Kaskus

Story

c4punk1950...Avatar border
TS
c4punk1950...
Selamat Tinggal



Selamat Tinggal

Quote:







BAB 1: GEMA DI TENGAH MALAM

Dunia di luar sana mungkin sudah berhenti berputar bagi sebagian besar orang, tetapi bagi Rico, malam baru saja dimulai. Di usianya yang menginjak empat puluh lima tahun, malam bukan lagi tentang pesta atau perburuan kesenangan duniawi. Malam telah bertransformasi menjadi sebuah ruang isolasi yang jujur—sebuah jeda di mana topeng-topeng sebagai seorang manajer yang tegas, ayah yang bijaksana, dan suami yang setia ditanggalkan di gantungan baju bersama jas kantornya yang mulai usang.

Jam dinding di kamar itu berdetik dengan suara yang entah mengapa terasa lebih keras dari biasanya. Tik. Tok. Tik. Tok. Suara itu seakan menghitung sisa waktu yang dimiliki Rico sebelum hari esok yang melelahkan kembali menjemput. Di sampingnya, Maya, wanita yang telah menemaninya selama dua puluh tahun, terlelap dalam posisi miring yang tenang. Napasnya teratur, sebuah ritme alami yang biasanya menenangkan Rico, namun malam ini, ritme itu justru membuatnya merasa terasing.

Rico memandangi plafon kamar dalam remang cahaya lampu tidur. Pikirannya melayang pada rutinitasnya setiap hari. Bangun pukul lima pagi, menyiapkan sarapan sederhana untuk si bungsu yang baru kelas 1 SD, terjebak macet Jakarta selama dua jam, menghadapi tumpukan target di kantor, lalu pulang dalam keadaan letih hanya untuk mengulang hal yang sama keesokan harinya. Kehidupan yang stabil, namun terasa datar. Seperti sebuah garis lurus di monitor jantung yang menandakan ketidakadaan gejolak.

Hingga kemudian, ponselnya yang diletakkan di atas nakas bergetar. Sebuah getaran pendek, namun cukup untuk membuat saraf di ujung jemari Rico beraksi.

Ia mengambil perangkat itu dengan gerakan yang hampir menyerupai pencuri—pelan dan penuh kewaspadaan. Cahaya biru dari layar segera membanjiri wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis halus di sudut mata. Sebuah notifikasi WhatsApp muncul. Dari Mulya.

“Mas, si kecil akhirnya tidur. Tapi badannya masih hangat. Sepertinya tumbuh gigi. Aku baru bisa duduk sebentar, punggungku rasanya ingin lepas.”

Kalimat itu sederhana. Tidak ada rayuan, tidak ada kata-kata puitis yang mendayu-dayu. Namun bagi Rico, itu adalah sebuah undangan masuk ke dalam dimensi kehidupan orang lain yang terasa begitu nyata dan intim.

Rico mulai mengetik. Jemarinya, yang biasanya kaku saat memegang pena untuk menandatangani memo kantor, kini bergerak lincah di atas papan ketik virtual.

“Istirahatlah sebentar, Mul. Ambil napas panjang. Kamu sudah melakukan pekerjaan yang luar biasa sepanjang hari. Jangan lupa minum air hangat, kamu tidak boleh ikut jatuh sakit.”

Pesan terkirim. Rico menunggu. Di pojok atas layar, status "Online" pada nama Mulya berubah menjadi "Typing...". Detik-detik itu terasa seperti keabadian yang manis. Ada debar yang seharusnya sudah tidak dirasakan oleh pria di ambang usia setengah abad. Debar yang ia tahu salah, namun ia biarkan tumbuh seperti tanaman liar yang merambat di sela-sela dinding beton rumah tangganya.

Mulya bukan orang asing. Dia adalah fragmen dari masa lalu yang terkubur dalam-dalam, sebelum akhirnya kembali muncul melalui algoritma media sosial yang tidak terduga. Mereka pernah berada di lingkaran pertemanan yang sama saat kuliah, namun kehidupan membawa mereka ke arah yang berbeda. Rico dengan kariernya, dan Mulya dengan pilihannya menjadi ibu rumah tangga bagi tiga orang anak.

Percakapan mereka bermula sebulan lalu dari sebuah komentar ringan di status WhatsApp, dan entah bagaimana, mereka terjebak dalam pusaran curhat yang tanpa henti. Rico merasa Mulya adalah satu-satunya orang yang tidak menuntutnya menjadi "sosok hebat". Di depan Mulya, Rico tidak perlu menjadi manajer sukses. Di depan Mulya, Rico hanya seorang pria yang merasa lelah dengan keseragaman hidup.

“Mas Rico selalu tahu cara membuatku merasa lebih baik,” balas Mulya lagi. “Kadang aku merasa seperti mesin di rumah ini. Mencuci, memasak, menyusui, membersihkan popok. Kadang aku rindu menjadi 'Mulya' yang dulu. Yang suka membaca novel di sore hari tanpa interupsi.”

Rico tersenyum tipis. Ia bisa membayangkan Mulya sedang duduk di sofa ruang tengahnya yang berantakan dengan mainan anak-anak, mungkin rambutnya dicepol asal-asalan, namun matanya tetap memancarkan kelembutan yang sama dengan dua puluh tahun lalu.

“Kita semua adalah tawanan dari pilihan kita sendiri, Mul,” tulis Rico. “Tapi menjadi 'mesin' yang memberikan kasih sayang adalah ibadah yang luar biasa. Aku pun sama. Di sini, aku hanyalah penyokong finansial. Tapi lewat chat ini, aku merasa aku kembali menjadi diriku sendiri.”

Mereka berdua terjebak dalam apa yang orang sebut sebagai "perselingkuhan emosional". Tidak ada pertemuan fisik. Tidak ada sentuhan kulit. Namun, ada pertukaran energi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar nafsu: yaitu rasa saling butuh untuk didengarkan.

Rico teringat sore tadi, saat ia menemani istrinya, Maya, berbelanja bulanan. Di supermarket, Maya sibuk memilih deterjen yang sedang diskon dan membandingkan harga minyak goreng. Rico berdiri di samping troli, namun pikirannya berada di tempat lain. Ia sibuk merangkai kata-kata yang ingin ia sampaikan pada Mulya malam nanti. Ia merasa bersalah, tentu saja. Maya adalah istri yang sempurna. Dia tidak pernah mengeluh, dia selalu menyiapkan pakaian Rico dengan rapi, dan dia adalah ibu yang sangat perhatian bagi ketiga anak mereka.

Bahkan, Rico sering membatin, Maya, kamu adalah wanita terbaik yang pernah masuk ke hidupku. Kamu tidak pantas mendapatkan pengkhianatan pikiran seperti ini.

Namun, perasaan kepada Mulya adalah sesuatu yang berbeda. Jika Maya adalah pelabuhan yang tenang dan aman, maka Mulya adalah angin sepoi-sepoi yang membawa aroma petualangan yang sudah lama hilang. Rico tidak ingin meninggalkan pelabuhannya, namun ia juga tidak bisa berhenti menghirup angin itu.

Kembali ke layar ponsel, Mulya mengirimkan foto bayinya yang sedang tertidur lelap. Wajah mungil yang suci. Rico memandangi foto itu cukup lama. Ada rasa haru yang aneh. Ia merasa seolah-olah ia juga memiliki andil dalam menjaga ketenangan tidur bayi itu melalui semangat yang ia berikan pada ibunya.

“Suamimu sudah pulang?” tanya Rico kemudian. Ia selalu memastikan posisi suaminya. Bukan karena takut tertangkap (meski itu alasan logisnya), tapi karena Rico ingin memastikan bahwa Mulya tidak mengabaikan kewajibannya sebagai istri.

“Sudah. Dia sudah tidur di kamar sebelah. Dia sangat lelah karena proyek kantornya sedang padat. Kami jarang bicara akhir-akhir ini, Mas. Hanya soal urusan rumah dan uang sekolah anak-anak.”

Rico merasa ada dorongan untuk masuk lebih dalam, untuk menawarkan pundak yang lebih luas. Namun, ia teringat pada prinsipnya sendiri. Ia adalah pria yang memegang teguh logika, meski hatinya sedang terombang-ambing.

“Mul, bagaimanapun, suamimu adalah orang yang sudah berjuang untukmu dan anak-anakmu. Jangan pernah menjelekkannya padaku. Aku tidak ingin menjadi tempat sampah bagi keluhanmu tentang dia. Aku ingin menjadi tempatmu menemukan dirimu kembali. Berdamailah dengannya, meski mungkin kalian sedang tidak satu frekuensi.”

Pesan itu adalah bentuk mekanisme pertahanan diri Rico. Dengan membelai ego suaminya Mulya, Rico merasa dirinya bukan "orang jahat". Ia merasa dirinya adalah seorang teman bijak yang hanya kebetulan mencintai istri orang lain.

Malam semakin larut. Suhu udara di kamar terasa semakin dingin karena AC, namun jemari Rico tetap hangat. Mereka terus bertukar cerita tentang hal-hal kecil. Tentang lagu lama yang tiba-tiba terdengar di radio, tentang rasa kopi yang terlalu pahit sore tadi, tentang bagaimana rasanya melihat anak paling kecil mulai belajar mengeja.

Tanpa mereka sadari, mereka sedang membangun sebuah jembatan yang tak punya ujung. Sebuah jembatan yang hanya menggantung di atas jurang.

Rico menutup matanya sejenak setelah mengirim pesan terakhir: “Tidurlah, Mul. Esok akan jadi hari yang panjang. Temui aku di sini lagi besok malam, di jam yang sama. Jaga dirimu.”

Ia meletakkan ponselnya kembali di nakas. Ia berbalik, menatap punggung Maya. Ada rasa perih yang menusuk di dadanya. Sebuah paradoks yang menyiksa: ia merasa sangat bahagia setelah berbicara dengan Mulya, namun ia merasa sangat berdosa saat melihat istrinya.

Ia mencintai dua wanita dengan cara yang sangat berbeda. Yang satu adalah realitas yang kokoh, yang satu adalah fantasi yang menyelamatkan kewarasannya. Namun di usia empat puluh lima tahun, Rico tahu betul bahwa setiap fantasi memiliki tanggal kedaluwarsa. Dan "Selamat Tinggal" yang sesungguhnya sedang mengintai di balik bayang-bayang masa depan yang tak terhindarkan.

Sambil mencoba memejamkan mata, Rico membisikkan doa yang aneh dalam hatinya. Bukan doa agar ia bisa bersama Mulya, melainkan doa agar Tuhan memberinya kekuatan untuk terus menjaga keseimbangan di atas tali yang tipis ini. Ia tidak sadar, bahwa di dunia ini, tidak ada rahasia yang benar-benar abadi.

#Bersambung

Bab 2

Bab 3

Bab 4

Bab 5

Bab 6

Bab 7

Bab 8

Bab 9

Bab 10 Tamat




Terima kasih yang sudah membaca thread ini sampai akhir, bila ada kritik silahkan disampaikan dan semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat dan merdeka. See u next thread.

emoticon-I Love Indonesia

Selamat Tinggal

"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2026
referensi : Gemini
Pic : google

emoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Staremoticon-Rate 5 Star

Selamat Tinggal


Selamat Tinggal


Diubah oleh c4punk1950... 12-05-2026 15:11
jenggalasunyiAvatar border
kukrikAvatar border
skinnyhooperAvatar border
skinnyhooper dan 6 lainnya memberi reputasi
7
812
27
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan