- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
[CERPEN FANTASI] Di Balik Ombak Hitam
TS
aurora..
[CERPEN FANTASI] Di Balik Ombak Hitam
![[CERPEN FANTASI] Di Balik Ombak Hitam](https://s.kaskus.id/images/2026/05/04/9481769_20260504075555.png)
Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Angin laut selalu membawa suara yang sama bagi Dea, gemuruh yang tidak pernah benar-benar tenang. Di pulau asing yang tak pernah ia kenal namanya, suara ombak menjadi satu-satunya teman yang setia sejak ia terdampar setahun yang lalu.
Dea, gadis nelayan berusia 20 tahun, masih ingat jelas hari ketika badai menelan perahunya. Dea berangkat dari pesisir selatan Indonesia, berniat membantu ayahnya mencari ikan. Namun, laut berubah ganas. Ombak setinggi rumah menghantam, langit menjadi hitam, dan dalam sekejap, semuanya lenyap.
Saat Dea sadar, ia sudah berada di pulau ini, sebuah tempat yang terasa seperti ujung dunia. Hutan pinus menjulang tinggi, daunnya berbisik setiap kali angin dingin membekukan bertiup dari Kutub Selatan. Udara di sini tidak seperti laut tropis yang hangat, ada sentuhan dingin yang membuat kulitnya sering merinding, seolah-olah Antartika tidak terlalu jauh dari sini.
Hari-harinya diisi dengan bertahan hidup. Dea memetik buah liar, menangkap ikan kecil di pantai, dan membuat tempat berteduh sederhana dari kayu dan daun pinus. Dea berbicara sendiri agar tidak merasa kesepian.
Sampai suatu hari, sesuatu berubah.
***
Siang itu, matahari bersinar pucat, terhalang kabut tipis. Dea berjalan masuk ke dalam hutan, mengikuti jalur kecil yang ia buat sendiri. Ia menemukan sebuah bangku kayu tua, entah peninggalan siapa, yang sudah setengah lapuk, seakan sudah lama ditinggalkan.
Dea duduk di sana, menarik napas panjang.
“Aku ingin pulang…” gumam Dea pelan
“Pulang ke mana?”
Dea membeku.
Suara itu jelas. Bukan suara angin. Bukan suara hewan biasa.
Dea menoleh perlahan.
Di sampingnya, seekor kucing oranye duduk dengan santai. Bulu-bulunya bersih, matanya agak sipit dan keemasan, dan kucing itu menatap Dea dengan ekspresi yang terlalu manusiawi.
Dea mengedip.
“K-kamu… barusan bicara?” tanya Dea ragu
Kucing itu menghela napas panjang, seperti seseorang yang lelah mengulang penjelasan.
“Iya, dan kamu bukan orang pertama yang terkejut.”
Dea melompat berdiri.
“Ini mimpi… ini pasti mimpi!”
“Kalau ini mimpi, kamu sudah terlalu lama tertidur,” jawab kucing itu tenang
Dea menatapnya lama. Jantungnya berdegup cepat, tetapi entah kenapa, ia tidak merasa takut.
“Siapa kamu?”
Kucing itu menatap ke arah hutan, lalu kembali ke Dea.
“Aku… dulu bukan kucing,” ucapnya pelan
“Namaku Kinneko.”
***
Sejak hari itu, hidup Dea tidak lagi sunyi.
Kinneko, si kucing oranye berbulu keemasan, menjadi teman bicara, teman berburu, bahkan teman tertawa. Kucing itu memiliki suara yang lembut, penuh ketenangan, dan sering berbicara seperti seseorang yang telah hidup sangat lama.
Di bawah pohon pinus, Kinneko akhirnya menceritakan segalanya.
“Aku seorang pangeran,” ucapnya pada suatu sore
Dea mengangkat alis.
“Pangeran… jadi kucing?”
“Aku tahu terdengar aneh,” jawabnya
“Tapi itu kenyataannya.”
Kinneko berasal dari sebuah kerajaan laut yang jauh di timur laut Asia, tempat dingin yang dipenuhi arus liar dan makhluk-makhluk misterius. Ayahnya, Raja Kinzora, adalah penguasa yang dihormati.
Namun, pada suatu musim, laut menjadi kejam. Ikan-ikan menghilang. Cadangan makanan menipis. Rakyatnya kelaparan.
“Ayahku sakit karena kekurangan makanan,” ujar Kinneko pelan
“Aku… tidak tahan melihatnya.”
Kinneko kemudian melakukan sesuatu yang terlarang, yaitu berlayar sangat jauh menuju wilayah yang dikenal sebagai Laut Selatan. Tempat itu dijaga oleh makhluk legendaris yang ditakuti semua pelaut.
“Namanya pasti Kurosame,” bisik Dea
Kinneko mengangguk.
“Seekor hiu raksasa berbadan hitam. Penunggu laut Antartika. Tidak ada yang berani mendekat.”
Namun, Kinneko nekat. Kinneko mencari rumput laut emas, tanaman langka yang dipercaya memiliki energi kehidupan tinggi.
“Aku menemukan rumput laut emas,” ucap Kinneko
“Aku membawanya pulang.”
Dea tersenyum kecil.
“Kedengarannya seperti kisah pahlawan.”
Kinneko tidak tersenyum.
“Tapi aku mencurinya.”
Hening.
“Dan Kurosame… tidak tinggal diam.”
Kinneko menceritakan bagaimana laut tiba-tiba berubah. Ombak menghitam meski matahari bersinar terik. Air menjadi dingin seperti es. Dari dalam gelombang, Kurosame muncul dengan tubuh besar berwarna hitam, mata merahnya menyala, tubuhnya sebesar kapal.
“Aku dikutuk,” ucap Kinneko
“Menjadi kucing yang lemah. Terjebak di pulau ini. Tidak bisa kembali.”
“Bagaimana dengan ayahmu?”
Kinneko menunduk.
“Raja Kinzora… tidak sempat diselamatkan.”
Dea merasakan sesuatu menyesak di dadanya.
Sejak saat itu, mereka berbagi kesunyian bersama.
***
Hari demi hari berlalu. Dea dan Kinneko menjadi tidak terpisahkan. Mereka berjalan di tepi pantai, berburu ikan, bahkan terkadang hanya duduk diam mendengarkan ombak.
“Apa kamu masih ingin pulang?” tanya Kinneko pada suatu malam
Dea menatap bintang.
“Iya.”
“Jadi, kamu akan meninggalkanku?”
Pertanyaan itu membuat Dea terdiam lama.
“Aku… tidak tahu.”
Kinneko tersenyum kecil, meski ada kesedihan di matanya.
“Aku sudah terbiasa ditinggalkan.”
“Jangan bilang begitu,” balas Dea cepat
Namun, kata-kata itu tetap menggantung di antara mereka.
***
Suatu siang, Dea melihat sesuatu yang membuat tubuhnya dingin. Ombak di kejauhan menghitam pekat, padahal langit sangat cerah.
Dea teringat cerita Kinneko.
“Tidak…” bisik Dea
Air laut bergetar. Angin berhenti. Dunia terasa sunyi sebelum badai.
“Kinneko!” teriak Dea
Kucing itu muncul dari hutan, wajahnya tegang.
“Hiunya datang.”
Ombak hitam semakin besar, seperti dinding yang bergerak, tetapi tiba-tiba berhenti.
Perlahan, warna laut kembali normal.
Kurosame tidak muncul, tetapi pesan itu jelas, bahwa kutukan itu masih ada.
***
Waktu terus berjalan. Harapan untuk pulang mulai tumbuh kembali dalam diri Dea.
Dea mulai membuat perahu dari kayu pinus, dari akar yang kuat, dan dari segala yang bisa ia kumpulkan.
Kinneko membantu semampunya.
Namun, setiap kali perahu hampir selesai, kayunya selalu patah dan retak tanpa alasan.
“Ini tidak masuk akal!” teriak Dea suatu hari
Dea menendang sisa kayu.
“Kenapa selalu gagal?!”
Kinneko diam.
“Kamu tahu kenapa?” tanya Dea
Kinneko menatap laut.
“Mungkin… karena pulau ini tidak ingin kamu pergi.”
“Atau karena kutukan itu,” lanjut Kinneko pelan
Dea terdiam.
Akhirnya, suatu malam, Dea duduk di pantai, menatap laut yang gelap.
“Aku menyerah,” ucap Dea lirih
“Aku akan tinggal di sini… sampai mati.”
Kinneko tidak menjawab.
***
Keesokan harinya, Kinneko menghilang.
Dea mencarinya ke seluruh pulau.
“Kinneko! Kinneko!”
Tidak ada jawaban.
Dea mencari ke hutan, ke pantai, ke bangku tua tempat pertama mereka bertemu.
Kosong.
Hingga akhirnya, di balik semak pinus, Dea menemukan kucing itu.
Kinneko terbaring. Tubuhnya lemah. Napasnya berat.
“Kinneko!”
Dea berlari menghampiri.
“Kamu kenapa?!”
Kinneko membuka mata perlahan.
“Sepertinya… waktuku habis,” bisik Kinneko
“Jangan bicara begitu!”
“Kutukan… ini tidak hanya mengikatku… tapi juga menguras hidupku.”
Air mata Dea jatuh.
“Aku tidak bisa kehilangan kamu juga…”
Kinneko tersenyum lemah.
“Aku senang… sempat bertemu denganmu.”
Dea menggenggam tubuh kecil itu.
“Tidak! Kamu tidak boleh mati!”
Dalam keputusasaan, tanpa berpikir panjang, Dea mendekatkan wajahnya dan ia mencium kucing itu.
Cahaya.
Hangat.
Seperti matahari yang terbit di tengah badai.
Tubuh Kinneko bersinar. Bulu oranyenya berubah menjadi kilauan emas, lalu perlahan memudar.
Dea mundur, terkejut. Di hadapannya tidak ada lagi kucing. Seorang pria berdiri di sana. Tinggi, dengan rambut Harajuku, kulit kuning langsat, dan mata sipit yang sama, mata yang selama ini ia kenal.
“Kinneko?” bisik Dea
Pria itu tersenyum.
“Iya. Itu aku.”
Dea menutup mulutnya, tidak percaya.
“Kutukan itu… hilang,” ucap Kinneko
“Bagaimana bisa?”
Kinneko menatapnya lembut.
“Ciumanmu… bukan sekadar belas kasihan.”
Dea terdiam.
“Hatimu tulus. Dan mungkin… itulah satu-satunya hal yang bisa melawan kutukan Kurosame.”
Air mata Dea jatuh lagi, tapi kali ini karena bahagia.
***
Dengan wujud manusianya kembali, Kinneko tidak lagi lemah. Ia membantu Dea dengan kekuatan dan pengetahuan yang ia miliki. Mereka membangun kapal, bukan perahu kecil, melainkan kapal besar.
Kayu tidak lagi patah.
Segalanya berjalan lancar, seolah kutukan itu benar-benar telah berakhir.
Selama proses itu, hubungan mereka berubah bukan lagi sekadar teman. Ada sesuatu yang lebih dalam.
***
Suatu malam, di bawah langit penuh bintang, Kinneko berkata.
“Dea.”
“Iya?”
“Setelah kita pulang… apa yang akan kamu lakukan?”
Dea tersenyum kecil.
“Kembali ke rumah. Mungkin… mulai hidup baru.”
Kinneko mengangguk.
“Aku juga ingin memulai hidup baru.”
Kinneko menatap Dea.
“Bersamamu.”
Dea menahan napas.
“Aku ingin menikahimu.”
Sunyi.
Hanya suara ombak yang terdengar.
“Kenapa harus aku?” tanya Dea pelan
Kinneko tersenyum.
“Karena kamu satu-satunya yang melihatku, bahkan saat aku bukan siapa-siapa.”
Dea menatapnya lama, lalu tersenyum.
“Kalau begitu… jangan tinggalkan aku lagi.”
Kinneko menggeleng.
“Tidak akan pernah.”
Kapal itu akhirnya selesai.
***
Hari keberangkatan tiba. Dea berdiri di tepi pantai, menatap pulau yang telah menjadi rumah keduanya.
“Kita benar-benar pergi,” ucap Dea
“Iya,” jawab Kinneko
Saat kapal mulai bergerak, laut tetap tenang.
Tidak ada ombak hitam.
Tidak ada tanda Kurosame.
Namun, jauh di kejauhan, sejenak Dea merasa melihat sesuatu di bawah permukaan laut.
Ada bayangan besar yang mengawasi, lalu menghilang, seolah-olah mengizinkan mereka pergi.
***
Perjalanan pulang dimulai.
Menuju Indonesia.
Menuju kehidupan baru.
Di atas laut yang luas, Dea berdiri di samping Kinneko.
“Menurutmu… ini akhir cerita kita?” tanya Dea
Kinneko tersenyum.
“Tidak.”
“Ini baru awal.”
Dan di balik ombak yang kini kembali biru, masa depan menunggu mereka, bukan lagi sebagai gadis yang terdampar dan pangeran terkutuk, melainkan sebagai dua jiwa yang dipertemukan oleh takdir di balik ombak hitam.
TAMAT
@multimedia.ptrt @pabuaranwetan @kakekane.cell
tariganna dan 3 lainnya memberi reputasi
4
60
2
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan