- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Tak Cukup Makan Tabungan, Warga RI Kini Dilanda Fenomena Makan Utang
TS
jaguarxj220
Tak Cukup Makan Tabungan, Warga RI Kini Dilanda Fenomena Makan Utang
Jakarta -
Kemudahan akses layanan keuangan digital berupa pinjaman online (pinjol) dan paylater sering kali menjadi cara paling cepat bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang mendesak. Hal ini terlihat dari pertumbuhan penggunaan dua layanan keuangan tersebut yang sangat tinggi.
Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding utang pada layanan peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) tercatat sudah mencapai Rp 100,69 triliun pada Februari 2026. Jumlah ini naik hingga 25,75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Pada periode yang sama, PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mencatat pertumbuhan signifikan pada transaksi layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater. IdScore mencatat pertumbuhan paylater sebesar 86,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi Rp 56,3 triliun hingga akhir Februari 2026.
Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, mengatakan data pertumbuhan outstanding utang pinjol dan paylater ini menunjukkan bagaimana masyarakat saat ini semakin mengandalkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kalau lihat growth-nya berarti makin lama makin tinggi, kan. Artinya masyarakat jelas makin lama makin banyak utangnya. Saya kira ini memang bukan pertanda baik karena kebanyakan pinjaman itu untuk konsumtif. Saya kira itu yang kita lihat ketimbang pinjaman produktif untuk dunia usaha," kata Tauhid kepada detikcom, Senin (11/5/2026).
Namun, yang menjadi masalah, layanan pinjaman ini datang dengan bunga yang harus dibayar bersamaan dengan pokok utang, sehingga membuat beban pengeluaran semakin berat.
"Memang NPL-nya saya kira masih relatif terjaga. Tapi beban masyarakat dengan bunga segitu besar. Sehingga ini membuat masyarakat akhirnya model gali lubang tutup lubang. Baru selesai, dia sudah pinjam yang lain. Nah ini yang saya kira membuat masyarakat makin lama makin tidak sehat kondisi keuangannya," terangnya.
Bersamaan dengan itu, Tauhid mengatakan saat ini tingkat pertumbuhan tabungan di bawah Rp 100 juta milik nasabah di Indonesia tidak tumbuh cukup signifikan. Hal ini menjadi cerminan bahwa simpanan masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah, justru semakin berkurang.
"Saya rasa bagi kelompok bawah ini mereka pinjam itu bukan karena ada tabungan, tapi karena tabungannya sedikit. Kalau ada, pasti mereka langsung bayar cash. Biasanya orang yang punya uang tidak bayar pakai paylater atau pinjol, mereka bayar langsung," jelas Tauhid.
Karena hal inilah Tauhid berpendapat saat ini terjadi pergeseran dari fenomena 'makan tabungan' menjadi 'makan utang' untuk bertahan hidup. Meski kondisi ini tentu tidak terjadi di semua kalangan, terutama di kelompok menengah ke bawah.
"Justru yang tabungannya sedikit atau tidak punya tabungan kemungkinan juga menjadi konsumen terbesar untuk pinjaman online seperti ini," tegas Tauhid.
https://finance.detik.com/berita-eko...na-makan-utang
Rakyat jadi mengikuti pemerintahnya.
Pemerintah ngutang demi MBG.
Rakyat ngutang demi makan.
Pertumbuhan ekonomi mungkin terlihat besar, ditopang utang.
Bertahan sampai kapan pertumbuhan seperti itu?
Kemudahan akses layanan keuangan digital berupa pinjaman online (pinjol) dan paylater sering kali menjadi cara paling cepat bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang mendesak. Hal ini terlihat dari pertumbuhan penggunaan dua layanan keuangan tersebut yang sangat tinggi.
Berdasarkan laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), outstanding utang pada layanan peer-to-peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) tercatat sudah mencapai Rp 100,69 triliun pada Februari 2026. Jumlah ini naik hingga 25,75% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).
Pada periode yang sama, PT Pefindo Biro Kredit (IdScore) mencatat pertumbuhan signifikan pada transaksi layanan buy now pay later (BNPL) atau paylater. IdScore mencatat pertumbuhan paylater sebesar 86,7% secara tahunan (year-on-year/yoy), menjadi Rp 56,3 triliun hingga akhir Februari 2026.
Ekonom Senior INDEF, Tauhid Ahmad, mengatakan data pertumbuhan outstanding utang pinjol dan paylater ini menunjukkan bagaimana masyarakat saat ini semakin mengandalkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kalau lihat growth-nya berarti makin lama makin tinggi, kan. Artinya masyarakat jelas makin lama makin banyak utangnya. Saya kira ini memang bukan pertanda baik karena kebanyakan pinjaman itu untuk konsumtif. Saya kira itu yang kita lihat ketimbang pinjaman produktif untuk dunia usaha," kata Tauhid kepada detikcom, Senin (11/5/2026).
Namun, yang menjadi masalah, layanan pinjaman ini datang dengan bunga yang harus dibayar bersamaan dengan pokok utang, sehingga membuat beban pengeluaran semakin berat.
"Memang NPL-nya saya kira masih relatif terjaga. Tapi beban masyarakat dengan bunga segitu besar. Sehingga ini membuat masyarakat akhirnya model gali lubang tutup lubang. Baru selesai, dia sudah pinjam yang lain. Nah ini yang saya kira membuat masyarakat makin lama makin tidak sehat kondisi keuangannya," terangnya.
Bersamaan dengan itu, Tauhid mengatakan saat ini tingkat pertumbuhan tabungan di bawah Rp 100 juta milik nasabah di Indonesia tidak tumbuh cukup signifikan. Hal ini menjadi cerminan bahwa simpanan masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah, justru semakin berkurang.
"Saya rasa bagi kelompok bawah ini mereka pinjam itu bukan karena ada tabungan, tapi karena tabungannya sedikit. Kalau ada, pasti mereka langsung bayar cash. Biasanya orang yang punya uang tidak bayar pakai paylater atau pinjol, mereka bayar langsung," jelas Tauhid.
Karena hal inilah Tauhid berpendapat saat ini terjadi pergeseran dari fenomena 'makan tabungan' menjadi 'makan utang' untuk bertahan hidup. Meski kondisi ini tentu tidak terjadi di semua kalangan, terutama di kelompok menengah ke bawah.
"Justru yang tabungannya sedikit atau tidak punya tabungan kemungkinan juga menjadi konsumen terbesar untuk pinjaman online seperti ini," tegas Tauhid.
https://finance.detik.com/berita-eko...na-makan-utang
Rakyat jadi mengikuti pemerintahnya.
Pemerintah ngutang demi MBG.
Rakyat ngutang demi makan.
Pertumbuhan ekonomi mungkin terlihat besar, ditopang utang.
Bertahan sampai kapan pertumbuhan seperti itu?
essholl dan 5 lainnya memberi reputasi
6
1K
14
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan