- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Pergerakan Ekonomi 8% Mulai Terlihat
TS
aleksandronesta
Pergerakan Ekonomi 8% Mulai Terlihat
Quote:
Purbaya Selalu Optimis
Pergerakan Ekonomi 8% Mulai Terlihat
Reporter : NUR ROCHMANNUDIN
Editor : SISWANTO
Government Action
Rabu, 29 April 2026 08:16 WIB

Foto: Tedy Kroen/RM
A+ A-
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah sangat optimis ekonomi akan terus tumbuh tinggi di tengah ketidakpastian global. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan menyebut angka 8 persen sudah mulai terlihat arahnya.
“Pertumbuhan 8 persen mungkin orang-orang bilang terlalu tinggi, tapi kalau untuk saya, sudah hampir kelihatan,” kata Purbaya dalam Peresmian Program Investasi Terencana dan Berkala (Pintar) Reksa Dana serta Pembukaan Pekan Reksa Dana 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (27/4/2026).
Ia memprediksi target tersebut bisa tercapai dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Optimisme itu didasari pengalaman ekonomi Indonesia yang mampu tumbuh hingga 6 persen hanya dengan menggerakkan sektor swasta, tanpa reformasi industri besar-besaran.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi modal awal untuk mengakselerasi pertumbuhan hingga menyentuh 8 persen. “Nanti dua tahun atau tiga tahun lagi, Anda sudah melihat angka 8 persen sudah menyundul ke atas,” ujarnya.
Dalam jangka pendek, Purbaya meyakini ekonomi nasional tetap tumbuh di atas 5,5 persen pada paruh pertama 2026. Pemerintah saat ini fokus memperkuat fondasi agar pertumbuhan bisa berlanjut secara berkelanjutan.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Program Pemerintah yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.
Baca juga : Menteri Jumhur Akan Pimpin Demo Buruh, Prabowo Desain Kaos Untuk Aksi May Day
Secara paralel, Kementerian Keuangan juga melakukan reformasi internal, khususnya di Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Hasilnya mulai terlihat dari penerimaan pajak yang tumbuh 20,7 persen pada Maret 2026.
“Kalau sebelumnya pertumbuhan ekonominya 5 persen, ke depan kita akan tumbuh lebih cepat lagi,” kata Purbaya.
Sebelumnya, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, Satgas Percepatan Program Pemerintah dibentuk berdasarkan Keppres Nomor 4 Tahun 2026. Satgas ini akan bekerja secara terintegrasi, mulai dari perumusan strategi hingga monitoring dan evaluasi kebijakan.
Satgas dibagi ke dalam lima kelompok kerja. Mencakup strategi pertumbuhan, percepatan implementasi program, penguatan regulasi, kerja sama ekonomi internasional, serta monitoring dan pengelolaan anggaran.
Salah satu kebijakan konkret yang dihasilkan adalah pemberian insentif bagi industri petrokimia melalui pembebasan bea masuk impor LPG dari 5 persen menjadi 0 persen. Kebijakan ini diambil untuk mengatasi kelangkaan bahan baku akibat gangguan pasokan global, termasuk konflik di Selat Hormuz.
Selain itu, pemerintah juga membebaskan bea masuk bahan baku plastik seperti polipropilena dan polietilena selama enam bulan, seiring lonjakan harga global. Dari sisi perizinan, pemerintah mempercepat reformasi melalui integrasi sistem digital seperti Online Single Submission (OSS), termasuk penyederhanaan izin dasar seperti Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF).
Asisten Deputi Percepatan Transisi Energi Kemenko Perekonomian Farah Heliantina mengaku optimistis target 8 persen dapat tercapai. Menurutnya, sektor energi akan menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan.
Permintaan listrik nasional diproyeksikan meningkat dari 411 terawatt hour saat ini menjadi hampir 600 terawatt hour pada 2030. Bahkan, konsumsi listrik per kapita diperkirakan akan meningkat dua kali lipat.
“Transisi energi bukan hanya soal lingkungan, tapi juga instrumen ekonomi strategis untuk mendorong investasi dan industrialisasi,” ujarnya.
Fondasi Ekonomi Indonesia Luar
Di sisi lain, ekonom global Shan Saeed menilai fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat di tengah tekanan global. Menurutnya, dengan kondisi eksternal yang lebih stabil, pertumbuhan ekonomi Indonesia berpeluang menembus 6 persen.
Ia menilai hal itu didukung oleh rasio utang yang terjaga, defisit anggaran di bawah 3 persen, serta inflasi yang relatif terkendali.
“Kalau tensi global mereda, saya tidak akan kaget kalau pertumbuhan Indonesia bisa menembus 6 persen,” ujarnya.
Shan juga menyoroti aktivitas ekonomi domestik yang tetap kuat, terlihat dari konsumsi masyarakat hingga penggunaan energi yang terus meningkat. Ia menilai, kekuatan pasar domestik Indonesia yang besar menjadi salah satu faktor utama penopang pertumbuhan.
"Sekaligus menjaga daya tarik bagi investor di tengah ketidakpastian global," pungkasnya.
Ini yang namanya Yang Baru Lebih Gacor
teguhjepang9932 memberi reputasi
1
78
Kutip
1
Balasan
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan