- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
Cobalah Mengerti
TS
c4punk1950...
Cobalah Mengerti

Quote:
Bab 1: Jam-Jam yang Hilang
Lampu studio berkelap-kelip, memantulkan bayangan Ariel yang tampak lelah di dinding. Ia baru saja menyelesaikan rekaman vocal take yang ke-sembilan puluh sembilan.
Ariel pulang ke apartemen pukul empat pagi. Maya masih duduk di sofa, tertidur dengan posisi leher yang miring, tangannya memeluk bantal yang seharusnya milik Ariel. Di depannya, ada kue kecil dengan angka '7' yang lilinnya sudah menguap habis.
Ariel menyentuh bahu Maya lembut. Maya tersentak bangun, matanya berkedip bingung mencari fokus.
"Kenapa belum tidur?" tanya Ariel, suaranya parau.
Maya tersenyum tipis, meski matanya sembab. "Aku cuma mau memastikan kamu pulang, Riel. Kamu sudah makan?"
"Sudah di studio tadi. May, aku harus kembali lagi jam sepuluh pagi. Tolong, jangan buat aku merasa bersalah karena bekerja keras," ucap Ariel sambil berjalan menuju kamar.
Maya menarik ujung jaket Ariel. "Riel... bisakah kamu bicara lebih keras? Sedikit saja."
Ariel berbalik, dahinya berkerut. "Suaraku sudah cukup keras, May. Mungkin kamu yang terlalu lelah. Tidurlah."
Maya melepaskan jaket itu. Ia ingin berteriak bahwa suara Ariel terdengar seperti bisikan dari balik tembok tebal baginya, tapi ia hanya bisa berbisik, "Ya, mungkin aku hanya lelah menunggumu."
Bab 2: Diagnosis di Balik Senyum
Dua hari kemudian, Maya berada di ruang dokter THT. Keheningan di ruangan itu terasa mencekam.
"Progresnya lebih cepat dari dugaan kita, Maya," ujar Dokter Andi. "Saraf pendengaranmu sudah hampir tidak merespons frekuensi tinggi. Kamu harus segera memberitahu keluargamu."
Maya meremas jemarinya. "Tunanganku seorang musisi, Dok. Dunianya adalah suara. Bagaimana mungkin aku masuk ke dunianya jika aku tidak bisa mendengar apa yang dia cintai?"
Sorenya, Maya mencoba berbicara pada Ariel saat pria itu sedang sibuk menulis lirik di meja makan.
"Riel, kalau suatu saat nanti duniaku menjadi sunyi... apa kamu masih akan bernyanyi untukku?"
Ariel tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya. "Apa sih, May? Jangan puitis begitu. Kamu itu pendengar pertamaku, kritikus paling jujurku. Kalau kamu nggak dengar, buat apa aku nyanyi?"
Kalimat itu niatnya bercanda, tapi bagi Maya, itu seperti vonis mati. 'Jadi kalau aku tidak bisa mendengar, aku tidak ada gunanya bagimu?' batin Maya. Air matanya jatuh tepat di atas meja, tapi Ariel terlalu sibuk mencari rima kata yang tepat untuk lagu barunya.
Bab 3: Ledakan Sunyi
Puncaknya terjadi saat latihan terakhir sebelum konser besar. Maya datang membawa makan malam, tapi ia tidak sengaja menjatuhkan nampan karena vertigonya kambuh. Suara denting besi itu sangat keras, merusak mood Ariel yang sedang emosional di panggung.
"Maya! Bisa tidak sehari saja kamu tidak mengganggu?" teriak Ariel dari atas panggung, suaranya menggema lewat sound system.
Teman-teman band terdiam. Maya berdiri mematung, menatap Ariel. Ia tidak mendengar teriakan itu, ia hanya melihat mulut Ariel bergerak penuh kemarahan.
"Maaf," kata Maya lirih. "Aku tidak mendengar langkahku sendiri."
"Kamu selalu punya alasan! Kamu berubah, May! Mana Maya yang dulu selalu paham setiap nada yang aku buat? Sekarang kamu seperti orang asing yang cuma bisa diam!"
Maya berjalan mendekati panggung. Ia menaruh secarik amplop hasil lab di tepi panggung.
"Aku diam karena aku sedang berjuang, Riel," suara Maya bergetar. "Aku sedang mencoba mengingat nada suaramu saat kamu memanggil namaku, karena sebentar lagi... nama itu hanya akan jadi gerakan bibir bagiku. Cobalah mengerti, aku tidak butuh lagu barumu. Aku butuh kamu yang dulu, yang bisa mendengar detak jantungku tanpa aku harus bersuara."
Maya berbalik dan pergi. Ariel terpaku, tangannya gemetar saat membuka amplop itu. Di sana tertulis: Bilateral Sensorineural Hearing Loss - Tahap Akhir.
Bab 4: Bahasa Tanpa Suara
Malam konser. Stadion penuh sesak. Ariel berdiri di depan mikrofon, tapi ia tidak memulai lagu pertamanya. Ia meminta lampu sorot diarahkan ke barisan depan, tempat kursi kosong yang seharusnya diisi Maya.
Maya ternyata ada di sana, di barisan paling belakang, tersembunyi di kegelapan. Ia sudah tidak bisa mendengar sorakan penonton.
Ariel mulai memetik gitar. Ia tidak melihat ke penonton, ia hanya menatap ke arah kursi kosong itu.
"Lagu ini," suara Ariel pecah, "untuk seseorang yang sudah memberikan telinganya untuk mendengarkan keluh kesahku selama tujuh tahun, sampai dia kehilangan kemampuannya untuk mendengar duniaku."
Ariel mulai menyanyi Cobalah Mengerti. Di tengah lagu, ia melepaskan gitarnya. Ia membiarkan backing track berjalan, dan ia mulai menggerakkan tangannya. Ia menggunakan bahasa isyarat untuk lirik:
"Aku takkan pernah berhenti... akan terus memahami... masih terus berfikir... bila harus memaksa..."
Maya, dari kegelapan di belakang, menutup mulutnya dengan tangan. Ia menangis hebat. Ia tidak bisa mendengar melodi itu, tapi gerakan tangan Ariel adalah musik paling indah yang pernah ia lihat. Ariel bukan lagi seorang bintang di atas panggung; ia hanyalah seorang pria yang sedang memohon maaf dalam bahasa yang kini dipahami Maya.
Ariel turun dari panggung di tengah lagu, berlari menembus kerumunan penonton, mencari Maya. Saat ia menemukannya di sudut belakang, Ariel langsung memeluknya erat.
Ariel membisikkan sesuatu di telinga Maya, sangat dekat. Meski Maya tidak mendengar suaranya, ia bisa merasakan getaran di dada Ariel yang mengatakan: "Aku akan jadi telingamu selamanya."
Epilog: Frekuensi Hati
Satu tahun telah berlalu sejak malam konser yang mengubah segalanya. Apartemen mereka kini tak lagi bising oleh suara televisi atau radio yang menyala keras. Keheningan telah menjadi penghuni tetap di sana, namun anehnya, tempat itu terasa lebih "hidup" daripada sebelumnya.
Ariel duduk di karpet ruang tamu, sementara Maya bersandar di bahunya. Di tangan Ariel ada sebuah tablet yang terhubung dengan sensor khusus di lantai kayu mereka. Setiap kali Ariel memetik senar gitarnya, lantai itu akan memberikan getaran halus—sebuah teknologi haptic yang ia pesan khusus agar Maya bisa tetap "merasakan" musiknya.
Ariel meletakkan gitarnya, lalu menatap Maya. Ia menggerakkan tangannya dengan lembut, sebuah gerakan yang kini jauh lebih lancar dibanding setahun lalu.
"Kamu lapar?" tanya Ariel lewat bahasa isyarat.
Maya tersenyum, matanya berbinar. Ia membalas dengan gerakan tangan, "Tadi aku mencoba memasak, tapi aku tidak tahu apakah airnya sudah mendidih karena aku tidak mendengar bunyinya."
Ariel tertawa, bukan tawa yang keras, melainkan tawa yang terpancar dari wajahnya. Ia menggenggam tangan Maya dan mengecup jemarinya. Ia ingat betapa dulu ia sering mengeluh karena Maya "terlalu diam", tanpa menyadari bahwa dalam diamnya Maya, ada pengorbanan yang luar biasa.
Kini, Ariel telah mengubah cara ia berkarya. Ia tidak lagi mengejar kesempurnaan nada yang hanya bisa dinikmati telinga. Ia mulai menciptakan musik yang fokus pada resonansi dan getaran—musik yang bisa dinikmati oleh orang-orang seperti Maya.
"Riel," suara Maya terdengar sedikit tidak beraturan, efek dari ia yang sudah lama tidak mendengar suaranya sendiri. "Terima kasih sudah mau mengerti duniaku yang sekarang."
Ariel menggeleng pelan. Ia mengambil sebuah buku catatan kecil yang selalu ia bawa, lalu menuliskan satu kalimat di sana karena ia tahu getaran suaranya mungkin tak sampai:
"Dulu aku berpikir musik adalah suaraku. Sekarang aku sadar, musik adalah caramu menatapku. Aku tidak butuh dunia mendengarku, asal aku tahu kamu bisa merasakanku."
Maya memeluk Ariel erat. Di balik jendela, lampu kota Jakarta berkedip-kedip seperti kode Morse. Dunia mungkin tetap bising bagi jutaan orang di luar sana, tapi di dalam ruangan itu, komunikasi tidak lagi membutuhkan suara. Mereka telah menemukan bahasa baru: bahasa di mana dua jiwa saling mengerti tanpa perlu sepatah kata pun terucap.
Lagu "Cobalah Mengerti" bukan lagi sebuah permohonan bagi Ariel. Kini, itu adalah sebuah janji yang sudah ia tepati.
Terima kasih yang sudah membaca thread ini sampai akhir, bila ada kritik silahkan disampaikan dan semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat dan merdeka. See u next thread.


"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2026
referensi : Gemini
Pic : google







"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2026
referensi : Gemini
Pic : google





itkgid dan 3 lainnya memberi reputasi
4
503
5
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan