Kaskus

News

mabdulkarimAvatar border
TS
mabdulkarim
Khawatir Longsor, Masyarakat Adat Tongkonan Tana Toraja Tolak Proyek Geothermal

Khawatir Longsor, Masyarakat Adat Tongkonan Layuk Kaero Tana Toraja Tolak Proyek Geothermal
Khawatir Longsor, Masyarakat Adat Tongkonan Tana Toraja Tolak Proyek Geothermal
Tayang: Minggu, 3 Mei 2026 18:53 WITA
Penulis: Anastasya Saidong Ridwan | Editor: Imam Wahyudi
zoom-inlihat fotoKhawatir Longsor, Masyarakat Adat Tongkonan Layuk Kaero Tana Toraja Tolak Proyek Geothermal
Tribun-timur.com/Anastasya Saidong Ridwan

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKALE - Rencana eksplorasi panas bumi (geothermal) di Dusun Wala, Kecamatan Sangalla Selatan, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, menuai penolakan dari masyarakat adat Tongkonan Layuk Kaero.

Penolakan ini dipicu kekhawatiran terhadap dampak lingkungan, terutama potensi longsor dan ancaman terhadap sumber mata air warga.

Sikap penolakan tersebut disampaikan tokoh adat Tongkonan Layuk Kaero, Puang Massora Salusu, usai diskusi bersama mahasiswa di Tongkonan Layuk Kaero, Lembang Kaero, Kecamatan Sangalla Selatan, Sabtu (2/5/2026).

“Kami keluarga besar Tongkonan Layuk Kaero menolak wilayah adat kami dieksplorasi. Tanpa aktivitas saja, Gunung Kaero pernah mengalami longsor besar, apalagi jika dilakukan pengeboran,” tegasnya.

Menurutnya, kekhawatiran warga bukan tanpa alasan.

Selain potensi longsor, eksplorasi geothermal juga dinilai berisiko mengganggu sumber mata air yang selama ini menjadi penopang utama kehidupan masyarakat.

Warga setempat menyebut satu sumber mata air dapat melayani kebutuhan 20 hingga 25 rumah tangga, sekaligus mengairi lahan pertanian seperti sawah dan kebun lada.

“Satu mata air bisa digunakan puluhan rumah, ditampung lalu dialirkan ke warga,” ujar salah satu warga.

Selain berdampak pada kebutuhan domestik, gangguan terhadap sumber air juga dikhawatirkan akan memukul sektor pertanian yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat.

Selain diskusi, mahasiswa bersama warga juga menggelar nonton bareng terkait rencana proyek geothermal.

Dalam forum diskusi itu, masyarakat adat menegaskan bahwa perlindungan wilayah adat dan kelestarian lingkungan tidak bisa ditukar dengan proyek apa pun.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM tahun 2023, wilayah Sangalla–Makale, Tana Toraja, memiliki potensi panas bumi dengan estimasi energi sekitar 12 MWe.

Kawasan sekitar Dusun Wala juga memiliki potensi sumber air panas alami, salah satunya permandian air panas Makula yang berada di Lembang Tokesan, sekitar 15 kilometer atau 30 menit perjalanan dari pusat Kota Makale.

Sumber air panas tersebut memiliki karakteristik unik, yakni perpaduan air panas dan dingin dengan aroma belerang yang cukup kuat.

Rencana pengembangan geothermal di Tana Toraja sendiri kembali menjadi sorotan setelah tercantum dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

Dalam dokumen itu, proyek geothermal direncanakan tersebar di 23 titik di Sulawesi Selatan, termasuk wilayah Tana Toraja.

Di Kecamatan Bittuang, proyek bahkan telah memasuki tahap pelelangan Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (PSPE), sementara di Kecamatan Sangalla dilaporkan berada pada tahap survei rinci.

Seiring perkembangan tersebut, kekhawatiran masyarakat terhadap dampak lingkungan semakin menguat.

Berdasarkan dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), wilayah Bittuang dan Sangalla termasuk kawasan rawan longsor.

Catatan sebelumnya menunjukkan, bencana longsor pernah terjadi di Bittuang pada Januari 2020 yang menimbulkan korban jiwa, serta di Sangalla pada November 2010 yang menyebabkan warga harus mengungsi.

Sebelumnya, aktivis pemuda Sangalla, Garsia Bandaso, menilai aktivitas pengeboran dalam proyek geothermal berpotensi memengaruhi kondisi bawah tanah, termasuk akuifer dan ketersediaan air.

“Kalau di Bittuang ada Buntu Karua sebagai sumber pengairan, di Sangalla ada Makula yang juga menjadi titik vital,” ujarnya.

Ia menambahkan, perubahan struktur geologi akibat eksplorasi dapat berdampak pada kestabilan tanah serta keberlanjutan sumber air, mengingat karakteristik wilayah Tana Toraja yang didominasi pegunungan dan batuan sedimen penyerap air.

Karena itu, ia berharap setiap tahapan proyek dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan aspek lingkungan serta keselamatan masyarakat di sekitar lokasi.(*)

https://makassar.tribunnews.com/tora...rmal?page=all.
banyak masyarakat takut geothermal karena merusak air
padahal potensinya luar biasa daripada pakai batubara terus


itkgidAvatar border
itkgid memberi reputasi
1
126
6
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan