- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Rupiah Melemah 6 Minggu Beruntun
TS
jaguarxj220
Rupiah Melemah 6 Minggu Beruntun
Bloomberg Technoz, Jakarta - Menutup perdagangan pekan ini, rupiah melemah 0,18% ke posisi Rp17.373/US$. Artinya, mata uang Nusantara sudah melemah enam minggu beruntun.
Tekanan terhadap rupiah kembali muncul di tengah menurunnya cadangan devisa. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa April turun US$1,95 miliar menjadi US$146,2 miliar, terendah sejak Juli 2024.
Sebagai catatan, cadangan devisa sepanjang kuartal I telah menyusut US$8,2 miliar. Ditambah periode April, total penyusutan cadangan devisa mencapai US$10,27 miliar.
Selain itu, tekanan harga minyak mentah yang kembali naik ke atas US$100 per barel menambah kekhawatiran pelaku pasar terkait kondisi fiskal. Indeks dolar AS juga kembali menguat ke level 98,12 setelah kemarin sempat melandai di 98,02.
Hal ini membuat mayoritas mata uang kawasan bergerak di zona merah. Won Korea Selatan melemah paling dalam, disusul rupee India, ringgit Malaysia, peso Filipina, baht Thailand, rupiah, dan dolar Taiwan.


Tekanan terhadap rupiah kembali muncul di tengah menurunnya cadangan devisa. Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa April turun US$1,95 miliar menjadi US$146,2 miliar, terendah sejak Juli 2024.
Sebagai catatan, cadangan devisa sepanjang kuartal I telah menyusut US$8,2 miliar. Ditambah periode April, total penyusutan cadangan devisa mencapai US$10,27 miliar.
Selain itu, tekanan harga minyak mentah yang kembali naik ke atas US$100 per barel menambah kekhawatiran pelaku pasar terkait kondisi fiskal. Indeks dolar AS juga kembali menguat ke level 98,12 setelah kemarin sempat melandai di 98,02.
Hal ini membuat mayoritas mata uang kawasan bergerak di zona merah. Won Korea Selatan melemah paling dalam, disusul rupee India, ringgit Malaysia, peso Filipina, baht Thailand, rupiah, dan dolar Taiwan.

Mata uang kawasan Asia, pada penutupan perdagangan Jumat 8 Mei 2026. (Bloomberg)
Hanya yuan offshore, yen Jepang dan dolar Singapura yang menguat, itu pun terbatas. Namun, jika ditarik sejak awal pekan, mata uang Asia menguat lantaran sempat ada harapan perdamaian antara AS dan Iran melalui kesepakatan yang sedang direncanakan.
Namun hari ini berbalik arah karena serangan baru yang terjadi di perairan Hormuz dan membuat harga minyak kembali naik.
Sepanjang pekan ini, hanya rupiah yang melemah jika dibandingkan mata uang kawasan.Kondisi ini terjadi lantaran rupiah masih terbebani sentimen domestik, seperti kondisi fiskal, capaian indeks manufaktur yang berada di zona kontraksi, dan yang terbaru posisi cadangan devisa yang kembali tergerus.
Namun hari ini berbalik arah karena serangan baru yang terjadi di perairan Hormuz dan membuat harga minyak kembali naik.
Sepanjang pekan ini, hanya rupiah yang melemah jika dibandingkan mata uang kawasan.Kondisi ini terjadi lantaran rupiah masih terbebani sentimen domestik, seperti kondisi fiskal, capaian indeks manufaktur yang berada di zona kontraksi, dan yang terbaru posisi cadangan devisa yang kembali tergerus.

Mata uang kawasan sepanjang pekan hingga Jumat (8/5/2026). (Bloomberg)
Selain itu, data ekspor yang kurang menggembirakan dan tercatat turun membuat posisi cadangan devisa jadi semakin rentan. Sebab, cadangan devisa Ri saat ini masih bergantung pada aliran modal asing dan penerbitan utang eksternal.
Selama investor global masih melihat Indonesia menarik dari sisi yield dan stabilitas makro, aliran dana asing dapat menopang devisa.
Akan tetapi model ketahanan seperti ini sangat sensitif. Hal ini terlihat dari kondisi aliran dana asing yang cenderung keluar dari pasar Indonesia.
Data aliran modal asing yang dihimpun Bloomberg mencatat, investor melepas kepemilikan di pasar obligasi senilai US$11,5 juta per 6 Mei. Begitu juga di pasar saham investor mencatat penjualan bersih saham sebesar US$4,41 juta pada 7 Mei.
Selama investor global masih melihat Indonesia menarik dari sisi yield dan stabilitas makro, aliran dana asing dapat menopang devisa.
Akan tetapi model ketahanan seperti ini sangat sensitif. Hal ini terlihat dari kondisi aliran dana asing yang cenderung keluar dari pasar Indonesia.
Data aliran modal asing yang dihimpun Bloomberg mencatat, investor melepas kepemilikan di pasar obligasi senilai US$11,5 juta per 6 Mei. Begitu juga di pasar saham investor mencatat penjualan bersih saham sebesar US$4,41 juta pada 7 Mei.
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/108467/rupiah-melemah-6-minggu-beruntun/
Mantap... Seminggu semua mata uang kawasan hijau, hanya Rupiah yg merah.
Semakin terlihat cerah, merah itu cerah..
0
105
6
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan