- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Kembali Terguncang, IHSG Turun Nyaris 1%
TS
jaguarxj220
Kembali Terguncang, IHSG Turun Nyaris 1%
Bloomberg Technoz, Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terguncang. Pada Senin (11/5/2026) pukul 15;35 WIB, IHSG jatuh 0,91% (63,73 poin) menyentuh posisi 6.905.
Transaksi terpantau cukup ramai didominasi manuver jual, dengan nilai transaksi sepanjang hari mencapai Rp18,14 triliun dan volume perdagangan sentuh 37,96 miliar saham. Adapun frekuensi yang terjadi sebanyak 2,58 juta kali diperjualbelikan
IHSG memang sempat menguat, terdorong kabar terbaru dari pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menunda pemberlakuan tarif baru untuk pungutan ekspor berbagai komoditas pertambangan.
Berita itu membuat saham–saham pertambangan melesat dan mengerek IHSG ke jalur hijau. Namun penguatan itu tidak bertahan lama dengan posisi tertinggi pun hanya bertahan di level 7.001.
Akan tetapi, depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif yang berat bagi IHSG. Menutup perdagangan hari ini, rupiah berada di posisi Rp17.412/US$. Mata uang Tanah Air melemah 0,22%.
Rupiah semakin tergerus hingga sempat mencapai Rp17.420/US$ yang menjadi titik terlemahnya secara intraday.
Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS (DXY) makin perkasa dengan level tertinggi mencapai 98,036 pada perdagangan hari ini, sejalan dengan ketidakpastian yang makin meningkat di pasar menyusul pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump terhadap eskalasi konflik Timur Tengah.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian terbaru untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu.
“Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut sebagai ‘perwakilan’ Iran,” tulis Trump dalam unggahan media sosial pribadinya, sambil menyebut sebagai “SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA.”
Imbas serangkaian insiden yang terus mengancam, harga minyak mentah jenis Brent melesat hingga 4,28% menuju level US$105,6 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melejit 5,19% menembus US$100,05 per barel, berdasarkan data Bloomberg per siang hari ini.
Saat rupiah melemah, beban utang luar negeri masing–masing emiten bakal meningkat. Apalagi bagi emiten yang mengumpulkan pendapatan dalam rupiah, akan mengalami currency missmatch.
Pada saatnya, currency missmatch itu akan menggerus laba. Ketika laba emiten jatuh, apalagi sampai merugi, maka investor sulit berharap akan datangnya dividen.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...urun-nyaris-1/
Mana yg mau nyerok, kok kaga ada?
Asing mana mau nyerok..
Jual USD beli IDR aja udah pasti rugi di depan.
Keuntungan saham ngga pasti.
Rugi kurs nya pasti, keuntungan saham belum pasti.
Ya ogahlah.
Transaksi terpantau cukup ramai didominasi manuver jual, dengan nilai transaksi sepanjang hari mencapai Rp18,14 triliun dan volume perdagangan sentuh 37,96 miliar saham. Adapun frekuensi yang terjadi sebanyak 2,58 juta kali diperjualbelikan
IHSG memang sempat menguat, terdorong kabar terbaru dari pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menunda pemberlakuan tarif baru untuk pungutan ekspor berbagai komoditas pertambangan.
Berita itu membuat saham–saham pertambangan melesat dan mengerek IHSG ke jalur hijau. Namun penguatan itu tidak bertahan lama dengan posisi tertinggi pun hanya bertahan di level 7.001.
Akan tetapi, depresiasi rupiah menjadi sentimen negatif yang berat bagi IHSG. Menutup perdagangan hari ini, rupiah berada di posisi Rp17.412/US$. Mata uang Tanah Air melemah 0,22%.
Rupiah semakin tergerus hingga sempat mencapai Rp17.420/US$ yang menjadi titik terlemahnya secara intraday.
Berdasarkan data Bloomberg, indeks dolar AS (DXY) makin perkasa dengan level tertinggi mencapai 98,036 pada perdagangan hari ini, sejalan dengan ketidakpastian yang makin meningkat di pasar menyusul pernyataan terbaru Presiden AS Donald Trump terhadap eskalasi konflik Timur Tengah.
Seperti yang dilaporkan Bloomberg News, Presiden AS Donald Trump menolak proposal perdamaian terbaru untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama 10 minggu.
“Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut sebagai ‘perwakilan’ Iran,” tulis Trump dalam unggahan media sosial pribadinya, sambil menyebut sebagai “SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA.”
Imbas serangkaian insiden yang terus mengancam, harga minyak mentah jenis Brent melesat hingga 4,28% menuju level US$105,6 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melejit 5,19% menembus US$100,05 per barel, berdasarkan data Bloomberg per siang hari ini.
Saat rupiah melemah, beban utang luar negeri masing–masing emiten bakal meningkat. Apalagi bagi emiten yang mengumpulkan pendapatan dalam rupiah, akan mengalami currency missmatch.
Pada saatnya, currency missmatch itu akan menggerus laba. Ketika laba emiten jatuh, apalagi sampai merugi, maka investor sulit berharap akan datangnya dividen.
https://www.bloombergtechnoz.com/det...urun-nyaris-1/
Mana yg mau nyerok, kok kaga ada?
Asing mana mau nyerok..
Jual USD beli IDR aja udah pasti rugi di depan.
Keuntungan saham ngga pasti.
Rugi kurs nya pasti, keuntungan saham belum pasti.
Ya ogahlah.
0
606
6
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan