- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Rupiah Lesu Lagi Pagi Ini, Sudah di Atas Rp17.250/US$
TS
jaguarxj220
Rupiah Lesu Lagi Pagi Ini, Sudah di Atas Rp17.250/US$
Bloomberg Technoz, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (23/4/2026), setelah kemarin ditutup hampir menyentuh Rp17.200/US$.
Mengacu data realtime Bloomberg, rupiah spot pagi ini menyusut banyak 0,32% dan menyentuh Rp17.230/US$. Tak lama berselang, rupiah kembali jeblok 0,44% ke Rp17.251/US$.
Padahal indeks dolar AS relatif stabil bertahan di level 98,58pada 08:50 WIB. Namun begitu, harga minyak mentah Brent memang kembali melambung di US$102,7 per barel dan WTI di kisaran US$97 per barel.
Pergerakan mata uang Asia di pasar kembali beragam. Dolar Taiwan tercata menguat terbatas 0,11%, disusul yuan offshore dan yuan China masing-masing 0,07%, yen Jepang 0,06%, dan dolar Hong Kong 0,01%.
Sebaliknya, peso Filipina melemah tajam 0,46%, disusul baht Thailand 0,33%, won Korea Selatan 0,10%, dan ringgit Malaysia 0,09%. Sementara dolar Singapura tercatat stagnan.

Mengacu data realtime Bloomberg, rupiah spot pagi ini menyusut banyak 0,32% dan menyentuh Rp17.230/US$. Tak lama berselang, rupiah kembali jeblok 0,44% ke Rp17.251/US$.
Padahal indeks dolar AS relatif stabil bertahan di level 98,58pada 08:50 WIB. Namun begitu, harga minyak mentah Brent memang kembali melambung di US$102,7 per barel dan WTI di kisaran US$97 per barel.
Pergerakan mata uang Asia di pasar kembali beragam. Dolar Taiwan tercata menguat terbatas 0,11%, disusul yuan offshore dan yuan China masing-masing 0,07%, yen Jepang 0,06%, dan dolar Hong Kong 0,01%.
Sebaliknya, peso Filipina melemah tajam 0,46%, disusul baht Thailand 0,33%, won Korea Selatan 0,10%, dan ringgit Malaysia 0,09%. Sementara dolar Singapura tercatat stagnan.

Pergerakan mata uang Asia. Rupiah melemah paling dalam (23/4/2026). (Bloomberg)
Perang yang masih jauh dari kata damai, terus menggempur pasar energi dan menyebabkan gangguan pasokan. Selat Hormuz kembali tertutup dan menyebabkan penurunan tajam arus pasokan dari produsen di Teluk Persia.
Kondisi ini membuat pasar keuangan Asia kembali keok. Bursa saham juga melemah. Indeks Nikkei turun 0,53%, indeks KOSDAQ juga menyusut 0,19%, Topix 0,89%, indeks FTSE Straits Tim juga menyusut 0,83%, HangSeng 0,85%. Meski IHSG hanya melemah terbatas 0,03%.
Di pasar surat utang, aksi jual masih berlanjut sejak kemarin. Kenaikan imbal hasil merata terjadi di hampir semua tenor.
Untuk tenor pendek seperti 1 tahun imbal hasil naik 2,5 bps ke 5,68%, disusul tenor 3 tahun naik 1,8 bps ke 6,12%. Imbal hasil tenor 5 tahun dan 6 tahun juga tercatat naik masing-masing 1,1 bps ke 6,37% dan 0,5 bps ke 6,43%.
Begitu juga dengan tenor acuan 10 tahun mengalami perubahan imbal hasil naik 0,4 bps menjadi 6,61%.
Dari dalam negeri upaya meredam gejolak nilai tukar sepertinya belum cukup bertaji. Di tengah badai tekanan eksternal ini, Bank Indonesia (BI) menyebut akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter.
"Terkait dengan penguatan untuk operasi moneter kami melalui intervensi penguatan khususnya untuk yang NDF di offshore market, akan ada pengecualian bagi bank khususnya untuk dealer utama, sehingga mereka bisa menjual NDF secara langsung," ujar Destry Damayanti Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), kemarin.
Selain itu, BI juga sepertinya semakin mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di tengah ketidakpastian geopolitik, sebagai alat untuk menyerap likuiditas rupiah sekaligus mendukung stabilisasi nilai tukar.
"Sejak Februari secara bertahap terus melakukan penyesuaian pada suku bunga SRBI sehingga jadi instrumen yang memiliki daya tarik terhadap foreign inflow," kata Destry.
Memang pasar SRBI belakangan ini mendapat animo dari para investor karena tingkat imbal hasil yang tinggi. Melansir data Bloomberg, imbal hasil (yield) SRBI naik mencapai level tertingginya sejak Juli tahun lalu dan menyentuh 5,76% untuk tenor 12 bulan.
Kondisi ini membuat pasar keuangan Asia kembali keok. Bursa saham juga melemah. Indeks Nikkei turun 0,53%, indeks KOSDAQ juga menyusut 0,19%, Topix 0,89%, indeks FTSE Straits Tim juga menyusut 0,83%, HangSeng 0,85%. Meski IHSG hanya melemah terbatas 0,03%.
Di pasar surat utang, aksi jual masih berlanjut sejak kemarin. Kenaikan imbal hasil merata terjadi di hampir semua tenor.
Untuk tenor pendek seperti 1 tahun imbal hasil naik 2,5 bps ke 5,68%, disusul tenor 3 tahun naik 1,8 bps ke 6,12%. Imbal hasil tenor 5 tahun dan 6 tahun juga tercatat naik masing-masing 1,1 bps ke 6,37% dan 0,5 bps ke 6,43%.
Begitu juga dengan tenor acuan 10 tahun mengalami perubahan imbal hasil naik 0,4 bps menjadi 6,61%.
Dari dalam negeri upaya meredam gejolak nilai tukar sepertinya belum cukup bertaji. Di tengah badai tekanan eksternal ini, Bank Indonesia (BI) menyebut akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter.
"Terkait dengan penguatan untuk operasi moneter kami melalui intervensi penguatan khususnya untuk yang NDF di offshore market, akan ada pengecualian bagi bank khususnya untuk dealer utama, sehingga mereka bisa menjual NDF secara langsung," ujar Destry Damayanti Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), kemarin.
Selain itu, BI juga sepertinya semakin mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) di tengah ketidakpastian geopolitik, sebagai alat untuk menyerap likuiditas rupiah sekaligus mendukung stabilisasi nilai tukar.
"Sejak Februari secara bertahap terus melakukan penyesuaian pada suku bunga SRBI sehingga jadi instrumen yang memiliki daya tarik terhadap foreign inflow," kata Destry.
Memang pasar SRBI belakangan ini mendapat animo dari para investor karena tingkat imbal hasil yang tinggi. Melansir data Bloomberg, imbal hasil (yield) SRBI naik mencapai level tertingginya sejak Juli tahun lalu dan menyentuh 5,76% untuk tenor 12 bulan.
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/106911/rupiah-lesu-lagi-pagi-ini-sudah-di-atas-rp17-250-us/
BI sudah mati2an menjaga Rupiah, bahkan SRBI nya laku.
Fiskal masih saja sembrono, Surat Utang Negara malah dibuang asing.
Sudahlah, BI apa nggak lelah dijadiin samsak digebukin asing terus2an??
Ngehabisin Cadangan Devisa doank.
Pasrahkan saja Rupiah, cukup dikontrol saja penurunannya. Pasti turun kok.
ikurniawan75 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
111
3
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan