Kaskus

News

satuklikAvatar border
TS
satuklik
Film Pesta Babi Ditakuti Pemerintah Konglomerat
Film Pesta Babi Ditakuti Pemerintah Konglomerat Foto Rakyat Papua



"PESTA BABI & 3.125 BOM ATOM HIROSIMA DIBUTUHKAN UNTUK MERATAKAN 2,5 JUTA HEKTAR HUTAN PAPUA SELATAN UNTUK PROYEK STRATEGIS NASIONAL: BENAR -BENAR PESTA BABI GILA"

Satu klik.Id
Di atas tanah Papua Selatan, manusia sedang menyaksikan sebuah paradoks peradaban: atas nama pembangunan dan ketahanan pangan, jutaan hektar hutan tropis primer dan hutan rawa—paru-paru kehidupan—terancam diubah menjadi lanskap sunyi tanpa nyawa.

Film dokumenter Pesta Babi menjadi simbol perlawanan moral terhadap ancaman ekologis yang oleh banyak ilmuwan lingkungan disebut sebagai salah satu potensi bencana ekologis terbesar abad ini di Asia Pasifik.Tujuan Film ini mendokumentasikan konflik antara Proyek Strategi Nasional dan Suku-suku asli setempat, menyisakan pertanyaan scientific.
Kira-kira, butuh energi berapa besar untuk mencapai tujuan ambisius dan "gila" meratakan hutan primer dan hutan rawa tertutup untuk bisa siap pakai menanam Sawit dan Tebu seluas 2,5 juta hektar?

Mari kita membuat pengandaian ilmiah dari ilmu fisika dan matematika.
Secara matematis, skala kehancuran 2,5 juta hektar hutan Papua Selatan untuk bisa diolah menjadi lahan pertaniam hampir sulit dibayangkan oleh pikiran manusia biasa.
Luas itu setara dengan:
Bom atom Hiroshima “Little Boy” pada tahun 1945 memiliki daya ledak sekitar 15 kiloton TNT, dengan radius kehancuran total sekitar 1,6 km.
Area kehancuran efektifnya dapat dihitung dengan formula/rumus sebagai berikut:

L = ɲr²
L = 3,4 x (1,6km)² = 8km²

Maka jumlah bom yang diperlukan untuk meratakan area 25.000 km² adalah:

25.000km² : 8km² = 3.125

Artinya, pembabatan 2,5 juta hektar hutan tropis Papua Selatan secara ekologis setara dengan menjatuhkan 3.125  bom atom Hiroshima di atas tanah Papua di bagian selatan: Wikaya  Asmat, Wilayah Boven Digoel, Wilayah Mappi dan Wilayah Merauke.

Bedanya, ledakan nuklir di Hirosima  menghancurkan dalam hitungan detik, sedangkan untuk pembabatan hutan di wilayah Papua Selatan menghancurkan perlahan namun permanen: mematikan sungai, memusnahkan kasuari, walabi, rusa, ikan air tawar, dan ribuan spesies endemik yang tidak ada di tempat lain di bumi.

Dari pengandaian empiris dibatas Kehancuran ini bukan sekadar kehilangan pohon. Ini adalah keruntuhan sistem penyangga kehidupan. Hutan rawa dan hutan hujan tropis Papua menyimpan karbon raksasa, menghasilkan oksigen, menjaga siklus hujan, dan menstabilkan iklim regional hingga global.

Ketika jutaan hektar itu hilang, dunia kehilangan salah satu benteng terakhir melawan krisis iklim.
Efek kolateralnya bersifat apokaliptik: banjir ekstrem, kekeringan, suhu meningkat, krisis pangan, konflik sosial, hingga hilangnya identitas masyarakat adat lintas generasi. Harga yang dibayar bukan hanya oleh orang Papua, tetapi oleh Indonesia dan dunia.

Karena itu, pertanyaan sejarahnya sederhana namun mengerikan: apakah manusia modern rela menciptakan kiamat ekologis demi proyek yang mungkin hanya berlangsung beberapa dekade, tetapi meninggalkan luka bumi selama ratusan tahun.
0
31
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan