Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat sore GanSist semuanya!
Selama bertahun-tahun, budaya fangirl sering dipandang sebelah mata. Banyak orang menganggap perempuan yang mengidolakan artis, grup musik, aktor, atau tokoh publik tertentu sebagai pribadi yang terlalu emosional, kurang dewasa, atau bahkan tidak percaya diri karena dianggap “terlalu memuja orang lain”.
Padahal, jika dilihat dari sudut pandang psikologi dan sosial, budaya fangirl tidak selalu negatif. Dalam banyak kasus, fandom justru dapat menjadi sumber motivasi, kreativitas, pembelajaran sosial, bahkan peluang ekonomi.
Yang membedakan antara fangirl yang berkembang dan fangirl yang terjebak dalam obsesi tidak sehat adalah cara mereka memaknai idolanya.
Thread ini merupakan bagian dari
Superwoman Series yang ke-57, yang membahas bagaimana wanita dapat menjadi kuat secara fisik, mental, sosial, dan spiritual. Pada seri kali ini, pembahasannya adalah bagaimana budaya fangirl sebenarnya bisa menjadi sarana pengembangan diri jika dijalani secara sehat dan dewasa.
Menurut penelitian oleh Duffett (2013), fandom modern bukan sekadar aktivitas hiburan, melainkan juga bentuk partisipasi budaya dan identitas sosial. Dengan kata lain, menjadi fangirl tidak otomatis membuat seseorang lemah atau tidak produktif.
Fangirl bisa menjadi keren, asal dilakukan dengan cara yang sehat dan membangun.
Quote:
1. Terinspirasi untuk Merawat Diri dan Berolahraga
Banyak artis dan idol terkenal dikenal memiliki disiplin tinggi dalam menjaga kesehatan tubuh, pola makan, dan kebugaran fisik. Dalam sisi positifnya, hal ini dapat memotivasi penggemar untuk ikut hidup lebih sehat.
Fenomena ini sebenarnya cukup masuk akal dalam psikologi sosial. Menurut teori
social learning dari Albert Bandura, manusia cenderung belajar melalui observasi terhadap figur yang dikagumi.
Artinya, ketika seorang fangirl melihat idolanya disiplin berlatih menari, menjaga stamina, atau menjaga pola tidur, dirinya juga bisa terdorong melakukan hal serupa.
Olahraga Bukan Sekadar Soal Penampilan
Dalam budaya fandom tertentu, terutama K-pop, latihan fisik dan koreografi sering menjadi bagian penting. Banyak fangirl akhirnya tertarik belajar dance, jogging, atau latihan kebugaran.
Menurut
World Health Organization, aktivitas fisik rutin membantu menjaga kesehatan jantung, metabolisme, dan kesehatan mental.
Tentu saja, tujuan utamanya bukan sekadar “menjadi cantik seperti idola”, melainkan membangun tubuh yang sehat dan kuat.
Dalam seri-seri sebelumnya di Superwoman Series, sudah dibahas bahwa wanita kuat bukan hanya yang menarik secara visual, melainkan juga yang memiliki stamina dan disiplin hidup.
Quote:
2. Belajar Keterampilan Berguna dari Idolanya
Fangirl yang sehat tidak hanya menghafal nama anggota grup idol atau membeli merchandise, tetapi juga belajar keterampilan nyata yang terinspirasi dari idolanya.
Misalnya, belajar menyanyi, belajar menari, belajar desain grafis fan art, belajar bahasa asing (seperti Korea, Jepang, atau Inggris), serta belajar
public speaking dari wawancara artis.
Menurut penelitian oleh
American Psychological Association, minat yang kuat terhadap suatu bidang dapat meningkatkan motivasi belajar dan konsistensi latihan.
Belajar Bahasa Asing dari Fandom
Fenomena ini sangat nyata di era digital. Banyak penggemar K-pop atau budaya Jepang akhirnya belajar bahasa asing karena ingin memahami lirik lagu, wawancara, atau komunikasi fandom internasional.
Menurut penelitian oleh Lee (2019), budaya populer Korea memiliki pengaruh besar terhadap motivasi pembelajaran bahasa Korea di berbagai negara.
Ini menunjukkan bahwa fangirling bisa menjadi pintu masuk terhadap pendidikan dan pengembangan intelektual.
Belajar Public Speaking dan Kreativitas
Banyak fangirl yang aktif membuat ulasan album, membuat video reaksi, atau mengelola komunitas fandom. Aktivitas ini tanpa sadar melatih kemampuan komunikasi dan kreativitas.
Dalam dunia modern, kemampuan berbicara dan membangun komunitas merupakan keterampilan yang sangat penting.
Quote:
3. Fangirling Bisa Menjadi Peluang Bisnis
Salah satu hal yang sering diremehkan adalah bahwa fandom modern memiliki ekosistem ekonomi yang sangat besar.
Banyak perempuan berhasil membangun usaha dari dunia fandom, misalnya jualan lightstick, jualan photocard, jualan boneka idol, jualan album musik, membuka jasa titip konser, serta membuat fan art atau merchandise sendiri.
Menurut laporan dari Korea Foundation, industri budaya Korea memiliki dampak ekonomi global yang sangat besar, termasuk pada sektor merchandise dan komunitas penggemar.
Artinya, fangirling tidak selalu identik dengan pemborosan. Jika dilakukan dengan cerdas, fandom justru bisa menjadi sumber pendapatan.
Dari Konsumen Menjadi Kreator
Perubahan pola pikir ini sangat penting.
Dalam Superwoman Series sebelumnya, sudah dibahas bahwa wanita yang kuat bukan hanya pandai membeli, melainkan juga mampu menciptakan nilai.
Fangirl yang berkembang biasanya tidak berhenti menjadi konsumen hiburan. Mereka mulai belajar membuat produk, jasa, atau karya kreatif yang bernilai ekonomi.
Quote:
4. Fangirl Bisa Membuka Hubungan Sosial Internasional
Salah satu dampak paling menarik dari budaya fandom modern adalah terbukanya komunikasi lintas negara.
Melalui media sosial dan komunitas internasional, banyak perempuan Indonesia bisa berinteraksi dengan orang dari Korea Selatan, Jepang, Thailand, Amerika Serikat, hingga Eropa.
Hal ini sebenarnya memiliki nilai sosial dan intelektual yang besar.
Belajar dari Semangat Ibu Kartini
Dalam sejarah Indonesia, Raden Ajeng Kartini dikenal rajin berkirim surat dengan sahabat penanya di Belanda untuk berdiskusi tentang pendidikan dan kesetaraan perempuan.
Semangat membangun hubungan lintas budaya ini masih relevan hingga sekarang.
Bedanya, jika dahulu menggunakan surat, sekarang komunikasi bisa dilakukan melalui komunitas daring internasional.
Menurut penelitian oleh Jenkins (1992), fandom menciptakan komunitas partisipatif yang memungkinkan orang membangun identitas sosial dan hubungan lintas budaya.
Belajar Menghargai Budaya Lain
Fandom internasional juga membantu seseorang memahami keberagaman budaya dan cara berpikir.
Tentu saja, penting untuk tetap menjaga identitas dan budaya sendiri. Mengidolakan budaya asing tidak berarti harus kehilangan jati diri sebagai orang Indonesia.
Quote:
Namun, Fangirling Tetap Harus Sehat
Meskipun memiliki banyak sisi positif, budaya fangirl juga bisa menjadi tidak sehat jika dilakukan secara berlebihan.
Contohnya:
1) Menghabiskan uang tanpa kontrol
2) Mengabaikan kesehatan fisik
3) Terlalu obsesif terhadap kehidupan pribadi artis
4) Mengabaikan dunia nyata demi fandom
Menurut penelitian oleh Maltby et al. (2004), keterikatan berlebihan terhadap selebritas dapat berdampak negatif pada kesehatan mental.
Oleh karena itu, fangirl yang sehat tetap harus memiliki keseimbangan hidup.
Quote:
KESIMPULAN
Menjadi fangirl bukanlah sesuatu yang memalukan. Mengidolakan seseorang juga bukan tanda sikap tidak percaya diri. Yang penting adalah bagaimana seseorang menggunakan inspirasi tersebut untuk berkembang.
Dalam konteks Superwoman Series #56, fangirl yang kuat adalah fangirl yang:
1) Merawat tubuhnya
2) Mengembangkan keterampilan
3) Membangun relasi sosial sehat
4) Memiliki kreativitas
5) Mampu mandiri secara finansial
Fandom seharusnya menjadi bahan bakar pertumbuhan diri, alih-alih pelarian dari kehidupan nyata.
Sebab, pada akhirnya, tujuan terbesar seorang fangirl bukan sekadar mengagumi idolanya, melainkan menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri.
Quote:
SUMBER
Bandura, A. (1977).
Social learning theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Duffett, M. (2013).
Understanding fandom: An introduction to the study of media fan culture. Bloomsbury Publishing.
Jenkins, H. (1992).
Textual poachers: Television fans and participatory culture. Routledge.
Korea Foundation. (2021). [I]Global Korean Wave status report. Seoul, South Korea.
Lee, J. S. (2019). Informal digital learning of Korean.
Language Learning & Technology,
23(1), 1–22.
Maltby, J., Houran, J., & McCutcheon, L. E. (2004). Celebrity worship and mental health.
British Journal of Psychology,
95(4), 411–428.
World Health Organization. (2020).
Physical activity guidelines. Geneva: WHO.
American Psychological Association. (2021).
Motivation and learning psychology. Washington, DC.
@multimedia.ptrt @sahabat.006 @pabuaranwetan