- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Rupiah Ditutup Melemah, Dekati Rp17.400/US$
TS
jaguarxj220
Rupiah Ditutup Melemah, Dekati Rp17.400/US$
Bloomberg Technoz, Jakarta - Menutup hari ini, Senin (4/5/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah, setelah sejumlah data ekonomi dirilis.
Rupiah melemah 0,16% ke posisi Rp17.380/US$ dan menjadi yang terlemah di kawasan, menyusul data neraca dagang yang secara angka tercatat masih surplus tetapi mengindikasikan adanya perlambatan.

Rupiah melemah 0,16% ke posisi Rp17.380/US$ dan menjadi yang terlemah di kawasan, menyusul data neraca dagang yang secara angka tercatat masih surplus tetapi mengindikasikan adanya perlambatan.

Mata uang Asia, Senin (4/5/2026) sore. (Bloomberg)
Badan Pusat Statistik (BPS) mengabarkan bahwa neraca dagang masih tercatat surplus sebesar US$3,32 miliar. Lebih rendah dibanding surplus bulan sebelumnya yaitu US$4,33 miliar.
Perlambatan ini terjadi lantaran adanya defisit komoditas migas sebesar US$1,89 miliar dengan komoditas penyumbang defisit adalah minyak mentah hasil minyak dan gas.
BPS juga mencatat bahwa neraca perdagangan barang kumulatif periode Januari-Maret 2026 tercatat mengalami surplus US$5,55 miliar. Surplus ini ditopang oleh komoditas non-migas yang mencapai US$10,63 miliar, sementara komoditas migas tercatat defisit US$5,08 miliar.
BPS juga mencatat bahwa neraca perdagangan barang kumulatif periode Januari-Maret 2026 tercatat mengalami surplus US$5,55 miliar. Surplus ini ditopang oleh komoditas non-migas yang mencapai US$10,63 miliar, sementara komoditas migas tercatat defisit US$5,08 miliar.
Capaian neraca dagang ini terbilang baik karena berada di atas proyeksi para ekonom. Namun kabar dari sektor riil yang mulai terbatuk-batuk dengan turunnya indeks manufaktur ke bawah 50 dan menandakan adanya kontraksi, justru jadi pemberat rupiah.
Indeks PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global tercatat di 49,1, di bawah 50 artinya sektor industri kembali masuk ke fase kontraksi, setelah sempat berada di zona ekspansi pada Maret.
Lebih dari itu, komponen output turun menjadi 46,2 dari posisi Maret 48,9, sekaligus menandakan posisi terendahnya sejak Mei 2025. Hal ini mengindikasikan adanya pelemahan permintaan domestik maupun eksternal, serta adanya potensi penyesuaian tenaga kerja, atau kapasitas produksi.
Kondisi ini menekan pergerakan rupiah dan memberikan sentimen bagi investor yang mengharapkan pertumbuhan ekonomi domestik. Besok BPS akan kembali memaparkan capaian pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal I-2026, yang menurut survei Bloomberg masih cenderung aman dan berada di level 5,3%.
Jika proyeksi tersebut terjadi, pasar mungkin akan sedikit melunak meski tetap akan mencermati kondisi fiskal dengan harga minyak mentah global yang masih bertahan tinggi di atas US$100 per barel.
Indeks PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global tercatat di 49,1, di bawah 50 artinya sektor industri kembali masuk ke fase kontraksi, setelah sempat berada di zona ekspansi pada Maret.
Lebih dari itu, komponen output turun menjadi 46,2 dari posisi Maret 48,9, sekaligus menandakan posisi terendahnya sejak Mei 2025. Hal ini mengindikasikan adanya pelemahan permintaan domestik maupun eksternal, serta adanya potensi penyesuaian tenaga kerja, atau kapasitas produksi.
Kondisi ini menekan pergerakan rupiah dan memberikan sentimen bagi investor yang mengharapkan pertumbuhan ekonomi domestik. Besok BPS akan kembali memaparkan capaian pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal I-2026, yang menurut survei Bloomberg masih cenderung aman dan berada di level 5,3%.
Jika proyeksi tersebut terjadi, pasar mungkin akan sedikit melunak meski tetap akan mencermati kondisi fiskal dengan harga minyak mentah global yang masih bertahan tinggi di atas US$100 per barel.
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/107953/rupiah-ditutup-melemah-dekati-rp17-400-us/
Mantap... Indonesia cerah nih.. 

teguhjepang9932 dan 5 lainnya memberi reputasi
6
242
17
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan