TS
KASKUS.HQ
Eks IBL Ini ke Surabaya Demi Basket Campus League
Atmosfer panas terasa di GOR Basket Unesa, Surabaya, Minggu (26/4), saat laga hidup-mati di Grup A Putra antara Universitas Cenderawasih (Uncen) dan Universitas Ciputra Surabaya (UCS) berlangsung sengit. Pertandingan ini bukan cuma menyita perhatian penonton, tapi juga menarik sosok yang sudah kenyang pengalaman di level profesional, Francisco Yogi Da Silva.

Campus League benar-benar jadi magnet buat olahragawan yang pernah menjadi pemain Indonesian Basketball League (IBL) sekaligus eks timnas Indonesia itu untuk hadir langsung di tribun. Yogi rela terbang langsung dari Jakarta ke Surabaya hanya untuk menyaksikan pertandingan secara langsung di Kota Pahlawan ini.
“Campus League ini bikin kompetisi yang cukup bagus. Info yang aku tahu, setiap daerah nantinya akan ada juaranya, lalu ada grand final nantinya ya. Jadi, excited banget untuk nonton di sini, apalagi ini kota (Regional) pertama ya. Nanti aku lanjut pengennya nonton di Jakarta sih. Jadi, khusus ke sini datang untuk nonton ini,” ujarnya.
Kehadirannya bukan sekadar menonton, tapi juga memberi perspektif menarik tentang perkembangan basket kampus saat ini. Dari pengamatannya, kualitas permainan para student athlete di Campus League sudah jauh berkembang dibanding era sebelumnya.
Bahkan, menurutnya, level permainan saat ini sudah mendekati standar pemain junior profesional. “Sekarang next level, nggak seperti dulu. Mereka ini sekarang udah pantas kalau main di level junior di profesional. Dulu itu para pemain level kampus belum kelihatan. Di Campus League justru terlihat cukup bagus, dari fundamental mereka, kualitas pelatih udah bagus, ini membuat pertandingan jadi menarik,” jelas Yogi.
Ia juga menyoroti pentingnya sistem pembinaan berjenjang dalam membentuk pemain berkualitas. Menurutnya, sempat ada masa di mana jalur dari level usia muda ke profesional terasa terputus karena minimnya kompetisi.
“Jadi memang harus ada pembinaan yang berjenjang. Beberapa tahun kebelakang kan agak terputus ya, dari kelompok umur untuk menuju ke profesional itu emang nggak terlalu banyak kompetisi. Aku rasa Campus League ini bikin good movement untuk anak-anak punya impian lagi untuk the next level, untuk main di profesional ataupun di tim nasional,” tambahnya.
Keseimbangan Akademik dan Latihan
Di sisi lain, Yogi juga menyinggung tantangan terbesar seorang student-athlete: manajemen waktu. Baginya, keseimbangan antara akademik dan latihan adalah kunci utama.
“Memang pendidikan itu penting banget, tapi basket juga jadi salah satu yang menunjang pendidikan itu. Jadi aku rasa maintain itu lebih banyak di manajemen sama di how to practice gitu sih. Jadi sebenarnya kalau kita kuliah di pagi, mungkin kita bisa latihan dua kali sebelum subuh atau di sorenya gitu,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa intensitas latihan sangat berpengaruh pada perkembangan pemain. “Karena kalau kita hanya latihan hanya sekadar satu kali seminggu, atau 2 kali aku rasa kurang. Dan aku lihat pemain-pemain Campus League udah ngelakuin itu, terlihat dari kualitas pertandingan yang ada sih,” lanjutnya.
Menutup perbincangan, Yogi memberikan pesan sederhana namun penuh makna untuk para peserta Campus League. “Untuk teman-teman yang lagi main di Campus League, tetap berusaha keras, karena basket ini adalah satu jembatan untuk kalian bisa melihat masa depan yang lebih terang. Jadi good job Campus League untuk ngadain kompetisi ini.”
Dengan kualitas permainan yang terus meningkat dan dukungan kompetisi seperti ini, Campus League bukan lagi sekadar ajang antar kampus, melainkan panggung awal menuju level profesional.

Campus League benar-benar jadi magnet buat olahragawan yang pernah menjadi pemain Indonesian Basketball League (IBL) sekaligus eks timnas Indonesia itu untuk hadir langsung di tribun. Yogi rela terbang langsung dari Jakarta ke Surabaya hanya untuk menyaksikan pertandingan secara langsung di Kota Pahlawan ini.
“Campus League ini bikin kompetisi yang cukup bagus. Info yang aku tahu, setiap daerah nantinya akan ada juaranya, lalu ada grand final nantinya ya. Jadi, excited banget untuk nonton di sini, apalagi ini kota (Regional) pertama ya. Nanti aku lanjut pengennya nonton di Jakarta sih. Jadi, khusus ke sini datang untuk nonton ini,” ujarnya.
Kehadirannya bukan sekadar menonton, tapi juga memberi perspektif menarik tentang perkembangan basket kampus saat ini. Dari pengamatannya, kualitas permainan para student athlete di Campus League sudah jauh berkembang dibanding era sebelumnya.
Bahkan, menurutnya, level permainan saat ini sudah mendekati standar pemain junior profesional. “Sekarang next level, nggak seperti dulu. Mereka ini sekarang udah pantas kalau main di level junior di profesional. Dulu itu para pemain level kampus belum kelihatan. Di Campus League justru terlihat cukup bagus, dari fundamental mereka, kualitas pelatih udah bagus, ini membuat pertandingan jadi menarik,” jelas Yogi.
Ia juga menyoroti pentingnya sistem pembinaan berjenjang dalam membentuk pemain berkualitas. Menurutnya, sempat ada masa di mana jalur dari level usia muda ke profesional terasa terputus karena minimnya kompetisi.
“Jadi memang harus ada pembinaan yang berjenjang. Beberapa tahun kebelakang kan agak terputus ya, dari kelompok umur untuk menuju ke profesional itu emang nggak terlalu banyak kompetisi. Aku rasa Campus League ini bikin good movement untuk anak-anak punya impian lagi untuk the next level, untuk main di profesional ataupun di tim nasional,” tambahnya.
Keseimbangan Akademik dan Latihan
Di sisi lain, Yogi juga menyinggung tantangan terbesar seorang student-athlete: manajemen waktu. Baginya, keseimbangan antara akademik dan latihan adalah kunci utama.
“Memang pendidikan itu penting banget, tapi basket juga jadi salah satu yang menunjang pendidikan itu. Jadi aku rasa maintain itu lebih banyak di manajemen sama di how to practice gitu sih. Jadi sebenarnya kalau kita kuliah di pagi, mungkin kita bisa latihan dua kali sebelum subuh atau di sorenya gitu,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa intensitas latihan sangat berpengaruh pada perkembangan pemain. “Karena kalau kita hanya latihan hanya sekadar satu kali seminggu, atau 2 kali aku rasa kurang. Dan aku lihat pemain-pemain Campus League udah ngelakuin itu, terlihat dari kualitas pertandingan yang ada sih,” lanjutnya.
Menutup perbincangan, Yogi memberikan pesan sederhana namun penuh makna untuk para peserta Campus League. “Untuk teman-teman yang lagi main di Campus League, tetap berusaha keras, karena basket ini adalah satu jembatan untuk kalian bisa melihat masa depan yang lebih terang. Jadi good job Campus League untuk ngadain kompetisi ini.”
Dengan kualitas permainan yang terus meningkat dan dukungan kompetisi seperti ini, Campus League bukan lagi sekadar ajang antar kampus, melainkan panggung awal menuju level profesional.
dhewana dan skinnyhooper memberi reputasi
2
511
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan