditas domestik.
Dalam situasi seperti saat ini, pasar mulai membaca adanya selisih yang makin tipis antara yield aset rupiah dengan risiko yang harus ditanggung investor.
“Kalau suku bunga dalam negeri tidak naik, ya outflow. Kalau tidak mau outflow, maka suku bunga domestik harus naik,” kata Perry.
Dalam situasi seperti saat ini, pasar mulai membaca adanya selisih yang makin tipis antara yield aset rupiah dengan risiko yang harus ditanggung investor.
“Kalau suku bunga dalam negeri tidak naik, ya outflow. Kalau tidak mau outflow, maka suku bunga domestik harus naik,” kata Perry.
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/109304/rupiah-dekati-rp17-700-us-sudah-saatnya-bi-rate-naik/
BI rate naik, beban bunga naik. Economic growth pasti tertekan.
Tapi value rupiah bisa dijaga.
BI harus berani independen menentukan pilihan.
Bukannya disetir Fiskal, ikutin apa maunya Purbaya.
jpnnberita dan 2 lainnya memberi reputasi
3
132
7
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan