- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Produksi Beras Indonesia Semester I 2026 Mencapai 19,31 Juta Ton Ancaman El Nino
TS
aleksandronesta
Produksi Beras Indonesia Semester I 2026 Mencapai 19,31 Juta Ton Ancaman El Nino
Quote:
Industri & Perdagangan
Produksi Beras Indonesia Semester I 2026 Mencapai 19,31 Juta Ton di Tengah Ancaman El Nino
Hany Akasah• Jumat, 8 Mei 2026 | 11:28 WIB

ILUSTRASI: Produksi beras Indonesia yang tembus 19 juta ton pada semester I 2026
RADAR SURABAYA BISNIS - Produksi beras nasional pada Maret 2026 tercatat mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Meski demikian, secara keseluruhan produksi beras Indonesia selama semester pertama 2026 masih menunjukkan peningkatan tipis.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional pada Maret 2026 mencapai 5,04 juta ton.
Angka tersebut berasal dari hasil konversi produksi padi menjadi beras untuk kebutuhan konsumsi masyarakat.
Jika dibandingkan Maret 2025, jumlah produksi beras mengalami penurunan sekitar 3,67 persen atau berkurang sekitar 0,19 juta ton.
Sementara itu, produksi beras pada April 2026 diperkirakan berada di angka 4,39 juta ton.
Jumlah tersebut diproyeksikan kembali menurun menjadi 2,75 juta ton pada Mei 2026 dan turun lagi menjadi 2,48 juta ton pada Juni 2026.
Walau terjadi penurunan pada beberapa bulan, total sementara produksi beras nasional selama Semester I 2026 mencapai 19,31 juta ton.
Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 19,26 juta ton.
Penurunan juga terjadi pada produksi padi nasional.
Produksi gabah kering panen (GKP) pada Maret 2026 tercatat sebesar 10,48 juta ton atau turun 3,63 persen secara tahunan.
Selain itu, produksi gabah kering giling (GKG) juga mengalami penurunan sebesar 3,69 persen menjadi 8,75 juta ton.
Luas panen padi di Indonesia turut menyusut sekitar 3,16 persen menjadi 1,61 juta hektare.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa angka produksi tersebut masih berupa potensi dan bisa berubah sesuai kondisi di lapangan dalam beberapa bulan ke depan.
"Tentunya angka potensi ini masih dapat berubah tergantung pada kondisi pertanaman padi nanti sepanjang bulan April sampai dengan Juni tahun 2026, seperti pada saat ada serangan hama atau organisme pengganggu, pada kondisi banjir, pada kekeringan, waktu pelaksanaan panen oleh petaninya juga," jelasnya dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Senin (4/5).
Di sisi lain, pemerintah juga mulai mewaspadai dampak musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal pada tahun ini.
Agung menyebutkan bahwa data dari BMKG menunjukkan musim kemarau mulai berlangsung sejak April dan akan berlanjut pada Mei hingga Juni 2026, dengan puncak suhu panas ekstrem diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.
Wilayah Nusa Tenggara disebut menjadi daerah pertama yang mengalami musim kemarau sebelum kemudian meluas secara bertahap ke berbagai wilayah Indonesia lainnya.
Untuk mengantisipasi dampak terhadap sektor pertanian, Agung meminta pemerintah daerah segera menyiapkan berbagai langkah mitigasi.
Beberapa upaya yang disoroti antara lain optimalisasi irigasi perpompaan, pembangunan irigasi perpipaan, hingga percepatan penanaman di lahan sawah yang sudah siap digunakan.
Selain itu, pemerintah daerah juga diminta segera melakukan pemetaan wilayah tanam yang berpotensi terdampak kekeringan guna meminimalkan risiko penurunan produksi pangan nasional. (iza/han)
Editor : Hany Akasah
Quote:
Original Posted By kecapbasi►kenapa ngak sekalian kamu tampilkan tulisan yang ini

siapa yang bisa mengaudit satu per satu gudang beras dan produksi beras di seluruh indonesia ?
data kamu tak lengkap dan cenderung disinformasi
1. data produksi beras 2018-2024
2018= 32.42
2019= 31.31
2020= 31.33
2021= 31.36
2022= 31.54
2023= 30.90
2024= 30.62
total= 219.48
2. data impor beras 2018-2024
2018= 2.253
2019= 0.444
2020= 0.356
2021= 0.407
2022= 0.429
2023= 3.062
2024= 4.519
total= 11.47
3. data konsumsi beras 2018-2024
2018= 33.47
2019= 28.69
2020= 28.61
2021= 31.3
2022= 30.9
2023= 30.9
2024= 31.21
total= 215.08
(total produksi + impor) - konsumsi
(219+11.47) - 215.08 = 15.39 (surplus)
sangat jelas kalau impor (terutama 2018, 2023 dan 2024) yang menyebabkan surplus besar beras
kalau 2025 tidak impor seharusnya ada limpahan surplus 15.39jt ton dari tahun2 sebelumnya. ini malah hanya 5jt ton. sisa nya kemana ? makin aneh bukan ?
kalau data aku ada yang salah silahkan koreksi, tunjukkan, dan kita hitung kembali sama2.
hal aneh lainnya :
menurut atr bpn
"Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, menjelaskan bahwa, dalam periode 2019 hingga 2024, Indonesia kehilangan sekitar 554 ribu hektar lahan sawah yang beralih fungsi menjadi kawasan industri maupun perumahan."
https://www.niaga.asia/periode-2019-...-hektar-sawah/
menurut atr bpn juga
"Berdasarkan data Kementerian ATR/BPN, luas lahan baku sawah nasional mengalami penyusutan 79,6 ribu hektare dalam 2019-2024."
https://bappenas.go.id/id/berita/pem...nasional-cnhh1
masih kementrian yang sama saja datanya bisa bedah jauh.
bagaimana data dan klaim pemerintah bisa dipercaya valid ?

siapa yang bisa mengaudit satu per satu gudang beras dan produksi beras di seluruh indonesia ?
data kamu tak lengkap dan cenderung disinformasi
1. data produksi beras 2018-2024
2018= 32.42
2019= 31.31
2020= 31.33
2021= 31.36
2022= 31.54
2023= 30.90
2024= 30.62
total= 219.48
2. data impor beras 2018-2024
2018= 2.253
2019= 0.444
2020= 0.356
2021= 0.407
2022= 0.429
2023= 3.062
2024= 4.519
total= 11.47
3. data konsumsi beras 2018-2024
2018= 33.47
2019= 28.69
2020= 28.61
2021= 31.3
2022= 30.9
2023= 30.9
2024= 31.21
total= 215.08
(total produksi + impor) - konsumsi
(219+11.47) - 215.08 = 15.39 (surplus)
sangat jelas kalau impor (terutama 2018, 2023 dan 2024) yang menyebabkan surplus besar beras
kalau 2025 tidak impor seharusnya ada limpahan surplus 15.39jt ton dari tahun2 sebelumnya. ini malah hanya 5jt ton. sisa nya kemana ? makin aneh bukan ?
kalau data aku ada yang salah silahkan koreksi, tunjukkan, dan kita hitung kembali sama2.
hal aneh lainnya :
menurut atr bpn
"Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid, menjelaskan bahwa, dalam periode 2019 hingga 2024, Indonesia kehilangan sekitar 554 ribu hektar lahan sawah yang beralih fungsi menjadi kawasan industri maupun perumahan."
https://www.niaga.asia/periode-2019-...-hektar-sawah/
menurut atr bpn juga
"Berdasarkan data Kementerian ATR/BPN, luas lahan baku sawah nasional mengalami penyusutan 79,6 ribu hektare dalam 2019-2024."
https://bappenas.go.id/id/berita/pem...nasional-cnhh1
masih kementrian yang sama saja datanya bisa bedah jauh.
bagaimana data dan klaim pemerintah bisa dipercaya valid ?
Ini diungkapkan sebenar-benarnya lagi turun ya turun n lagi naik ya naik
Dengan kemungkinan bulan depan produksi beras makin turun lagi karena Super El Nino
Oke 2025 ada terbantu dari sisa beras tahun sebelumnya, tapi ya pemerintah mau aja demi swasembada dengan risiko suatu saat malah darurat beras
Mau ditaruh dimana muka Wowo kalau sampai darurat beras
Habis darurat beras Wowo langsung impor beras juta ton ke Thailand n Vietnam
Kredibilitasnya untuk 2029 anjlok lah

0
71
Kutip
2
Balasan
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan