tolakyono085Avatar border
TS
tolakyono085
Evaluasi Total Atas Kelalaian Amanah Pengabdian
Evaluasi Total Atas Kelalaian Amanah Pengabdian


Dunia pendidikan asrama atau pesantren adalah kawah candradimuka yang seharusnya menjunjung tinggi nilai kedisiplinan dan tanggung jawab, juga otoritas pengabdian secara totalitas dan ikhlas.


Namun, belakangan ini kita tidak bisa menutup mata terhadap adanya degradasi komitmen yang cukup signifikan. Sebuah fenomena yang sangat disayangkan ketika struktur kepengurusan yang seharusnya menjadi contoh, justru mulai menunjukkan tanda-tanda kelalaian terhadap pertanggungjawabannya.


Salah satu potret nyata dari kelalaian ini adalah pergeseran skala prioritas. Seringkali kita dapati semangat pengabdian hanya muncul pada kegiatan-kegiatan yang bersifat seremonial atau undangan luar yang menyenangkan.


Namun, ketika tiba waktunya mengawal kegiatan rutin pesantren atau kewajiban berjamaah, komitmen tersebut mendadak luntur. Fenomena pengurus yang asyik dengan dunia digitalnya (bermain game), bercanda sesamanya, memilih tidur di saat waktu ibadah, atau bahkan meninggalkan area saat kegiatan berlangsung adalah zona merah yang harus segera diperbaiki.


Di satu sisi, kita patut bersyukur bahwa para santri masih memiliki kesadaran diri yang tinggi untuk tetap menjalankan roda kegiatan secara mandiri. Namun, hal ini tidak bisa dijadikan pemakluman. Sebuah organisasi akan pincang jika para pemegang amanah tidak lagi memiliki ghirah (semangat) yang sama dengan apa yang diperjuangkan oleh para pendahulu.


Sebagai santri dan bagian dari paguyuban (masyarakat) yang ditegaskan bahwa masyarakat dibentuk dengan peraturan dan norma-norma yang ada di dalamnya, kita harus memiliki target yang jelas dan terukur. Jika kita bercita-cita menguasai sebuah keahlian misalnya ingin pintar bahasa Inggris maka tidak ada jalan pintas selain belajar kosakata dan struktur kalimat secara konsisten. Target setinggi langit akan menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan aksi nyata dan kerja keras.


Sebagai penutup, marilah kita gunakan teknologi dengan bijak. Jangan biarkan fasilitas digital menjauhkan kita dari tugas utama dan kedisiplinan spiritual. Kita harus ingat: Sesuatu yang dilakukan tanpa kesungguhan dan integritas tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Semoga evaluasi ini mampu mengetuk pintu kesadaran kita untuk kembali bergerak dengan sungguh-sungguh demi kebaikan bersama.

Dengan evaluasi seperti ini diharapkan dapat menjadi pelajaran berharga dan membuahkan evolusi yang terstruktur, teratur dan rapi, ketika tidak menaati aturan atau pembuat norma sendiri yang melanggar maka perlu diberikan wejangan sekalipun tidak sampai derajatnya, karena pada akhirnya hidup dalam kenyamanan memang indah, melanggar memang biasa, tapi kenyamanan itu bisa membuat kita benar-benar tidak bertumbuh.


Bionarasi Penulis :

Agil Fathoni Mahasiswa dari Pulau Gili Iyang menaruh minat pada isu global dan kedigdayaan pesantren.


Diubah oleh tolakyono085 25-04-2026 07:48
0
7
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan