- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
[CERPEN] Pesan Dari Surga
TS
aurora..
[CERPEN] Pesan Dari Surga
Langit sore di atas pesantren putri tampak mendung. Angin membawa bau tanah basah dari sawah di belakang asrama putri. Dari teras kantor pesantren, Shara memandangi halaman yang mulai sepi setelah para santriwati masuk ke kelas sore.
Sudah tiga bulan sejak ibunya meninggal. Tiga bulan, tetapi rasanya seperti baru kemarin Shara menggenggam tangan dingin ibunya di ruang ICU.
Shara menarik napas panjang sambil menahan sesak di dadanya. Tangannya masih sibuk memeriksa buku absensi santriwati, mengecek laporan dapur, lalu membalas pesan wali santri yang tak ada habisnya.
Di usianya yang baru 20 tahun, pundaknya terasa terlalu kecil untuk semua tanggung jawab itu.
Dulu, semua terasa mudah karena ada ibunya, Maya, ustazah paling sabar di pesantren itu.
Orang-orang sering berkata bahwa Maya tidak pernah marah. Bahkan, beberapa ustazah lain heran bagaimana mungkin seorang manusia bisa setenang itu menghadapi anak-anak remaja yang keras kepala.
Namun Shara tahu, ibunya bukan tidak pernah kesal. Ibunya hanya memilih untuk tetap lembut, dan itu jauh lebih sulit.
***
Ingatan Shara melayang pada satu kejadian setahun lalu.
Saat itu seorang santriwati bernama Lina ketahuan mencuri uang Maya sebesar 500 ribu rupiah. Uang itu sebenarnya untuk membeli obat kanker prostat ayahnya.
Ustazah senior bernama Bu Rahmi sangat marah.
“Anak seperti ini harus dikasih pelajaran!” bentak Bu Rahmi waktu itu
Lina menangis ketakutan di tengah aula.
“Biar kapok! Gundulin saja rambutnya!”
Beberapa santriwati langsung pucat. Namun, Maya yang sedang duduk lemah karena sakit malah berdiri perlahan.
“Bu Rahmi,” ucap Maya lembut
“Itu terlalu kejam untuk anak-anak.”
“Tapi dia mencuri!”
Maya menatap Lina yang menangis tersedu-sedu.
“Nak,” ucap Maya pelan
“Mencuri itu dosa. Nanti Tuhan marah. Tapi, kalau kamu mau berubah, Tuhan masih sayang.”
Lina langsung sujud sambil menangis minta maaf, dan anehnya, sejak hari itu, Lina benar-benar berubah menjadi anak yang rajin.
***
Shara dulu tidak mengerti bagaimana ibunya bisa setenang itu. Sekarang, ia baru sadar bahwa kesabaran ternyata bukan bakat. Kesabaran adalah perjuangan setiap hari.
Satu bulan sebelum meninggal, Maya sudah tidak bisa berjalan jauh. Glioblastoma yang menggerogoti otaknya membuat tubuhnya semakin lemah.
Hari itu, hujan turun deras. Shara membantu ibunya minum obat kanker di kamar sederhana mereka yang berada di samping pesantren.
Maya memandang putrinya lama sekali.
“Shara.”
“Iya, Bu?”
“Kamu capek?”
Shara tersenyum kecil.
“Nggak.”
Padahal, ia sangat lelah. Kuliah online yang berantakan. Mengurus administrasi pesantren. Mengurus ibunya. Dan menghadapi rasa takut kehilangan.
Maya mengusap tangan Shara perlahan.
“Nanti kalau Ibu nggak ada…”
“Bu, jangan ngomong begitu.”
Maya tersenyum lemah.
“Kamu harus terusin kebaikan Ibu.”
Shara menunduk.
“Aku nggak sekuat Ibu.”
“Bukan soal kuat.”
Maya terbatuk kecil sebelum melanjutkan.
“Kalau ada sesuatu di luar kendali kita… sabar.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Shara sampai sekarang. Namun, kenyataan tidak semudah nasihat.
***
Sejak Maya meninggal, banyak santriwati mulai membanding-bandingkan Shara dengan ibunya.
“Kalau Bu Maya pasti nggak gitu…”
“Bu Maya lebih lembut…”
“Bu Maya nggak pernah marah…”
Kalimat-kalimat itu menusuk diam-diam.
Shara berusaha sabar saat ada santriwati kabur dari kelas. Saat ada santriwati yang mencuri ponsel sesama santriwati. Saat ada santriwati yang bertengkar sampai jambak-jambakan. Shara tetap mencoba tenang.
Namun, ada satu hal yang perlahan menghancurkan kesabarannya, yaitu seorang anak kecil bernama Nadia, anak tetangga kampung.
Usianya baru 5 tahun.
Setiap kali melihat Shara, Nadia selalu menjerit ketakutan lalu berlari sambil menangis histeris.
“TOLONG! JANGAN GUNDULIN NADIA!”
Awalnya, Shara bingung. Ia bahkan tidak mengenal anak itu dekat-dekat.
Namun, kejadian itu terus berulang. Saat Shara lewat gang kecil menuju warung, Nadia menjerit. Saat Shara menyapu halaman pesantren, Nadia lari ketakutan. Bahkan, suatu hari saat Shara sedang membawa belanjaan, Nadia menangis sambil berteriak di depan banyak orang.
“JANGAN CUKUR RAMBUT NADIAAA!”
Warga sekitar langsung menoleh.
Shara merasa wajahnya panas.
Beberapa ibu-ibu mulai berbisik.
“Ada apa ya?”
“Shara galak sama anak kecil?”
Padahal, Shara bahkan tidak pernah menyentuh Nadia.
Lama-lama, rasa malu berubah jadi luka. Shara mulai merasa harga dirinya diinjak-injak. Bukan karena Nadia kurang ajar, melainkan karena Nadia takut padanya tanpa alasan, dan ketakutan itu membuat orang lain memandang Shara seperti monster.
***
Suatu sore, Shara sedang mengawasi santriwati mencuci piring di dapur umum. Kepalanya pening sejak pagi. Belum lagi, ada wali santri yang memprotes aturan baru. Belum lagi dengan laporan keuangan yang kacau. Belum lagi dengan rasa rindu pada ibunya yang tidak pernah hilang.
Tiba-tiba, dari depan pagar pesantren terdengar suara kecil.
“Itu Bu Shara!”
Shara menoleh. Nadia berdiri di dekat gang bersama beberapa anak lain. Begitu mata mereka bertemu, Nadia langsung menjerit.
“AAAAA! TOLONG! JANGAN GUNDULIN NADIA!”
Anak itu lari sambil menangis. Teman-temannya ikut tertawa. Dan entah mengapa, sesuatu di dalam diri Shara pecah.
Shara melangkah ke teras pesantren dengan napas memburu. Wajahnya merah. Dadanya sesak. Lalu, untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, Shara berteriak sangat keras.
“bodoh!! OTAKMU TARUH DI MANA HAH?!”
Suasana langsung sunyi. Para santriwati membeku.
“Awas ya! Kalau sampai kamu ketangkep, Tante pukul kamu!!”
Nadia menangis lebih keras lalu lari terbirit-birit.
Shara masih gemetar. Napasnya berat. Dan detik berikutnya, ia menyesal.
Santriwati-santriwati memandangnya dengan takut. Ada yang sampai hampir menangis. Shara merasa seperti baru saja menjadi orang lain.
Dinda, santriwati 14 tahun yang paling dekat dengannya, tampak pucat.
“Mbak…”
Shara langsung sadar. Shara berlutut di depan Dinda dan beberapa santri lain.
“Dik… jangan takut, sayang.”
Suaranya bergetar.
“Ibu nggak marah ke kalian. Ibu cuma marah sama anak itu.”
Namun, bahkan saat mengucapkannya, hati Shara terasa hancur. Sebab, ia tahu, ibunya tidak akan melakukan itu.
***
Malamnya, Shara tidak bisa tidur. Hujan turun pelan di luar jendela. Ia duduk sendirian di kamar ibunya yang sekarang kosong. Masih ada mukena putih Maya yang tergantung rapi. Masih ada aroma minyak kayu putih kesukaan ibunya. Dan di atas meja kecil, masih ada Al-Qur’an milik Maya.
Shara memeluk lutut sambil menangis pelan.
“Bu… aku gagal.”
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
“Aku nggak sesabar Ibu…”
Shara teringat wajah Nadia yang ketakutan. Teringat para santri yang memandangnya seperti orang asing. Dan yang paling menyakitkan, ia merasa mengkhianati pesan ibunya. Kalau ada sesuatu di luar kendali kita, sabarlah. Namun, bagaimana caranya sabar saat mental sendiri sudah pecah?
***
Keesokan harinya, Shara mencoba mencari tahu tentang Nadia secara diam-diam. Ia bertanya pada salah satu ibu penjual di warung dekat gang.
“Oh, Nadia?” ucap ibu itu
“Kasihan sebenarnya anaknya.”
“Kenapa?”
“Dia sering dibully sama anak-anak kampung.”
Shara mengernyit.
“Dibully?”
Ibu itu mengangguk.
“Mereka bilang Nadia manusia tumor yang diangkat dari rahim karena lahir caesar.”
Shara terdiam.
“Terus anak-anak itu suka nakut-nakutin dia.”
“Takut-takutin gimana?”
“Kata mereka, kalau Nadia membalas, nanti dilaporkan ke Bu Shara.”
Dada Shara terasa dingin.
“Mereka bilang Bu Shara suka menghukum anak nakal dengan menggunduli rambut.”
Shara langsung membeku.
“Oh ya Allah…”
“Nadia percaya,” lanjut ibu itu pelan
“Namanya juga anak kecil.”
Shara merasa seperti ditampar.
Jadi, selama ini, Nadia tidak membencinya?
Nadia hanya ketakutan, dan ketakutan itu ditanamkan oleh anak-anak lain.
Tiba-tiba, rasa bersalah memenuhi dada Shara. Ia teringat teriakannya kemarin.
Bagi Shara, mungkin itu hanya ledakan emosi sesaat.
Namun, bagi Nadia? Mungkin itu adalah mimpi buruk yang menjadi nyata.
***
Sore itu juga, Shara mencari anak-anak yang suka membully Nadia. Ada 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan usia TK. Awalnya, mereka menyangkal. Namun, akhirnya mereka mengaku setelah ditegur orang tua mereka.
“Kalian tahu nggak akibatnya?” tanya Shara tegas
Anak-anak itu menunduk.
“Kalian bikin Nadia takut sama orang yang bahkan nggak pernah nyakitin dia.”
Salah satu anak mulai menangis.
“Kami cuma bercanda…”
“Bercanda yang bikin orang trauma namanya bukan bercanda.”
Nada suara Shara tegas, tetapi kali ini tidak meledak-ledak. Ia teringat ibunya yang lembut tetapi bukan berarti lemah.
Akhirnya, Shara meminta orang tua mereka mengawasi pergaulan anak-anak itu lebih baik.
Namun, masalah belum selesai.
Nadia masih takut padanya.
***
Dua hari kemudian, Shara meminta bantuan Bu Rahmi.
Ustazah senior yang dulu pernah ingin menggunduli santriwati pencuri itu kini justru paling dekat dengan Shara setelah Maya meninggal.
“Bu,” ucap Shara pelan
“Bisa bantu saya?”
“Mau apa?”
“Tolong bilang ke Nadia kalau saya enggak pernah hukum anak kecil.”
Bu Rahmi tersenyum kecil.
“Kamu perhatian juga ternyata.”
Shara menunduk malu.
“Saya kebablasan kemarin…”
“Manusia bisa marah, Shara.”
“Tapi Ibu saya sabar terus.”
Bu Rahmi menghela napas.
“Kamu tahu nggak? Dulu ibumu juga pernah marah.”
Shara terkejut.
“Hah? Kenapa?”
“Waktu ada santri kabur malam-malam. Ibumu nangis setelah marah karena merasa bersalah.”
Shara terdiam.
“Tapi bedanya,” lanjut Bu Rahmi
“Ibumu selalu memperbaiki kesalahannya.”
Kalimat itu membuat dada Shara terasa hangat. Mungkin, kesabaran bukan berarti tidak pernah gagal, melainkan mau bangkit setelah gagal.
***
Beberapa hari kemudian, Bu Rahmi berhasil berbicara dengan Nadia. Awalnya, anak itu masih takut. Namun, perlahan ia mulai percaya.
“Bu Shara nggak suka gundulin anak kecil,” ucap Bu Rahmi lembut
“Beneran?”
“Iya. Bu Shara juga nggak mau mukul Nadia.”
Nadia tampak ragu.
“Terus, kenapa waktu itu Bu Shara mau mukul Nadia?”
“Karena Bu Shara capek.”
Nadia menunduk kecil.
“Kayak Papaku kalau capek?”
“Iya.”
Anak kecil itu tampak berpikir lama.
***
Seminggu kemudian, Shara sedang menyiram tanaman di depan pesantren saat mendengar langkah kecil mendekat. Ia menoleh perlahan. Nadia berdiri di sana, masih malu-malu, masih menjaga jarak.
Namun, kali ini, Nadia tidak lari.
Shara berjongkok pelan agar sejajar dengan tinggi anak itu.
“Nadia.”
Anak itu menggigit bibir.
“Tante… marah?”
Shara merasa tenggorokannya sesak. Ia menggeleng perlahan.
“Nggak.”
“Nadia nggak digundulin?”
Shara hampir menangis mendengarnya.
“Nggak, sayang.”
Nadia diam sebentar sebelum bertanya pelan.
“Beneran?”
“Iya.”
Lalu, untuk pertama kalinya, Shara tersenyum tulus pada anak itu.
“Nadia rambutnya kan bagus. Kenapa harus digundulin?”
Nadia terlihat bingung, seolah selama ini ia benar-benar percaya rambutnya akan dicukur habis.
Shara mengulurkan sebungkus roti kecil.
“Kamu mau makan roti?”
Nadia ragu-ragu sebelum mengambilnya.
“Terima kasih Tante…”
Shara tertawa kecil.
“Sama-sama.”
Dan saat Nadia tidak lari setelah itu, entah mengapa mata Shara terasa panas. Hubungan mereka membaik perlahan.
Kadang, Nadia mulai berani melambaikan tangan dari ujung gang.
Kadang, Nadia duduk di dekat pagar pesantren sambil menggambar.
Bahkan, pada suatu sore, Nadia memberanikan diri masuk ke halaman pesantren untuk memberi bunga liar hasil petikannya.
“Ini bunga kuning buat Tante…”
Shara menerimanya sambil tersenyum.
“Terima kasih, Nak.”
Nadia memandangnya dengan hati-hati.
“Tante nggak galak lagi?”
Shara tertawa lirih.
“Insya Allah nggak.”
Anak itu mengangguk puas, dan untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, Shara merasa dadanya sedikit ringan.
***
Malam itu, Shara kembali duduk di kamar ibunya. Namun, kali ini, ia tidak menangis. Ia membuka Al-Qur’an milik Maya perlahan. Di sela halamannya, ada secarik kertas kecil bertuliskan tangan ibunya.
[Kalau hatimu lelah menghadapi manusia, ingatlah bahwa Allah selalu melihat usahamu.]
Air mata Shara jatuh lagi. Namun, kali ini, bukan karena putus asa. Ia tersenyum kecil sambil memeluk kertas itu.
“Bu… aku masih belajar.” gumam Shara
Angin malam berembus pelan dari jendela. Di luar sana, terdengar suara santriwati menghafal Al-Qur’an. Dan untuk pertama kalinya dalam 3 bulan terakhir, Shara merasa pesan ibunya belum pernah pergi. Pesan itu hidup di dalam kesabarannya, di dalam usahanya memperbaiki diri, dan di dalam keberaniannya untuk tetap lembut di dunia yang sering kali kasar.
Mungkin itulah yang dimaksud ibunya sejak awal. Pesan dari surga. Bukan tentang menjadi manusia sempurna, melainkan tentang terus memilih kebaikan bahkan setelah hati berkali-kali terluka.
TAMAT
Keterangan: Cerpen ini ditulis dalam rangka Hari Kenaikan Yesus Kristus.
@pabuaranwetan @sahabat.006 @jonrender
Sudah tiga bulan sejak ibunya meninggal. Tiga bulan, tetapi rasanya seperti baru kemarin Shara menggenggam tangan dingin ibunya di ruang ICU.
Shara menarik napas panjang sambil menahan sesak di dadanya. Tangannya masih sibuk memeriksa buku absensi santriwati, mengecek laporan dapur, lalu membalas pesan wali santri yang tak ada habisnya.
Di usianya yang baru 20 tahun, pundaknya terasa terlalu kecil untuk semua tanggung jawab itu.
Dulu, semua terasa mudah karena ada ibunya, Maya, ustazah paling sabar di pesantren itu.
Orang-orang sering berkata bahwa Maya tidak pernah marah. Bahkan, beberapa ustazah lain heran bagaimana mungkin seorang manusia bisa setenang itu menghadapi anak-anak remaja yang keras kepala.
Namun Shara tahu, ibunya bukan tidak pernah kesal. Ibunya hanya memilih untuk tetap lembut, dan itu jauh lebih sulit.
***
Ingatan Shara melayang pada satu kejadian setahun lalu.
Saat itu seorang santriwati bernama Lina ketahuan mencuri uang Maya sebesar 500 ribu rupiah. Uang itu sebenarnya untuk membeli obat kanker prostat ayahnya.
Ustazah senior bernama Bu Rahmi sangat marah.
“Anak seperti ini harus dikasih pelajaran!” bentak Bu Rahmi waktu itu
Lina menangis ketakutan di tengah aula.
“Biar kapok! Gundulin saja rambutnya!”
Beberapa santriwati langsung pucat. Namun, Maya yang sedang duduk lemah karena sakit malah berdiri perlahan.
“Bu Rahmi,” ucap Maya lembut
“Itu terlalu kejam untuk anak-anak.”
“Tapi dia mencuri!”
Maya menatap Lina yang menangis tersedu-sedu.
“Nak,” ucap Maya pelan
“Mencuri itu dosa. Nanti Tuhan marah. Tapi, kalau kamu mau berubah, Tuhan masih sayang.”
Lina langsung sujud sambil menangis minta maaf, dan anehnya, sejak hari itu, Lina benar-benar berubah menjadi anak yang rajin.
***
Shara dulu tidak mengerti bagaimana ibunya bisa setenang itu. Sekarang, ia baru sadar bahwa kesabaran ternyata bukan bakat. Kesabaran adalah perjuangan setiap hari.
Satu bulan sebelum meninggal, Maya sudah tidak bisa berjalan jauh. Glioblastoma yang menggerogoti otaknya membuat tubuhnya semakin lemah.
Hari itu, hujan turun deras. Shara membantu ibunya minum obat kanker di kamar sederhana mereka yang berada di samping pesantren.
Maya memandang putrinya lama sekali.
“Shara.”
“Iya, Bu?”
“Kamu capek?”
Shara tersenyum kecil.
“Nggak.”
Padahal, ia sangat lelah. Kuliah online yang berantakan. Mengurus administrasi pesantren. Mengurus ibunya. Dan menghadapi rasa takut kehilangan.
Maya mengusap tangan Shara perlahan.
“Nanti kalau Ibu nggak ada…”
“Bu, jangan ngomong begitu.”
Maya tersenyum lemah.
“Kamu harus terusin kebaikan Ibu.”
Shara menunduk.
“Aku nggak sekuat Ibu.”
“Bukan soal kuat.”
Maya terbatuk kecil sebelum melanjutkan.
“Kalau ada sesuatu di luar kendali kita… sabar.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Shara sampai sekarang. Namun, kenyataan tidak semudah nasihat.
***
Sejak Maya meninggal, banyak santriwati mulai membanding-bandingkan Shara dengan ibunya.
“Kalau Bu Maya pasti nggak gitu…”
“Bu Maya lebih lembut…”
“Bu Maya nggak pernah marah…”
Kalimat-kalimat itu menusuk diam-diam.
Shara berusaha sabar saat ada santriwati kabur dari kelas. Saat ada santriwati yang mencuri ponsel sesama santriwati. Saat ada santriwati yang bertengkar sampai jambak-jambakan. Shara tetap mencoba tenang.
Namun, ada satu hal yang perlahan menghancurkan kesabarannya, yaitu seorang anak kecil bernama Nadia, anak tetangga kampung.
Usianya baru 5 tahun.
Setiap kali melihat Shara, Nadia selalu menjerit ketakutan lalu berlari sambil menangis histeris.
“TOLONG! JANGAN GUNDULIN NADIA!”
Awalnya, Shara bingung. Ia bahkan tidak mengenal anak itu dekat-dekat.
Namun, kejadian itu terus berulang. Saat Shara lewat gang kecil menuju warung, Nadia menjerit. Saat Shara menyapu halaman pesantren, Nadia lari ketakutan. Bahkan, suatu hari saat Shara sedang membawa belanjaan, Nadia menangis sambil berteriak di depan banyak orang.
“JANGAN CUKUR RAMBUT NADIAAA!”
Warga sekitar langsung menoleh.
Shara merasa wajahnya panas.
Beberapa ibu-ibu mulai berbisik.
“Ada apa ya?”
“Shara galak sama anak kecil?”
Padahal, Shara bahkan tidak pernah menyentuh Nadia.
Lama-lama, rasa malu berubah jadi luka. Shara mulai merasa harga dirinya diinjak-injak. Bukan karena Nadia kurang ajar, melainkan karena Nadia takut padanya tanpa alasan, dan ketakutan itu membuat orang lain memandang Shara seperti monster.
***
Suatu sore, Shara sedang mengawasi santriwati mencuci piring di dapur umum. Kepalanya pening sejak pagi. Belum lagi, ada wali santri yang memprotes aturan baru. Belum lagi dengan laporan keuangan yang kacau. Belum lagi dengan rasa rindu pada ibunya yang tidak pernah hilang.
Tiba-tiba, dari depan pagar pesantren terdengar suara kecil.
“Itu Bu Shara!”
Shara menoleh. Nadia berdiri di dekat gang bersama beberapa anak lain. Begitu mata mereka bertemu, Nadia langsung menjerit.
“AAAAA! TOLONG! JANGAN GUNDULIN NADIA!”
Anak itu lari sambil menangis. Teman-temannya ikut tertawa. Dan entah mengapa, sesuatu di dalam diri Shara pecah.
Shara melangkah ke teras pesantren dengan napas memburu. Wajahnya merah. Dadanya sesak. Lalu, untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, Shara berteriak sangat keras.
“bodoh!! OTAKMU TARUH DI MANA HAH?!”
Suasana langsung sunyi. Para santriwati membeku.
“Awas ya! Kalau sampai kamu ketangkep, Tante pukul kamu!!”
Nadia menangis lebih keras lalu lari terbirit-birit.
Shara masih gemetar. Napasnya berat. Dan detik berikutnya, ia menyesal.
Santriwati-santriwati memandangnya dengan takut. Ada yang sampai hampir menangis. Shara merasa seperti baru saja menjadi orang lain.
Dinda, santriwati 14 tahun yang paling dekat dengannya, tampak pucat.
“Mbak…”
Shara langsung sadar. Shara berlutut di depan Dinda dan beberapa santri lain.
“Dik… jangan takut, sayang.”
Suaranya bergetar.
“Ibu nggak marah ke kalian. Ibu cuma marah sama anak itu.”
Namun, bahkan saat mengucapkannya, hati Shara terasa hancur. Sebab, ia tahu, ibunya tidak akan melakukan itu.
***
Malamnya, Shara tidak bisa tidur. Hujan turun pelan di luar jendela. Ia duduk sendirian di kamar ibunya yang sekarang kosong. Masih ada mukena putih Maya yang tergantung rapi. Masih ada aroma minyak kayu putih kesukaan ibunya. Dan di atas meja kecil, masih ada Al-Qur’an milik Maya.
Shara memeluk lutut sambil menangis pelan.
“Bu… aku gagal.”
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.
“Aku nggak sesabar Ibu…”
Shara teringat wajah Nadia yang ketakutan. Teringat para santri yang memandangnya seperti orang asing. Dan yang paling menyakitkan, ia merasa mengkhianati pesan ibunya. Kalau ada sesuatu di luar kendali kita, sabarlah. Namun, bagaimana caranya sabar saat mental sendiri sudah pecah?
***
Keesokan harinya, Shara mencoba mencari tahu tentang Nadia secara diam-diam. Ia bertanya pada salah satu ibu penjual di warung dekat gang.
“Oh, Nadia?” ucap ibu itu
“Kasihan sebenarnya anaknya.”
“Kenapa?”
“Dia sering dibully sama anak-anak kampung.”
Shara mengernyit.
“Dibully?”
Ibu itu mengangguk.
“Mereka bilang Nadia manusia tumor yang diangkat dari rahim karena lahir caesar.”
Shara terdiam.
“Terus anak-anak itu suka nakut-nakutin dia.”
“Takut-takutin gimana?”
“Kata mereka, kalau Nadia membalas, nanti dilaporkan ke Bu Shara.”
Dada Shara terasa dingin.
“Mereka bilang Bu Shara suka menghukum anak nakal dengan menggunduli rambut.”
Shara langsung membeku.
“Oh ya Allah…”
“Nadia percaya,” lanjut ibu itu pelan
“Namanya juga anak kecil.”
Shara merasa seperti ditampar.
Jadi, selama ini, Nadia tidak membencinya?
Nadia hanya ketakutan, dan ketakutan itu ditanamkan oleh anak-anak lain.
Tiba-tiba, rasa bersalah memenuhi dada Shara. Ia teringat teriakannya kemarin.
Bagi Shara, mungkin itu hanya ledakan emosi sesaat.
Namun, bagi Nadia? Mungkin itu adalah mimpi buruk yang menjadi nyata.
***
Sore itu juga, Shara mencari anak-anak yang suka membully Nadia. Ada 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan usia TK. Awalnya, mereka menyangkal. Namun, akhirnya mereka mengaku setelah ditegur orang tua mereka.
“Kalian tahu nggak akibatnya?” tanya Shara tegas
Anak-anak itu menunduk.
“Kalian bikin Nadia takut sama orang yang bahkan nggak pernah nyakitin dia.”
Salah satu anak mulai menangis.
“Kami cuma bercanda…”
“Bercanda yang bikin orang trauma namanya bukan bercanda.”
Nada suara Shara tegas, tetapi kali ini tidak meledak-ledak. Ia teringat ibunya yang lembut tetapi bukan berarti lemah.
Akhirnya, Shara meminta orang tua mereka mengawasi pergaulan anak-anak itu lebih baik.
Namun, masalah belum selesai.
Nadia masih takut padanya.
***
Dua hari kemudian, Shara meminta bantuan Bu Rahmi.
Ustazah senior yang dulu pernah ingin menggunduli santriwati pencuri itu kini justru paling dekat dengan Shara setelah Maya meninggal.
“Bu,” ucap Shara pelan
“Bisa bantu saya?”
“Mau apa?”
“Tolong bilang ke Nadia kalau saya enggak pernah hukum anak kecil.”
Bu Rahmi tersenyum kecil.
“Kamu perhatian juga ternyata.”
Shara menunduk malu.
“Saya kebablasan kemarin…”
“Manusia bisa marah, Shara.”
“Tapi Ibu saya sabar terus.”
Bu Rahmi menghela napas.
“Kamu tahu nggak? Dulu ibumu juga pernah marah.”
Shara terkejut.
“Hah? Kenapa?”
“Waktu ada santri kabur malam-malam. Ibumu nangis setelah marah karena merasa bersalah.”
Shara terdiam.
“Tapi bedanya,” lanjut Bu Rahmi
“Ibumu selalu memperbaiki kesalahannya.”
Kalimat itu membuat dada Shara terasa hangat. Mungkin, kesabaran bukan berarti tidak pernah gagal, melainkan mau bangkit setelah gagal.
***
Beberapa hari kemudian, Bu Rahmi berhasil berbicara dengan Nadia. Awalnya, anak itu masih takut. Namun, perlahan ia mulai percaya.
“Bu Shara nggak suka gundulin anak kecil,” ucap Bu Rahmi lembut
“Beneran?”
“Iya. Bu Shara juga nggak mau mukul Nadia.”
Nadia tampak ragu.
“Terus, kenapa waktu itu Bu Shara mau mukul Nadia?”
“Karena Bu Shara capek.”
Nadia menunduk kecil.
“Kayak Papaku kalau capek?”
“Iya.”
Anak kecil itu tampak berpikir lama.
***
Seminggu kemudian, Shara sedang menyiram tanaman di depan pesantren saat mendengar langkah kecil mendekat. Ia menoleh perlahan. Nadia berdiri di sana, masih malu-malu, masih menjaga jarak.
Namun, kali ini, Nadia tidak lari.
Shara berjongkok pelan agar sejajar dengan tinggi anak itu.
“Nadia.”
Anak itu menggigit bibir.
“Tante… marah?”
Shara merasa tenggorokannya sesak. Ia menggeleng perlahan.
“Nggak.”
“Nadia nggak digundulin?”
Shara hampir menangis mendengarnya.
“Nggak, sayang.”
Nadia diam sebentar sebelum bertanya pelan.
“Beneran?”
“Iya.”
Lalu, untuk pertama kalinya, Shara tersenyum tulus pada anak itu.
“Nadia rambutnya kan bagus. Kenapa harus digundulin?”
Nadia terlihat bingung, seolah selama ini ia benar-benar percaya rambutnya akan dicukur habis.
Shara mengulurkan sebungkus roti kecil.
“Kamu mau makan roti?”
Nadia ragu-ragu sebelum mengambilnya.
“Terima kasih Tante…”
Shara tertawa kecil.
“Sama-sama.”
Dan saat Nadia tidak lari setelah itu, entah mengapa mata Shara terasa panas. Hubungan mereka membaik perlahan.
Kadang, Nadia mulai berani melambaikan tangan dari ujung gang.
Kadang, Nadia duduk di dekat pagar pesantren sambil menggambar.
Bahkan, pada suatu sore, Nadia memberanikan diri masuk ke halaman pesantren untuk memberi bunga liar hasil petikannya.
“Ini bunga kuning buat Tante…”
Shara menerimanya sambil tersenyum.
“Terima kasih, Nak.”
Nadia memandangnya dengan hati-hati.
“Tante nggak galak lagi?”
Shara tertawa lirih.
“Insya Allah nggak.”
Anak itu mengangguk puas, dan untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal, Shara merasa dadanya sedikit ringan.
***
Malam itu, Shara kembali duduk di kamar ibunya. Namun, kali ini, ia tidak menangis. Ia membuka Al-Qur’an milik Maya perlahan. Di sela halamannya, ada secarik kertas kecil bertuliskan tangan ibunya.
[Kalau hatimu lelah menghadapi manusia, ingatlah bahwa Allah selalu melihat usahamu.]
Air mata Shara jatuh lagi. Namun, kali ini, bukan karena putus asa. Ia tersenyum kecil sambil memeluk kertas itu.
“Bu… aku masih belajar.” gumam Shara
Angin malam berembus pelan dari jendela. Di luar sana, terdengar suara santriwati menghafal Al-Qur’an. Dan untuk pertama kalinya dalam 3 bulan terakhir, Shara merasa pesan ibunya belum pernah pergi. Pesan itu hidup di dalam kesabarannya, di dalam usahanya memperbaiki diri, dan di dalam keberaniannya untuk tetap lembut di dunia yang sering kali kasar.
Mungkin itulah yang dimaksud ibunya sejak awal. Pesan dari surga. Bukan tentang menjadi manusia sempurna, melainkan tentang terus memilih kebaikan bahkan setelah hati berkali-kali terluka.
TAMAT
Keterangan: Cerpen ini ditulis dalam rangka Hari Kenaikan Yesus Kristus.
@pabuaranwetan @sahabat.006 @jonrender
skinnyhooper dan 7 lainnya memberi reputasi
8
1.1K
6
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan