Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat pagi GanSist semuanya!
Dalam banyak lingkungan sosial, terutama sekolah, kampus, tempat kerja, bahkan media sosial, perilaku bullying masih sering dianggap hal biasa. Ada yang menganggap ejekan kasar sebagai “candaan”, ada pula yang menganggap tindakan merendahkan orang lain sebagai bentuk dominasi agar terlihat kuat dan populer.
Padahal, jika dilihat dari sudut pandang psikologi dan perkembangan mental, perilaku membully justru menunjukkan kelemahan karakter.
Thread ini merupakan bagian dari
Superwoman Series yang ke-59, yaitu seri yang membahas bagaimana wanita dapat menjadi kuat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual. Pada seri kali ini, pembahasannya adalah tentang mengapa perempuan yang suka membully sebenarnya bukan sosok wanita yang kuat, melainkan wanita yang sangat kekanak-kanakan secara emosional dan sosial.
Menurut
American Psychological Association, bullying merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja dan berulang untuk menyakiti atau mendominasi orang lain yang dianggap lebih lemah.
Perilaku ini bukan sekadar masalah “kenakalan”, melainkan berkaitan dengan regulasi emosi, empati, serta kebutuhan validasi sosial.
Banyak orang mengira pembully adalah orang yang paling kuat di lingkungan sosialnya. Kenyataannya, penelitian justru menunjukkan bahwa perilaku agresif sering muncul dari rasa tidak aman, kebutuhan dominasi, dan kesulitan mengelola emosi.
Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa wanita kuat tidak dibangun dari kemampuan menjatuhkan orang lain, tetapi dari kemampuan mengendalikan diri dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Quote:
1. Cewek Pembully Tidak Bisa Melindungi Orang Lemah
Salah satu ciri utama kekuatan mental adalah kemampuan melindungi orang yang lebih lemah, bukan menindasnya.
Dalam psikologi sosial, empati merupakan salah satu indikator penting kedewasaan emosional. Menurut penelitian oleh Jolliffe dan Farrington (2006), pelaku bullying cenderung memiliki tingkat empati yang lebih rendah dibandingkan orang yang tidak melakukan bullying.
Artinya, pembully sering kali sulit memahami atau peduli terhadap penderitaan orang lain.
Wanita Kuat Punya Naluri Protektif
Wanita yang benar-benar kuat biasanya memiliki kesadaran sosial yang tinggi. Wanita kuat tidak merasa hebat hanya karena bisa membuat orang lain menangis atau malu.
Sebaliknya, wanita kuat memahami bahwa kekuatan seharusnya digunakan untuk membela teman yang dikucilkan, menenangkan konflik, membantu orang yang kesulitan, dan menjadi lingkungan yang aman bagi orang lain.
Dalam banyak penelitian psikologi perkembangan, perilaku prososial seperti membantu dan melindungi orang lain berkaitan erat dengan kesehatan mental yang lebih baik.
Menurut penelitian oleh Eisenberg et al. (2015), manusia yang memiliki empati dan perilaku prososial cenderung memiliki hubungan sosial yang lebih sehat dan stabil.
Dominasi Bukanlah Tanda Kekuatan
Banyak pembully merasa dirinya “kuat” karena ditakuti orang lain. Padahal, rasa takut itu bukan tanda penghormatan.
Korban mungkin diam di depan pembully, tetapi jauh di dalam hati, korban tidak benar-benar menghormati perilaku tersebut.
Wanita kuat tidak membutuhkan kesan menakutkan untuk terlihat berharga. Wanita kuat cukup menunjukkan kualitas dirinya melalui tindakan nyata.
Quote:
2. Cewek Pembully Suka Menjatuhkan Orang Lain dengan Ejekan Kasar
Salah satu senjata utama pembully adalah kata-kata.
Ejekan tentang fisik, ekonomi, penampilan, kecerdasan, atau latar belakang sosial sering digunakan untuk menjatuhkan harga diri korban.
Menurut
Centers for Disease Control and Prevention, bullying verbal dapat berdampak serius terhadap kesehatan mental korban, termasuk meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan rendah diri.
Mengapa Pembully Suka Menghina?
Secara psikologis, perilaku menghina sering muncul dari kebutuhan untuk merasa lebih unggul.
Penelitian oleh Volk et al. (2014) menunjukkan bahwa bullying sering digunakan sebagai strategi sosial untuk mendapatkan status atau dominasi dalam kelompok. Namun, strategi ini sebenarnya rapuh.
Mengapa? Sebab, harga diri yang sehat tidak dibangun dengan menjatuhkan orang lain.
Wanita Kuat Lebih Suka Memberikan Apresiasi
Sebaliknya, wanita yang dewasa secara mental biasanya lebih mampu memberikan dukungan positif kepada orang lain. Wanita tangguh tidak takut melihat orang lain yang lebih cantik, pintar, atau sukses.
Mengapa? Sebab, wanita tangguh tidak membangun identitas dirinya dari perbandingan sosial terus-menerus.
Dalam psikologi positif, kemampuan memberikan apresiasi dan dukungan sosial berkaitan dengan kesejahteraan emosional yang lebih baik.
Menurut penelitian oleh Seligman (2011), emosi positif dan hubungan sosial sehat merupakan dasar penting kesehatan mental.
Lingkungan Positif Membentuk Mental yang Lebih Sehat
Wanita yang suka memberi dukungan biasanya lebih mudah membangun hubungan sosial yang stabil.
Sebaliknya, pembully sering menciptakan lingkungan penuh ketegangan, drama, dan ketidakpercayaan.
Ironisnya, banyak pembully akhirnya kesulitan membangun hubungan yang tulus karena orang lain mendekatinya hanya karena takut atau tekanan sosial.
Quote:
3. Cewek Pembully Sering Terlihat Percaya Diri, Padahal Sebenarnya Minder
Ini adalah salah satu fakta psikologis yang paling menarik.
Banyak pembully terlihat sangat percaya diri, yaitu berani bicara keras, suka mendominasi, suka mempermalukan orang lain, dan terlihat paling populer
Namun, di balik itu semua, sering kali ada rasa tidak percaya diri (
insecurity) yang besar.
Menurut penelitian oleh Bushman dan Baumeister (1998), perilaku agresif sering muncul dari harga diri rapuh yang mudah terancam.
Artinya, sebagian orang agresif justru sangat sensitif terhadap keberhasilan atau kelebihan orang lain.
Mengapa Pembully Sulit Melihat Orang Lain Berhasil?
Sebab, keberhasilan orang lain dianggap ancaman bagi identitas dirinya.
Akibatnya, muncul perilaku seperti iri berlebihan, menyebarkan gosip, menghina pencapaian orang lain, dan mencoba menjatuhkan reputasi orang lain.
Padahal, wanita yang benar-benar percaya diri tidak merasa terancam oleh keberhasilan orang lain. Wanita percaya diri memahami bahwa hidup bukan kompetisi siapa paling populer.
Wanita Kuat Tidak Haus Validasi
Dalam seri-seri sebelumnya di Superwoman Series, sudah dibahas bahwa wanita kuat membangun dirinya melalui disiplin, kesehatan, prestasi, kemandirian, dan pengendalian diri.
Oleh karena itu, wanita yang kuat dan percaya diri tidak terlalu sibuk mencari validasi sosial.
Menurut Albert Bandura, rasa percaya diri sejati (
self-efficacy) muncul dari pengalaman nyata dalam menghadapi tantangan, alih-alih dari pujian kosong.
Quote:
Kekuatan Sejati Adalah Pengendalian Diri
Banyak orang salah memahami arti kekuatan.
Kekuatan bukan berarti menjadi yang paling galak, paling ditakuti, paling dominan, dan paling keras bicara.
Dalam psikologi modern, kemampuan mengendalikan emosi justru merupakan indikator kedewasaan mental yang sangat penting.
Menurut penelitian oleh Gross (2015), regulasi emosi berperan besar terhadap kualitas hubungan sosial dan kesehatan psikologis.
Artinya, wanita yang mampu tetap tenang, suportif, dan stabil secara emosional sebenarnya jauh lebih kuat dibandingkan pembully yang mudah marah dan suka menjatuhkan orang lain.
Quote:
KESIMPULAN
Dalam konteks Superwoman Series #59, wanita kuat bukanlah wanita yang membuat orang lain takut. Wanita kuat adalah wanita yang mampu mengendalikan emosinya, tidak iri terhadap keberhasilan orang lain, mampu melindungi yang lemah, memberikan energi positif, dan membuktikan kualitas dirinya melalui tindakan nyata.
Pembully mungkin terlihat dominan untuk sementara waktu, tetapi kekuatan semacam itu biasanya rapuh dan bergantung pada validasi sosial.
Sebaliknya, wanita yang benar-benar kuat tidak perlu menjatuhkan orang lain untuk merasa berharga karena kualitas dirinya sudah cukup berbicara.
Quote:
SUMBER
Akun Y*ut*be Pria Seratus Persen (tetapi diadaptasi dengan gaya wanita)
American Psychological Association. (2021).
Bullying and aggressive behavior. Washington, DC.
Bandura, A. (1997).
Self-efficacy: The exercise of control. New York: Freeman.
Bushman, B. J., & Baumeister, R. F. (1998). Threatened egotism and aggression.
Journal of Personality and Social Psychology,
75(1), 219–229.
Centers for Disease Control and Prevention. (2020).
Bullying and youth violence. Atlanta, GA.
Eisenberg, N., Spinrad, T. L., & Knafo-Noam, A. (2015). Prosocial development.
Handbook of Child Psychology and Developmental Science,
7, 610–656.
Gross, J. J. (2015). Emotion regulation.
Current Biology,
25(11), R424–R429.
Jolliffe, D., & Farrington, D. P. (2006). Examining the relationship between empathy and bullying.
Aggressive Behavior,
32(6), 540–550.
Seligman, M. E. P. (2011).
Flourish. New York: Free Press.
Volk, A. A., Dane, A. V., & Marini, Z. A. (2014). What is bullying? [i]Aggression and Violent Behavior[/b],
19(4), 315–323.
@multimedia.ptrt @sahabat.006 @pabuaranwetan