- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
3 Alasan Kenapa Bobibos Pilih Bangun Pabrik di Timor Leste, Bukan di Indonesia
TS
aleksandronesta
3 Alasan Kenapa Bobibos Pilih Bangun Pabrik di Timor Leste, Bukan di Indonesia
Quote:
3 Alasan Kenapa Bobibos Pilih Bangun Pabrik di Timor Leste, Bukan di Indonesia
3 Alasan Kenapa Bobibos Pilih Bangun Pabrik di Timor Leste, Bukan di Indonesia

2026-05-04 Muhamad Ridlo SArticle, Berita
Unikma.ac.id – Keputusan PT Inti Sinergi Formula, pengembang bahan bakar nabati (BBN) ‘Bobibos’, untuk memulai produksi massal di Timor Leste cukup menyita perhatian publik. Mengusung inovasi mengubah limbah jerami menjadi bahan bakar alternatif setara RON 98, Bobibos justru tidak menjadikan Indonesia sebagai lokasi basis produksi pertamanya.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai alasan di balik keputusan strategis perusahaan tersebut memprioritaskan negara tetangga dibandingkan negeri sendiri.
1. Terganjal Regulasi Bioenergi di Dalam Negeri
Faktor paling mendasar yang menahan laju produksi Bobibos di Indonesia adalah ketiadaan payung hukum. Kebijakan transisi energi nasional yang ada saat ini baru mengakomodasi bioenergi yang bersumber dari kelapa sawit, aren, dan tebu. Bahan baku dari limbah jerami belum masuk dalam regulasi tersebut.
Pembina Bobibos, Mulyadi, menegaskan bahwa sebagai pihak yang taat pada hukum, Bobibos memilih tidak memaksakan produksi dan distribusi massal secara komersial di Indonesia tanpa adanya aturan uji ketahanan, sertifikasi, serta standar keselamatan yang resmi.
Kendati pihak Kementerian ESDM dan Pertamina telah meninjau inovasi ini, ketiadaan landasan regulasi membuat jerami belum bisa diintegrasikan ke dalam skema transisi energi nasional saat ini.
2. Karpet Merah dan Regulasi Proaktif dari Timor Leste
Berbanding terbalik dengan kondisi domestik, Timor Leste dinilai sangat agresif dan proaktif dalam meminang Bobibos. Founder PT Inti Sinergi Formula, Iklas Thamrin, mengungkapkan bahwa perizinan yang sulit menemu titik terang di Tanah Air justru sangat dibantu dan dipermudah oleh pemerintah Timor Leste.
Pemerintah setempat memberikan dukungan penuh terhadap infrastruktur dari hulu ke hilir. Di sektor hulu, mereka menyiapkan lahan bahan baku seluas 25.000 hektare, dengan 5.700 hektare disiapkan di tahap awal. Di sektor hilir, pemerintah Timor Leste juga memfasilitasi penyiapan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang disesuaikan dengan kapasitas dan target produksi pabrik.
3. Skema Bisnis yang Proporsional dan Efisien
Keputusan ekspansi ini juga tidak lepas dari skema kerja sama operasional (Business to Business) yang dinilai sangat menguntungkan. Melalui perusahaan patungan bernama Timor Agro Bobibos Energy SA, Bobibos menggandeng perusahaan swasta lokal, Timor Agronova SA, yang direkomendasikan langsung oleh pemerintah setempat.
Skema kepemilikan saham dibagi menjadi 51% untuk mitra lokal dan 49% untuk Bobibos. Model ini membuat beban investasi awal menjadi jauh lebih efisien. Mitra lokal bertanggung jawab penuh menyiapkan fisik infrastruktur seperti pabrik, gudang, alat pertanian non-produksi, dan lahan sawah. Sementara itu, Bobibos dapat fokus menjalankan peran utamanya sebagai penyedia teknologi inti dan mesin pengolahan.
Operasional sehari-hari juga difokuskan untuk memberdayakan masyarakat Timor Leste. Bobibos hanya mengirimkan tenaga ahli, sementara pekerja operasional sepenuhnya melibatkan warga lokal, sehingga memberikan dampak ekonomi langsung bagi negara tersebut.
Rencana Ekspansi Global dan Kesiapan Kembali ke Indonesia
Untuk tahap awal, pabrik di Timor Leste menargetkan produksi sebanyak 50 ribu liter per hari (sekitar 1,5 juta liter per bulan), dan direncanakan meluncur secara resmi pada akhir April 2026 oleh Presiden Timor Leste. Skema bisnis yang terbukti efektif ini juga diproyeksikan untuk diduplikasi ke beberapa negara lain yang berminat, seperti Vietnam, Malaysia, dan Norwegia.
Meski demikian, manajemen Bobibos menegaskan langkah ini bukanlah bentuk “meninggalkan Indonesia”. Inovasi ini ditujukan sebagai solusi energi dunia. Bobibos siap kembali untuk memproduksi massal di Tanah Air kapan pun jika pemerintah telah menerbitkan regulasi yang jelas terkait pemanfaatan jerami.
Dengan estimasi luas sawah di Indonesia yang mencapai 11,3 juta hektare, produksi BBN dari jerami secara teoritis dapat menembus 20 miliar liter per tahun—sebuah potensi luar biasa untuk memperkuat ketahanan energi Nusantara di masa depan.
—
*Penyusunan artikel dengan bantuan AI
Penulis: Tim Humas Universitas Komputama (UNIKMA), Cilacap, Jawa Tengah
Editor: Muhamad Ridlo
Biarkan saja lah nggak perlu lirik Indonesia
Kalau Bobibos pengen tambah produksi
Timor Leste impor jerami murah dari Indonesia
N ekspor Bobibos ke Indonesia harga 8 ribu
teguhjepang9932 memberi reputasi
1
279
Kutip
10
Balasan
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan