Kaskus

Story

2tackkabupat630Avatar border
TS
2tackkabupat630
Saksi bisu merah
Desa Karang Sedu selalu diselimuti kabut tipis, bahkan saat terik matahari berada di puncaknya. Di ujung jalan setapak yang ditumbuhi ilalang setinggi dada, berdiri sebuah bangunan tua peninggalan zaman kolonial yang dikenal warga sebagai "Paviliun Merah". Sebutan itu bukan karena cat dindingnya, melainkan karena konon tanah di bawahnya pernah meminum darah keluarga pemiliknya dalam satu malam yang nahas.
Rian, seorang fotografer urban yang haus akan konten mistis, tiba di sana saat senja mulai memudar. Baginya, cerita rakyat hanyalah bumbu untuk menaikkan jumlah pengikut di media sosial. Dengan kamera DSLR yang menggantung di leher dan senter bertenaga tinggi, ia melangkahi garis pembatas polisi yang sudah lapuk dimakan usia.
Begitu melangkah ke dalam, suhu udara turun drastis. Bau apak kayu tua bercampur dengan aroma anyir yang samar menyambut penciumannya. Rian mulai memotret. Setiap kilatan lampu flash menerangi debu-debu yang menari di udara seperti jutaan mata kecil yang mengawasinya. Ia sampai di ruang makan utama di mana sebuah meja panjang masih tertata rapi, seolah-olah para penghuninya baru saja pergi sebentar dan akan segera kembali.
Kejanggalan dimulai pada pukul sepuluh malam. Rian sedang meninjau hasil fotonya di layar kamera ketika ia menyadari sesuatu. Pada sebuah foto sudut ruangan yang kosong, terdapat siluet samar seorang wanita berdiri membelakangi kamera. Rian mendongak, mengarahkan senternya ke sudut tersebut. Kosong. Hanya ada bayangan lemari tua yang miring. Namun, saat ia melihat kembali ke layar kamera, siluet itu kini menghadap ke arahnya, dengan wajah yang hancur seperti daging yang ditarik paksa.
Jantung Rian berdegup kencang. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya gangguan sensor kamera. Namun, suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen di belakangnya membuat bulu kuduknya berdiri tegak. Ia berbalik perlahan. Di atas meja makan yang tadi kosong, kini tersaji potongan daging mentah yang masih berdenyut. Dan di ujung meja, duduklah "keluarga" itu.
Mereka tidak memiliki mata, hanya lubang hitam yang dalam. Mulut mereka terjahit dengan kawat karat, namun mereka tetap bisa mengeluarkan suara erangan yang menyayat hati. Ayah, ibu, dan dua anak kecil itu duduk tegak, memegang pisau perak yang berkilau di bawah cahaya senter Rian yang mulai meredup secara misterius.
"Tamu... harus... ikut... makan..." suara itu bukan berasal dari mulut mereka, melainkan bergema langsung di dalam kepala Rian.
Rian berbalik dan berlari sekuat tenaga. Namun, koridor paviliun itu seakan memanjang tanpa akhir. Setiap pintu yang ia buka selalu membawanya kembali ke ruang makan yang sama. Setiap kali ia kembali, sosok keluarga itu duduk satu kursi lebih dekat ke arah pintu keluar.
Pada putaran ketujuh, Rian terjatuh karena kakinya tersangkut permadani yang licin. Saat ia berusaha bangkit, ia merasakan jemari yang dingin dan kaku melingkar di pergelangan kakinya. Itu adalah tangan sang anak kecil yang kulitnya sudah membiru dan mengelupas.
Rian menjerit, menendang-nendang, namun kekuatan makhluk itu tidak masuk akal. Ia diseret kembali menuju meja makan. Di sana, sang ibu sudah berdiri, memegang kawat karat dan jarum besar yang sudah disiapkan. Ia ingin Rian menjadi bagian dari "jamuan abadi" mereka.
"Jangan berisik, Anak Manis," bisik suara parau itu. "Mulut yang terbuka hanya akan membuang-buang rasa sakit."
Keesokan harinya, warga desa menemukan kamera Rian tergeletak di depan pintu paviliun. Tidak ada tanda-tanda keberadaan sang fotografer. Namun, saat polisi memeriksa rekaman di dalam kamera tersebut, mereka menemukan satu video terakhir berdurasi sepuluh detik.
Video itu hanya menunjukkan sebuah kursi kosong di meja makan yang tiba-tiba terisi oleh sosok Rian. Wajahnya pucat pasi, matanya hilang, dan mulutnya kini tertutup rapat oleh jahitan kawat karat. Ia tampak sedang berusaha mengeluarkan suara, namun hanya keheningan mencekam yang terekam, sementara di belakangnya, empat pasang tangan pucat perlahan memegang pundaknya, seolah menyambut anggota keluarga baru dalam keabadian yang kelam.
Hingga kini, jika ada yang melintasi Paviliun Merah saat malam tertentu, suara jepretan kamera terkadang masih terdengar dari balik dinding yang lembap. Itu adalah tanda bahwa Rian masih berada di sana, terperangkap dalam siklus tanpa akhir, menjadi saksi bisu bagi penderitaannya sendiri dan menjadi bagian dari legenda merah yang menyelimuti bangunan tua tersebut.
Kisah Paviliun Merah ini menjadi pengingat bagi siapa saja yang meremehkan kekuatan dari masa lalu yang tak terselesaikan. Keinginan untuk mencari popularitas melalui hal-hal mistis seringkali membawa konsekuensi yang jauh lebih besar daripada yang bisa dibayangkan oleh nalar manusia.

**TAMAT""
0
295
1
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan