- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
Bulan berdarah.
TS
rizma008
Bulan berdarah.
Cerita ini hanya fiksi belaka,jika ada kesamaan tempat dan nama itu murni unsur ke tidak sengajaan.

BAB 1: DARAH DI ATAS PELEPAH
Desa Sawit Seberang malam itu seolah kehilangan suaranya. Angin yang biasanya berdesir di antara sela-sela pelepah sawit, tiba-tiba berhenti. Udara terasa pengap, membawa bau tanah basah dan aroma samar tuak yang memuakkan. Di langit, bulan purnama menggantung pucat, namun anehnya, ada semburat merah yang merayap di pinggirannya, seolah langit sedang memar.
Bulan (19) mempercepat langkahnya. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada. Ia baru saja pulang dari rumah bibinya, melewati jalan tikus yang membelah perkebunan sawit milik perusahaan. Ini jalan tercepat, tapi malam ini, jalan itu terasa sangat panjang.
"Mau buru-buru ke mana, Bulan? Cantik-cantik kok sendirian," sebuah suara serak memecah keheningan.
Bulan tersentak. Di depannya, berdiri Ujang dengan puntung rokok yang menyala di kegelapan. Dari balik pohon sawit nomor 13, muncul empat orang lainnya: Monyong, yang wajahnya sudah memerah karena mabuk, serta tiga begundal kampung lainnya yang langsung mengepung Bulan.
"Tolong... kasih saya lewat, Bang Ujang," suara Bulan bergetar hebat. Ia mencoba lari, namun tangan kekar Monyong lebih dulu mencengkeram rambutnya hingga Bulan terjerembap ke tanah yang penuh pelepah kering.
Tawa pecah. Bukan tawa manusia, melainkan tawa binatang yang sedang menemukan mangsa. Di bawah cahaya bulan yang kian memerah, tragedi itu dimulai. Bulan memohon, menangis hingga suaranya serak, menyebut nama Tuhan dan orang tuanya, namun hati kelima pemuda itu sudah mati tertutup pengaruh tuak dan nafsu setan.
Satu per satu mereka melampiaskan kebiadaban itu. Bulan hanya bisa menatap langit yang mulai berputar. Baginya, dunia sudah kiamat malam itu. Rasa sakit fisik tidak lagi terasa, berganti dengan kehampaan yang luar biasa.
"Habisi saja, nanti dia lapor polisi!" teriak Ujang sambil memberikan sebilah parang tumpul kepada Monyong.
Tanpa ragu, logam dingin itu menghujam leher Bulan. Darah segar menyemprot, membasahi batang pohon sawit nomor 13 dan meresap cepat ke tanah. Di detik-detik terakhir napasnya, Bulan menatap kelima orang itu dengan mata melotot. Bibirnya yang berlumuran darah bergerak tanpa suara, menggumamkan sumpah yang akan mengikat jiwa mereka selamanya.
Mereka menyeret jasad Bulan ke arah rawa-rawa yang gelap. Mereka berpikir semuanya sudah berakhir. Namun, mereka tidak sadar bahwa malam itu, tanah sawit itu tidak hanya meminum darah Bulan, tapi juga menyimpan dendamnya.
Bersambung...

BAB 1: DARAH DI ATAS PELEPAH
Desa Sawit Seberang malam itu seolah kehilangan suaranya. Angin yang biasanya berdesir di antara sela-sela pelepah sawit, tiba-tiba berhenti. Udara terasa pengap, membawa bau tanah basah dan aroma samar tuak yang memuakkan. Di langit, bulan purnama menggantung pucat, namun anehnya, ada semburat merah yang merayap di pinggirannya, seolah langit sedang memar.
Bulan (19) mempercepat langkahnya. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada. Ia baru saja pulang dari rumah bibinya, melewati jalan tikus yang membelah perkebunan sawit milik perusahaan. Ini jalan tercepat, tapi malam ini, jalan itu terasa sangat panjang.
"Mau buru-buru ke mana, Bulan? Cantik-cantik kok sendirian," sebuah suara serak memecah keheningan.
Bulan tersentak. Di depannya, berdiri Ujang dengan puntung rokok yang menyala di kegelapan. Dari balik pohon sawit nomor 13, muncul empat orang lainnya: Monyong, yang wajahnya sudah memerah karena mabuk, serta tiga begundal kampung lainnya yang langsung mengepung Bulan.
"Tolong... kasih saya lewat, Bang Ujang," suara Bulan bergetar hebat. Ia mencoba lari, namun tangan kekar Monyong lebih dulu mencengkeram rambutnya hingga Bulan terjerembap ke tanah yang penuh pelepah kering.
Tawa pecah. Bukan tawa manusia, melainkan tawa binatang yang sedang menemukan mangsa. Di bawah cahaya bulan yang kian memerah, tragedi itu dimulai. Bulan memohon, menangis hingga suaranya serak, menyebut nama Tuhan dan orang tuanya, namun hati kelima pemuda itu sudah mati tertutup pengaruh tuak dan nafsu setan.
Satu per satu mereka melampiaskan kebiadaban itu. Bulan hanya bisa menatap langit yang mulai berputar. Baginya, dunia sudah kiamat malam itu. Rasa sakit fisik tidak lagi terasa, berganti dengan kehampaan yang luar biasa.
"Habisi saja, nanti dia lapor polisi!" teriak Ujang sambil memberikan sebilah parang tumpul kepada Monyong.
Tanpa ragu, logam dingin itu menghujam leher Bulan. Darah segar menyemprot, membasahi batang pohon sawit nomor 13 dan meresap cepat ke tanah. Di detik-detik terakhir napasnya, Bulan menatap kelima orang itu dengan mata melotot. Bibirnya yang berlumuran darah bergerak tanpa suara, menggumamkan sumpah yang akan mengikat jiwa mereka selamanya.
Mereka menyeret jasad Bulan ke arah rawa-rawa yang gelap. Mereka berpikir semuanya sudah berakhir. Namun, mereka tidak sadar bahwa malam itu, tanah sawit itu tidak hanya meminum darah Bulan, tapi juga menyimpan dendamnya.
Bersambung...
0
347
3
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan