- Beranda
- Komunitas
- Story
- Heart to Heart
Andai Mongol Pejabat Publik
TS
mikailearns
Andai Mongol Pejabat Publik
Pria feminim berperawakan ataupun bergaya gay belum tentu homoseksual. Tidak berarti juga tidak bakal karena terkadang akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Baik maskulis maupun feminis dapat terjerumus dampak networking, pertemanan, dan pergaulan bebas selama hidupnya. Kepastian seseorang gay atau tidak paling tepat divonis sewaktu dia meninggal dunia.
Dengan keislaman, hati-hatilah melempar tuduhan menyimpang zina apalagi kalau cuma ikut-ikutan tanpa upaya memadai (tabayyun dsb.). Laknat Allah bagi para pemfitnah. Hukum Islam sangat ketat menilai orang karena wajib menghadirkan saksi. Kerentanan dalam pada itu, kalaupun dianggap celah, Islam sudah melarang kaum muslimin mendekati zina (pacaran, kumpul kebo, dsb.). Keberhasilan pembuktian terhadap perbuatan homoseks hanya dapat diperoleh dari sesama pelaku orgy, beberapa tukang intip, atau dari semacam spionase oleh Tim Masokis para intel.
Namun, ada kisah menarik pada konteks politik Indonesia. Seorang stand up comedian terkenal bernama Mongol mengungkap dia pernah terlibat dengan aktivitas seksual berjamaah di gereja Satanik. Dia juga bercerita accidentally pernah sekamar dengan pramuria berkelamin batangan di Thailand. Hal ini kemudian dapat dihubungkan dengan fenomena berkas Epstein. Karena bersenang-senang, orang-orang tertentu rawan terjebak dan riwayatnya memungkinkan didokumentasi pihak tak bertanggung jawab demi kepentingan politik dan bisnis di masa datang. Untung Mongol bukan pejabat publik meskipun berpartai politik. Keliaran isu seks dapat pula dipakai memundurkan diri pimpinan tertinggi di negeri ini.
Sekilas tentang gay
Kaum homoseksual, istilah 'keren'nya disebut gay, biasanya ada dua macam, dan di sini disederhanakan saja : Gay tipe A maskulin alias penyodoknya yang samar teridentifikasi apakah dia homo atau bukan. Gay tipe B umumnya berpembawaan feminim (gemulai) tetapi feminim belum tentu gay. Mereka mudah dikenali dan bersifat menunggu datangnya gay lain, atau tidak bakal jadi homoseksual tanpa inisiatif gay tipe A ; misalnya tidak bakal pernah jadi lesbian kalau punya suami pengertian. Tipe A yang proaktif jelas berbahaya karena bisa mengincar orang yang bukan gay. Tipe B dapat menjadi teman yang menyenangkan -ataupun tidak. Sementara itu, tipe B dengan bahasa tubuhnya lebih rentan diserang publik hetero. Bibit-bibit pelaku sesama jenis biasanya muncul dari pengalaman traumatik, korban tindak kriminal atau perlakuan kasar.
Skenario tipe A
Taruhlah seorang lelaki tulalit. Jangan tulalit lah ya ; awam begitu. Misalkan seseorang terpapar dengan laki-laki lain tak berbusana apakah di pekerjaan atau di muka layar tontonan. Anunya mengalami reflek (bisa sekali bisa berkali-kali). Entah jiwanya kagetan, under pressure berulang-ulang, sehingga sampai terbentuk atmosfer psikosomatik. Mungkin dia agak naif juga sampai menganggap dirinya tergolong 'homo'. Nah jadinya, maka terjadilah. Dari justifikasi tersebut dia berpotensi mengambil keputusan krusial bermalam bersama pasangan sesama jenis dan menggunakan obat kuat. Kesuksesan hubungan malam pertama itu kemudian lazim melahirkan perasaan berkuasa. Jangan heran seorang pelaksana homoseksual biasa terlihat sangat macho dan kebapakan.
Skenario tipe B
Salah satu ciri umum gay atau pra gay adalah inisiatif membantu siapapun terutama kepada sesama jenis; paling tidak di Indonesia. Gay/pragay di luar negeri di negara Barat cenderung individualis tapi pada dasarnya suka menolong. Dengan bergaul dan berinteraksi dengan banyak orang tersimpan harapan akan bertemu gay lain minimal biseksual. Orang sekitar mungkin rada muak dengan feminis aktivis yang tidak ingin diabaikan dan agar tidak dianggap bertentangan dengan 'kepentingan gay' mereka. Pada budaya Timur, warga negara yang telah digosipkan khalayak sebagai penyuka sesama jenis, akan dihantui stresor. Akan tetapi, hal itu juga merupakan keuntungan tersendiri bagi mereka dalam mengundang pendekatan gay lain sebagai calon pasangan.
Walau berpotensi menjadi homoseksual, kadang orang lebih mengutamakan kehidupan sosial daripada kegemaran pribadi. Oleh karena itu, kecenderungan menyimpang (akibat dari bawaan/trauma/memori masa lalu) akhirnya ditinggalkan, tidak pernah atau tidak sempat menjadi perilaku, misalkan lewat pernikahan atau seorang gay berhenti jadi homoseksual berkat kontrol sosial dan peningkatan pemahaman agama. Kendatipun demikian kehidupan gay biasanya awet di lokasi elit bermenara gading, di villa daerah terpencil atau pegunungan terisolasi sehingga keenakan. Menyendiri tanpa interaksi akan selalu dipertanyakan.
Salah satu faktor stimulan awal timbulnya orientasi homoseksual adalah paparan pornografi dan pornoaksi yang susah dihindari di masa kini. Sumber hiburan dan tontonan silam tidak sebanyak sekarang. Layar kaca gampang diakses. Zaman dahulu ada panggung teater, pasar malam hingga sirkus keliling. Pembenaran juga makin canggih berbentuk ilmu pengetahuan dan pendidikan sekuler. Ada vonis menyimpang berdasarkan pembacaan pikiran, teori, gestur, dan iklim sistematis bagian dari otoritas negara. Oleh karena itu, kontraksi sekecil apapun (hal ini juga berlaku bagi lesbian dll.) dibarengi terlalu kepikiran dan ketidakidealan fisik tubuh tanpa literasi memadai, dapat menjadi perangkap yang nyaris sempurna.
Diubah oleh mikailearns 05-05-2026 18:00
bobibotaktak dan MemoryExpress memberi reputasi
2
827
2
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan