Kaskus

Story

aurora..Avatar border
TS
aurora..
[CERPEN HOROR] Sambal Paru Mas Bima
Langit Surabaya siang itu tampak pucat, seperti menahan panas yang terlalu lama dipendam. Di halaman kampus yang ramai, seorang pemuda berdiri di balik gerobak sederhana. Wajahnya tidak biasa, kulitnya pucat agak olive, dahinya sangat lebar, wajahnya meruncing, dan matanya besar dengan sorot yang sulit ditebak. Banyak yang berkata bahwa wajahnya mirip alien. Namanya Bima.

Di atas gerobaknya, terpajang wadah-wadah kecil berisi sambal merah menyala. Aroma pedas bercampur gurih memenuhi udara. Di sampingnya, potongan paru sapi yang sudah digoreng kering tersusun rapi.

“Mas Bima, satu porsi ya!” teriak seorang mahasiswa

Bima tersenyum kecil, tangannya cekatan mengambil nasi, menambahkan paru goreng, lalu menyiramnya dengan sambal. Senyum itu tulus, meskipun tidak pernah benar-benar dibalas dengan kehangatan yang sama.

“Ini, terima kasih, ya,” ucapnya pelan

Sebagian orang menyukai Bima. Bukan karena wajahnya, tapi karena masakannya. Sambal parunya terkenal luar biasa enak, pedasnya menggigit, aromanya khas, dan ada sesuatu yang membuat orang ketagihan.

Namun, suara nyaring terdengar dari kejauhan.

“Eh, alien planet Mars lagi jualan!”

Kirana datang dengan langkah angkuh. Rambutnya hitam berkilau, wajahnya sempurna, serta senyumnya memikat dan dingin. Di sampingnya, Sarah, seorang gadis blasteran Amerika Serikat dan Indonesia, berjalan santai, matanya yang berwarna amber tampak tajam seperti kaca. Kulitnya putih pucat, hampir transparan, kontras dengan rambut brunette yang jatuh lurus di bahunya.

“Bima,” ucap Kirana dengan nada mengejek

“Hari ini kamu jualan apa? Paru-paru makhluk planet Mars?”

Beberapa mahasiswa tertawa.

Bima hanya menunduk.

“Sambal paru sapi, seperti biasa.”

Sarah mendekat, menatap Bima dari ujung kaki sampai kepala.

“Kamu yakin ini paru sapi? Jangan-jangan paru penduduk planet Mars.”

Tawa pecah lagi. Bima tetap diam, dan itu yang membuat mereka semakin menjadi-jadi.

“Eh, seperti biasa ya,” ucap Kirana sambil menepuk tangan

“Dancing time!” seru Kirana

Tanpa peringatan, Sarah mengambil ember berisi air sabun dari dekat gerobak, entah sejak kapan ember itu ada di sana. Kirana mendorong Bima ke tengah halaman.

“Menari dulu, manusia planet. Biar lucu!” seru Sarah

Bima berdiri kaku. Di sekelilingnya, lingkaran mahasiswa mulai terbentuk.

“Cepat! Atau aku tendang perut kamu! Dasar binatang! Harus dipukuli dulu baru bisa paham!” bentak Sarah

Dengan gerakan kaku dan tidak sinkron, Bima mulai menari. Gerakannya aneh, seperti boneka rusak. Orang-orang tertawa, beberapa orang merekam.

SPLASH!

Air sabun dari ember disiramkan ke atas kepala Bima.

Bima terdiam, rambutnya basah, bajunya menempel di kulit. Namun, Bima tidak marah dan tidak melawan.

Bima hanya tersenyum kecil, dan itulah yang paling mengganggu, yaitu senyum itu.

***

Hari-hari berlalu seperti itu dengan siklus yang tidak pernah berubah bagi Bima. Berjualan. Diejek. Dipermalukan.

Namun suatu hari, sesuatu berubah.

Kirana tidak datang kuliah. Sarah juga tidak.

Awalnya, orang mengira mereka bolos. Namun, satu hari menjadi dua hari, dua hari menjadi seminggu.

Mereka benar-benar hilang.

Kampus mulai dipenuhi rumor.

“Katanya Sarah pulang ke Amerika.”

“Nggak, katanya Sarah diculik.”

“Eh, aku dengar mereka terakhir kelihatan di parkiran malam-malam…”

Sementara itu, Bima tetap berjualan, seolah tidak ada yang berubah.

Namun, bagi yang cukup peka, ada sesuatu yang berbeda, yaitu aroma sambalnya.

Irsyad adalah orang pertama yang menyadarinya.

“Mas Bima, satu porsi sambal paru seperti biasanya,” ucap Irsyad

Irsyad duduk di bangku dekat gerobak, lalu mulai makan. Suapan pertama membuatnya berhenti.

“Hmm…”

Bima menoleh.

“Kenapa?”

Irsyad mengerutkan kening.

“Sambalnya beda.”

“Beda gimana?”

“Baunya aneh, bukan seperti paru sapi biasanya.”

Bima tersenyum.

“Mungkin, bumbunya lebih banyak.”

Irsyad mengamati potongan paru di piringnya. Ia mengambil satu potong dan memperhatikan teksturnya.

“Ini kenapa kecil, ya?”

“Potongannya memang kecil.”

“Bukan cuma potongannya, Bim. Saluran napasnya…”

Irsyad menunjuk bagian berongga kecil.

“Bronkiolusnya lebih kecil dari paru sapi.”

Irsyad menelan ludah.

“Jangan-jangan… ini paru babi?”

Irsyad langsung menjauh sedikit.

“Maaf, aku nggak bisa makan makanan yang mengandung babi. Aku Islam.”

Bima tertawa kecil.

“Itu bukan babi, Syad.”

“Serius?”

“Serius.”

Irsyad tampak ragu. Namun, aroma itu terlalu menggoda. Ia akhirnya mencoba lagi. Rasanya sama seperti biasanya, enak, bahkan sangat enak.

“Ya… rasanya sih normal,” ucap Irsyad, meski masih terlihat bingung

Irsyad tidak tahu, bahwa sejak hari itu, ia telah mencicipi sesuatu yang tidak seharusnya dimakan manusia.

***

Beberapa minggu setelah hilangnya Kirana dan Sarah, polisi mulai datang ke kampus.

Para polisi menyelidiki, menginterogasi, dan mengumpulkan rekaman CCTV.

Salah satu rekaman menunjukkan sesuatu yang menarik, bahwa malam sebelum hilangnya kedua gadis itu, di parkiran kampus, Kirana dan Sarah terlihat berjalan lalu berhenti.

Seseorang muncul dari bayangan.

Bima.

Rekaman itu buram, tetapi cukup jelas untuk dikenali.

Mereka tampak berbicara, lalu kamera mati.

***

Malam itu, Bima berada di rumah kecilnya. Ibunya Bima yang merupakan seorang janda miskin duduk di dapur, mengaduk abon dalam wajan besar.

“Aromanya enak sekali, Nak,” kata ibunya

Bima tersenyum.

“Hari ini kita dapat bahan bagus.”

“Dari mana?”

“Dari pasar daging langganan.”

Ibunya mengangguk tanpa curiga. Ia tidak pernah bertanya terlalu banyak. Yang penting, mereka bisa makan. Yang penting, mereka bisa hidup.

***

Keesokan harinya, tujuh personel polisi datang.

“Bima?” tanya salah seorang polisi itu

“Iya.”

“Kami ingin Anda ikut kami ke kantor polisi.”

Mahasiswa lain mulai berbisik-bisik.

“Ada apa?”

“Si Bima kenapa?”

Bima tidak melawan. Ia hanya mengangguk seperti biasa.

***

Di ruang interogasi, suasana terasa dingin.

Lampu putih menyilaukan.

Seorang penyidik duduk di seberang Bima.

“Kami menemukan rekaman CCTV,” ucap penyidik itu

Bima terdiam.

“Kamu orang terakhir yang terlihat bersama Kirana dan Sarah.”

Bima tersenyum tipis.

“Di mana mereka sekarang?”

Tidak ada jawaban.

Penyidik meletakkan beberapa foto di meja, foto ruang bawah tanah dengan dinding yang retak, bercak merah gelap yang sudah mengering, dan sesuatu yang lebih mengerikan, yaitu potongan daging manusia.

“Ini ditemukan di rumahmu.”

Bima menatap foto itu tanpa ekspresi.

“Hasil tes DNA sudah keluar,” lanjut penyidik itu

“Itu milik Kirana dan Sarah.”

Hening lama, sangat lama.

Lalu, Bima tertawa pelan. Suara tawa itu tidak wajar.

“Akhirnya ketahuan juga,” ucap Bima santai

Penyidik itu ketakutan.

“Jadi, kamu mengaku?” tanya penyidik itu

Bima mengangkat kepalanya. Matanya kini berbeda, kosong.

“Atau, Bapak ingin saya menceritakan semuanya?”

***

Bima mulai bercerita. Suaranya tenang, hampir seperti membaca cerita sebelum tidur.

“Malam itu, mereka menghampiri saya di parkiran, mengejek dan memaksa saya menari seperti biasa.”

Flashback mulai terbentuk dalam bayangan.

FLASHBACK ON

Kirana tertawa. Sarah merekam dengan ponsel.

“Eh, manusia planet sedang sendirian. Kamu mau menari lagi malam ini?”

Bima hanya berdiri, lalu ia berkata.

“Kalian mau lihat sesuatu yang lebih menarik?”

Mereka tertawa.

“Apaan? Alien dance?”

Bima mengajak mereka ke belakang gedung, ke arah yang gelap.

Mereka mengikuti tanpa rasa curiga karena mereka tidak pernah menganggap Bima berbahaya, dan itulah kesalahan terbesar mereka.

Ruang bawah tanah itu lembap, dengan bau tanah bercampur sesuatu yang lain.

“Kita di mana sih?” tanya Sarah

“Di tempatku bekerja,” jawab Bima

Lampu menyala, dan wajah Bima berubah. Tidak lagi lemah. Tidak lagi pasrah.

Matanya tajam, bahkan sangat tajam.

“Aku capek,” ucap Bima pelan

“Capek apa?” tanya Kirana sambil mengerutkan keningnya

“Capek menghadapi dua binatang yang nggak punya hati kayak kalian berdua.”

Sebelum mereka sempat bereaksi, Bima menyerang dengan sangat cepat dan brutal.

Kepala Sarah dibenturkan ke dinding. Sekali. Dua kali. Sepuluh kali. Darah dan otak mulai menyembur ke mana-mana, beberapa serpihan otak Sarah masuk ke mulut Bima yang sedikit menganga.

Kirana menjerit.

Bima tidak berhenti. Dua puluh kali. Tiga puluh kali.

Suara retakan terdengar.

Empat puluh. Lima puluh.

Tubuh Sarah jatuh dan tidak bernyawa.

Kirana mencoba lari, tetapi Bima menangkapnya.

“Giliran kamu.”

Dan hal yang sama terjadi berulang, tanpa jeda dan tanpa ampun.

FLASHBACK OFF

***

Di ruang interogasi, penyidik itu terdiam.

Bima melanjutkan.

“Setelah itu, saya mengolah daging mereka.”

Suasana menjadi lebih dingin.

“Paru-paru mereka cukup bagus. Ukurannya memang lebih kecil dari sapi, tapi teksturnya menarik.”

Penyidik menahan napas.

“Lemaknya saya gunakan untuk menggoreng. Memberi aroma yang khas.”

“Terus, dagingnya?”

Bima tersenyum.

“Dagingnya untuk abon. Ibu saya bilang itu yang terbaik sejauh ini.”

Salah satu penyidik muntah.

“Kenapa, Mas?” tanya penyidik utama, suaranya bergetar

“Kenapa kamu melakukan ini?”

Bima bersandar.

“Karena saya ingin membalas mereka.”

“Dan karena mereka pantas mati.”

Hening. Lalu, penyidik itu membuka berkas lain.

“Ada satu hal lagi.”

Penyidik itu menatap Bima tajam.

“Kami menemukan sesuatu tentangmu.”

“Apa, Pak?”

“Kamu bukan mahasiswa biasa.”

Bima tersenyum lebih lebar.

“Ah, itu…”

“Kamu ketua jaringan mafia. Kamu sering dikirim untuk menumpas perdagangan manusia di Bali.”

“Benar, Pak.”

“Kamu bekerja sama dengan polisi.”

“Iya, dulu.”

Penyidik itu mengepalkan tangan.

“Kamu membunuh penjahat… tapi kamu juga—”

“Saya penjahat?” potong Bima

Bima tertawa.

“Semua orang itu penjahat, Pak. Bedanya, cuma siapa yang benar-benar jahat, dan siapa penjahat yang ternyata orang baik yang terus disakiti.”

***

Kasus itu mengguncang kota.

Mahasiswa yang pernah makan sambal paru Bima mulai panik.

Berita menyebar cepat.

“Sambal Paru Mas Bima ternyata… paru manusia.”

Ibunya pingsan saat tahu kebenarannya. Ia tidak pernah menyangka dan tidak pernah tahu bahwa Bima bisa sejahat itu.

Bima tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun.

***

Di pengadilan, vonis penjara seumur hidup dijatuhkan tanpa kemungkinan pembebasan.

Saat hakim membacakan putusan, Bima hanya tersenyum seperti biasa.

Namun, cerita tidak berakhir di sana.

Beberapa bulan setelah Bima dipenjara, sebuah rumor muncul.

Di sebuah kota kecil di Jawa Timur, ada seorang penjual makanan baru. Sambalnya luar biasa enak dan dagingnya unik. Orang-orang mulai ketagihan.

Dan suatu malam, seorang pelanggan berkata.

“Rasanya… aneh, tapi enak.”

Penjual itu tersenyum, dengan senyum yang terlalu dingin.

Di balik senyum itu, seolah ada bayangan seseorang. Seseorang yang seharusnya sudah terkunci selamanya.

Namun mungkin, tidak semua yang dikurung benar-benar berhenti, dan tidak semua yang mati benar-benar hilang.

TAMAT

@aldo12 @sahabat.006 @kakekane.cell
skinnyhooperAvatar border
rizkync108Avatar border
bobibotaktakAvatar border
bobibotaktak dan 4 lainnya memberi reputasi
5
1.3K
5
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan