Kaskus

Story

aurora..Avatar border
TS
aurora..
[CERPEN] From Me To My Brother
[CERPEN] From Me To My Brother
Sumber Gambar:Artificial Intelligence


Di sudut kota Jogja yang riuh oleh wisatawan dan cerita-cerita indah, ada kehidupan lain yang nyaris tak terlihat. Kehidupan yang berjalan pelan, berat, dan sering kali terasa tidak adil. Di sebuah rumah sempit berdinding papan yang catnya sudah lama mengelupas, tinggal seorang gadis bernama Zoey.

Usianya baru 16 tahun, tetapi sorot matanya jauh lebih tua dari anak-anak seusianya. Zoey terbiasa bangun sebelum matahari muncul, membantu ibunya memasak, lalu berangkat sekolah dengan seragam yang warnanya mulai pudar. Tasnya sudah usang, tetapi isi kepalanya jauh lebih berharga daripada barang apa pun yang ia miliki.

Zoey adalah siswi SMA yang sangat pintar. Namun, kecerdasannya tidak pernah benar-benar terasa istimewa baginya. Sebab, setiap hari, sebelum Zoey sempat merasa bangga, perutnya lebih dulu mengingatkan bahwa ia lapar.

Makanan sehari-harinya hampir selalu sama, yaitu nasi putih dengan kerupuk. Kadang, jika beruntung, ada sambal sedikit. Namun, lebih sering tidak.

Namun, Zoey tidak pernah mengeluh. Baginya, selama ia masih bisa bersekolah dan masih bisa belajar, itu sudah cukup.

***

Di sekolah, Zoey dikenal sebagai anak yang pendiam tetapi cerdas luar biasa. Ia jarang berbicara, tetapi ketika guru bertanya, jawabannya selalu tepat. Bahkan, sering kali jawaban Zoey melampaui buku pelajaran.

Oleh sebab itulah, Zoey bergabung dalam ekstrakurikuler KIR.

Di ekstrakurikuler KIR, Zoey merasa seperti menemukan dunia lain. Dunia di mana pikirannya dihargai, di mana rasa ingin tahunya tidak dianggap aneh.

“Zoey, kamu ini harusnya ikut lomba,” ucap Bu Ratna, guru pembimbing KIR pada suatu sore

Zoey hanya tersenyum kecil.

“Lomba itu butuh biaya, Bu.”

Bu Ratna terdiam sejenak. Ia tahu kondisi Zoey.

Semua guru tahu.

***

Di rumah, Zoey tinggal bersama kedua orang tuanya dan kakaknya, Zaki.

Zaki adalah satu-satunya orang yang selalu membuat Zoey merasa hidupnya ringan.

“Kalau kamu nanti jadi ilmuwan, jangan lupain kakak, ya,” ucap Zaki pada suatu malam sambil tertawa

Zoey tersenyum.

“Aku malah mau bikin obat biar Kak Zaki nggak gampang sakit.”

“Lho, kakak sehat-sehat aja.”

Zoey mengangkat bahunya.

“Ya, buat jaga-jaga doang.”

Mereka tertawa bersama.

Saat itu, tidak ada yang tahu bahwa percakapan sederhana itu akan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berat dari yang pernah mereka bayangkan.

***

Hari itu dimulai seperti biasa.

Zoey duduk di kelas, pelajaran Matematika berlangsung. Ia sedang mengerjakan soal ketika ponselnya bergetar di dalam tas.

Zoey jarang menerima telepon saat sekolah.

Dengan ragu, Zoey meminta izin keluar.

Saat ia melihat layar ponsel, tertulis nama ibunya.

Zoey mengangkat telepon.

“Zoey…”

Suara ibunya terdengar gemetar.

“Cepat pulang… kakakmu…”

Jantung Zoey langsung berdegup kencang.

“Kak Zaki ada apa, Bu?”

“Zaki… dia tiba-tiba kejang di kamar… sekarang Zaki di rumah sakit…”

Dunia Zoey seperti berhenti.

Zoey tidak ingat bagaimana ia pulang terlebih dahulu dan meminta izin tidak mengikuti pelajaran, serta tidak ingat juga bagaimana ia sampai di rumah sakit.

Yang ia ingat hanya satu, yaitu rasa takut yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

***

Zaki terbaring di ranjang rumah sakit.

Wajahnya pucat. Tubuhnya lemah.

Zoey berdiri di sampingnya, tangannya gemetar.

“Dokter bilang… ada kanker di otaknya,” ucap ayahnya pelan

Zoey menoleh.

“Kanker?”

“Belum pasti, Zoey. Masih diperiksa lebih lanjut…”

***

Hari-hari berikutnya terasa seperti mimpi buruk yang tidak kunjung selesai.

Hingga akhirnya, dokter memanggil mereka.

“Pasien positif terdiagnosis glioblastoma.”

Zoey tidak langsung mengerti. Namun, dari cara dokter berbicara dan dari ekspresi wajah orang tuanya, ia tahu ini bukanlah hal yang ringan.

“Glioblastoma itu kanker otak yang ganas,” lanjut dokter

“Pasien perlu kemoterapi intensif dan operasi. Biayanya… tidak sedikit.”

Kata-kata itu seperti menghantam Zoey tanpa ampun.

Tidak sedikit.

Bagi keluarga mereka, bahkan “sedikit” saja sudah terasa berat.

***

Sejak hari itu, hidup Zoey berubah. Ia tetap sekolah. Tetap belajar. Namun, pikirannya selalu tertinggal di rumah sakit.

Bagaimana cara membayar pengobatan Zaki?

Bagaimana cara menyelamatkan kakaknya?

Zoey mulai mencari informasi di internet, membaca jurnal, mencoba memahami penyakit yang menyerang Zaki.

Namun semakin ia membaca, semakin Zoey sadar satu hal, bahwa ini bukan hanya soal pengetahuan. Ini soal uang, dan Zoey tidak punya itu.

***

Di sekolah, keadaan juga tidak membaik.

Awalnya hanya bisik-bisik, lalu menjadi ejekan.

“Eh, katanya kakaknya pucet dan kurus banget kayak zombie ya?”

“Kasihan banget, nggak punya duit buat berobat.”

“Pinter sih, tapi kasihan juga, setiap hari diinjak-injak terus kayak keset.”

Zoey diam. Ia selalu diam.

Namun suatu hari, semuanya menjadi lebih buruk.

Saat jam istirahat, beberapa murid mendekatinya.

“Zoey,” ucap salah satu dari mereka sambil tersenyum sinis

“Lo mau kakak lo sembuh nggak?”

Zoey menatap mereka.

“Apa maksudmu?”

“Kalau lo mau kakak lo sembuh, push up 100 kali sekarang.”

Zoey terdiam.

“Kalau nggak, lo bakal kita tonjokin rame-rame sampai lo nangis minta ampun. Lo masih ngerti bahasa manusia kan?!”

Mereka tertawa.

Zoey menggenggam tangannya. Ia tahu ini tidak masuk akal. Ia tahu ini hanya permainan kejam.

Namun, di dalam hatinya, ada sesuatu yang berbisik.

Bagaimana kalau…

Tanpa berkata apa-apa, Zoey turun ke lantai.

Zoey mulai push up. Satu. Dua. Sepuluh.

Tangannya mulai gemetar.

Dua puluh.

Napasnya mulai tersengal.

Lima puluh.

Air matanya mulai jatuh.

Seratus.

Zoey hampir tidak bisa berdiri.

Para pembully itu tertawa, dan Zoey hanya diam. Zoey tidak melawan, karena ia terlalu lelah untuk melawan dan terlalu takut untuk berhenti berharap.

***

Hari demi hari berlalu.

Zoey semakin kurus dan semakin lelah.

Namun, ia tidak pernah menyerah.

Hingga suatu hari, sesuatu berubah.

Di papan pengumuman sekolah, ada selebaran baru tentang lomba karya ilmiah nasional di Jakarta. Tema lombanya yaitu pengaruh gen SRY terhadap suatu penyakit. Hadiahnya yaitu uang tunai satu miliar rupiah dan beasiswa kuliah S1 Bioteknologi di Singapura.

Zoey membaca itu berkali-kali. Jantungnya berdegup cepat.

Satu miliar rupiah. Itu bukan hanya angka. Itu adalah harapan.

Tanpa ragu, Zoey langsung menemui Bu Ratna.

“Bu… saya mau ikut lomba ini.”

Bu Ratna menatapnya.

“Kamu yakin?”

Zoey mengangguk.

“Saya harus menang.”

Ada sesuatu dalam suara Zoey yang berbeda. Bukan sekadar ambisi, melainkan tekad yang lahir dari keputusasaan.

***

Zoey mulai bekerja tanpa henti.

Siang di sekolah.

Malam di rumah sakit.

Zoey membaca jurnal, menulis proposal, dan menyusun ide.

Zoey memilih topik yang sangat spesifik, yaitu pengaruh ekspresi gen SRY terhadap insidensi glioblastoma pada populasi pria Jawa usia 18–50 tahun.

Zoey tahu ini sangat sulit, tetapi ia tidak punya pilihan.

***

Seleksi pertama.

Zoey lolos.

Seleksi kedua.

Zoey lolos lagi.

Seleksi ketiga.

Ia hampir tidak tidur selama seminggu.

Dan akhirnya, nama Zoey masuk daftar finalis.

Zoey akan ke Jakarta.

***

Di laboratorium Jakarta, Zoey merasa seperti berada di dunia yang berbeda.

Peralatan canggih. Ilmuwan hebat. Peserta dari seluruh Indonesia.

Namun, Zoey tidak merasa kecil. Ia merasa berada di tempat yang tepat.

Zoey bekerja siang malam. Menganalisis data. Mengolah sampel. Menulis laporan.

Dan perlahan, Zoey akhirnya menemukan sesuatu.

Ada hubungan signifikan antara ekspresi gen SRY dan risiko glioblastoma pada pria.

Temuan itu tidak hanya menarik, tetapi juga penting dan sangat penting.

***

Hari presentasi tiba.

Zoey berdiri di depan juri. Tangannya dingin, tetapi suaranya stabil.

Zoey menjelaskan penelitiannya dengan jelas, rinci, dan penuh keyakinan.

Saat Zoey selesai presentasi, ruangan hening.

Lalu, suara tepuk tangan meledak.

Salah satu juri memuji Zoey dengan sangat kagum.

“Ini luar biasa. Untuk murid SMA, penelitian ini… di luar ekspektasi.”

Zoey menunduk. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Zoey merasa dihargai.

***

Pengumuman pemenang akhirnya tiba.

Zoey berdiri di antara peserta lain.

Tangannya gemetar.

“Juara pertama diraih oleh…”

Jeda sejenak.

“…Zoey.”

Dunia terasa berhenti. Air matanya jatuh.

Zoey menang. Zoey benar-benar menang.

Dengan hadiah itu, hidup Zoey berubah.

Zaki mendapatkan akses terapi eksperimental di Jepang, yaitu Teserpaturev, virus obat yang dirancang untuk melawan kanker otak ganas.

Pengobatan itu mahal. Sangat mahal. Namun, sekarang mereka punya kesempatan.

***

Dua tahun berlalu.

Di taman di sebuah rumah sakit di Jepang, Zoey duduk di bangku, menatap seseorang yang sedang berjalan ke arahnya.

Zaki.

Zaki terlihat sehat dan sedang tersenyum.

“Hai, ilmuwan,” ucap Zaki

Zoey tertawa kecil, air matanya langsung jatuh.

“Kakak sudah sembuh…”

Zaki mengangguk.

“Karena kamu.”

Zoey menggeleng.

“Karena kita.”

***

Sekarang, Zoey melanjutkan studinya di sebuah universitas di Singapura, mengambil jurusan S1 Bioteknologi.

Zoey meneliti sesuatu yang lebih besar, yaitu CRISPR terapeutik untuk pasien glioblastoma.

Ia tidak lagi hanya berjuang untuk Zaki.

Ia berjuang untuk banyak orang.

Untuk mereka yang tidak punya suara.

Untuk mereka yang hampir menyerah.

Suatu malam, Zoey menulis sesuatu di jurnalnya.

[Aku tidak tahu apakah dunia ini adil. Tapi aku tahu satu hal, aku tidak akan berhenti berjuang. Untuk kakakku. Untuk semua orang yang seperti dia.]

[From me to my brother.]

TAMAT

@aldo12 @pabuaranwetan @kakekane.cell
itkgidAvatar border
senjaperenunganAvatar border
rizkync108Avatar border
rizkync108 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
60
8
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan