- Beranda
- Komunitas
- Story
- Stories from the Heart
[CERPEN] Srikandi Cantik Berjiwa Baja
TS
aurora..
[CERPEN] Srikandi Cantik Berjiwa Baja
Langit pagi di sudut kota itu selalu tampak pucat, seperti lelah lebih dulu sebelum hari benar-benar dimulai. Di gang sempit yang dipenuhi rumah-rumah reyot, Olivia sudah bangun sejak subuh. Tangannya yang kecil tetapi penuh kapalan mencengkeram tali samsak yang tergantung di balok kayu tua. Wajahnya datar, dingin, seperti tidak mengenal rasa lelah.
“Lebih keras!”
Suara ayahnya menggema dari balik pintu.
Olivia mengayunkan kakinya. Tendangan demi tendangan menghantam samsak hingga berayun liar. Napasnya terengah, tetapi Olivia memaksakan dirinya untuk tidak berhenti. Olivia tahu, berhenti berarti dikurung di kamar mandi semalaman. Berhenti berarti cambukan dan pukulan.
Sampai akhirnya, dengan 83 kali tendangan brutal dari kakinya yang lelah, tali samsak itu putus. Samsak itu jatuh menghantam lantai.
Olivia terdiam. Tubuhnya masih gemetar. Ia tidak tahu apakah harus bangga atau takut.
Ayahnya keluar. Tatapannya tajam seperti pisau. Namun, kali ini, tidak ada cambukan. Hanya satu kalimat.
“Bagus. Sekarang lanjut ke yang lain.”
***
Sejak ibunya meninggal karena meningitis saat Olivia berusia 5 tahun, hidupnya berubah menjadi rangkaian kelelahan berat tanpa jeda. Ayahnya, seorang pria keras yang hidup dalam bayang-bayang kegagalan, melampiaskan semuanya pada Olivia. Ia percaya dunia ini hanya menghormati kekuatan, dan Olivia harus menjadi wanita yang terkuat tanpa bisa dibantah.
Di usia 10 tahun, Olivia sudah dipaksa mengikuti kompetisi mengangkat beban yang bahkan sangat tidak masuk akal bagi orang dewasa.
“Kamu harus menang! Kalau kamu tidak menang, kamu tidak boleh makan 3 hari!” ancam ayahnya
Barbel itu seberat 500 kilogram. Mustahil. Namun, Olivia tidak mengenal kata mustahil. Ia menggertakkan gigi, seluruh tubuhnya menegang, urat-urat di lehernya menonjol. Dengan tenaga yang tampak tidak manusiawi, ia bisa mengangkatnya, walau hanya beberapa detik sebelum menjatuhkannya kembali.
Olivia jatuh terduduk, napasnya tersengal karena sangat kelelahan.
Ayahnya tidak tersenyum. Tidak pernah.
***
Di sekolah, Olivia adalah legenda. Bukan karena prestasi akademik, melainkan karena ketakutan yang ia tanamkan tanpa sengaja.
Tidak ada yang berani duduk di dekatnya. Tidak ada yang berani menyapanya. Bahkan, guru-guru pun sering memilih untuk tidak terlalu menegurnya.
Suatu hari, seorang murid laki-laki mengejeknya.
“Perempuan tapi sifatnya kayak laki-laki,” ejeknya sambil tertawa
Olivia tidak berkata apa-apa. Ia berdiri, berjalan mendekat, dan dalam hitungan detik, suara retakan terdengar. Tangan anak itu patah. Anak itu jatuh menjerit.
Ternyata, itu belum cukup. Olivia menginjak dadanya berkali-kali dan membantingnya hingga anak itu harus dibawa ke ICU.
Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani mengganggu Olivia.
***
Namun, ada satu pengecualian.
Indra.
Tinggi, tampan, dan menurut banyak orang, Indra terlalu bodoh karena keberaniannya.
Indra duduk di bangku depan Olivia. Hari pertama ia pindah ke kelas itu, ia langsung menoleh ke belakang dan tersenyum.
“Hai. Aku Indra.”
Olivia tidak menjawab.
Hari berikutnya, ia mencoba lagi.
“Kamu orangnya brutal ya?”
Olivia hanya diam.
***
Hari berikutnya lagi.
“Olivia, kamu mau jadi temanku?”
Olivia akhirnya berbicara.
“Sekali lagi aku kasih tahu kamu, jangan dekat-dekat aku.”
Indra hanya tersenyum.
“Kenapa?”
“Kamu berani dekati aku lagi, aku patahkan kaki kamu.”
“Menarik,” ucap Indra santai
***
Hari demi hari, Indra terus mendekat. Tidak peduli tatapan dingin Olivia. Tidak peduli ancaman.
Olivia mulai kesal. Ia sudah memperingatkan berkali-kali.
“Aku serius,” ucap Olivia pada suatu hari
“Jangan gangguin aku lagi kalau kamu nggak mau lumpuh permanen.”
“Aku juga serius,” jawab Indra
“Aku nggak takut sama kamu.”
Kalimat itu, entah mengapa membuat perasaan Olivia bergetar. Bukan marah, bukan takut, melainkan asing.
***
Sampai akhirnya, batas kesabaran Olivia habis.
Indra kembali mendekatinya saat istirahat.
“Kamu belum jawab pertanyaanku,” ucap Indra santai
Olivia berdiri. Tanpa berkata, Olivia mendorong Indra dengan keras.
Tubuh Indra terlempar dan jatuh ke lantai.
Semua orang terdiam.
Namun Indra hanya meringis sedikit, lalu tertawa kecil.
“Terima kasih,” ucap Indra sambil bangkit
Olivia membeku. Mengapa Indra sama sekali tidak takut?
***
Hari itu berubah menjadi titik balik.
Di tengah pelajaran Bahasa Indonesia, Indra tiba-tiba jatuh dari kursinya. Tubuhnya kejang. Matanya terbalik.
Seisi kelas panik.
“Cepat! Panggil ambulans!” teriak guru Bahasa Indonesia
Olivia berdiri. Jantungnya berdegup keras. Ia melihat Indra yang lemah dan tidak berdaya.
Sesuatu di dalam dirinya retak.
“Tidak usah!” ucap Olivia tiba-tiba
Semua orang menoleh.
Tanpa menunggu jawaban, Olivia mengangkat tubuh Indra dan menggendongnya di punggung seperti beban latihan.
“Ambulans terlalu lama kalau ditunggu,” ucap Olivia singkat
“Olivia, jarak rumah sakit terdekat 2 kilometer!” seru guru Bahasa Indonesia
Namun, Olivia sudah berjalan.
***
Langkah demi langkah.
Jalan raya siang itu panas. Napas Olivia semakin berat. Tubuh Indra di punggungnya terasa semakin berat seiring waktu.
Namun, Olivia tidak berhenti. Ia terbiasa membawa beban. Ia terbiasa melawan rasa sakit.
Namun, kali ini berbeda. Ini bukan latihan. Ini kemanusiaan.
Setiap langkah terasa seperti melawan masa lalunya sendiri. Setiap detik adalah pertarungan antara dirinya yang dingin dan sesuatu yang baru tumbuh di dalam hatinya.
“Kamu jangan mati…” gumam Olivia pelan
***
Ketika akhirnya tiba di rumah sakit, keringat membasahi seluruh tubuhnya. Kakinya gemetar, tetapi Olivia tetap berdiri sampai dokter mengambil Indra dari punggungnya.
Baru setelah itu, Olivia jatuh terduduk.
Untuk pertama kalinya, ia merasa lelah.
Hari itu, Olivia mengetahui kebenaran.
Indra mengidap glioblastoma. Kanker otak.
Sudah satu tahun Indra menderita penyakit itu, dan ia memilih untuk menyembunyikannya.
Olivia duduk diam di bangku rumah sakit.
***
Bu Sesilia, guru yang selama ini diam-diam memperhatikan Olivia, duduk di sampingnya.
“Kamu sadar nggak, apa yang kamu lakukan tadi?” tanya Bu Sesilia dengan lembut
Olivia tidak menjawab.
“Kamu memilih berkorban. Kamu memilih menderita dan memikul beban atas sebab kasih dan kebenaran.”
Olivia menunduk.
“Tidak banyak orang, apalagi anak seusiamu, yang mau memikul beban seberat itu bukan karena rasa bersalah, tapi karena kasih dan kebenaran.”
Kata-kata itu menggema di dalam diri Olivia.
Pengorbanan.
Apakah itu yang ia rasakan?
***
Hari-hari berikutnya, Olivia mulai sering datang ke rumah sakit. Ia tidak banyak bicara, hanya duduk di samping Indra.
Indra yang selalu ceria, kini tampak lebih lemah. Namun, senyumnya tidak hilang.
“Kamu tahu,” ucap Indra pada suatu hari
“Aku berterima kasih kamu sudah dorong aku waktu itu.”
Olivia mengernyit.
“Kenapa?”
“Soalnya kamu akhirnya perhatian sama aku.”
Olivia terdiam.
***
Kemudian, Olivia bertemu Nadia, kakak Indra. Nadia adalah seorang perempuan berusia 20 tahun, wajahnya lelah tetapi matanya penuh tekad.
“Saya butuh biaya besar untuk biaya pengobatan Indra,” keluh Nadia
Olivia berpikir, lalu ia berkata.
“Ada lomba deadlift. Hadiahnya satu miliar.”
Nadia terkejut.
“Saya nggak mungkin—”
“Saya akan latih Kak Nadia sampai bisa.”
Tidak ada negosiasi.
***
Latihan dimulai.
Setiap hari, Olivia melatih Nadia dengan disiplin keras, tetapi berbeda dari ayahnya.
Olivia tidak marah dan memukul tanpa alasan. Ia tidak menyakiti.
Olivia mengajarkan.
“Kakak fokus saja di teknik.”
“Jangan takut sama beban.”
“Dengarkan tubuh Kak Nadia.”
Perlahan, Nadia berkembang dari tidak bisa mengangkat beban dasar, menjadi kompetitor serius.
***
Hari kompetisi tiba.
Ruangan itu penuh sorakan. Atlet-atlet bertubuh super kuat berdiri siap.
Nadia tampak gugup.
Olivia berdiri di sampingnya.
“Kak Nadia pasti bisa,” ucap Olivia singkat
Nadia mengangguk.
Satu per satu peserta gagal di beban akhir, rata-rata mimisan karena sangat kelelahan.
Giliran Nadia tiba.
Nadia menarik napas, mengingat semua latihan dan semua rasa sakit.
Nadia mengangkat.
Satu detik terasa seperti satu jam, dan Nadia berhasil megangkat beban itu.
Sorakan penonton meledak.
Nadia menang.
Uang itu digunakan untuk pengobatan Indra.
***
Tiga bulan kemudian, mereka berangkat ke Singapura untuk operasi penanaman wafer karmustin.
Operasi berlangsung lama, hampir 10 jam.
Olivia menunggu di luar. Diam, seperti biasa.
Namun kali ini, tangannya gemetar.
Olivia tidak takut pada rasa sakit, tetapi ia takut kehilangan.
***
Dokter yang mrnangani Indra di Singapura akhirnya keluar.
Katanya, operasi berhasil.
Indra selamat.
Olivia menutup matanya. Napasnya terlepas sempurna seperti beban yang akhirnya jatuh.
***
Tahun-tahun berlalu.
Indra pulih sepenuhnya. Tidak ada lagi kanker otak. Tidak ada lagi kejang.
Olivia juga berubah. Ia masih kuat, masih tangguh, tetapi tidak lagi dingin.
Olivia mulai tersenyum. Sedikit, tetapi cukup untuk membuat dunia terasa berbeda.
***
Saat mereka sama-sama berusia 20 tahun, Indra berdiri di depan Olivia.
“Kamu tahu,” ucap Indra
“Aku masih ingat waktu kamu gendong aku.”
Olivia tersenyum tipis.
“Badanku pasti berat banget.”
“Aku tahu itu, tapi kamu tetap jalan 2 kilometer.”
Indra menggenggam tangan Olivia.
“Terima kasih.”
Olivia menatapnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Olivia tidak merasa harus kuat sendirian.
“Terima kasih juga,” ucap Olivia pelan
“Karena kamu… nggak pernah takut sama aku.”
Indra tertawa kecil.
“Aku nggak pernah lihat kamu sebagai dewi penghancur.”
“Terus?”
Indra menatapnya dalam.
“Srikandi cantik berjiwa baja.”
***
Mereka menikah tidak lama kemudian.
Bukan karena cerita mereka sempurna, melainkan karena mereka saling memilih.
Olivia, yang dulu hanya hidup untuk bertahan, kini hidup untuk seseorang.
Dan untuk pertama kalinya, kekuatan Olivia bukan lagi tentang menghancurkan, melainkan tentang kebenaran. Tentang kasih dan pengorbanan. Dan tentang berjalan sambil memikul beban tanpa mengenal lelah, bahkan sejauh 2 kilometer atau lebih, demi menyelamatkan nyawa seseorang.
TAMAT
@jonrender @senjaperenungan @pabuaranwetan
“Lebih keras!”
Suara ayahnya menggema dari balik pintu.
Olivia mengayunkan kakinya. Tendangan demi tendangan menghantam samsak hingga berayun liar. Napasnya terengah, tetapi Olivia memaksakan dirinya untuk tidak berhenti. Olivia tahu, berhenti berarti dikurung di kamar mandi semalaman. Berhenti berarti cambukan dan pukulan.
Sampai akhirnya, dengan 83 kali tendangan brutal dari kakinya yang lelah, tali samsak itu putus. Samsak itu jatuh menghantam lantai.
Olivia terdiam. Tubuhnya masih gemetar. Ia tidak tahu apakah harus bangga atau takut.
Ayahnya keluar. Tatapannya tajam seperti pisau. Namun, kali ini, tidak ada cambukan. Hanya satu kalimat.
“Bagus. Sekarang lanjut ke yang lain.”
***
Sejak ibunya meninggal karena meningitis saat Olivia berusia 5 tahun, hidupnya berubah menjadi rangkaian kelelahan berat tanpa jeda. Ayahnya, seorang pria keras yang hidup dalam bayang-bayang kegagalan, melampiaskan semuanya pada Olivia. Ia percaya dunia ini hanya menghormati kekuatan, dan Olivia harus menjadi wanita yang terkuat tanpa bisa dibantah.
Di usia 10 tahun, Olivia sudah dipaksa mengikuti kompetisi mengangkat beban yang bahkan sangat tidak masuk akal bagi orang dewasa.
“Kamu harus menang! Kalau kamu tidak menang, kamu tidak boleh makan 3 hari!” ancam ayahnya
Barbel itu seberat 500 kilogram. Mustahil. Namun, Olivia tidak mengenal kata mustahil. Ia menggertakkan gigi, seluruh tubuhnya menegang, urat-urat di lehernya menonjol. Dengan tenaga yang tampak tidak manusiawi, ia bisa mengangkatnya, walau hanya beberapa detik sebelum menjatuhkannya kembali.
Olivia jatuh terduduk, napasnya tersengal karena sangat kelelahan.
Ayahnya tidak tersenyum. Tidak pernah.
***
Di sekolah, Olivia adalah legenda. Bukan karena prestasi akademik, melainkan karena ketakutan yang ia tanamkan tanpa sengaja.
Tidak ada yang berani duduk di dekatnya. Tidak ada yang berani menyapanya. Bahkan, guru-guru pun sering memilih untuk tidak terlalu menegurnya.
Suatu hari, seorang murid laki-laki mengejeknya.
“Perempuan tapi sifatnya kayak laki-laki,” ejeknya sambil tertawa
Olivia tidak berkata apa-apa. Ia berdiri, berjalan mendekat, dan dalam hitungan detik, suara retakan terdengar. Tangan anak itu patah. Anak itu jatuh menjerit.
Ternyata, itu belum cukup. Olivia menginjak dadanya berkali-kali dan membantingnya hingga anak itu harus dibawa ke ICU.
Sejak saat itu, tidak ada lagi yang berani mengganggu Olivia.
***
Namun, ada satu pengecualian.
Indra.
Tinggi, tampan, dan menurut banyak orang, Indra terlalu bodoh karena keberaniannya.
Indra duduk di bangku depan Olivia. Hari pertama ia pindah ke kelas itu, ia langsung menoleh ke belakang dan tersenyum.
“Hai. Aku Indra.”
Olivia tidak menjawab.
Hari berikutnya, ia mencoba lagi.
“Kamu orangnya brutal ya?”
Olivia hanya diam.
***
Hari berikutnya lagi.
“Olivia, kamu mau jadi temanku?”
Olivia akhirnya berbicara.
“Sekali lagi aku kasih tahu kamu, jangan dekat-dekat aku.”
Indra hanya tersenyum.
“Kenapa?”
“Kamu berani dekati aku lagi, aku patahkan kaki kamu.”
“Menarik,” ucap Indra santai
***
Hari demi hari, Indra terus mendekat. Tidak peduli tatapan dingin Olivia. Tidak peduli ancaman.
Olivia mulai kesal. Ia sudah memperingatkan berkali-kali.
“Aku serius,” ucap Olivia pada suatu hari
“Jangan gangguin aku lagi kalau kamu nggak mau lumpuh permanen.”
“Aku juga serius,” jawab Indra
“Aku nggak takut sama kamu.”
Kalimat itu, entah mengapa membuat perasaan Olivia bergetar. Bukan marah, bukan takut, melainkan asing.
***
Sampai akhirnya, batas kesabaran Olivia habis.
Indra kembali mendekatinya saat istirahat.
“Kamu belum jawab pertanyaanku,” ucap Indra santai
Olivia berdiri. Tanpa berkata, Olivia mendorong Indra dengan keras.
Tubuh Indra terlempar dan jatuh ke lantai.
Semua orang terdiam.
Namun Indra hanya meringis sedikit, lalu tertawa kecil.
“Terima kasih,” ucap Indra sambil bangkit
Olivia membeku. Mengapa Indra sama sekali tidak takut?
***
Hari itu berubah menjadi titik balik.
Di tengah pelajaran Bahasa Indonesia, Indra tiba-tiba jatuh dari kursinya. Tubuhnya kejang. Matanya terbalik.
Seisi kelas panik.
“Cepat! Panggil ambulans!” teriak guru Bahasa Indonesia
Olivia berdiri. Jantungnya berdegup keras. Ia melihat Indra yang lemah dan tidak berdaya.
Sesuatu di dalam dirinya retak.
“Tidak usah!” ucap Olivia tiba-tiba
Semua orang menoleh.
Tanpa menunggu jawaban, Olivia mengangkat tubuh Indra dan menggendongnya di punggung seperti beban latihan.
“Ambulans terlalu lama kalau ditunggu,” ucap Olivia singkat
“Olivia, jarak rumah sakit terdekat 2 kilometer!” seru guru Bahasa Indonesia
Namun, Olivia sudah berjalan.
***
Langkah demi langkah.
Jalan raya siang itu panas. Napas Olivia semakin berat. Tubuh Indra di punggungnya terasa semakin berat seiring waktu.
Namun, Olivia tidak berhenti. Ia terbiasa membawa beban. Ia terbiasa melawan rasa sakit.
Namun, kali ini berbeda. Ini bukan latihan. Ini kemanusiaan.
Setiap langkah terasa seperti melawan masa lalunya sendiri. Setiap detik adalah pertarungan antara dirinya yang dingin dan sesuatu yang baru tumbuh di dalam hatinya.
“Kamu jangan mati…” gumam Olivia pelan
***
Ketika akhirnya tiba di rumah sakit, keringat membasahi seluruh tubuhnya. Kakinya gemetar, tetapi Olivia tetap berdiri sampai dokter mengambil Indra dari punggungnya.
Baru setelah itu, Olivia jatuh terduduk.
Untuk pertama kalinya, ia merasa lelah.
Hari itu, Olivia mengetahui kebenaran.
Indra mengidap glioblastoma. Kanker otak.
Sudah satu tahun Indra menderita penyakit itu, dan ia memilih untuk menyembunyikannya.
Olivia duduk diam di bangku rumah sakit.
***
Bu Sesilia, guru yang selama ini diam-diam memperhatikan Olivia, duduk di sampingnya.
“Kamu sadar nggak, apa yang kamu lakukan tadi?” tanya Bu Sesilia dengan lembut
Olivia tidak menjawab.
“Kamu memilih berkorban. Kamu memilih menderita dan memikul beban atas sebab kasih dan kebenaran.”
Olivia menunduk.
“Tidak banyak orang, apalagi anak seusiamu, yang mau memikul beban seberat itu bukan karena rasa bersalah, tapi karena kasih dan kebenaran.”
Kata-kata itu menggema di dalam diri Olivia.
Pengorbanan.
Apakah itu yang ia rasakan?
***
Hari-hari berikutnya, Olivia mulai sering datang ke rumah sakit. Ia tidak banyak bicara, hanya duduk di samping Indra.
Indra yang selalu ceria, kini tampak lebih lemah. Namun, senyumnya tidak hilang.
“Kamu tahu,” ucap Indra pada suatu hari
“Aku berterima kasih kamu sudah dorong aku waktu itu.”
Olivia mengernyit.
“Kenapa?”
“Soalnya kamu akhirnya perhatian sama aku.”
Olivia terdiam.
***
Kemudian, Olivia bertemu Nadia, kakak Indra. Nadia adalah seorang perempuan berusia 20 tahun, wajahnya lelah tetapi matanya penuh tekad.
“Saya butuh biaya besar untuk biaya pengobatan Indra,” keluh Nadia
Olivia berpikir, lalu ia berkata.
“Ada lomba deadlift. Hadiahnya satu miliar.”
Nadia terkejut.
“Saya nggak mungkin—”
“Saya akan latih Kak Nadia sampai bisa.”
Tidak ada negosiasi.
***
Latihan dimulai.
Setiap hari, Olivia melatih Nadia dengan disiplin keras, tetapi berbeda dari ayahnya.
Olivia tidak marah dan memukul tanpa alasan. Ia tidak menyakiti.
Olivia mengajarkan.
“Kakak fokus saja di teknik.”
“Jangan takut sama beban.”
“Dengarkan tubuh Kak Nadia.”
Perlahan, Nadia berkembang dari tidak bisa mengangkat beban dasar, menjadi kompetitor serius.
***
Hari kompetisi tiba.
Ruangan itu penuh sorakan. Atlet-atlet bertubuh super kuat berdiri siap.
Nadia tampak gugup.
Olivia berdiri di sampingnya.
“Kak Nadia pasti bisa,” ucap Olivia singkat
Nadia mengangguk.
Satu per satu peserta gagal di beban akhir, rata-rata mimisan karena sangat kelelahan.
Giliran Nadia tiba.
Nadia menarik napas, mengingat semua latihan dan semua rasa sakit.
Nadia mengangkat.
Satu detik terasa seperti satu jam, dan Nadia berhasil megangkat beban itu.
Sorakan penonton meledak.
Nadia menang.
Uang itu digunakan untuk pengobatan Indra.
***
Tiga bulan kemudian, mereka berangkat ke Singapura untuk operasi penanaman wafer karmustin.
Operasi berlangsung lama, hampir 10 jam.
Olivia menunggu di luar. Diam, seperti biasa.
Namun kali ini, tangannya gemetar.
Olivia tidak takut pada rasa sakit, tetapi ia takut kehilangan.
***
Dokter yang mrnangani Indra di Singapura akhirnya keluar.
Katanya, operasi berhasil.
Indra selamat.
Olivia menutup matanya. Napasnya terlepas sempurna seperti beban yang akhirnya jatuh.
***
Tahun-tahun berlalu.
Indra pulih sepenuhnya. Tidak ada lagi kanker otak. Tidak ada lagi kejang.
Olivia juga berubah. Ia masih kuat, masih tangguh, tetapi tidak lagi dingin.
Olivia mulai tersenyum. Sedikit, tetapi cukup untuk membuat dunia terasa berbeda.
***
Saat mereka sama-sama berusia 20 tahun, Indra berdiri di depan Olivia.
“Kamu tahu,” ucap Indra
“Aku masih ingat waktu kamu gendong aku.”
Olivia tersenyum tipis.
“Badanku pasti berat banget.”
“Aku tahu itu, tapi kamu tetap jalan 2 kilometer.”
Indra menggenggam tangan Olivia.
“Terima kasih.”
Olivia menatapnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Olivia tidak merasa harus kuat sendirian.
“Terima kasih juga,” ucap Olivia pelan
“Karena kamu… nggak pernah takut sama aku.”
Indra tertawa kecil.
“Aku nggak pernah lihat kamu sebagai dewi penghancur.”
“Terus?”
Indra menatapnya dalam.
“Srikandi cantik berjiwa baja.”
***
Mereka menikah tidak lama kemudian.
Bukan karena cerita mereka sempurna, melainkan karena mereka saling memilih.
Olivia, yang dulu hanya hidup untuk bertahan, kini hidup untuk seseorang.
Dan untuk pertama kalinya, kekuatan Olivia bukan lagi tentang menghancurkan, melainkan tentang kebenaran. Tentang kasih dan pengorbanan. Dan tentang berjalan sambil memikul beban tanpa mengenal lelah, bahkan sejauh 2 kilometer atau lebih, demi menyelamatkan nyawa seseorang.
TAMAT
@jonrender @senjaperenungan @pabuaranwetan
skinnyhooper dan 2 lainnya memberi reputasi
3
1.5K
4
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan