Mentan Amran Tegaskan Data Stok Beras Nasional Valid, Kalau Salah Masuk Penjara
Kamis, 14 Mei 2026 - 13:47 WIB
Oleh :
Mokhamad Dofir
Mokhamad Dofir
Mentan Amran Sulaiman.
Sumber :
Istimewa
Share :
Surabaya, Viva Jatim – Menteri Pertanian (Menta) Andi Amran Sulaiman menegaskan data stok beras nasional yang saat ini mencapai 5,3 juta ton merupakan data valid dan tidak perlu diragukan. Bahkan, Amran menyebut ada konsekuensi hukum apabila data tersebut tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.
Menurutnya, pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan gudang dapat dipidana jika terbukti memberikan laporan palsu. Pernyataan tegas itu disampaikan saat kunjungan kerja ke Gudang Sewa BULOG di Komplek Pergudangan Bumi Maspion, Jalan Romokalisari, Kota Surabaya, Rabu, 13 Mei 2026.
"Kalau ini data tidak benar, mana kepala gudang? Itu dipenjara tuh. Langsung masuk. Enggak perlu diperiksa lama," tegas Amran.
Amran mengatakan, stok beras nasional saat ini menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Ia menyebut kapasitas gudang BULOG yang semula hanya mampu menampung sekitar 3 juta ton kini sudah melebihi daya tampung sehingga pemerintah harus menyewa tambahan gudang.
"Sekarang 5 juta ton, sudah sewa 2 juta ton," lanjutnya.
Amran melanjutkan, keberadaan stok fisik di gudang menjadi bukti nyata peningkatan produksi beras nasional. Dirinya pun menegaskan bahwa data tersebut tidak hanya berasal dari Kementerian Pertanian, tetapi juga diperkuat oleh sejumlah lembaga nasional dan internasional yang kredibel.
Pejabat berusia 58 tahun tersebut lalu menyampaikan, data produksi beras Indonesia berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 34,6 juta ton. Angka tersebut, kata dia, juga diperkuat data dari Food and Agriculture Organization (FAO) serta United States Department of Agriculture (USDA).
"Jadi tiga data dunia maupun nasional mengatakan produksi kita 34,6 juta ton. Bukan kata Menteri Pertanian," katanya.
Ia menilai capaian tersebut menunjukkan kondisi pangan nasional dalam keadaan aman di tengah ancaman krisis pangan global. Menurutnya, Indonesia saat ini justru berada dalam kondisi surplus beras ketika sejumlah negara mengalami tekanan akibat perubahan iklim dan gangguan distribusi pangan.
"Di saat krisis pangan global maupun energi, Indonesia sekarang surplus pangan, khususnya beras," ucapnya.
Selain stok beras, Amran juga menyinggung sejumlah indikator sektor pertanian yang disebut mengalami peningkatan. Ia mengatakan Nilai Tukar Petani (NTP) menjadi yang tertinggi dalam 33 tahun terakhir berdasarkan data BPS.
Sementara itu, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sektor pertanian yang sebelumnya berada di angka 0,67 persen kini disebut meningkat menjadi 5,7 persen.
Amran menambahkan pemerintah terus memperkuat sektor pertanian melalui perbaikan infrastruktur irigasi, penyederhanaan distribusi pupuk subsidi, hingga penggunaan benih unggul tahan kekeringan guna menghadapi ancaman El Nino.
"Jadi sampai Maret tahun [2027] depan, cukup stok kita [Indonesia] sekarang," tandasnya.