TS
tolakyono085
Santri dan Modernitas

Kesadaran dan kemanfaatan bagi manusia visi besar yang mulia di sisi Allah SWT.
Ditengah derasnya arus modernitas, anak muda seringkali terjebak dalam krisis identitas. Namun, bagi kita yang menyandang status sebagai santri, tanggung jawab yang dipikul jauh lebih besar daripada sekadar urusan pribadi.
Menjadi santri bukan hanya soal durasi menetap di pesantren, melainkan soal sejauh mana ilmu kita mampu menjadi kompas moral bagi lingkungan sekitar.
Seorang santri yang tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah adalah sebuah kontradiksi. Inti dari pendidikan pesantren adalah tafakkuh fiddin(mendalami agama) yang berujung pada perbaikan akhlak.
Jika kita tidak memiliki kepekaan untuk membedakan nilai, maka esensi kesantrian kita patut dipertanyakan. Kita dituntut untuk menjadi standar moral, bukan justru ikut larut dalam arus yang tidak jelas arahnya.
Tugas besar kita adalah merangkul teman-teman muda di luar sana yang mungkin tidak memiliki kesempatan mengecap pendidikan pesantren. Kita harus hadir sebagai:
Agent of Change: Memperbaiki kebiasaan lingkungan yang kurang baik dengan cara yang santun.
Problem Solver: Menjadi manusia yang berguna dan solutif bagi problematika sosial di sekitar kita.
Pembimbing Inklusif: Membimbing tanpa menggurui, merangkul tanpa memukul.
"Apa gunanya label santri jika keberadaan kita tidak memberikan rasa aman dan perbaikan bagi lingkungan?"
Modernitas menuntut kita untuk adaptif, namun prinsip tetap harus kokoh. Jika kita tidak mampu mewarnai lingkungan dengan kebaikan, maka kitalah yang akan diwarnai oleh keadaan. Menjadi santri adalah janji untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Karena pada akhirnya, sebaik-baiknya manusia terutama seorang santri adalah mereka yang paling banyak membawa manfaat bagi sesamanya.
Bionarasi:
Aldi Yanto : Santri Pondok Pesantren Aqidah Usymuni yang mempunyai visi besar untuk menjadikan alat digital sebagai proses dakwah
0
5
0
Komentar yang asik ya
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan