- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
Kekasih Gelapku
TS
c4punk1950...
Kekasih Gelapku

Saya hadirkan sebuah cerpen cinta yang terlarang, terkadang rasa cinta datang tak terduga. Tak perduli kamu sudah mempunyai pasangan atau belum, hati tak bisa dibohongi. Kejenuhan hidup, membuat keinginan tabu menjadi realita yang tak bisa dihentikan hanya dengan kata.
Semoga cerita ini membuat pembaca terhibur.
Sruupuutt dulu teh hangatnya kawan...

Lampu-lampu kantor di lantai dua puluh satu mulai meredup, menyisakan keheningan yang hanya dipecah oleh dengung pendingin ruangan. Bagi dunia luar, Rio dan Tina adalah rekan kerja yang profesional, dua bakat yang menjadi satu hingga mampu mendapatkan banyak proyek yang ambisius dan berdedikasi. Namun, di balik pintu ruang rapat yang tertutup, garis profesionalisme itu telah lama memudar menjadi sesuatu yang berbahaya.
Sebagai sales dari penjualan yang bergerak dibidang event organizer, Rio dan Tina dianggap saling melengkapi. Banyak pelanggan puas dengan kinerjanya, bahkan sang owner pun bangga mempunyai talent seperti mereka berdua.
Dari event gathering, wedding, ulang tahun, bridal shower, baby shower, seminar, workshop, konferensi, product launching, virtual event, meeting, acara penerintahan sampai konser musik dan festival dan budaya semuanya mereka libas.
Bahkan bagi orang yang tak mengenal mereka, bisa dibilang mereka pasangan yang serasi, bisa dibilang sang pria ganteng dan wanitanya berperawakan imut, tidak bosan dipandang mata.
Bab 1: Pertemuan di Garis Abu-abu
Rio tidak pernah berencana untuk menjadi pria yang tidak setia. Hidupnya bersama Vira tampak sempurna di mata orang lain; rumah yang rapi, makan malam akhir pekan yang tenang, dan dukungan istri yang begitu tulus. Vira adalah rumah, tempat ia pulang untuk beristirahat. Dirinya pun merasa bahagia mempunyai istri yang begitu baik, hingga dihatinya tersemat bahwa Vira adalah yang terbaik tanpa ada cela yang bisa ia katakan.
Namun, di kantor ini, ada Tina.
Tina adalah badai yang tidak bisa diprediksi. Suaminya, Virgo, adalah pria mapan yang memberikan keamanan finansial dan cinta yang stabil. Namun, stabilitas terkadang terasa seperti penjara bagi Tina. Dalam lembur-lembur panjang menyelesaikan tender besar, Tina menemukan cermin dirinya pada Rio. Mereka tertawa pada lelucon yang sama dan memahami kelelahan yang tidak pernah dimengerti oleh pasangan mereka di rumah.
Hingga suatu saat ketika mereka sedang bersenda gurau di sebuah taman, Rio nampak gelisah dan ingin mengutarakan sesuatu kepada Tina.
Rio menarik napas panjang, matanya menatap ujung sepatu sebelum akhirnya beralih ke wajah Tina yang tampak tenang di bawah temaram lampu taman.
"Tin, pernah nggak kamu merasa... kita ini sudah melangkah terlalu jauh?" tanya Rio dengan suara agak parau.
Tina terkekeh pelan, meski sorot matanya tidak bisa berbohong. "Jauh ke mana? Proyek konser minggu depan? Atau target kuartal ini?"
"Kamu tahu bukan itu maksudku," Rio memotong, nada bicaranya memberat. "Maksudku kita. Di sini. Cara kita saling menatap di ruang rapat, atau cara aku lebih memilih lembur bersamamu daripada pulang ke Vira. Rasanya... salah, tapi aku nggak bisa berhenti."
Tina terdiam. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi yang sulit dibaca. Ia memalingkan wajah ke arah deretan lampu kota di kejauhan.
"Rio, kita ini seperti dua orang yang sedang bermain api di tengah hujan," gumam Tina lirih. "Dinginnya hidup kita di rumah masing-masing membuat api ini terasa hangat. Tapi kita berdua tahu, sekali angin kencang datang, kita cuma punya dua pilihan: padam atau terbakar habis."
Rio memberanikan diri menyentuh jemari Tina. "Masalahnya, aku lebih takut kalau api ini padam, Tin."
Tina menatap tangan Rio, lalu beralih ke mata pria itu. "Lalu bagaimana dengan Vira? Bagaimana dengan Virgo? Mereka nggak pantas dapat sisa-sisa waktu dari kita yang sudah habis untuk orang lain."
"Aku tahu," jawab Rio lirih, genggamannya mengerat. "Itulah kenapa aku gugup. Karena setiap kali aku bersamamu, aku merasa seperti pencuri yang mencintai barang curiannya sendiri."
Rio menunduk, melepaskan genggaman tangannya hanya untuk menutup wajahnya sendiri. Keheningan taman terasa mencekik, seolah alam semesta sedang menghakimi mereka berdua.
"Aku merasa jahat, Tin," suara Rio bergetar, lebih rendah dari sebelumnya. "Vira itu tanpa cela. Dia adalah definisi istri yang sempurna. Tapi kenapa saat aku bersamamu, aku merasa lebih... hidup? Aku merasa seperti menemukan potongan puzzle yang selama ini hilang, tapi aku menemukannya di kotak yang salah."
Tina merasakan dadanya sesak. Ia mendekat, membiarkan bahu mereka bersentuhan. "Aku juga, Rio. Setiap kali Virgo bertanya bagaimana hariku di kantor, aku merasa seperti pembohong besar karena tidak menceritakan bagian terbaiknya—yaitu saat-saat bersamamu. Aku mencintainya, tapi cinta kami terasa seperti rutinitas yang mati. Sedangkan denganmu... semuanya terasa mendesak, nyata, dan menyakitkan."
Rio menoleh, matanya yang mulai berkaca-kaca menatap langsung ke dalam manik mata Tina. "Kalau aku bilang aku mulai mencintaimu lebih dari sekadar rekan kerja, apa itu akan menghancurkan kita?"
Air mata Tina jatuh tanpa bisa dibendung lagi. Ia tersenyum getir di tengah isaknya. "Kita sudah hancur sejak pertama kali kita membiarkan percakapan di ruang rapat itu berubah menjadi curhat pribadi, Rio. Kita mencintai orang yang tidak bisa kita miliki tanpa melukai orang yang paling tulus pada kita."
"Aku ingin berhenti," bisik Rio, suaranya pecah. "Tapi setiap kali aku melihatmu di meja kantormu, aku merasa tidak sanggup memikirkan hari tanpa tawamu. Aku egois, ya?"
Tina menggeleng pelan, lalu menyandarkan kepalanya di bahu Rio untuk pertama kalinya dengan penuh perasaan. "Kalau kamu egois, maka aku adalah pencurinya. Aku mencuri waktu yang seharusnya milik Vira, demi sepotong kebahagiaan semu bersamamu."
Di tengah taman yang sunyi itu, pengakuan mereka melayang di udara, menciptakan beban baru yang harus mereka pikul saat kembali ke rumah masing-masing.
Tepat saat Tina menyandarkan kepalanya, saku celana Rio bergetar hebat. Bunyi nada dering yang ceria—sangat kontras dengan suasana kelam di antara mereka—memecah keheningan.
Rio tersentak, tangannya gemetar saat meraba ponselnya. Layar itu menyala terang, menampilkan foto Vira yang sedang tersenyum lebar dengan latar belakang rumah mereka. Nama "Istriku Sayang ❤️" berkedip-kedip, seolah-olah menjadi hakim yang memergoki mereka di kegelapan.
Napas Rio tertahan. Ia menatap layar itu dengan tatapan ngeri.
"Angkat, Rio," bisik Tina pelan, sambil menjauhkan kepalanya dan menghapus air matanya dengan cepat. Ia memalingkan wajah, tak sanggup melihat pengkhianatan itu terjadi secara langsung.
Dengan jari yang masih bergetar, Rio menggeser ikon hijau.
"Halo... Vir?" suara Rio terdengar kaku, ia berusaha menetralkan getaran di pita suaranya.
"Sayang? Kamu masih di kantor ya?" suara Vira di seberang sana terdengar lembut dan penuh perhatian, tanpa curiga sedikit pun. "Aku baru saja selesai masak cumi asam manis kesukaanmu. Jangan terlalu capai ya, ingat kesehatanmu lebih penting dari tender mana pun. Aku tunggu di rumah, ya?"
Rio memejamkan mata rapat-rapat. Setiap kata perhatian dari Vira terasa seperti sembilu yang menyayat hatinya. "I-iya, Vir. Ini sudah mau jalan pulang. Maaf ya agak telat."
"Enggak apa-apa, Sayang. Hati-hati di jalan ya. I love you."
"I... I love you too," jawab Rio lirih, hampir tak terdengar.
Klik. Sambungan terputus.
Rio menatap ponselnya yang kini gelap, merasa seperti baru saja melakukan kejahatan besar. Ia menoleh ke arah Tina, yang kini berdiri dengan punggung tegap namun bahu yang gemetar.
"Dia sudah menunggumu, Rio," ucap Tina tanpa menoleh. "Kembalilah ke duniamu yang sempurna. Aku juga harus kembali ke... kepenatanku."
Rio ingin meraih tangan Tina sekali lagi, tapi beratnya rasa bersalah terhadap Vira seolah memborgol tangannya. "Tin, aku..."
"Jangan katakan apa-apa lagi," potong Tina dengan suara serak. "Suara Vira tadi... itu adalah kenyataan yang harus kita hadapi. Besok kita kembali jadi rekan kerja yang profesional lagi, ya? Seperti tidak pernah ada yang terjadi malam ini."
***
Sinar matahari pagi yang masuk melalui jendela kaca lantai dua puluh satu terasa jauh lebih menyengat dari biasanya. Rio duduk di kubikelnya, mencoba fokus pada draf proposal product launching, namun matanya terus melirik ke arah pintu lift.
Ketika denting lift berbunyi dan Tina melangkah masuk, suasana seketika berubah.
Tina mengenakan blazer krem yang rapi, tampak sangat profesional seperti biasanya. Namun, lingkaran hitam tipis di bawah matanya—yang berusaha ditutupi dengan concealer—tidak bisa berbohong kepada Rio.
Saat Tina melewati meja Rio, langkahnya sempat melambat. Rio mendongak.
"Pagi, Tin," sapa Rio. Suaranya terdengar terlalu dibuat-buat, pecah karena kecanggungan yang luar biasa.
Tina hanya mengangguk singkat, senyumnya tipis dan tidak sampai ke mata. "Pagi, Yo. File tender dari klien kemarin sudah aku taruh di emailmu, ya."
Tidak ada lelucon tentang kopi pagi. Tidak ada keluhan tentang kemacetan. Hanya urusan pekerjaan yang kaku.
Dua jam kemudian, mereka harus bertemu di ruang rapat kecil untuk membahas persiapan festival musik. Hanya ada mereka berdua. Ruangan yang biasanya penuh dengan tawa dan diskusi kreatif itu kini terasa sempit dan pengap.
Rio mencoba membuka percakapan saat Tina sibuk dengan laptopnya. "Tin, soal semalam... aku minta maaf kalau aku—"
"Bisa kita bahas soal rundown acara saja, Rio?" potong Tina cepat, tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Tangannya bergerak gelisah memainkan pulpen. "Owner minta laporan ini selesai sebelum makan siang."
"Kita nggak bisa terus begini, Tin. Kita satu tim," desak Rio pelan.
Tina akhirnya berhenti mengetik. Ia menarik napas panjang dan menatap Rio dengan tatapan yang lelah. "Justru karena kita satu tim, Rio. Semalam itu... itu adalah kesalahan yang harus kita kubur. Aku nggak bisa menatap matamu tanpa merasa seperti pengkhianat, dan aku harus bekerja di sini setiap hari. Jadi, tolong... bantu aku untuk tetap jadi rekan kerja yang profesional."
Rio terdiam, merasa sekat yang sangat tebal baru saja dibangun di antara mereka. Di ruangan itu, mereka sangat dekat, namun secara perasaan, mereka belum pernah sejauh ini.
Pintu ruang rapat terbuka tiba-tiba. Pak Baskoro, sang owner, melangkah masuk dengan wajah berseri-seri, membawa tumpukan dokumen yang tampak seperti kontrak baru.
"Nah, ini dia dua bintang emas saya!" seru Pak Baskoro dengan suara menggelegar, membuat Rio dan Tina tersentak dari kecanggungan mereka.
Pak Baskoro menaruh dokumen itu di meja dengan bangga. "Barusan saya dapat telepon dari klien festival musik kemarin. Mereka bilang, mereka belum pernah melihat dua orang yang begitu sinkron dalam bekerja seperti kalian berdua. Rio dengan strateginya, Tina dengan detailnya. Benar-benar chemistry yang langka!"
Rio memaksakan senyum tipis, sementara Tina mencoba menyembunyikan tangannya yang saling meremas di bawah meja.
"Terima kasih, Pak," jawab Rio singkat, suaranya sedikit parau.
"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak," tambah Tina, tetap menjaga pandangannya pada dokumen di depan, menghindari kontak mata dengan Rio.
Pak Baskoro tertawa renyah, tidak menyadari ketegangan yang menyesakkan di ruangan itu. "Jangan rendah hati begitu. Bahkan staf lain di luar sering bilang, kalian itu sudah seperti satu jiwa. Kalau Rio bergerak ke kanan, Tina sudah tahu harus menyiapkan apa di sana. Itulah kenapa saya selalu menaruh kalian di proyek-proyek besar. Kalian itu pasangan kerja paling serasi yang pernah saya miliki!"
Pak Baskoro menepuk bahu Rio dengan akrab. "Pertahankan terus kedekatan kalian ya. Kejujuran dan keterbukaan antar tim itu kunci. Saya bangga punya kalian."
Setelah memberikan instruksi tambahan, Pak Baskoro keluar dengan siulan kecil, meninggalkan keheningan yang jauh lebih berat dari sebelumnya. Kata-kata "satu jiwa" dan "keterbukaan" tadi terasa seperti sindiran tajam bagi mereka.
Tina menutup laptopnya dengan suara keras. "Satu jiwa," gumamnya getir. "Dia nggak tahu kalau jiwa kita sedang terbelah karena semua ini."
Rio hanya bisa menatap kursi kosong yang baru saja ditinggalkan sang bos. "Pujian itu... rasanya seperti tamparan, ya?"
Keluar dari ruang rapat, Rio dan Tina tidak menyadari bahwa suasana sunyi di area kubikel barusan bukanlah tanpa alasan. Beberapa rekan kerja di bagian marketing dan kreatif tampak pura-pura sibuk dengan monitor mereka, namun mata mereka saling melirik penuh arti.
Siska, salah satu staf senior yang sudah lama memperhatikan mereka, berbisik pada rekan di sebelahnya, "Kamu lihat nggak tadi? Biasanya kalau keluar rapat mereka masih tertawa-tawa, atau minimal Rio pasti pegang pundak Tina. Sekarang? Dingin banget."
"Iya, kaku banget kayak orang baru kenal," sahut kawan di sebelahnya sambil pura-pura mengetik. "Padahal Pak Baskoro baru saja puji-puji chemistry mereka. Jangan-jangan ada masalah pribadi? Atau... malah hubungan mereka lagi 'panas' di luar kantor?"
Rio yang berjalan menuju pantry sempat menangkap sekilas bisikan-bisikan itu. Ia mempercepat langkahnya, merasa telinganya panas. Sementara itu, Tina yang sedang mengambil air minum di dispenser, merasa tatapan mata rekan-rekan kerjanya seperti duri yang menusuk punggungnya.
Tiba-tiba, Siska menghampiri Tina dengan senyum yang tidak sampai ke mata.
"Tin, proyek besar lagi ya? Kok wajahnya tegang banget hari ini? Biasanya kamu sama Rio kan paling santai kalau urusan tender," pancing Siska sambil bersandar di meja pantry.
Tina mencoba mengatur napasnya agar tidak terlihat goyah. "Cuma kurang tidur saja, Sis. Banyak detail festival yang harus dibereskan."
"Oh, kirain kalian lagi berantem," lanjut Siska dengan nada menyelidik. "Hati-hati lho, biasanya kalau sudah 'terlalu dekat' di kantor, masalah kecil bisa jadi besar. Apalagi kalian kan masing-masing sudah punya pasangan yang... mapan di rumah."
Kalimat terakhir Siska seperti petir di siang bolong bagi Tina. Ia tahu itu adalah peringatan halus—atau mungkin ancaman—bahwa orang-orang mulai mencium sesuatu yang tidak beres.
Tina hanya tersenyum kaku lalu segera pergi meninggalkan pantry tanpa sepatah kata pun, meninggalkan Siska yang kini tersenyum penuh kemenangan.
Rio menunggu hingga jam kantor hampir berakhir. Saat area kubikel mulai sepi, ia mengirim pesan singkat kepada Tina: "Tangga darurat lantai 21. Sekarang. Tolong."
Lima menit kemudian, pintu besi itu berderit pelan. Tina muncul dengan wajah cemas, matanya waspada melirik koridor sebelum masuk dan menutup pintu rapat-rapat.
"Rio, gila kamu ya? Siska dan yang lain terus memperhatikan kita. Kalau mereka lihat kita masuk ke sini—"
"Aku nggak peduli lagi, Tin," potong Rio cepat. Suaranya bergema di antara dinding beton tangga darurat yang dingin.
Rio melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Tina terdesak ke dinding. Napas Rio terdengar berat. "Aku mencoba melakukan apa yang kamu minta. Aku mencoba jadi rekan kerja yang kaku, yang profesional, yang pura-pura tidak punya perasaan. Tapi setiap kali orang memuji chemistry kita, atau setiap kali Siska menyindir tentang rumah tangga kita... hatiku hancur."
Tina menggeleng, berusaha memalingkan wajah. "Jangan, Rio. Jangan katakan itu."
"Aku harus mengatakannya," Rio memegang kedua bahu Tina, memaksa wanita itu menatapnya. "Aku sudah mencoba jujur pada diriku sendiri di depan Vira semalam, dan hasilnya nihil. Aku tidak bisa membohongi fakta bahwa saat aku menutup mata, wajahmu yang muncul. Saat aku mendapat kabar baik, kamu orang pertama yang ingin aku beri tahu."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Rio. "Aku tidak hanya menyukaimu karena proyek kita sukses, Tin. Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu sampai rasanya sesak kalau harus terus berakting seolah kita ini tidak punya apa-apa."
Tina terisak, tangannya yang gemetar naik menyentuh dada Rio, seolah ingin mendorongnya menjauh tapi hatinya justru ingin menariknya lebih dekat. "Rio... ini bunuh diri. Kita punya kehidupan yang nyata di luar pintu ini."
"Aku tahu ini salah," bisik Rio, kini dahinya menempel pada dahi Tina. "Aku tahu ini akan menghancurkan segalanya. Tapi aku lebih takut kehilanganmu daripada kehilangan reputasiku. Aku mencintaimu, Tina. Katakan padaku... apa aku sendirian dalam perasaan ini?"
Keheningan di tangga darurat itu terasa mencekam, menunggu jawaban Tina yang bisa saja menjadi titik awal kehancuran dua rumah tangga sekaligus.
Tina memejamkan mata erat-erat, membiarkan air matanya jatuh membasahi pipi. Isakannya yang semula tertahan kini pecah di dada Rio. Ia tidak lagi mencoba mendorong pria itu menjauh; justru jemarinya meremas kemeja Rio dengan erat, seolah-olah hanya itu satu-satunya pegangan yang ia miliki di dunia yang mulai runtuh ini.
"Kamu nggak sendirian, Rio..." bisik Tina dengan suara yang serak dan hancur. "Itu yang membuatku ketakutan setengah mati. Aku mencintaimu sampai aku merasa seperti orang asing di rumahku sendiri."
Tina mendongak, menatap mata Rio dengan tatapan yang penuh luka sekaligus gairah yang sudah lama terpendam. "Setiap malam aku berbaring di samping Virgo, tapi pikiranku ada di ruang rapat bersamamu. Aku benci diriku sendiri karena hal itu. Aku benci karena aku lebih bahagia berbagi kelelahan dengamu daripada berbagi kenyamanan dengan suamiku."
Rio mengusap air mata di pipi Tina dengan ibu jarinya, gerakannya begitu lembut namun sarat akan keputusasaan.
"Aku merasa seperti kita ini dua orang yang tenggelam, Rio," lanjut Tina lagi, napasnya tersengal. "Kita saling berpegangan untuk tetap bernapas, tapi kita tahu pegangan ini justru akan membuat kita tenggelam lebih cepat. Tapi bodohnya... aku nggak mau melepaskanmu. Aku mencintaimu, terlepas dari semua dosa yang harus kita tanggung."
Mendengar pengakuan itu, Rio tidak tahan lagi. Ia merengkuh tubuh mungil Tina ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu. Di tangga darurat yang dingin dan tersembunyi dari dunia luar, dua hati yang telah lama berkhianat itu akhirnya menyerah pada perasaan mereka sendiri.
"Lalu kita harus bagaimana, Tin?" tanya Rio lirih di sela pelukannya. "Kita sudah melewati garis itu. Tidak ada jalan kembali lagi sekarang."
Tina hanya bisa terdiam, menikmati kehangatan yang terlarang itu, sementara di balik pintu besi tangga darurat, dunia nyata masih menunggu mereka dengan segala konsekuensinya.
Rio melepaskan pelukannya perlahan, namun tangannya tetap menangkup wajah Tina. Tatapannya kini berubah; bukan lagi ketakutan, melainkan sebuah tekad yang gelap dan berbahaya.
"Kita tidak bisa berhenti, kan?" bisik Rio. "Tapi kita juga belum siap untuk menghancurkan rumah yang sudah kita bangun. Setidaknya tidak sekarang."
Tina mengangguk pelan, menyeka sisa air matanya dengan punggung tangan. "Kita harus sangat hati-hati, Rio. Lebih dari sekadar profesional. Di depan Pak Baskoro, di depan Siska, kita harus tetap menjadi 'rekan kerja' yang efisien. Tidak boleh ada lagi adegan di tangga darurat seperti ini."
***
Bersambung....
Note:
Kubikel (Sekat kecil pada ruang kerja)
Tinggal klik ya
Bab 2
Bab 3
Epilog
Diubah oleh c4punk1950... 01-05-2026 12:48
bobibotaktak dan 10 lainnya memberi reputasi
11
343
14
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan