- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Ekonomi Indonesia Triwulan I-2026 Diproyeksi Tumbuh 5,48%
TS
aleksandronesta
Ekonomi Indonesia Triwulan I-2026 Diproyeksi Tumbuh 5,48%
Quote:
Ekonomi Indonesia Triwulan I-2026 Diproyeksi Tumbuh 5,48%
Penulis : Akmalal Hamdhi
3 Mei 2026 | 14:57 WIB
BAGIKAN

Sejumlah pekerja berjalan menuju moda transportasi usai bekerja di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, baru-baru ini. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)
JAKARTA, investor.id – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I-2026 mencapai 5,48% secara tahunan (year on year/yoy). Meski menunjukkan tren positif, pertumbuhan ini dibayangi oleh risiko geopolitik global dan keterbatasan ruang fiskal domestik.
Peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menjelaskan bahwa performa ekonomi di triwulan pertama tahun ini diperkirakan bergerak pada kisaran estimasi 5,46% hingga 5,50%.
“Perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh sebesar 5,48% yoy pada triwulan I-2026 dengan kisaran estimasi 5,46%–5,50%,” tulis Riefky dalam riset resminya, dikutip Minggu (3/5/2026).
Laju pertumbuhan tersebut utamanya didorong oleh faktor musiman, yakni perayaan Ramadan dan Idulfitri, serta pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) yang memicu lonjakan konsumsi rumah tangga. Selain itu, adanya efek basis rendah (low base effect) dari kuartal I-2025 turut membuat pertumbuhan pada awal tahun ini terlihat lebih tinggi.
Secara tahunan, LPEM FEB UI memproyeksikan ekonomi sepanjang 2026 akan tumbuh di level 5,15% (rentang 5,1%–5,2%). Angka ini hanya tumbuh tipis dibandingkan realisasi pertumbuhan tahun 2025 yang sebesar 5,11%.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Ilustrasi: Investor Daily/Datasatu.com)
Kendati demikian, Riefky mengingatkan adanya risiko besar dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Serangan Amerika Serikat ke Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz telah mengganggu rantai pasok global dan memicu lonjakan harga minyak serta gas dunia.
Kondisi ini menempatkan Indonesia dalam posisi rentan mengingat statusnya sebagai negara importir minyak neto (net oil importer) dengan beban subsidi energi yang masif. Tekanan fiskal kian berat seiring depresiasi rupiah yang mendekati level Rp 17.400 per dolar AS pada akhir April 2026.
Di sisi domestik, pemerintah dihadapkan pada pembiayaan program prioritas berskala besar, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Tekanan kian bertambah setelah lembaga pemeringkat internasional seperti Moody's dan S&P menurunkan outlook Indonesia akibat ketidakpastian kebijakan dan peran Danantara.
“Situasi ini menuntut pemerintah untuk melakukan realokasi anggaran yang substansial dan bermakna guna menjaga defisit APBN tetap berada dalam batas yang diizinkan, yaitu 3% atau lebih rendah,” jelas Riefky.
Adapun realisasi resmi pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 dijadwalkan akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Selasa (5/5/2026) mendatang.
Editor: Prisma Ardianto
Rakyatnya boros gimana nggak tumbuh
Itu salah satu modal sebenarnya
Daya beli tinggi
Masyarakat konsumtif
Rokok 2 bungkus sehari
teguhjepang9932 dan jpnnberita memberi reputasi
2
37
Kutip
1
Balasan
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan