Kaskus

Story

Ika.SusilawatiAvatar border
TS
Ika.Susilawati
Mau Malam Pertama Mu (insecure short story)
Mau Malam Pertama Mu (insecure short story)


Rio terperanjat. Matanya tak berkedip menatap bu Linda yang baru saja bersalaman dengan dirinya di atas pelaminan. Seakan tak mau kehilangan penampakan perempuan itu yang berlalu sampai-sampai dia mengabaikan tamu berikutnya yang menyalaminya.

Dia takjub melihat sang atasan di kantornya itu begitu cantik, berdandan istimewa di hari malam pengantinnya. Rambutnya chestnut sebahu berkilau, dibalut cheongsam putih sutra pendek sepaha. Membuat kakinya yang jenjang dan betisnya yang berisi menjulur indah di atas heels yang membalut kedua tumit jemari kakinya yang ramping dan kukunya yang peach glowing.

Rio benar-benar tak menyangka hari itu bu Linda secantik itu. Pasalnya sudah begitu sering Rio melihat bu Linda di kamar hotel sejak dia masih bertunangan dengan Laras kemarin. Mungkin lebih sering Rio melihat bu Linda di kamar daripada suami perempuan itu sendiri saat-saat itu. Wanita karir dengan dandanan blous, rok span, sepatu hak tinggi dan riasan energik umumnya perempuan kantoran usia 45 tahunan. Awalnya membuat jantung Rio berdegup kencang setiap kali momen berdua dengan bu Linda. Tapi karena sudah terlalu sering melakukan itu akhirnya lama kelamaan jadi biasa saja melihatnya.

Saat itu Rio tidak perlu khawatir dengan hubungannya yang masih menjadi pacar Laras Toh masih pacaran ini pikirnya, kalau ketahuan tinggal putus. Tapi entah kenapa sesuatu yang dulunya terasa biasa melihat bu Linda, tiba-tiba malam ini tampak begitu menggelegar membara dan membuat jantungnya berdegup kencang ?

Akankah dia akan tetap melakukan itu dengan bu Linda saat sudah sah menjadi suami Laras. Ia kerap memikirkan itu belakangan ini.

Tiba-tiba seseorang menepuk lengan Rio.

"Hei ! Bengong lu, nih ada telpon", ujar Alvin, teman sekantor Rio, yang tadi mendampingi bu Linda. Tiba-tiba saja sudah balik lagi ke atas pelaminan.

" Dari bu Linda !", bisik Alvin ke telinga Rio yang digelantungi untaian bunga melati.

"Haloo sayaang ! Kamu ganteng banget malam ini uuchh... kamar 505 yaa jam 12 malam. Aku mau malam pertama mu"

"Eeh iiyaa.. ma'kasih yaa"

"Siapa Yang ?", toleh Laras yang bersanggul dan matanya yang penuh riasan melirik Rio yang sekilas tampak gugup berbicara di ponsel.

" Manager aku, ucapin selamat ngga bisa dateng"

Laras mendengar suara Rio tapi sekejap dia teralihkan oleh tamu yang menyapa dan bersalaman dengan dirinya. Alvin mengambil ponselnya kembali lalu berbisik di telinga Rio

"Kamar 505, inget !", seraya tangannya menyelipkan kartu magnetic dengan logo Hotel tempat Rio dan Laras melaksanakan acara resepsi pernikahannya.

Rio sekejap mengamankan kartu itu di samping pinggangnya di lipatan sabuk kain pengantin karena dia tak menemukan kantong di bagian luar jasnya.

Malam usai acara resepsi itu memang tidak ada rencana apa-apa bagi Laras dan Rio karena mereka berdua sudah lelah sejak pagi tadi ijab kabul dan menyambung ke hiruk pikuk persiapan acara resepsi. Terlebih lagi tidak ada malam istimewa bagi Laras dan Rio karena semua keistimewaan itu sudah sering mereka rasakan saat masih berpacaran dulu. Yang mereka pikirkan sejak usai acara ijab kabul dan dibebat pakaian adat adalah tidur ! Tapi pikiran itu sirna dari kepala Rio, mungkin bagi Laras itu masih berlaku.

Mendadak rasa lelah itu hilang saat masih terbayang melihat bu Linda, perempuan manager kantornya tadi begitu lain dan eksotis. Terlebih lagi setelah mendengar dari telpon yang diberikan Alvin. Jantungnya terus menerus terpompa menghilangkan lelah dan otaknya terus berpikir harus bilang apa sama Laras untuk dia bisa keluar kamar nanti ?

Ternyata tidak ada yang sulit. Usai acara resepsi Laras langsung rebah selepas mencopot sanggulnya. Rio masih terjaga di pinggir ranjang pengantin yang meriah penuh hiasan dan taburan bunga mawar.

"Duh langsung jalan aja apa ya..."

Jantungnya semakin berdebar-debar jelang dia akan memutuskan akan melangkah. Malam itu begitu mendebarkan dan menantang pikirannya. Sesuatu harus dia taklukan malam ini entah itu hasrat atau pikirannya. Rio pun berdiri dengan penuh tekad. This is the point of no return. Malam ini atau tidak selamanya. Perasaan mengguncang ini begitu menggugah yang bahkan tak dia bayangkan akan terjadi meski bersama Laras yang baru jadi istrinya.

Rio melangkah menyambar hoodie di dalam kopernya. Beberapa semprotan parfum maskulin disemburkan ke tubuhnya di toilet kamar agar aromanya tak mengguggah Laras. Dengan penuh keberanian dia keluar dari kamar hotel itu menuju lift. Dia ingin orang mengira bahwa dia adalah salah satu dari among tamu yang bertugas di situ dengan menutupi kepalanya dengan hoodie dan bawahan kain pakaian mempelai pria.

Tibalah Rio di lantai 5 hotel itu. Dan beberapa langkah dia tertegun di depan kamar bernomor 505. Waktu sudah menunjukan jam 23.45. Detik-detik mendebarkan saat dia menggesekan kartu magnetic itu dan membuka pintunya.

Tampak cahaya remang-remang di dalam dan sepasang heels di bawah kasur serta betis perempuan yang padat jenjang menjulur di atas kasur tak tampak pemiliknya karena terhalang tembok di sebelah lorong kamar itu. Betis yang dia sudah tak asing lagi bentuknya.

"Rioo ? is that youu......."



-Sekian dan Terima Kasih

No to be continued emoticon-Ngacir
0
65
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan