Prabowo: Negara Tak Bisa Bertahan Kalau Beras dan Energi Masih Bergantung Impor
17 Mei 2026, 08:05Presiden Prabowo Subianto memandang pangan dan energi kunci bertahan atau runtuhnya sebuah negara. (Foto: Rusman - Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden)

TUBAN — Presiden Prabowo Subianto memandang pangan dan energi kunci bertahan atau runtuhnya sebuah negara. Karena itu, pemerintah mulai mendorong agenda besar swasembada pangan sekaligus penguatan energi berbasis sumber daya lokal.
Pesan itu disampaikan Prabowo saat Panen Raya Jagung Serentak Kuartal II di Tuban, Jawa Timur, Sabtu, 16 Mei 2026.
Menurut Prabowo, pengalaman sebagai mantan komandan pasukan tempur membuat dirinya memahami arti strategis pangan.
“Kalau pasukan tidak ada beras, tidak bisa perang,” kata Prabowo.
Ia mengatakan setiap operasi militer selalu dimulai dengan menghitung cadangan makanan sebelum menghitung peluru. Karena itu, negara yang tidak mampu menjaga pangan akan sulit bertahan saat krisis.
Prabowo juga mengingat kembali masa perang kemerdekaan ketika tentara dan polisi hidup dari bantuan rakyat desa.
“Petani yang dukung tentara dan polisi. Mereka kasih pisang, ubi, tiwul,” ujarnya.
Menurut Presiden, petani dan nelayan adalah fondasi utama negara karena menjadi produsen pangan nasional.
Namun pidato Prabowo di Tuban tidak berhenti di urusan panen jagung. Ia mulai mengaitkan pangan dengan ketahanan energi dan industri nasional.
Prabowo mengaku terkejut melihat inovasi pemanfaatan tongkol jagung menjadi briket energi.
“Sekarang bisa jadi sumber energi. Luar biasa ini,” katanya.
Ia juga menyoroti pengembangan pupuk dari batu bara kalori rendah yang dinilai bisa mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pupuk impor.
“Begitu kita lepas dari ketergantungan pupuk dari luar negeri, kita menjadi sangat kuat,” ujar Prabowo.
Menurutnya, inovasi seperti itu penting di tengah krisis energi dunia. Pemerintah, kata Prabowo, tidak boleh membiarkan Indonesia terus bergantung pada pasokan luar negeri untuk sektor strategis.
Ia meminta seluruh inovasi pangan dan energi segera diterapkan di lapangan, bukan berhenti sebagai konsep atau proyek pameran.
“Konsep bagus kalau tidak bisa diwujudkan percuma,” katanya.
Prabowo juga mengaitkan agenda pangan dengan Koperasi Merah Putih, Makan Bergizi Gratis, hingga pembangunan sekolah rakyat. Seluruh program itu saling terhubung untuk memperkuat daya tahan ekonomi nasional.
“Kita harus beri kebutuhan rakyat dengan harga semurah-murahnya supaya daya beli meningkat,” ujarnya.
Prabowo menegaskan ketahanan pangan, energi, dan distribusi logistik kini menjadi bagian dari agenda besar menjaga kedaulatan Indonesia di tengah situasi global yang tidak stabil.