Kaskus

Entertainment

cristal308Avatar border
TS
cristal308
Ajang Perang Di Puncak Gunung
Puncak gunung seharusnya jadi tempat paling damai, tempat menikmati kemenangan setelah berjuang menanjak berjam-jam, menyaksikan matahari terbit di atas awan, dan merasakan kebesaran alam. Tapi belakangan ini, pemandangan itu berubah. Bukan lagi kebersamaan dan kekaguman yang terlihat, melainkan keributan, adu mulut, bahkan nyaris baku hantam—gara-gara hal sepele. Ini jadi fenomena aneh: pendaki zaman sekarang, dikit-dikit berantem pas sudah sampai di puncak.
Ajang Perang Di Puncak Gunung

Contoh paling jelas baru saja terjadi akhir April lalu di Gunung Lawu. Di titik tertinggi Hargo Dumilah, dua rombongan besar asal Bandung dan Bogor saling dorong-dorongan, emosi memuncak sampai ada yang terjatuh dan terinjak. Pemicunya? Hanya berebutan tempat berfoto di plakat penanda ketinggian, tempat ikonik yang selalu jadi incaran semua orang. Padahal ruang di sana sempit, pengunjung padat, dan seharusnya cukup dengan antre tertib. Tapi kenapa malah jadi ajang perang?

Kalau diingat-ingat dulu, pendaki itu identik dengan sopan santun, saling bantu, dan mengutamakan kebersamaan. Kalau ada yang butuh air, dibagi. Kalau ada yang lemas, dituntun. Di puncak, semua duduk berdekatan, berbagi cerita, sama-sama menikmati pemandangan. Sekarang? Semuanya berubah drastis. Tujuan utama pendakian seolah bukan lagi menikmati alam, tapi cuma untuk dapat foto bagus, biar kelihatan keren di media sosial. Buktinya, keributan hampir selalu bermula dari hal sama: berebutan sudut pandang terbaik, tempat paling ikonik, atau antrean foto yang dianggap terlalu lama.
Ajang Perang Di Puncak Gunung

Ada banyak alasan kenapa keanehan ini makin sering terjadi. Pertama, jumlah pendaki melonjak tajam, apalagi saat liburan atau akhir pekan. Jalur pendakian yang dulunya sepi, sekarang penuh sesak sampai ke puncak. Ruang terbatas, orang bertumpuk-tumpuk, kesabaran pun gampang habis. Kedua, banyak yang mendaki cuma ikut-ikutan tren, tanpa paham etika dan budaya pendakian. Mereka datang lewat paket wisata, cuma ingin sampai puncak, foto-foto, lalu turun. Tidak ada rasa menghargai sesama pendaki maupun alam sekitar. Ketiga, kelelahan fisik dan kurangnya oksigen di ketinggian bikin emosi gampang meledak. Sedikit saja tersenggol atau terpotong antrean, langsung marah besar.

Yang paling disayangkan, puncak gunung yang dulunya dianggap tempat sakral, kini jadi seperti pasar atau tempat rebutan hak. Padahal etika dasar pendakian itu sederhana: antre, bergantian, dan saling menghargai. Foto bisa diambil di mana saja, pemandangannya sama indahnya. Kenapa harus berebut satu titik saja sampai berantem? Tindakan ini tidak cuma memalukan, tapi juga berbahaya. Di tempat tinggi, licin, dan berangin, desakan-desakan bisa bikin orang jatuh dan celaka. Belum lagi merusak citra dunia pendakian Indonesia yang selama ini dikenal ramah dan sopan.
Ajang Perang Di Puncak Gunung

Keanehan ini jadi teguran keras buat kita semua. Mendaki gunung itu bukan sekadar soal sampai ke puncak dan dapat foto bagus. Ada nilai, etika, dan tanggung jawab yang harus dibawa. Jangan sampai kemenangan sampai di atas, malah berakhir dengan rasa malu dan keributan. Sudah saatnya kita kembali ke inti pendakian: menghargai alam, saling membantu, dan menjaga kedamaian—terutama di puncak, tempat kita semua sama-sama berjuang sampai ke sana. Jangan biarkan puncak gunung makin sering jadi ajang pertengkaran yang tidak perlu.

Ajang Perang Di Puncak Gunung
aliezreiAvatar border
satriaberkudisAvatar border
kubelti3Avatar border
kubelti3 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1.5K
9
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan