- Beranda
- Komunitas
- Entertainment
- Film Indonesia
Review Jujur Film Mariposa Kisah Pengejar Cinta yang Bikin Gemas
TS
mereviewin
Review Jujur Film Mariposa Kisah Pengejar Cinta yang Bikin Gemas

Pernah merasa jadi "bucin" alias budak cinta sampai rela melakukan apa saja demi menarik perhatian gebetan? Kalau iya, kamu pasti bakal merasa relate banget dengan perjuangan Acha di film Mariposa. Rasanya memang berat kalau kita naksir orang, tapi orang tersebut malah cuek bebek. Bukannya dapat balasan cinta, kadang malah cuma dapat sindiran dari teman atau penolakan yang bikin nyesek.
Namun, film Mariposa yang tayang sejak Maret 2020 lalu ini ingin menunjukkan bahwa kegigihan seorang bucin akut ternyata bisa berbuah manis. Bukan sekadar drama cinta-cintaan biasa, film ini membawa kesegaran tersendiri bagi pecinta genre romansa remaja.
Pertaruhan Antara Ambisi dan Perasaan Sang Pemuja Cinta
Mariposa menyoroti kehidupan Acha (Adhisty Zara), siswi SMA yang tidak hanya cantik tapi juga punya otak encer. Hidupnya jadi penuh warna sejak ia jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Iqbal (Angga Yunanda). Iqbal sendiri bukan tipikal cowok populer yang ramah; ia justru dikenal sebagai murid paling dingin, kaku, dan sulit didekati di sekolah.
Acha bukan tipe cewek yang menunggu. Ia sangat frontal dalam mendekati Iqbal mulai dari minta nomor HP di pertemuan pertama, pura-pura tenggelam supaya ditolong, sampai menyatakan cinta secara terang-terangan di depan umum. Namun, meluluhkan hati cowok yang sifatnya seperti batu ini tentu bukan perkara mudah. Dinamika "pengejaran" inilah yang menjadi nyawa dari film Mariposa.
Sentuhan Emas Fajar Bustomi dalam Sinema Romansa Muda
Nama Fajar Bustomi sepertinya sudah menjadi jaminan mutu untuk film romansa anak muda di Indonesia. Menariknya, saat Mariposa dirilis, karya Fajar lainnya yaitu Milea: Suara dari Dilan juga masih menghiasi layar bioskop. Meskipun keduanya mengusung tema cinta sekolah, Mariposa terasa lebih modern dan relevan dengan gaya pacaran generasi Z saat ini.
Fajar berhasil mengolah skenario sedemikian rupa sehingga ceritanya tidak terasa "cringe" atau berlebihan. Bahkan, bagi penonton yang sudah berusia dewasa (25-35 tahun), tingkah laku Acha yang sangat ambisius mengejar cinta tetap bisa dinikmati tanpa rasa risih. Film ini mampu menangkap esensi kejujuran emosi remaja tanpa kehilangan sisi realistisnya.
Estetika Visual yang Segar
Satu hal yang langsung terasa saat menonton Mariposa adalah penggunaan tone warna yang sangat cantik. Pemilihan palet warna yang cerah dan segar memberikan kesan ala drama Korea (Drakor), yang memang sangat digemari audiens muda. Visual yang memanjakan mata ini didukung pula oleh scoring musik yang pas, membangun suasana emosional tanpa terkesan dipaksakan.
Bisa dibilang, Fajar Bustomi sudah menemukan "rumus" paten dalam menciptakan atmosfer romansa yang disukai penonton Indonesia. Pengaturan latar sekolah dan hubungan antara anak dengan orang tua juga digarap dengan porsi yang pas, sehingga cerita tidak hanya melulu soal cinta monyet.
Chemistry Zara dan Angga yang Luar Biasa
Kesuksesan Mariposa tentu tidak lepas dari pemilihan pemeran utamanya. Adhisty Zara dan Angga Yunanda kembali dipasangkan setelah sebelumnya sukses besar di Dua Garis Biru. Meskipun penonton mungkin masih terbayang karakter Dara dan Bima, keduanya berhasil lepas dari bayang-bayang tersebut dan menjelma menjadi Acha dan Iqbal yang benar-benar berbeda.
Zara tampil luar biasa sebagai Acha. Ia mampu membawakan karakter yang genit, pantang menyerah, namun tetap terlihat manis. Karakter Acha seolah-olah memang diciptakan khusus untuk Zara. Sementara itu, Angga berhasil membawakan karakter Iqbal yang irit bicara namun memiliki kedalaman emosi yang kuat melalui tatapan matanya.
Dukungan dari jajaran pemeran senior seperti Aryo Wahab dan Ersa Mayori, serta karakter pendukung yang diperankan oleh Dannia Salsabila, Abun Sungkar, dan Junior Roberts, semakin melengkapi kekompakan film ini.
Dari Wattpad Menuju Layar Lebar
Mariposa diangkat dari novel karya Luluk HF yang berawal dari platform Wattpad. Tidak main-main, ceritanya sudah dibaca lebih dari 100 juta kali sebelum akhirnya dibukukan dan difilmkan. Kepopuleran ini tentu bukan tanpa alasan; Luluk HF memang dikenal sebagai penulis yang paham betul bagaimana cara menyentuh hati pembaca remaja.
Catatan Akhir Perjalanan Cinta Acha dan Iqbal di Mariposa
Secara keseluruhan, Mariposa adalah tontonan yang sangat menghibur. Film ini jauh dari kesan "lebay" dan mampu menyajikan cerita yang ringan namun tetap memiliki pesan yang dalam. Bagi kamu yang butuh asupan film romantis dengan bumbu komedi yang segar, perjalanan Acha mengejar Iqbal ini wajib masuk daftar tontonan kamu.
Jadi, menurut kamu sendiri bagaimana? Apakah kamu setuju kalau Acha disebut sebagai "suhu"-nya para bucin? Jangan lupa tulis ulasan atau pendapatmu di kolom komentar ya!
Diubah oleh mereviewin 10-05-2026 17:08
0
14
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan