- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
[CERPEN HOROR] Melukis dengan Darah
TS
aurora..
[CERPEN HOROR] Melukis dengan Darah
![[CERPEN HOROR] Melukis dengan Darah](https://s.kaskus.id/images/2026/04/29/9481769_20260429113620.png)
Sumber Gambar:Artificial Intelligence
Hotel Akaihana berdiri megah di tengah kota Semarang, seolah menjadi permata tersembunyi di antara gedung-gedung tinggi yang menjulang. Dari luar, bangunannya tidak terlalu mencolok. Catnya berwarna krem kusam, dengan desain yang cenderung biasa saja, bahkan sedikit bergaya tahun 70-an. Namun, anehnya, hotel itu selalu penuh.
Bukan karena fasilitasnya mewah. Bukan pula karena lokasinya strategis.
Semua orang datang untuk satu hal, lukisan bunga mawar merah di ruang tengah.
Lukisan itu tidak terlalu besar, hanya sekitar satu meter persegi. Mawar merah dengan kelopak yang tampak basah, seperti baru saja tersiram embun. Pigura kaca yang membingkainya memantulkan cahaya lampu dengan cara yang aneh, seolah-olah lukisan itu hidup dan bernapas.
Orang-orang yang melihatnya selalu berkata hal yang sama, bahwa ada sesuatu di lukisan itu.
Padahal, jika dinilai secara objektif, lukisan itu bukanlah karya seni yang luar biasa. Bahkan, seniman amatir pun mungkin bisa menirunya. Namun, entah mengapa, setiap orang yang berdiri di depannya akan terdiam lebih lama dari yang seharusnya, seolah-olah mereka tidak ingin pergi. Atau, tidak bisa pergi.
Sinta tidak terlalu peduli dengan lukisan itu ketika pertama kali tiba di Hotel Akaihana. Sinta hanya butuh tempat menginap untuk beberapa hari, menghadiri pelatihan kerja di Semarang. Perempuan berusia 23 tahun itu lebih sibuk dengan ponselnya daripada memperhatikan dekorasi hotel.
Namun, ketika Sinta melewati ruang tengah, langkahnya terhenti. Matanya tertuju pada lukisan mawar itu.
“Indah…” gumam Sinta pelan
Sinta bahkan tidak sadar sudah berdiri di sana selama hampir lima menit, menatap lukisan itu tanpa berkedip. Ada sensasi aneh di dadanya, antara rasa hangat, tetapi juga terasa menekan, seperti sesuatu yang berusaha masuk ke dalam dirinya.
“Mbak?”
Suara resepsionis menyadarkannya.
Sinta tersentak, lalu tersenyum canggung.
“Eh, iya, Mas. Maaf.”
Malam itu, Sinta tidur lebih cepat dari biasanya, dan mimpi itu datang.
Sinta berdiri di sebuah ruangan gelap. Di depannya, ada kanvas besar. Bau karat besi menusuk hidungnya, mirip seperti bau darah.
Di sudut ruangan, seorang anak perempuan kecil duduk meringkuk. Rambutnya hitam panjang dan menutupi wajahnya rapat-rapat. Tubuhnya gemetar.
“Tolong…”
Suara kecil itu berbisik.
Sinta mencoba mendekat, tetapi langkahnya terasa berat seolah ada sesuatu yang menahannya.
Tiba-tiba, suara lain terdengar.
“Warnanya kurang merah.”
Seseorang berdiri di belakang kanvas, memegang kuas. Tangannya berlumuran darah.
“Perlu lebih banyak.”
Anak kecil itu menjerit, dan darah menyembur ke mana-mana.
***
Sinta terbangun dengan napas tersengal.
Tangannya refleks menyentuh hidungnya.
Ada darah di tangannya.
Sinta menyalakan lampu. Darah mengalir deras dari hidungnya, berceceran di bantal, seprai, bahkan bajunya. Sinta panik, berlari ke kamar mandi, mencoba menghentikannya.
Namun, darah itu tidak berhenti dan terus mengucur.
Sinta akhirnya dilarikan ke UGD.
Dokter memeriksa Sinta dengan serius dan melakukan berbagai tes. Namun, hasilnya nihil.
“Tekanan darah normal. Hemoglobin dan trombosit juga normal,” ucap dokter sambil mengerutkan keningnya
“Tidak ada tanda-tanda kehilangan darah dalam jumlah besar atau gangguan pembekuan darah.”
Sinta menatap dokter itu dengan tidak percaya.
“Tapi… darahnya banyak sekali, Dok…”
Dokter itu terdiam karena tidak punya jawaban.
Sinta pulang ke hotel keesokan harinya, masih diliputi rasa takut. Sinta berusaha mengabaikan kejadian itu, menganggapnya sebagai mimisan biasa.
Namun, ketika ia melewati ruang tengah lagi, ia melihat sesuatu pada lukisan mawar itu. Kelopak bunga itu tampak lebih merah dan lebih basah.
Untuk sesaat, Sinta bersumpah melihat sesuatu bergerak di dalamnya. Seperti bayangan kecil, atau seperti anak kecil yang menangis.
***
Seminggu berlalu.
Sinta sudah kembali ke kotanya, mencoba melupakan pengalaman aneh itu. Namun, Hotel Akaihana tetap berdiri, menerima tamu-tamu baru yang tidak mengetahui apa yang tersembunyi di dalamnya.
Salah satunya adalah Indri.
Perempuan berusia 40 tahun itu datang bersama suaminya untuk liburan singkat. Mereka memilih hotel itu karena rekomendasi teman.
“Katanya ada lukisan bagus di sini,” ucap suaminya sambil tersenyum
Indri hanya mengangguk. Ia melihat lukisan itu saat check-in dan merasakan hal yang sama seperti Sinta.
Ada sesuatu yang tidak beres, tetapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Malam itu, mereka tidur seperti biasa.
***
Hingga sekitar pukul dua pagi, Indri terbangun. Ia tidak tahu mengapa. Kamar itu sunyi. Terlalu sunyi.
Indri duduk perlahan, matanya menyesuaikan dengan kegelapan.
Dan saat itulah, Indri mulai melihatnya.
Di sudut kamar, ada seorang anak perempuan kecil berdiri diam. Rambutnya hitam dan panjang, menutupi seluruh wajahnya. Gaunnya putih, tetapi tampak kotor, atau mungkin bernoda darah.
“Siapa kamu?” tanya Indri, suaranya bergetar
Tidak ada jawaban. Anak itu hanya berdiri, lalu perlahan mengangkat tangannya menunjuk ke arah Indri.
Indri histeris.
“WHOAAAA!!!!!!”
Suaminya terbangun dengan sangat terkejut.
“Kenapa?!”
“Itu! Di sana! Anak itu!”
Suaminya menoleh dan tidak ada apa-apa.
“Tidak ada siapa-siapa, Ndri…”
“Tadi ada! Aku lihat sendiri!”
Namun, anak itu sudah menghilang. Yang tersisa hanyalah rasa takut yang merayap di tulang dan bau darah samar.
***
Kejadian itu tidak bisa disembunyikan lama.
Desas-desus mulai menyebar, tentang mimisan misterius, tentang penampakan anak kecil, dan tentang tamu-tamu yang mengeluh mimpi buruk.
Polisi akhirnya turun tangan.
Penyelidikan dilakukan secara diam-diam.
Mereka memeriksa catatan hotel, latar belakang pemilik, hingga riwayat renovasi bangunan.
Dan satu nama mulai mencuat, yaitu CEO Hotel Akaihana, seorang pria bernama Rendra.
Di mata publik, Rendra adalah pengusaha sukses. Namun, di balik itu, ada sesuatu yang lebih gelap. Polisi menemukan transaksi mencurigakan dari pertemuan Rendra dengan seseorang yang dikenal sebagai dukun. Dan yang paling mengerikan, yaitu laporan anak hilang, tujuh anak usia 4 hingga 10 tahun.
Anak-anak itu hilang dalam rentang waktu dua tahun terakhir dan lokasinya tidak jauh dari hotel.
***
Penangkapan dilakukan dini hari. Rendra tidak melawan. Ia hanya tersenyum, seolah-olah semua ini sudah ia duga.
Dalam interogasi, awalnya Rendra bungkam. Namun, setelah tekanan yang terus-menerus, akhirnya ia berbicara, dan apa yang ia katakan membuat semua orang di ruangan itu ketakutan.
“Hotel saya hampir bangkrut,” ucap Rendra pelan
“Tidak ada yang datang. Tidak ada yang menginap.”
Rendra menatap kosong ke depan.
“Lalu, saya bertemu seorang dukun.”
Dukun itu memberi Rendra solusi, yaitu sebuah jimat penglaris.
Namun, bukan jimat biasa.
Rendra harus membuat sebuah lukisan, lukisan bunga mawar merah.
“Bunga kehidupan… katanya,” ucap Rendra
Rendra tersenyum pahit.
Namun, catnya tidak boleh sembarangan. Catnya harus dicampur dengan sesuatu yang lebih kuat, yaitu darah.
Bukan darah hewan.
Bukan darah orang dewasa.
“Tapi bunganya harus dilukis pakai darah anak-anak,” ucap Rendra jujur
Suasana ruangan menjadi dingin.
“Kenapa harus anak-anak?” tanya salah satu polisi dengan suara tertahan
“Karena darah anak-anak itu masih suci,” jawab Rendra tanpa emosi
“Darah suci itu energinya kuat.”
Rendra menunduk.
“Saya menculik mereka… satu per satu.”
Tangannya gemetar.
“Saya… memotong leher mereka.”
Beberapa polisi menahan mual.
“Darahnya… saya kumpulkan, lalu dicampurkan ke dalam cat.”
Rendra tertawa kecil.
“Tujuh anak. Tujuh darah suci.”
Lukisan itu kemudian dipajang di ruang tengah dan keajaiban terjadi. Hotel itu mulai ramai, bahkan selalu penuh.
Namun, harga yang harus dibayar tidak pernah berhenti.
Polisi menyita lukisan itu sebagai barang bukti.
Namun, sebelum itu dipindahkan, salah satu petugas bersumpah melihat sesuatu.
Di balik kaca pigura, ada tujuh bayangan anak kecil, dan salah satunya menatap langsung ke arahnya dengan wajah yang tertutup rapat oleh rambut, dan dengan darah yang menetes dari lehernya.
***
Hotel Akaihana ditutup sementara.
Rendra dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Kasus itu menjadi berita besar.
Orang-orang merasa takut, marah, dan tidak percaya.
Namun, bagi beberapa orang, kisah itu belum selesai, karena ada rumor yang beredar bahwa lukisan itu tidak bisa dihancurkan.
Setiap kali dicoba, sesuatu selalu terjadi.
Palu untuk menghancurkan rusak sendiri.
Catnya tidak mau pudar, dan kadang di malam hari, terdengar suara anak kecil menangis meminta tolong. Atau mungkin, memanggil korban berikutnya.
TAMAT
@aldo12 @itkgid @kakekane.cell
rizkync108 dan 4 lainnya memberi reputasi
5
70
3
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan