- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
Cinta Terlarang
TS
c4punk1950...
Cinta Terlarang

Quote:
Bab 1: Gema di Lorong Gudang
Udara di dalam gudang tekstil itu selalu terasa berat, campuran antara bau kain baru, debu yang menari-nari di bawah lampu neon yang berkedip, dan aroma keringat yang tak pernah benar-benar hilang. Bagi Angga, tempat ini adalah dunia keduanya. Sebuah penjara sukarela yang ia jalani demi melihat asap dapur di rumahnya tetap mengepul.
Angga baru saja meletakkan satu bal pakaian wanita seberat lima puluh kilogram ke atas tumpukan. Napasnya tersengal, dadanya terasa nyeri, namun ia hanya menyeka keringat dengan punggung tangan yang kasar.
"Angga! Belum pulang? Ini sudah malam Minggu, lho," teriak Pak darto, kepala gudang, dari kejauhan.
Angga hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak sampai ke mata. "Tanggung, Pak. Sedikit lagi selesai. Lumayan buat tambah-tambah."
"Kamu itu terlalu keras pada diri sendiri. Istrimu, Yuni, pasti kangen. Jangan sampai uangnya banyak, tapi orangnya malah 'tumbang'," seloroh Pak Darto sambil berlalu.
Angga tidak menjawab. Ia tahu Pak Darto benar, tapi Pak Darto tidak tahu bahwa cinta Angga tidak berbentuk kata-kata manis atau pelukan hangat setiap malam. Cintanya berbentuk lembaran uang yang ia selipkan di bawah bantal Yuni setiap kali ia pulang sebulan sekali. Cintanya berbentuk punggung yang pegal dan kaki yang mulai sering kaku demi memastikan anak-anaknya tidak merasa kekurangan.
Di rumah, Yuni adalah wanita yang cantik, namun kelelahan mulai menggerogoti wajahnya. Ia bekerja serabutan, menerima jahitan, dan mengurus anak-anak sendirian. Angga tahu ia terlihat cuek. Ia jarang menelepon, jarang mengirim pesan romantis. Baginya, pulang dengan membawa hasil kerja adalah pembuktian tertinggi.
Malam itu, saat jam menunjukkan pukul sebelas malam, Angga duduk di dipan gudang yang keras. Ia membuka ponselnya, melihat foto profil WhatsApp Yuni. Ia ingin mengetik “Aku rindu”, tapi jemarinya yang kaku karena kerja kasar terasa sangat berat. Akhirnya, ia hanya mengirim pesan singkat:
“Uang sudah ditransfer. Jaga kesehatan.”
Tak lama, balasan masuk. “Iya, Mas. Makasih. Kapan pulang?”
Angga menatap langit-langit gudang yang suram. Ia tidak tahu bahwa di balik pertanyaan "Kapan pulang?" itu, ada kekosongan besar di hati Yuni yang mulai mencari celah untuk diisi oleh hal lain.
Tiba-tiba, rasa nyeri yang hebat menjalar dari pinggang bawah hingga ke kakinya. Angga meringis, memegangi pinggir dipan. Ia menganggapnya hanya kelelahan biasa. Ia tidak sadar bahwa malam itu adalah awal dari akhir bagi tubuhnya, dan juga awal dari retaknya pondasi rumah tangga yang ia bangun dengan keringat dan darah.
Bab 2: Runtuhnya Tiang Penyangga
Suara dentum keras itu mengagetkan seluruh penghuni gudang pada Selasa pagi yang terik. Angga terkapar di antara tumpukan kain satin yang licin. Bal besar yang tadinya ia panggul menggelinding tak jauh dari kepalanya. Wajahnya pucat pasi, matanya terpejam rapat dengan gigi yang mengatup menahan nyeri yang tak terlukiskan.
"Angga! Angga, bangun!" teriak rekan kerjanya panik.
Dunia Angga gelap seketika. Saat ia membuka mata, langit-langit putih rumah sakit yang kusam menyambutnya. Bau karbol yang menyengat menggantikan bau debu gudang yang biasa ia hirup. Di sampingnya, Yuni duduk dengan mata sembap, menggenggam jemari Angga yang kini terasa dingin.
"Mas... kamu sudah sadar?" bisik Yuni lirih.
Angga mencoba menggerakkan kakinya, namun ia tertegun. Ia tidak merasakan apa-apa dari pinggang ke bawah. Kosong. Hampa.
"Kaki saya, Yun... kenapa kaki saya tidak bisa bergerak?" Suara Angga bergetar, nada bicaranya yang biasanya tegas kini pecah oleh ketakutan.
Dokter masuk tak lama kemudian, membawa hasil rontgen yang menjadi vonis mati bagi karier fisik Angga. "Ada saraf yang terjepit sangat parah di tulang belakang Bapak. Akibat beban yang terlalu berat selama bertahun-tahun tanpa istirahat yang cukup. Untuk sementara, Bapak harus istirahat total. Tidak boleh bekerja berat, apalagi memanggul."
Kalimat dokter itu seperti petir yang menyambar di siang bolong. Angga terdiam seribu bahasa. Ia adalah mesin pencari uang; jika mesin itu rusak, bagaimana dengan nasib istri dan dua anaknya?
Seminggu kemudian, Angga dipulangkan dengan kursi roda pinjaman. Rumah kecil mereka yang biasanya sepi kini terasa menyesakkan bagi Angga. Ia hanya bisa duduk di teras, menatap ayam-ayam kampung di halaman belakang yang ia pelihara sekadarnya.
"Mas, jangan dipikirkan terus. Aku sudah putuskan," ujar Yuni suatu pagi sambil meletakkan segelas teh hangat. "Warung di depan akan kubuka kembali. Aku akan jualan kebutuhan pokok dan gorengan. Aku yang akan cari uang sekarang."
Angga menatap istrinya dengan perasaan campur aduk. Ada rasa bangga, namun rasa rendah diri lebih mendominasi. "Maafkan aku, Yun. Aku malah jadi beban."
"Jangan bicara begitu. Mas sudah berjuang bertahun-tahun untuk kami," jawab Yuni, meski Angga bisa melihat guratan kelelahan dan kecemasan di dahi istrinya.
Hari-hari berikutnya menjadi ujian harga diri bagi Angga. Ia melihat Yuni bangun pukul empat pagi, pergi ke pasar induk, lalu berdiri seharian melayani pembeli di warung. Sementara ia? Ia hanya bisa duduk, mencoba mencari kesibukan dengan menulis di buku catatan tua atau memberi makan unggas-unggasnya dengan menyeret tubuh menggunakan kruk.
Angga mulai menyibukkan diri dengan menulis cerpen dan mengirimnya ke berbagai media online menggunakan laptop butut miliknya. Penghasilannya tidak seberapa, hanya cukup untuk pulsa dan sedikit tambahan belanja. Namun, rasa bosan dan rasa 'tidak berdaya' mulai menciptakan celah di antara mereka.
Yuni, yang kini menjadi tumpuan keluarga, mulai sering berdandan sedikit lebih rapi untuk menarik pelanggan warung. Kelelahan membuat komunikasinya dengan Angga semakin singkat. Di tengah kesibukan mengurus warung itulah, sebuah undangan masuk ke ponsel Yuni melalui grup WhatsApp lama.
Reuni Akbar SMA Negeri 1. Sabtu Malam.
Yuni menatap Angga yang sedang sibuk mengetik di teras. "Mas, bolehkah aku pergi sebentar sabtu malam nanti? Ada reuni sekolah."
Angga tidak menoleh, jemarinya terus menari di atas keyboard. "Pergilah. Kamu butuh hiburan setelah capek mengurus warung."
Angga tidak tahu bahwa izin yang ia berikan adalah kunci pembuka bagi pintu pengkhianatan yang akan menghancurkan sisa-sisa rumah tangga mereka.
Bab 3: Nostalgia yang Beracun
Malam minggu itu, Yuni tampil berbeda. Ia mengenakan gamis berwarna marun yang sudah lama tersimpan di lemari, sedikit polesan lipstik merah muda menghiasi bibirnya yang biasa pucat karena asap penggorengan. Angga menatapnya dari kursi kayu di teras, ada secercah kekaguman yang tak terucap, namun juga ada rasa sesak yang ia simpan sendiri.
"Aku pergi dulu ya, Mas. Anak-anak sudah tidur, makanan sudah kusiapkan di meja," pamit Yuni sambil mencium punggung tangan Angga.
"Iya, hati-hati. Jangan pulang terlalu malam," jawab Angga singkat, kembali menekuni layar laptopnya. Ia sedang mengejar tenggat waktu sebuah cerpen tentang seorang lelaki yang kehilangan kakinya namun menemukan sayap di jemarinya. Ironis, pikirnya.
Gedung serbaguna itu tampak meriah. Suara musik pop tahun 2000-an menggema, membawa ingatan Yuni kembali ke masa remaja yang tanpa beban. Di tengah kerumunan, ia merasa asing, hingga sebuah suara bariton yang akrab memanggil namanya.
"Yuni? Yuni Rahayu?"
Yuni menoleh. Seorang pria dengan kemeja slim-fit berwarna biru gelap berdiri di sana. Rambutnya tertata rapi, aroma parfum mahal langsung menyeruak ke hidung Yuni. Jam tangan emas melingkar di pergelangan tangannya, memancarkan kesan kemapanan.
"Bram?" mata Yuni membelalak. "Ya ampun, kamu beda sekali!"
Bram tersenyum lebar, jenis senyum yang dulu selalu membuat jantung Yuni berdegup kencang saat SMA. "Kamu juga, Yun. Tetap cantik. Tapi... matamu terlihat lelah. Kenapa?"
Pertanyaan itu seperti membuka keran bendungan yang selama ini ditahan Yuni. Sepanjang malam, di pojok ruangan yang agak tenang, mereka bercerita. Bram bercerita tentang bisnis propertinya yang sukses, meski ia mengaku kesepian karena istrinya sibuk dengan dunianya sendiri. Sebaliknya, Yuni bercerita tentang warungnya, tentang Angga yang sakit, dan tentang beratnya menjadi tulang punggung.
"Kasihan kamu, Yun," bisik Bram sambil menggeser kursinya lebih dekat. Tangan Bram dengan berani menyentuh punggung tangan Yuni. "Wanita selembut kamu tidak seharusnya memegang sudip gorengan setiap hari. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik."
Yuni seharusnya menarik tangannya. Namun, rasa hangat dari sentuhan itu terasa begitu nyaman. Sudah berapa lama Angga tidak menggenggam tangannya seperti ini? Angga hanya memberinya uang, bukan belaian. Angga memberinya instruksi, bukan pujian.
"Aku punya istri, Bram. Kamu punya istri," ujar Yuni lemah, mencoba mengingatkan diri sendiri.
"Aku tahu. Tapi apa salahnya dua orang teman lama saling menghibur? Aku tidak tahan melihatmu menderita," balas Bram dengan tatapan yang menghanyutkan.
Malam itu, mereka bertukar nomor telepon. Saat pulang, Yuni melihat Angga sudah tertidur di sofa depan laptop yang masih menyala. Wajah suaminya tampak sangat tua dan lelah dalam tidurnya. Yuni merasa bersalah, namun getaran ponsel di tasnya—sebuah pesan dari Bram bertuliskan: "Senang melihatmu lagi, sampaikan salam pada hatimu"—membuat rasa bersalah itu terkubur oleh sensasi mendebarkan yang sudah lama hilang.
Di kegelapan kamar, Yuni mulai membandingkan. Angga adalah realita yang pahit, sedangkan Bram adalah fantasi yang manis. Dan malam itu, Yuni mulai memilih untuk hidup dalam fantasi.
Bab 4: Retakan di Balik Kabut
Pagi itu, warung Yuni terasa lebih sempit dari biasanya. Suara bising kompor gas dan aroma minyak goreng yang biasanya menjadi penyemangat, kini terasa seperti beban yang menghimpit. Pikirannya tidak di sana. Setiap kali ponselnya bergetar di saku daster, jantungnya melonjak.
“Aku di depan pasar. Pakai mobil putih. Kita makan siang sebentar, ya?” Pesan dari Bram itu seperti oase.
Yuni menatap Angga yang sedang duduk di kursi kayu di bawah pohon mangga. Angga sedang sibuk memberi makan ayam-ayamnya, gerakannya lambat karena kakinya yang masih sering kaku. Di pangkuannya ada sebuah buku catatan; ia sedang menulis naskah lepas yang ia harap bisa tembus ke media nasional.
"Mas, aku ke pasar sebentar, ya? Stok gula dan minyak sudah tipis," dusta Yuni. Suaranya sedikit gemetar, tapi Angga tidak menoleh.
"Iya, hati-hati. Jangan terlalu dipaksakan kalau bawaannya berat, nanti panggil tukang becak saja," sahut Angga pelan. Nadanya datar, namun sebenarnya penuh perhatian yang tersirat.
Yuni bergegas pergi. Namun, alih-alih ke los sembako, ia justru melangkah menuju parkiran luar. Di sana, sebuah mobil mewah berwarna putih sudah menunggu. Begitu pintu terbuka, hawa dingin AC dan aroma parfum citrus yang mahal menyambutnya.
"Kamu terlihat cantik hari ini, walau hanya pakai baju sederhana," puji Bram sambil melajukan mobilnya menuju sebuah kafe di pinggiran kota yang jauh dari jangkauan mata tetangga.
Di kafe itu, Yuni seolah lupa pada daster yang ia kenakan di balik jaketnya. Ia lupa pada cucian yang menumpuk dan suami yang menunggunya pulang dengan belanjaan. Bram memesankannya steak dan jus jeruk segar, makanan yang tak mungkin bisa dibeli dari keuntungan warungnya selama seminggu.
"Angga tidak akan tahu, Yun. Kita hanya makan," bisik Bram sambil menggenggam tangan Yuni di atas meja. "Aku hanya ingin kamu merasa jadi wanita lagi, bukan cuma mesin pembuat kopi di warung."
"Tapi aku merasa jahat, Bram. Dia sedang sakit..."
"Justru karena dia sakit, kamu butuh sandaran. Jangan biarkan dirimu ikut layu bersamanya."
Satu jam berubah menjadi tiga jam. Mereka tidak hanya makan, mereka berbelanja di mal dekat sana. Bram membelikan Yuni sebuah tas tangan bermerek. Yuni sempat menolak, namun Bram memaksa. "Simpan di bawah tumpukan baju di lemarimu. Dia tidak akan pernah mengeceknya, kan?"
Saat Yuni sampai di rumah, hari sudah sore. Ia membawa satu kantong plastik kecil berisi gula sebagai alibi. Angga masih di tempat yang sama, namun wajahnya tampak lebih gelap dari biasanya.
"Lama sekali di pasar, Yun?" tanya Angga tanpa ekspresi.
"Iya Mas, tadi antre di grosiran. Ramai sekali," jawab Yuni sambil berjalan cepat menuju dapur.
Angga menatap punggung istrinya. Ia mencium sesuatu yang asing saat Yuni lewat di depannya. Bukan bau asap gorengan, bukan bau debu pasar. Itu bau parfum pria yang sangat kuat—jenis parfum yang tidak akan mungkin dipakai oleh kuli pasar maupun tukang becak.
Malamnya, saat Yuni tertidur pulas karena kelelahan—atau mungkin karena perasaan senang yang meluap—Angga terjaga. Ia menatap langit-langit kamar dengan perasaan gelisah. Di bawah tempat tidur, ia tanpa sengaja melihat ujung sebuah tas mewah yang belum sempat disembunyikan Yuni dengan sempurna.
Dada Angga bergemuruh. Ia ingin marah, tapi ia tidak punya bukti. Ia ingin bertanya, tapi ia takut jawabannya akan lebih menghancurkan dirinya daripada penyakit yang ia derita. Namun, benih kecurigaan itu kini telah tumbuh, akarnya mulai melilit kewarasan Angga.
Bab 5: Jejak di Balik Sandi
Suasana rumah terasa semakin sunyi, namun bagi Angga, kesunyian itu justru bising dengan kecurigaan. Yuni semakin sering membawa ponselnya bahkan saat ke kamar mandi. Pola perilaku yang berubah drastis itu bagi Angga adalah sinyal bahaya yang lebih nyata daripada rasa sakit di kakinya.
Sore itu, Yuni sedang sibuk melayani pembeli yang ramai di warung depan. Ia meninggalkan ponselnya di atas meja makan dalam keadaan terhubung ke pengisi daya. Angga, yang sedang duduk di kursi roda sembari mencoba merangkai kalimat untuk naskah barunya, melihat sebuah notifikasi muncul di layar ponsel istrinya.
Sebuah pesan dari aplikasi Facebook Messenger.
Biasanya, Angga tidak pernah mau tahu urusan pribadi istrinya. Namun, rasa sesak di dadanya mendorong tangannya untuk meraih ponsel itu. Beruntung, Yuni lupa mengunci layar karena terburu-buru melayani pembeli.
Mata Angga membelalak. Nama akun pengirimnya adalah Bramasta.
"Terima kasih untuk hari ini, Sayang. Tasnya cocok sekali untukmu. Aku tidak sabar menunggumu memakainya saat kita nonton minggu depan. Kecup jauh untukmu."
Dunia seolah berhenti berputar. Angga merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Dengan tangan gemetar, ia menggulir ke atas, membaca riwayat percakapan mereka. Di sana, segalanya terpampang nyata: foto-foto mereka di kafe, foto Yuni yang tersenyum manja di dalam mobil mewah, hingga keluhan-keluhan Yuni tentang hidupnya yang "terjebak" bersama suami yang tidak bisa apa-apa.
"Mas Angga sekarang cuma bisa diam, Bram. Aku lelah harus mengurus semuanya sendiri. Bersamamu, aku merasa hidup kembali," tulis Yuni dalam salah satu pesan.
Setetes air mata jatuh di layar ponsel itu. Bukan karena Angga merasa lemah, tapi karena ia merasa harga dirinya sebagai lelaki telah diinjak-injak hingga ke dasar bumi. Ia ingat bagaimana ia memaksakan diri bekerja di gudang sampai sarafnya terjepit demi membelikan Yuni daster yang layak, dan kini, istrinya menyebutnya sebagai beban.
"Mas? Sedang apa dengan ponselku?"
Suara Yuni tiba-tiba muncul dari arah dapur. Ia berdiri mematung, melihat suaminya memegang ponsel dengan wajah yang mengerikan. Wajah Angga yang biasanya cuek kini berubah menjadi merah padam dengan tatapan mata yang tajam seperti belati.
Angga tidak melempar ponsel itu. Ia hanya meletakkannya kembali ke meja dengan perlahan, namun suaranya terdengar sangat dalam dan bergetar.
"Berapa harga harga dirimu, Yun? Apakah seharga tas mewah yang kamu sembunyikan di bawah lemari itu?"
Yuni lemas. Seluruh persendiannya seolah lolos. "Mas... aku bisa jelaskan... itu cuma teman lama..."
"Teman lama tidak saling mengecup di pesan singkat! Teman lama tidak menyebut suaminya sebagai beban di depan orang lain!" teriak Angga. Ini adalah pertama kalinya Angga berteriak sejak mereka menikah.
Angga memutar kursi rodanya, membelakangi Yuni. "Jangan dekati aku. Mulai hari ini, aku akan mencari tahu siapa pria pengecut yang berani menyentuh milikku."
Malam itu, Angga tidak tidur. Dengan kemampuan risetnya sebagai penulis lepas, ia mulai "bergerilya" di dunia maya. Ia melacak akun Bramasta, mencari tahu di mana ia bekerja, siapa istrinya, dan di mana rumahnya. Dendam telah menggantikan rasa sakit fisiknya. Angga yang diam telah bangun menjadi singa yang terluka.
Bersambung
Bagian 1
Bagian 2
Terima kasih yang sudah membaca thread ini sampai akhir, bila ada kritik silahkan disampaikan dan semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat dan merdeka. See u next thread.


"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2026
referensi : Gemini
Pic : google





Diubah oleh c4punk1950... 10-05-2026 08:08
N_182 dan jenggalasunyi memberi reputasi
2
667
2
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan