- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
Bolehkah Kuminta Hatimu
TS
c4punk1950...
Bolehkah Kuminta Hatimu

Quote:
Bab 1: Sisa Hujan di Kedai Tua
Lampu neon kedai kopi "Senandika" berkedip redup, sesekali kalah oleh suara rintik hujan yang menghantam atap seng. Di sudut ruangan, Vino memutar-mutar gelas kopinya yang sudah dingin. Matanya menatap kosong ke arah jendela, memandangi pantulan dirinya sendiri: seorang pria dengan rahang tegas namun menyimpan lelah yang tak berkesudahan di matanya.
Sudah tiga tahun. Namun bagi Vino, waktu seolah berhenti di detik itu.
Pintu kedai berdenting. Angin dingin malam masuk bersama sesosok wanita berpakaian kasual dengan syal abu-abu yang melilit lehernya. Namanya Mulia. Ia tampak sibuk mengatupkan payung lipatnya yang basah sebelum matanya menyapu ruangan dan berhenti tepat pada sosok Vino.
Mulia tersenyum kecil—jenis senyum yang selalu berhasil membuat dada Vino terasa sesak sekaligus hangat di saat yang bersamaan.
"Masih menunggu?" tanya Mulia lembut sambil duduk di kursi depan Vino.
Vino mengalihkan pandangannya dari jendela. "Selalu."
Mulia terdiam sejenak, ia tahu makna 'selalu' bagi Vino bukan sekadar tentang waktu, tapi tentang sebuah harapan yang belum selesai. Mulia adalah sahabat terbaik Vino, orang yang membasuh luka pria itu saat dunia mencabiknya. Namun, ada satu dinding yang tak pernah bisa ditembus Mulia: hati Vino yang masih terkunci untuk masa lalu.
"Vino," panggil Mulia lirih. "Sampai kapan kamu mau hidup di antara bayang-bayang? Kamu pantas untuk bahagia di masa sekarang."
Vino menatap Mulia dalam-dalam. Di matanya, Mulia adalah segalanya—ketulusan, kesabaran, dan rumah. Namun, rasa bersalah dan ketakutan akan kehilangan lagi membuat Vino selalu menarik diri setiap kali ia merasa terlalu dekat.
"Bahagiaku mungkin sudah habis, Lia," bisik Vino parau.
Mulia memberanikan diri. Ia meletakkan tangannya di atas meja, nyaris menyentuh jemari Vino. "Kalau kamu merasa bahagiamu sudah habis, bolehkah aku yang meminjamkan bahagiaku untukmu?"
Suasana mendadak hening. Hanya ada suara detak jam dinding yang seolah mengejek keraguan Vino.
"Lia, aku tidak ingin menyakitimu dengan hatiku yang sudah hancur ini," kata Vino, suaranya bergetar.
Mulia menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, namun penuh ketegasan. "Aku tidak minta kamu memberiku hati yang utuh, Vin. Aku hanya ingin tahu satu hal..."
Ia menjeda kalimatnya, menarik napas panjang.
"Bolehkah kuminta hatimu? Biar aku yang menjahit bagian-bagian yang robek itu. Biar aku yang menjaganya, sampai kamu tidak takut lagi untuk mencintai."
Vino terpaku. Permintaan itu bukan sekadar kata-kata, melainkan sebuah penyerahan diri yang luar biasa dari seorang wanita bernama Mulia, yang telah mencintainya dalam diam selama bertahun-tahun.
Malam itu, di bawah sisa-sisa hujan, sebuah tanya besar menggantung di antara mereka. Apakah Vino akan tetap memeluk lukanya, atau akhirnya membiarkan Mulia masuk dan menyembuhkannya?
Bab 2: Labirin Ingatan
Vino tidak pernah menyukai bau rumah sakit. Baginya, aroma pembersih lantai yang tajam dan bau obat-obatan adalah aroma kehilangan. Setiap kali ia menutup mata di malam hari, aroma itu kembali, menyeretnya paksa ke sebuah malam di bulan Desember, empat tahun silam.
Saat itu, dunianya masih berwarna cerah. Ada Tiara—gadis dengan tawa serak yang selalu bisa membuat Vino merasa menjadi pria paling beruntung di dunia. Mereka sudah merencanakan segalanya: warna cat ruang tamu, jenis pohon yang akan ditanam di halaman belakang, hingga nama anak-anak mereka nanti.
"Vin, janji ya, jangan pernah lepasin tangan aku," bisik Tiara malam itu, sesaat sebelum kecelakaan maut itu merenggut segalanya.
Vino ingat betul dinginnya aspal di bawah guyuran hujan deras. Ia ingat bagaimana ia berusaha menggapai tangan Tiara yang terkulai lemah di samping mobil yang ringsek. Ia ingat janji yang ia bisikkan di telinga Tiara yang sudah tak bernyawa: bahwa ia tidak akan pernah memberikan hatinya pada siapapun lagi.
Itulah alasan Vino menutup diri. Baginya, mencintai berarti bersiap untuk kehilangan. Dan ia tidak yakin sanggup melewati kehilangan yang kedua.
"Vino? Kamu melamun lagi?"
Suara lembut Mulia memecah keheningan di kedai Senandika. Lamunan Vino buyar. Ia mendapati dirinya masih menatap tangannya sendiri yang gemetar di atas meja.
Mulia melihat kilat kesedihan itu. Ia tahu, di balik wajah tenang Vino, ada badai yang sedang berkecamuk. Ia tahu Vino sedang berkelana di labirin ingatannya, tempat di mana Tiara masih hidup dan bahagia.
"Dia tidak akan senang melihatmu seperti ini, Vin," ucap Mulia pelan, seolah bisa membaca pikiran pria itu.
Vino mendongak, tertawa pahit. "Kamu tidak tahu apa-apa tentang dia, Lia."
"Aku memang tidak tahu banyak tentang Tiara," balas Mulia tenang, meski hatinya sedikit perih mendengar nada bicara Vino. "Tapi aku tahu tentang kamu. Aku tahu Vino yang kukenal dulu adalah pria yang penuh semangat, bukan pria yang sengaja mematikan perasaannya karena merasa bersalah telah selamat dari kecelakaan itu."
Vino terdiam. Kata-kata Mulia menghujam tepat di ulu hatinya. Benar, ia merasa bersalah karena masih bernapas sementara Tiara tidak. Ia menghukum dirinya sendiri dengan kesepian.
"Kenapa kamu masih bertahan di sini, Lia? Di sisi pria yang jelas-jelas masih mencintai hantu?" tanya Vino dengan suara serak.
Mulia menatap mata Vino tanpa ragu. "Karena aku percaya, di balik tumpukan abu ini, masih ada api yang bisa menyala lagi. Dan aku tidak keberatan menunggu sampai kamu siap untuk hangat kembali."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, tembok pertahanan Vino sedikit retak. Ia melihat Mulia bukan lagi sekadar bayangan di pinggir hidupnya, melainkan seseorang yang berdiri dengan tangan terbuka di tengah badainya.
Bab 3: Di Bawah Pohon Angsana
Tujuh tahun yang lalu, kampus bukan sekadar tempat menuntut ilmu bagi Vino; itu adalah panggung di mana ia menjadi pusat perhatian. Sebagai ketua unit kegiatan musik, Vino selalu terlihat dengan gitar di punggung dan dikelilingi banyak orang.
Namun, pertemuannya dengan Mulia tidak terjadi di panggung yang megah, melainkan di sudut perpustakaan pusat yang pengap saat ujian akhir semester mendekat.
Vino sedang frustrasi. Ia kehilangan catatan kuliah Manajemen Keuangan yang sangat krusial. Saat ia mengacak-acak tasnya dengan kasar, sebuah buku catatan bersampul biru muda disodorkan ke hadapannya.
"Pakai ini saja. Catatanku cukup lengkap," suara itu tenang, tidak terburu-buru.
Vino mendongak. Di sanalah ia melihat Mulia untuk pertama kalinya. Gadis itu tidak memakai riasan mencolok, hanya kemeja flanel kebesaran dan kacamata bulat yang sering merosot ke ujung hidung. Ia tampak seperti gadis biasa yang lebih suka menghabiskan waktu dengan buku daripada hingar bingar pesta kampus.
"Kenapa kamu meminjamkannya padaku? Kita bahkan tidak saling kenal," tanya Vino heran.
Mulia tersenyum tipis, jenis senyum tulus yang kelak akan menjadi candu bagi Vino. "Aku tahu kamu. Kamu si gitaris yang selalu berisik di kantin. Aku hanya tidak ingin melihatmu mengulang mata kuliah ini tahun depan hanya karena catatan yang hilang."
Sejak hari itu, mereka sering bertemu di bawah pohon Angsana di dekat gerbang kampus. Mulia dengan sabar mengajari Vino rumus-rumus rumit, sementara Vino membalasnya dengan memetikkan lagu-lagu lembut setiap sore menjelang pulang.
"Lia, kenapa kamu baik sekali padaku?" tanya Vino suatu kali, saat bunga-bunga Angsana yang kuning berguguran mengenai rambut Mulia.
Mulia hanya menatap lurus ke depan. "Karena menurutku, setiap orang butuh seseorang yang bisa diandalkan tanpa harus banyak bertanya. Aku senang menjadi orang itu untukmu, Vin."
Vino belum mengenal Tiara saat itu. Mulia adalah orang pertama yang mengisi hari-harinya di masa kuliah.
Namun, bagi Vino yang saat itu masih ambisius dan haus akan pengakuan, kehadiran Mulia dianggapnya sebagai 'sahabat yang terlalu nyaman'. Sampai akhirnya Tiara datang dengan segala pesonanya, dan Vino perlahan meninggalkan pohon Angsana itu—juga meninggalkan Mulia yang tetap berdiri di sana, memegang catatan yang tak pernah diminta lagi.
Kembali ke masa sekarang, di kedai Senandika, Vino menyadari betapa jahatnya ia selama ini. Ia selalu datang pada Mulia saat ia terluka, namun pergi saat ia merasa bahagia.
"Lia," panggil Vino lirih, memutus keheningan babak masa lalu di kepalanya. "Maafkan aku karena selalu menjadikanmu pelarian."
Mulia menggeleng perlahan. "Aku tidak pernah merasa jadi pelarian, Vin. Aku hanya merasa seperti rumah. Dan rumah akan selalu menunggu penghuninya pulang, sejauh apa pun dia pergi."
Bab 4: Tamu yang Tak Diundang
Suasana hangat yang mulai terbangun di antara Vino dan Mulia mendadak buyar saat pintu kedai "Senandika" terbuka dengan kasar.
Seorang pria dengan setelan jas mahal dan wajah yang tampak tegang masuk, matanya menyisir ruangan hingga terpaku pada Vino.
Vino membeku. Gelas kopinya hampir saja terlepas dari genggaman. Pria itu adalah Aditya, kakak kandung Tiara—orang yang paling menyalahkan Vino atas kecelakaan empat tahun silam.
Aditya melangkah lebar, mengabaikan Mulia yang menatap bingung. Tanpa basa-basi, ia meletakkan sebuah amplop cokelat besar di meja, tepat di depan Vino.
"Aku tidak ingin melakukan ini, tapi wasiat Tiara baru ditemukan di brankas lama pengacara keluarga kami minggu lalu," suara Aditya dingin, setajam es.
Vino menahan napas. "Wasiat?"
"Tiara menulis sebuah surat untukmu sebulan sebelum kejadian itu. Dia seolah tahu waktunya tidak lama lagi," Aditya mendengus sinis, matanya beralih sejenak ke arah Mulia, menilai wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Sepertinya kamu sudah menemukan pengganti adikku dengan cepat, ya?"
Wajah Mulia memucat, tapi ia tetap duduk tegak, mencoba memberikan kekuatan pada Vino melalui tatapannya.
Vino tidak membalas sindiran Aditya. Tangannya yang gemetar meraih amplop itu. Di dalamnya terdapat sebuah surat dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali—lengkungan huruf yang rapi dan lembut milik Tiara.
Untuk Vino, separuh jiwaku...
Vino hanya sanggup membaca baris pertama sebelum matanya mengabur oleh air mata. Namun, ada satu paragraf di bagian tengah yang membuat dunianya seolah berputar balik. Tiara menuliskan sesuatu tentang sebuah "rahasia" yang ia simpan rapat-rapat dari Vino selama mereka bersama—sebuah alasan mengapa ia meminta Vino berjanji untuk tidak melepaskan tangannya malam itu.
"Baca sampai habis, Vin," potong Aditya dengan nada yang kini terdengar lebih lelah daripada marah. "Tiara tidak pernah menceritakan penyakitnya padamu, kan?
Dia ingin kamu bebas, tapi sepertinya kamu justru memilih untuk mengurung diri dalam penjara rasa bersalah yang salah alamat."
Mulia tersentak. Penyakit? Jadi, kecelakaan itu bukanlah satu-satunya hal yang membayangi kematian Tiara?
Vino menatap surat itu dengan tatapan hancur. Kebenaran yang baru saja terungkap lewat surat itu mengancam akan meruntuhkan seluruh fondasi kesedihan yang selama ini ia bangun. Di sisi lain, Mulia merasakan sesak di dadanya. Jika rahasia Tiara ternyata adalah sebuah pengorbanan yang begitu besar, apakah masih ada ruang bagi Mulia di hati Vino yang kini kembali terkoyak oleh kenangan?
Bab 5: Pengakuan di Balik Kertas Kusam
Dengan tangan yang masih gemetar, Vino menarik napas panjang. Ia memaksa matanya untuk menelusuri baris demi baris tulisan tangan Tiara yang mulai memudar.
Di sampingnya, Mulia hanya terdiam, memberikan ruang bagi Vino untuk menghadapi masa lalunya.
Vin,
Saat kamu membaca ini, mungkin aku sudah tidak ada di sampingmu untuk melihat senyummu lagi. Maafkan aku, Vin. Maaf karena selama ini aku menyimpan rahasia ini sendirian. Aku tidak ingin melihat matamu yang penuh binar itu berubah menjadi redup karena kasihan.
Sebulan sebelum aku menulis surat ini, dokter mendiagnosisku dengan gagal jantung stadium lanjut. Aku tahu waktuku tidak lama lagi. Itu sebabnya aku begitu posesif, begitu takut kehilangan setiap detik bersamamu. Malam kecelakaan itu... sebenarnya aku sedang dalam perjalanan untuk memberitahumu bahwa aku harus menjalani operasi yang peluang keberhasilannya sangat kecil.
Tapi takdir punya cara lain, bukan? Kecelakaan itu terjadi sebelum aku sempat mengucap kata pamit yang layak.
Vino tersedak oleh isak tangis yang tertahan. Suara napasnya terdengar berat memenuhi kedai yang kini sunyi.
Vino, kumohon satu hal. Jangan pernah merasa bersalah atas apa yang terjadi malam itu. Jika pun kecelakaan itu tidak terjadi, tubuhku sudah perlahan menyerah.
Aku tidak ingin kamu hidup dalam penjara ingatan tentangku. Aku ingin kamu jatuh cinta lagi. Aku ingin kamu memberikan hatimu pada seseorang yang bisa menemanimu menanam pohon di halaman belakang yang dulu kita impikan.
Carilah seseorang yang bisa membuatmu merasa 'pulang'. Seseorang yang sudah ada di sana, bahkan saat aku masih bersamamu, tapi kamu terlalu buta untuk melihatnya.
Vino terpaku pada kalimat terakhir. Ia perlahan mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menatap Mulia yang duduk di depannya dengan mata yang penuh simpati dan kekhawatiran.
"Dia tahu..." bisik Vino parau.
"Tahu apa, Vin?" tanya Mulia lembut.
"Tiara tahu bahwa selama ini kamu selalu ada di sana, Lia. Di bawah pohon Angsana, di sudut perpustakaan, bahkan saat aku bersamanya. Dia tahu kamu mencintaiku lebih dari aku mencintai diriku sendiri," Vino menatap Mulia dengan tatapan yang berbeda—seolah-olah selaput tebal yang menutupi matanya selama bertahun-tahun baru saja luruh.
Aditya, yang sejak tadi berdiri di kejauhan, hanya mengangguk tipis lalu melangkah keluar kedai tanpa sepatah kata pun. Tugasnya selesai.
Vino meraih tangan Mulia, kali ini tidak melepaskannya. "Lia, surat ini... ini adalah kunci yang dia tinggalkan untuk membebaskanku. Tapi aku tidak tahu apakah aku cukup layak untuk meminta kesempatan darimu setelah semua luka yang kuberikan."
Mulia tersenyum, meski air matanya ikut jatuh. "Aku tidak pernah memintamu menjadi layak, Vin. Aku hanya memintamu menjadi ada."
Bab 6: Musim yang Baru
Pagi itu, udara di taman kota terasa berbeda. Tidak ada lagi mendung yang menggantung di wajah Vino. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, ia mengenakan kemeja berwarna cerah—biru langit—warna yang menurut Mulia selalu cocok dengan warna matanya.
Vino duduk di bangku taman, menunggu Mulia. Di tangannya ada sebuah kotak kecil berisi kue cokelat buatan ibunya, dan sebuah buku catatan bersampul biru yang baru.
"Sudah menunggu lama?" suara ceria itu muncul dari belakang.
Mulia datang dengan gaun bunga-bunga sederhana. Rambutnya dibiarkan tergerai, berkibar lembut dipermainkan angin pagi. Vino berdiri, menatap Mulia dengan binar yang selama ini hilang.
"Untukmu," Vino menyodorkan buku catatan itu.
Mulia membukanya. Di halaman pertama, tidak ada rumus manajemen keuangan yang membosankan. Hanya ada satu kalimat yang ditulis dengan tinta hitam yang tegas:
Terima kasih telah menjadi rumah yang sabar. Mari kita tulis cerita baru di sini.
"Vin..." Mulia mendongak, matanya berkaca-kaca karena bahagia.
"Lia, aku sadar aku tidak bisa menghapus masa lalu," kata Vino sambil melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka.
"Tiara akan selalu punya tempat sebagai kenangan. Tapi mulai hari ini, aku ingin kamu menjadi masa depanku. Aku ingin belajar mencintai lagi, setapak demi setapak, bersamamu."
Vino perlahan meraih tangan Mulia, menautkan jemari mereka di bawah sinar matahari yang mulai menghangat. Tidak ada lagi gemetar ketakutan, yang ada hanyalah ketenangan.
"Boleh aku bertanya satu hal lagi?" bisik Vino.
Mulia mengangguk pelan, senyumnya merekah.
"Pertanyaanmu di kedai malam itu... apakah masih berlaku? Bolehkah kuminta hatimu untuk kujaga, sebagai ganti karena kamu telah merawat hatiku yang hancur?"
Mulia tertawa kecil di sela air mata bahagianya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Vino, merasakan detak jantung pria itu yang kini berirama lebih tenang. "Hatiku sudah milikmu sejak di bawah pohon Angsana dulu, Vin. Kamu hanya baru sempat mengambilnya sekarang."
Di bawah langit yang biru bersih, mereka menyadari bahwa luka memang meninggalkan bekas, tapi bekas luka itulah yang menguatkan mereka untuk melangkah lebih jauh. Musim dingin dalam hidup Vino telah usai, digantikan oleh musim semi yang dibawa oleh ketulusan seorang wanita bernama Mulia.
Epilog: Janji di Bawah Angsana
Dua tahun kemudian, halaman belakang rumah tua yang dulu hanya ada dalam imajinasi kini menjadi nyata. Pohon-pohon kecil yang mereka tanam bersama mulai tumbuh tinggi, dan bunga-bunga berwarna kuning pucat berguguran tertiup angin, mengingatkan pada kenangan di kampus dulu.
Vino berdiri di depan cermin, merapikan setelan jas hitamnya. Wajahnya tidak lagi pucat; ada semburat kebahagiaan dan ketenangan yang memancar dari sana. Di sakunya, tersimpan sebuah catatan kecil—janji suci yang ia tulis sendiri dengan sepenuh jiwa.
Pintu kamar terbuka, Aditya masuk dengan senyum tipis yang kini terasa hangat. "Kamu siap, Vin? Semua orang sudah menunggu. Dan aku yakin, Tiara pasti tersenyum melihat ini dari sana."
Vino mengangguk mantap. "Terima kasih, Bang. Terima kasih sudah memberiku kunci untuk keluar dari kegelapan itu."
Saat musik pengiring mulai mengalun, Vino melangkah menuju altar yang dihias sederhana dengan bunga-bunga putih dan kuning. Di ujung jalan setapak, sosok yang ia tunggu muncul.
Mulia tampak sangat anggun dengan gaun putih berbahan brokat yang klasik. Ia tidak memakai riasan berlebihan, tetap menjadi Mulia yang apa adanya—wanita yang kecantikannya terpancar dari ketulusan hatinya. Saat ayah Mulia menyerahkan tangannya kepada Vino, dunia seolah berhenti berputar.
"Jaga dia, Vin," bisik ayah Mulia.
"Dengan seluruh hidup saya, Pak," jawab Vino tegas.
Di hadapan penghulu dan para saksi, Vino mengucapkan janjinya dengan suara yang jernih dan tak ragu sedikit pun.
"Mulia, terima kasih telah memintaku saat aku merasa tak layak dimiliki. Terima kasih telah menjahit kepingan hatiku yang robek hingga utuh kembali. Hari ini, aku tidak hanya memberikan hatiku padamu, tapi aku menyerahkan seluruh sisa hidupku untuk mencintaimu, menjagamu, dan menjadi rumah tempatmu pulang."
Mulia menjawab dengan suara yang bergetar karena haru, "Vino, aku mencintaimu bukan karena kamu sempurna, tapi karena kamu adalah alasan aku percaya pada keajaiban sebuah kesabaran. Mari kita menua bersama, di antara tawa dan air mata yang akan kita bagi."
Saat mereka bertukar cincin, angin berembus lembut, menerbangkan beberapa kelopak bunga kuning yang hinggap di bahu mereka. Itu adalah momen penutup bagi masa lalu yang kelam, dan babak pembuka bagi kehidupan baru yang penuh harapan.
TAMAT
***
Terima kasih yang sudah membaca thread ini sampai akhir, bila ada kritik silahkan disampaikan dan semoga thread ini bermanfaat, tetap sehat dan merdeka. See u next thread.


"Nikmati Membaca Dengan Santuy"
--------------------------------------
Tulisan : c4punk@2026
referensi : Gemini
Pic : google





Diubah oleh c4punk1950... 04-05-2026 22:29
bobibotaktak dan 3 lainnya memberi reputasi
4
641
1
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan