Kaskus

Story

aurora..Avatar border
TS
aurora..
[CERPEN HOROR] Abon Mbak Lisa
Di sudut kampus yang selalu ramai oleh lalu-lalang mahasiswa, ada satu pemandangan yang hampir tidak pernah berubah setiap hari, yaitu seorang gadis berkerudung lusuh berdiri di dekat tangga fakultas, membawa kotak plastik besar berisi abon sapi yang ia jual dalam kemasan kecil.

Namanya Lisa.

Usianya baru 20 tahun, mahasiswi tingkat dua di sebuah jurusan yang tidak terlalu diminati. Tubuhnya kurus, wajahnya cenderung pucat, dan matanya selalu tampak seperti menyimpan sesuatu yang tidak bisa ditebak. Namun, satu hal yang tidak pernah diragukan oleh siapa pun adalah kualitas abon buatannya.

“Enak banget, sumpah!” ucap seorang mahasiswi suatu siang sambil menjilat ujung jarinya

“Serius, ini sih bisa dijual mahal di luar,” tambah temannya

Lisa hanya tersenyum kecil. Senyum yang terlalu tipis untuk disebut bahagia.

Lisa tidak banyak bicara, hanya menerima uang, menyerahkan bungkusan abon, lalu kembali diam, seolah dunia di sekitarnya bukan bagian dari dirinya.

Namun, tidak semua orang memperlakukan Lisa seperti penjual biasa.

***

“Eh, manusia tumor datang!” teriak Angela dari depan kelas

Suara tawa langsung pecah.

Lisa berhenti di depan pintu. Tangannya menggenggam kotak abon lebih erat. Lisa tahu, setiap kali Lisa datang ke kelas ini, bullying kejam pasti terjadi.

Amira berdiri dari kursinya sambil membawa seember air yang berbusa.

“Katanya anak caesar itu kayak tumor ya? Cuma bisa dikeluarin lewat operasi doang,” ejeknya

“Makanya, kita bantu biar dia jangan kayak tumor!” sahut Anindya, yang sudah menyiapkan topi warna-warni dari tasnya

Sebelum Lisa sempat berkata apa-apa, air sabun itu sudah disiramkan ke kepalanya. Basah, dingin, dan memalukan.

Mahasiswa lain tertawa. Ada yang merekam. Ada yang hanya menonton tanpa bereaksi.

“Sekarang… cepat nari!” titah Angela sambil melemparkan topi warna-warni itu ke kepala Lisa

Lisa berdiri kaku.

“Cepat! Sebelum gue tonjok muka lo!” bentak Amira

Tidak ada yang membela. Tidak ada yang menghentikan.

Dan akhirnya, Lisa menari.

Gerakannya kaku, tidak berirama. Air sabun masih menetes dari rambutnya. Topi warna-warni itu miring di kepalanya. Tawa semakin keras.

Namun, di balik wajahnya yang kosong itu ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang perlahan bangkit.

***

Tidak ada yang tahu tentang kehidupan Lisa di luar kampus.

Tidak ada yang tahu bahwa ia tinggal di rumah kontrakan kecil yang hampir roboh di pinggiran kota.

Dan tidak ada yang tahu bahwa di balik penampilannya yang rapuh, Lisa adalah sesuatu yang lain.

Sesuatu yang sangat berbahaya.

Di sebuah ruangan gelap di rumahnya, terdapat tas hitam besar. Di dalamnya, ada sarung tangan kulit, beberapa pisau lipat, dan satu benda yang paling mencolok yaitu sebongkah batu besar.

Batu itu tidak pernah Lisa buang, karena batu itu adalah alat yang selalu ia gunakan.

Lisa bukan hanya mahasiswi. Ia adalah petarung bayaran. Polisi di beberapa daerah pernah menggunakan jasanya secara tidak resmi. Lisa selalu membantu menumpas para mafia perdagangan manusia. Lisa menyusup, melacak, lalu menghabisi mereka tanpa jejak dan tanpa belas kasihan.

Lisa tidak pernah gagal, dan Lisa tidak pernah melupakan itu.

***

Hari itu, Angela, Amira, dan Anindya menghilang.

Tidak ada kabar.

Tidak ada pesan.

Tidak ada jejak.

Seisi kampus langsung gempar.

“Terakhir kelihatan di mana?”

“Kemarin masih di kelas…”

“HP mereka mati semua…”

Bisik-bisik mulai menyebar. Namun, Lisa tetap berjualan seperti biasa.

“Abon, Kak… baru dibuat,” ucap Lisa pelan kepada seorang mahasiswa berwajah tampan

Senyumnya tetap sama, tipis dan dingin.

***

Pak Andre adalah salah satu dosen yang cukup memperhatikan mahasiswa. Ia tidak terlalu suka keributan, tetapi ia juga bukan tipe yang menutup mata.

Hari itu, Pak Andre membeli abon dari Lisa.

“Coba ya,” gumam Pak Andre sambil membuka kemasan kecil itu di ruang dosen

Aroma gurih langsung tercium. Namun, ketika ia mencicipinya, keningnya langsung berkerut.

“Hmm…”

Rasanya memang enak, bahkan sangat enak, tetapi ada sesuatu yang aneh.

Teksturnya berbeda. Seratnya tidak seperti daging sapi biasa, lebih halus dan lebih lembut. Dan entah mengapa, hal itu membuat Pak Andre tidak nyaman.

“Pak Andre, enak nggak?” tanya Bu Yuli, ibu kantin yang kebetulan lewat

“Enak sih, tapi aneh,” jawab Pak Andre jujur

“Ah, masa sih? Sini saya coba!”

Bu Yuli langsung mengambil sedikit dan memasukkannya ke mulut. Matanya langsung berbinar.

“Ya ampun! Ini enak banget! Gurihnya beda!”

“Jangan dimakan banyak-banyak, Bu. Saya rasa ini—”

“Ah, Bapak ini. Kebanyakan mikir!”

Sejak hari itu, Bu Yuli jadi pelanggan tetap Lisa. Hampir setiap hari ia membeli abon itu, dan setiap kali ia makan, ia selalu merasa ketagihan.

***

Sementara itu, penyelidikan terus berjalan.

Polisi mulai mencurigai sesuatu.

Tiga mahasiswi hilang tanpa jejak tetapi tidak ada tanda-tanda penculikan biasa. Tidak ada tuntutan. Tidak ada saksi.

Namun, ada satu petunjuk kecil.

Seorang mahasiswa mengaku melihat Angela terakhir kali masuk ke gedung lama di belakang kampus.

Gedung itu sudah lama tidak digunakan, dan di bawahnya ada ruang bawah tanah yang hampir dilupakan.

***

Malam itu, polisi akhirnya memutuskan untuk menyelidiki tempat itu.

Pintu ruang bawah tanah terkunci.

Namun, setelah didobrak, bau menyengat langsung menyeruak. Bau busuk. Bau kematian.

Senter dinyalakan. Dan di sanalah, mereka menemukan sesuatu yang tidak akan pernah mereka lupakan.

Darah berceceran di mana-mana. Di dinding, di lantai, bahkan di langit-langit.

Dan di tengah ruangan, terdapat bekas seretan, seolah sesuatu yang berat telah diseret keluar.

Namun, yang paling mengerikan adalah benda yang tergeletak di sudut ruangan. Sebongkah batu besar dengan noda darah dan serpihan otak manusia yang sudah mengering.

***

Lisa masih berjualan keesokan harinya seperti biasa. Tidak ada perubahan. Tidak ada kegelisahan.

Hingga tiba-tiba, dua mobil polisi berhenti di depan kampus.

Semua orang menoleh. Lisa juga menoleh.

Namun, kali ini, Lisa tidak tersenyum.

“Lisa,” panggil salah satu polisi

“Ya?”

“Kami ingin kamu ikut dengan kami.”

Mahasiswa mulai berbisik.

“Ada apa?”

“Lisa kenapa?”

Lisa tidak melawan. Ia hanya meletakkan kotak abon itu di tanah lalu berjalan mendekat.

Tangannya diborgol.

Dan untuk pertama kalinya, Lisa tersenyum lebar. Senyum yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Senyum yang mengerikan.

***

Di kantor polisi, semuanya terungkap.

Lisa tidak menyangkal. Ia menceritakan semuanya dengan tenang.

Bagaimana Lisa membawa Angela ke ruang bawah tanah.

Bagaimana Lisa menunggu Amira dan Anindya.

Dan bagaimana Lisa menghajar mereka secara brutal dengan batu itu berkali-kali sampai kepala mereka hancur bersimbah darah, sampai darah dan otak mereka muncrat tidak beraturan ke semua arah, dan sampai tubuh mereka tidak lagi bergerak.

“Saya hanya membalas apa yang mereka lakukan,” ucap Lisa pelan

Tidak ada emosi.

Tidak ada penyesalan.

***

Namun, yang paling mengejutkan adalah hasil analisis laboratorium.

Sampel abon yang dijual Lisa diperiksa, dan ternyata hasilnya bukan serat otot sapi. Serat ototnya adalah serat otot manusia.

Tes DNA menunjukkan kecocokan serat otot dengan Angela, Amira, dan Anindya.

***

Kampus gempar. Mahasiswa muntah. Banyak yang histeris.

Bu Yuli pingsan ketika mendengar hasil itu. Ia sudah makan abon itu hampir setiap hari.

“Tidak mungkin… tidak mungkin…” gumam Bu Yuli berulang kali

Sementara itu, Pak Andre hanya duduk diam. Wajahnya pucat. Ia hampir memakannya. Hampir.

***

Lisa duduk di ruang interogasi. Tangannya terborgol, tetapi wajahnya tenang.

“Mengapa Mbak melakukan ini?” tanya seorang polisi

Lisa menatap lurus.

“Mereka mempermalukan saya,” jawab Lisa

“Hanya karena itu, Mbak?”

Lisa tersenyum.

“Bapak tidak tahu rasanya,” ucap Lisa pelan

Lalu, Lisa menunduk dan tertawa kecil. Tawa yang lirih, tetapi cukup untuk membuat bulu kuduk siapa pun berdiri.

***

Sejak hari itu, tidak ada lagi “Abon Mbak Lisa” di kampus.

Namun cerita tentangnya tetap hidup, tentang seorang gadis yang tampak lemah tetapi menyimpan kekuatan mengerikan, dan tentang rasa abon yang terlalu enak untuk dilupakan.

Beberapa mahasiswa bahkan mengaku bahwa mereka masih bisa mengingat rasanya. Gurih, lembut, dan entah mengapa, rasanya sangat khas, seolah-olah mereka tidak pernah benar-benar berhenti memakannya.

TAMAT

@aldo12 @pabuaranwetan @itkgid
MemoryExpressAvatar border
senjaperenunganAvatar border
skinnyhooperAvatar border
skinnyhooper dan 2 lainnya memberi reputasi
3
1.9K
8
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan