- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Rupiah Makin Lemah, Sentuh Rp17.500/US$
TS
jaguarxj220
Rupiah Makin Lemah, Sentuh Rp17.500/US$
Bloomberg Technoz, Jakarta - Rupiah belum punya cukup tenaga untuk kembali menguat setelah melemah sejak Jumat pekan lalu. Pagi ini, Selasa (12/5/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali anjlok 0,42% dan bertengger di Rp17.485/US$.
Tak lama berselang, pelemahan mata uang Nusantara makin dalam 0,44% ke posisi Rp17.488/US$ pada 09:05 WIB dan menempati posisi kedua terlemah setelah Won Korea Selatan.
Bahkan pada pukul 09:17 WIB, rupiah sudah menyentuh Rp17.500/US$. Rupiah pun resmi mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah di perdagangan intraday.
Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama berada di 98,1, kembali naik setelah kemarin sempat berada di level 97. Sementara harga minyak mentah jenis Brent juga masih dibanderol mahal US$104 per barel, menyusul ketidakpastian arah penyelesaian perang Timur Tengah.
Di kawasan, won Korea Selatan tergerus paling dalam 0,88%. Disusul rupiah, peso Filipina 0,45%, yen Jepang 0,23%, ringgit Malaysia 0,21%, dolar Singapura 0,17%, dolar Taiwan 0,04%, dan yuan offshore 0,04%.
Sebaliknya, hanya baht Thailand menguat 0,15% dan dolar Hong Kong 0,01%.
Melemahnya mata uang kawasan terimbas dari ketidaksepakatan antara AS dan Iran dalam penyelesaian konflik Timur Tengah. Pernyataan Presiden Donald Trump di sosial medianya memicu kekhawatiran pasar bahwa AS akan kembali melanjutkan serangan terhadap Iran.
Dari domestik, sejumlah data ekonomi belum mampu menopang laju rupiah. Ketidakpastian arah kebijakan terkait pengenaan royalti terhadap hasil tambang, ditambah belum jelasnya arah penambahan pendapatan negara di tengah belanja yang nilainya jumbo membuat pasar khawatir dengan kondisi fiskal.
Selain itu, vonis dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan hari ini menambah beban pagi pergerakan aset berdenominasi rupiah. Pasar akan mencermati pengumuman dari MSCI terkait potensi penurunan bobot Indoneia dalam indeks global tersebut.
Tekanan terhadap rupiah hari ini menunjukkan bahwa pasar sepertinya tak cuma bereaksi terhadap faktor eksternal seperti perang dan lonjakan harga minyak. Lebih dari itu, pasar mulai mencermati dan menimbang kualitas fundamental domestik.
Meski pertumbuhan kuartal I-2026 tercatat 5,61% melampaui ekspektasi ekonom, tetapi transmisi yang minim ke sektor riil menjadi catatan bagi para investor.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...h-rp17-500-us/
Jangankan lawan USD, SGD, EUR
Lawan mata uang Yaman aja Rupiah keok..

Mata uang lawak..
Tak lama berselang, pelemahan mata uang Nusantara makin dalam 0,44% ke posisi Rp17.488/US$ pada 09:05 WIB dan menempati posisi kedua terlemah setelah Won Korea Selatan.
Bahkan pada pukul 09:17 WIB, rupiah sudah menyentuh Rp17.500/US$. Rupiah pun resmi mencatat posisi terlemah sepanjang sejarah di perdagangan intraday.
Indeks dolar AS terhadap enam mata uang utama berada di 98,1, kembali naik setelah kemarin sempat berada di level 97. Sementara harga minyak mentah jenis Brent juga masih dibanderol mahal US$104 per barel, menyusul ketidakpastian arah penyelesaian perang Timur Tengah.
Di kawasan, won Korea Selatan tergerus paling dalam 0,88%. Disusul rupiah, peso Filipina 0,45%, yen Jepang 0,23%, ringgit Malaysia 0,21%, dolar Singapura 0,17%, dolar Taiwan 0,04%, dan yuan offshore 0,04%.
Sebaliknya, hanya baht Thailand menguat 0,15% dan dolar Hong Kong 0,01%.
Melemahnya mata uang kawasan terimbas dari ketidaksepakatan antara AS dan Iran dalam penyelesaian konflik Timur Tengah. Pernyataan Presiden Donald Trump di sosial medianya memicu kekhawatiran pasar bahwa AS akan kembali melanjutkan serangan terhadap Iran.
Dari domestik, sejumlah data ekonomi belum mampu menopang laju rupiah. Ketidakpastian arah kebijakan terkait pengenaan royalti terhadap hasil tambang, ditambah belum jelasnya arah penambahan pendapatan negara di tengah belanja yang nilainya jumbo membuat pasar khawatir dengan kondisi fiskal.
Selain itu, vonis dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan hari ini menambah beban pagi pergerakan aset berdenominasi rupiah. Pasar akan mencermati pengumuman dari MSCI terkait potensi penurunan bobot Indoneia dalam indeks global tersebut.
Tekanan terhadap rupiah hari ini menunjukkan bahwa pasar sepertinya tak cuma bereaksi terhadap faktor eksternal seperti perang dan lonjakan harga minyak. Lebih dari itu, pasar mulai mencermati dan menimbang kualitas fundamental domestik.
Meski pertumbuhan kuartal I-2026 tercatat 5,61% melampaui ekspektasi ekonom, tetapi transmisi yang minim ke sektor riil menjadi catatan bagi para investor.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...h-rp17-500-us/
Jangankan lawan USD, SGD, EUR
Lawan mata uang Yaman aja Rupiah keok..

Mata uang lawak..
saya.palsu memberi reputasi
1
203
6
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan