- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
Bajingan Cinta
TS
c4punk1950...
Bajingan Cinta

Quote:
BAB 1: Debu, Deru, dan Dia
Pabrik tekstil PT. Cahaya Abadi bukanlah tempat bagi mereka yang memuja keheningan. Sejauh mata memandang, hanya ada deretan mesin tenun raksasa yang mengerang, menciptakan simfoni bising yang menyakitkan telinga. Di sinilah Arya berdiri, di antara ribuan benang yang beterbangan seperti debu putih, menyumbat pori-pori dan memaksa setiap buruh memakai masker hingga napas mereka terasa sesak.
Arya menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju yang sudah basah kuyup. Jam menunjukkan pukul dua siang, puncak dari segala rasa lelah sebelum lonceng istirahat berbunyi. Sebagai operator mesin, matanya harus jeli melihat setiap helai benang yang putus. Jika meleset sedikit, cacat produksi akan menjadi potongan gaji yang menyakitkan.
"Ya! Istirahat!" teriak Bambang, rekan di sampingnya, mencoba mengalahkan deru mesin
Arya mengangguk. Ia berjalan menuju area dispenser di sudut ruangan yang pengap. Tangannya yang kasar karena gesekan serat kain meraih gelas plastik kusam. Namun, saat jemarinya hendak menyentuh tombol dispenser, sebuah tangan lain—yang jauh lebih halus dan ramping—tiba-tiba bersentuhan dengan punggung tangannya.
Arya tersentak. Ia menoleh.
Di sana, berdiri seorang gadis dengan seragam biru yang sama, namun tampak terlalu rapuh untuk beban kerja seberat ini. Maskernya turun ke dagu, menampakkan wajah yang pucat namun memiliki kecantikan yang liar di balik peluhnya. Itulah Nadia.
"Eh, maaf... Mas duluan saja," ucap Nadia lirih. Suaranya kecil, nyaris tenggelam oleh suara mesin di latar belakang.
Arya tertegun sejenak. Ada sesuatu pada mata Nadia—sepasang mata yang tampak lelah namun menyimpan binar yang sulit dijelaskan. "Nggak apa-apa. Kamu duluan saja. Kamu kelihatan mau pingsan," jawab Arya sambil menarik tangannya.
Nadia tersenyum tipis. Sangat tipis, namun cukup untuk membuat jantung Arya yang biasanya hanya berdegup karena kopi hitam, kini berdegup karena hal lain. Nadia mengisi gelasnya, meminumnya dengan rakus seolah air itu adalah nyawa yang baru saja ia temukan.
"Baru di sini?" tanya Arya, mencoba mencairkan suasana sambil menunggu gilirannya.
Nadia mengangguk pelan sambil menyeka bibirnya dengan punggung tangan. "Baru seminggu, Mas. Di bagian finishing. Ternyata lebih berat dari yang saya bayangkan."
"Pabrik ini memang bukan tempat buat orang yang gampang menyerah," Arya tersenyum, kali ini lebih tulus. "Namaku Arya. Kamu?"
"Nadia."
"Nama yang bagus untuk tempat yang berdebu begini, Nad," goda Arya.
Nadia tertawa kecil, sebuah tawa yang bagi Arya terdengar seperti musik di tengah kegaduhan pabrik. "Bisa saja Mas Arya ini. Mas sudah lama di sini?"
"Tiga tahun. Sudah jadi saksi bisu berapa banyak orang datang dan pergi karena nggak kuat. Kamu jangan jadi salah satunya ya?"
Nadia menatap Arya dengan tatapan yang lebih dalam. Ada keheningan sesaat di antara mereka, meski di sekeliling mereka ribuan roda gigi terus berputar. "Saya nggak punya pilihan lain, Mas. Saya harus bertahan."
Kata-kata "tidak punya pilihan" itu masuk ke hati Arya. Ia tahu rasanya. Ia tahu bagaimana rasanya menjadi butiran debu di dalam mesin industri besar yang tidak peduli pada air mata pekerjanya. Sejak saat itu, di mata Arya, Nadia bukan sekadar rekan kerja. Ia adalah sekuntum bunga yang tumbuh di celah beton pabrik yang dingin.
Selama sisa jam kerja hari itu, pikiran Arya tidak lagi pada benang yang putus atau target produksi. Pikirannya tertuju pada gadis di dispenser tadi. Ada rasa ingin melindungi yang tiba-tiba muncul—sebuah perasaan yang ia sendiri belum tahu akan membawanya ke lembah penderitaan yang paling dalam.
Ketika lonceng pulang berbunyi, Arya sengaja memperlambat gerakannya saat berganti pakaian di loker. Ia berharap bisa melihat Nadia lagi di gerbang. Benar saja, ia melihat Nadia berdiri di bawah lampu jalan yang remang-remang, sedang memijat pergelangan kakinya.
Arya mendekat dengan motor tua kesayangannya yang suaranya tak kalah berisik dari mesin pabrik.
"Mau bareng, Nad? Kontrakanmu di mana?"
Nadia mendongak, tampak ragu sejenak. "Nggak merepotkan, Mas?"
"Sama-sama buruh nggak boleh saling merepotkan. Kita ini senasib," jawab Arya mantap.
Nadia akhirnya naik ke boncengan. Sepanjang jalan, aroma parfum murah Nadia yang bercampur dengan bau serat kain tercium oleh Arya. Bagi Arya, itu adalah aroma termanis yang pernah ia hirup. Mereka tidak tahu, bahwa perjalanan pulang yang singkat itu adalah awal dari benih cinta yang akan tumbuh menjadi pohon yang besar, namun memiliki buah yang sangat pahit.
Motor bebek tua milik Arya menderu membelah kemacetan sore di pinggiran kota industri. Di belakangnya, Nadia duduk dengan kaku, jemarinya mencengkeram besi behel motor dengan erat, menjaga jarak agar tubuh mereka tidak bersentuhan. Namun, setiap kali Arya mengerem mendadak menghindari angkot yang berhenti sembarangan, bahu Nadia tak sengaja membentur punggung Arya. Setiap benturan kecil itu mengirimkan aliran listrik yang asing ke sekujur tubuh Arya.
"Maaf, Mas... jalannya memang begini kalau jam pulang pabrik," teriak Arya, mencoba mengalahkan deru angin dan suara knalpot.
"Nggak apa-apa, Mas! Aku malah terima kasih banget sudah dibantu," sahut Nadia. Suaranya yang lembut terasa menggelitik telinga Arya meski tertutup helm kusam.
Arya melirik dari spion. Ia melihat Nadia sedang memejamkan mata, membiarkan angin sore menerpa wajahnya yang lelah. Gadis ini tampak sangat rapuh di atas motor tuanya, seolah-olah satu guncangan keras saja bisa membuatnya hancur.
"Kamu asli mana, Nad?" tanya Arya lagi, ia ingin percakapan ini tidak putus. Ia ingin mengenal setiap jengkal sejarah wanita di belakangnya ini.
"Jawa Tengah, Mas. Merantau ke sini sendirian. Tadinya janji sama Ibu mau kerja di toko, tapi ternyata cari kerja susah. Akhirnya masuk pabrik tekstil ini lewat penyalur," cerita Nadia. Ada nada getir dalam suaranya. "Mas Arya sendiri?"
"Aku asli sini. Tapi ya begini, orang lokal tapi tetap jadi kuli di tanah sendiri. Orang bilang kerja di pabrik itu enak, tiap bulan dapat gaji pasti. Tapi mereka nggak tahu rasanya jadi sekrup dalam mesin yang nggak boleh berhenti berputar."
Nadia terkekeh pelan. "Mas Arya puitis juga ya, bahasanya berat."
Arya tersenyum tipis. Baru kali ini ada yang menyebutnya puitis. Biasanya, teman-teman sesama buruh hanya bicara tentang skor bola, cicilan motor, atau uang lembur yang sering telat cair.
Motor mereka memasuki sebuah gang sempit yang hanya cukup dilewati dua motor. Sisi kanan dan kirinya adalah deretan kontrakan petak dengan jemuran yang menjuntai di atas kepala. Bau selokan yang mampet bercampur dengan aroma gorengan dari pedagang kaki lima.
"Di depan itu, Mas. Yang catnya warna hijau pudar," tunjuk Nadia.
Arya menghentikan motornya tepat di depan sebuah pintu kayu yang sudah dimakan rayap. Nadia turun, lalu merapikan rok kerjanya yang sedikit kusut.
"Makasih banyak ya, Mas Arya. Maaf sudah merepotkan, jalannya sempit banget."
"Santai saja. Oh iya, ini..." Arya merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah bungkusan plastik kecil berisi roti sisa jatah lembur semalam yang belum ia makan. "Buat kamu. Biasanya kalau baru seminggu di pabrik, asam lambung sering naik karena kaget sama jam kerja."
Nadia tertegun. Ia menatap roti itu, lalu menatap Arya. Matanya berkaca-kaca sesaat—sebuah reaksi yang menurut Arya terlalu berlebihan untuk sekadar roti murah. Namun bagi Nadia, di perantauan yang dingin ini, perhatian sekecil itu terasa seperti pelukan hangat.
"Mas... makasih. Mas baik banget," ucap Nadia pelan.
"Jangan sungkan. Kita ini kuli, kalau nggak saling jaga, siapa lagi yang peduli?" Arya menyalakan mesin motornya kembali. "Besok mau bareng lagi? Aku lewat sini setiap pagi jam enam."
Nadia tampak ragu sejenak, ia menunduk, lalu pelan-pelan mengangguk. "Boleh, Mas. Kalau Mas nggak keberatan."
"Oke. Jam enam aku klakson di depan gang ya. Istirahat yang cukup, Nad. Jangan lupa makan rotinya."
Arya melesat pergi, namun hatinya tertinggal di depan pintu hijau pudar itu. Sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya yang juga tak kalah sederhana, wajah Nadia terus menari-nari di benaknya. Ia membayangkan bagaimana Nadia memakan roti pemberiannya, bagaimana Nadia melepas lelah di kamar sempitnya.
Malam itu, di kamar pribadinya yang hanya diterangi lampu lima watt, Arya tidak bisa tidur. Ia menatap langit-langit kamar yang penuh noda bekas rembesan air hujan. Pikirannya melayang pada pertemuan di dispenser tadi siang. Ia merasa seolah takdir sedang mempermainkannya. Ia yang selama ini menutup diri dari urusan cinta karena merasa tak punya modal untuk membahagiakan orang lain, kini justru jatuh hati pada pandangan pertama kepada sesama pengadu nasib.
Di sisi lain, di kontrakan hijaunya, Nadia duduk di lantai beralaskan tikar pandan. Ia membuka bungkusan roti dari Arya. Perlahan ia menggigitnya. Roti itu keras dan sudah dingin, tapi bagi Nadia, rasanya lebih nikmat daripada hidangan mewah manapun. Ia menyentuh punggung tangannya yang tadi bersentuhan dengan tangan Arya. Ada rasa aman yang tiba-tiba menyusup ke hatinya, sebuah rasa yang sudah lama hilang sejak ia meninggalkan kampung halamannya.
Namun, di balik rasa aman itu, ada ketakutan yang tersimpan. Nadia tahu, di kota sebesar ini, cinta adalah kemewahan yang seringkali berakhir dengan luka. Namun bagi dua manusia yang haus akan kasih sayang ini, benih itu sudah terlanjur jatuh ke tanah yang subur, siap tumbuh menjadi pohon besar yang akan menaungi mereka... atau justru menumbangkan mereka.
Malam itu, Arya merasa kamarnya yang sempit terasa lebih lega, atau mungkin justru lebih sesak oleh bayangan Nadia. Ia merebahkan tubuhnya yang pegal di atas kasur busa yang sudah menipis. Aroma serat kain pabrik masih menempel di kulitnya, namun entah mengapa, ia merasa ada sisa-sisa wangi melati murah dari rambut Nadia yang tertinggal di jaketnya.
Ia mengambil ponsel lamanya, menatap layar yang retak. Ia menyesal tadi tidak langsung meminta nomor telepon Nadia. “Bodoh kamu, Ya,” rutuknya pada diri sendiri. Ia takut besok pagi Nadia akan berubah pikiran dan memilih berangkat sendiri.
Keesokan harinya, alarm Arya berbunyi pukul lima pagi. Biasanya, ia butuh waktu lima belas menit hanya untuk mengumpulkan nyawa, tapi pagi ini ia melompat dari kasur seolah ada energi baru yang memompa jantungnya. Ia mandi dengan air sumur yang dingin, mencukur jenggot tipisnya dengan rapi, dan mengenakan parfum yang biasanya hanya ia pakai saat kondangan.
Pukul enam kurang sepuluh menit, Arya sudah stand-by di depan gang kontrakan Nadia. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada suara knalpot motornya. Sepuluh menit menunggu terasa seperti berjam-jam.
Lalu, sosok itu muncul. Nadia keluar dengan seragam yang rapi, rambutnya diikat kuda, menampakkan lehernya yang jenjang. Ia tersenyum saat melihat Arya benar-benar ada di sana.
"Kirain Mas Arya bercanda," ucap Nadia sambil berjalan mendekat.
"Lelaki itu yang dipegang omongannya, Nad, bukan cuma stangnya," canda Arya yang membuat Nadia tertawa renyah. "Sudah sarapan?"
Nadia menggeleng malu. "Nanti saja di kantin pabrik, Mas. Masih kenyang sama roti semalam."
"Nggak bisa begitu. Kerja di mesin itu butuh tenaga. Kita mampir di tukang bubur depan ya, aku yang traktir."
Nadia sempat menolak, merasa tidak enak hati karena terus-terusan berutang budi. Namun, Arya bersikeras. Di tukang bubur pinggir jalan itulah, percakapan mereka menjadi lebih dalam. Di bawah kepulan uap bubur ayam, Nadia mulai bercerita tentang alasannya merantau.
"Bapak sudah tua, Mas. Adikku masih sekolah. Ibu di kampung cuma buruh tani. Kalau aku nggak nekat ke sini, adikku nggak bisa lanjut SMA," cerita Nadia dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.
Arya mendengarkan dengan khidmat. Ia melihat jemari Nadia yang memainkan sendok plastik. Ia ingin sekali menggenggam tangan itu dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Kamu hebat, Nad. Nggak banyak perempuan yang mau berkorban sejauh ini. Aku jadi malu, aku yang di sini saja sering mengeluh."
"Mas Arya juga hebat. Mas kelihatan tulus. Jarang ada orang di pabrik yang mau peduli sama buruh baru kayak aku. Biasanya mereka cuma... ya tahu sendiri lah, Mas, suka menggoda yang nggak-nggak."
Mendengar itu, ada rasa protektif yang muncul di dada Arya. "Kalau ada yang macam-macam sama kamu di pabrik, bilang sama aku. Aku mungkin bukan mandor, tapi aku tahu cara jagain orang."
Nadia menatap Arya lama. Ada pancaran harapan di matanya. Sejak saat itu, setiap pagi dan sore menjadi milik mereka. Motor tua Arya menjadi saksi bisu bagaimana dua orang asing ini perlahan-lahan menyatu. Arya mulai membawakan bekal makan siang untuk Nadia, dan Nadia mulai berani menyandarkan kepalanya di punggung Arya saat mereka pulang dalam keadaan kelelahan.
Kedekatan ini tidak luput dari pandangan mata buruh lain di pabrik. Bisik-bisik mulai terdengar di kantin. "Si Arya dapat mangsa baru," atau "Paling cuma main-main saja itu." Namun, Arya menutup telinga. Baginya, Nadia adalah oase di tengah gersangnya hidup.
Hingga suatu sore, hujan turun sangat deras. Pabrik sedang lembur massal. Mereka baru keluar pukul delapan malam. Jalanan banjir dan motor Arya mogok di tengah jalan. Mereka terpaksa berteduh di sebuah halte tua yang sepi.
Nadia menggigil kedinginan. Seragamnya yang tipis basah kuyup karena tadi sempat menerjang hujan. Arya yang melihat itu segera melepas jaketnya dan menyampirkannya ke bahu Nadia.
"Pakai ini, Nad. Nanti kamu sakit."
"Mas sendiri gimana?"
"Aku sudah biasa kena hujan. Kulitku badak," canda Arya meski bibirnya mulai membiru.
Nadia menarik tangan Arya, memintanya duduk lebih dekat agar terlindung dari tempias hujan. Di dalam kesunyian malam, hanya suara hujan yang menghantam atap seng halte, mereka duduk berdekatan. Hawa dingin perlahan terkalahkan oleh panas tubuh yang saling mendekat.
Arya menoleh ke arah Nadia. Wajah Nadia yang basah terlihat begitu cantik di bawah lampu jalan yang temaram. Tanpa sadar, tangan Arya bergerak menyeka air hujan di pipi Nadia. Nadia tidak menghindar. Ia justru memejamkan mata, menikmati sentuhan kasar tangan buruh Arya yang terasa sangat lembut bagi hatinya.
"Nad..." bisik Arya.
"Iya, Mas?"
"Aku nggak tahu apa yang terjadi nanti, tapi aku ingin terus ada di sampingmu."
Nadia membuka matanya, menatap Arya dengan dalam. "Janji, Mas?"
Arya mengangguk pasti. Di halte itulah, di tengah badai yang mengamuk, mereka mengunci janji pertama mereka dengan sebuah pelukan erat. Sebuah pelukan yang awalnya murni karena keinginan untuk melindungi, namun perlahan berubah menjadi gairah yang mulai membakar. Inilah awal dari segalanya—awal dari cinta yang akan membawa mereka pada puncak kenikmatan, sekaligus jurang kehancuran yang tidak pernah dibayangkan oleh Arya sebelumnya.
#Bersambung
Bab 2
Bab 3
Diubah oleh c4punk1950... 10-05-2026 19:20
theiceberg dan 3 lainnya memberi reputasi
4
954
7
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan