Hai semuanya, Shalom Aleichem!
Selamat malam kalian semuanya!
Tripofobia merupakan fenomena psikologis yang belakangan semakin sering dibahas, baik dalam konteks ilmiah maupun dalam percakapan sehari-hari di internet. Istilah ini merujuk pada rasa tidak nyaman, jijik, atau bahkan takut ketika seseorang melihat pola berulang berupa lubang-lubang kecil yang rapat. Contoh visual yang sering memicu reaksi ini antara lain
brain coral, retikulum (babat sapi sarang lebah), jamur morel, hingga sarang lebah.
Menariknya, meskipun istilah “tripofobia” belum secara resmi diklasifikasikan sebagai gangguan dalam
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), banyak penelitian ilmiah telah mencoba menjelaskan fenomena ini dari berbagai sudut pandang, mulai dari evolusi, persepsi visual, hingga respons emosional manusia.
Thread ini akan membahas tentang 4 penyebab utama tripofobia berdasarkan sumber-sumber ilmiah yang absah.
Selamat menyimak

.
Quote:
1. Respons Evolusioner terhadap Ancaman Berbahaya
Salah satu teori paling kuat yang menjelaskan tripofobia adalah pendekatan evolusioner. Dalam perspektif ini, reaksi tidak nyaman terhadap pola lubang-lubang kecil dianggap sebagai mekanisme pertahanan diri yang berkembang sejak zaman prasejarah.
Beberapa hewan beracun, seperti ular berbisa, katak beracun, atau serangga tertentu, memiliki pola kulit yang menyerupai pola berulang dengan kontras tinggi. Pola-pola ini secara visual mirip dengan objek yang memicu tripofobia. Oleh karena itu, otak manusia kemungkinan telah berevolusi untuk secara cepat mengenali pola tersebut sebagai sinyal bahaya.
Penelitian oleh Cole dan Wilkins (2013) menunjukkan bahwa gambar yang memicu tripofobia memiliki karakteristik visual yang serupa dengan pola pada hewan beracun. Hal ini mengindikasikan bahwa rasa tidak nyaman tersebut bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari sistem deteksi ancaman yang tertanam dalam sistem saraf manusia.
Dengan kata lain, tripofobia bisa jadi bukan “ketakutan yang aneh”, melainkan warisan biologis yang membantu manusia bertahan hidup di lingkungan yang penuh risiko.
Quote:
2. Sensitivitas Visual terhadap Pola Kontras Tinggi
Selain faktor evolusi, aspek visual juga memainkan peran penting dalam tripofobia. Pola lubang-lubang kecil yang rapat biasanya memiliki karakteristik kontras tinggi dan distribusi frekuensi spasial tertentu yang dapat mengganggu sistem visual manusia.
Penelitian oleh Fernandez dan Wilkins (2008) mengungkapkan bahwa gambar dengan energi visual tinggi pada frekuensi menengah dapat menyebabkan ketidaknyamanan visual, bahkan pada orang yang tidak memiliki tripofobia. Pola seperti ini memaksa otak bekerja lebih keras untuk memproses informasi visual, sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman.
Dalam konteks tripofobia, pola lubang yang berulang menciptakan stimulasi visual yang “berisik” dan tidak stabil. Hal ini dapat memicu reaksi fisiologis seperti peningkatan detak jantung, keringat dingin, atau rasa mual.
Dengan demikian, tripofobia tidak hanya berkaitan dengan makna simbolik dari objek yang dilihat, tetapi juga dengan bagaimana sistem visual manusia memproses pola tersebut.
Quote:
3. Asosiasi dengan Penyakit dan Infeksi
Teori lain yang cukup kuat adalah bahwa tripofobia berkaitan dengan mekanisme penghindaran penyakit (
disease avoidance). Dalam hal ini, pola lubang-lubang kecil diasosiasikan dengan gejala penyakit kulit atau infeksi parasit, seperti cacar, campak, atau hinggapnya larva di tubuh manusia.
Otak manusia memiliki sistem yang disebut
behavioral immune system, yaitu mekanisme psikologis yang membantu manusia menghindari sumber penyakit sebelum infeksi benar-benar terjadi. Ketika seseorang melihat pola yang menyerupai luka atau infeksi, sistem ini akan memicu rasa jijik sebagai bentuk perlindungan.
Penelitian oleh Kupfer dan Le (2017) menemukan bahwa orang dengan tingkat sensitivitas tinggi terhadap penyakit cenderung lebih mudah mengalami tripofobia. Ini menunjukkan bahwa rasa jijik yang muncul bukan sekadar reaksi emosional acak, melainkan bagian dari strategi adaptif untuk menghindari risiko kesehatan.
Dalam konteks ini, objek seperti sarang lebah atau jamur morel mungkin tidak berbahaya secara langsung, tetapi pola visualnya cukup untuk “menipu” otak agar menganggapnya sebagai ancaman biologis.
Quote:
4. Respons Emosional yang Berkaitan dengan Jijik dan Ketakutan
Tripofobia sering kali melibatkan kombinasi antara rasa jijik (
disgust) dan ketakutan (
fear). Kedua emosi ini memiliki fungsi adaptif yang berbeda, tetapi dapat muncul secara bersamaan dalam konteks tertentu.
Rasa jijik biasanya berkaitan dengan penghindaran terhadap sesuatu yang dianggap kotor atau berpotensi menularkan penyakit. Sementara itu, rasa takut lebih terkait dengan ancaman langsung terhadap keselamatan.
Penelitian oleh Le, Cole, dan Wilkins (2015) menunjukkan bahwa reaksi terhadap gambar tripofobik lebih didominasi oleh rasa jijik dibandingkan rasa takut. Hal ini membedakan tripofobia dari fobia klasik seperti arachnophobia (takut laba-laba) atau acrophobia (takut ketinggian).
Menariknya, respons emosional ini juga dipengaruhi oleh faktor masing-masing orang, seperti pengalaman pribadi, tingkat kecemasan, dan sensitivitas sensorik. Tidak semua orang mengalami tripofobia dengan intensitas yang sama, bahkan ada yang tidak merasakan apa-apa sama sekali.
Quote:
PENUTUP
Tripofobia merupakan fenomena kompleks yang tidak dapat dijelaskan hanya dari satu sudut pandang. Empat faktor utama (respons evolusioner, sensitivitas visual, asosiasi dengan penyakit, dan respons emosional) saling berinteraksi dalam membentuk pengalaman subjektif seseorang terhadap pola lubang-lubang kecil.
Meskipun belum diakui secara resmi sebagai gangguan mental, tripofobia tetap menjadi topik menarik dalam kajian psikologi dan ilmu saraf. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memahami mekanisme yang mendasarinya secara lebih mendalam.
Yang jelas, fenomena ini menunjukkan bahwa persepsi manusia terhadap dunia tidak hanya ditentukan oleh apa yang dilihat, tetapi juga oleh bagaimana otak menafsirkan dan merespons informasi tersebut.
Quote:
SUMBER
Cole, G. G., & Wilkins, A. J. (2013). Fear of holes.
Psychological Science,
24(10), 1980–1985.
Fernandez, D., & Wilkins, A. J. (2008). Uncomfortable images in art and nature.
Perception,
37(7), 1098–1113.
Kupfer, T. R., & Le, A. T. D. (2017). Disgusting clusters: Trypophobia as an overgeneralised disease avoidance response.
Cognition and Emotion,
31(8), 1622–1632.
Le, A. T. D., Cole, G. G., & Wilkins, A. J. (2015). Assessment of trypophobia and an analysis of its visual precipitation.
Quarterly Journal of Experimental Psychology,
68(11), 2304–2322.
@multimedia.ptrt @pabuaranwetan @rizkync108