- Beranda
- Komunitas
- News
- Berita dan Politik
Awal Mula Fans Fanatik n Buzzer Jokowi Dijuluki Termul, Dipopulerkan Pertama dr Tifa
TS
aleksandronesta
Awal Mula Fans Fanatik n Buzzer Jokowi Dijuluki Termul, Dipopulerkan Pertama dr Tifa
Quote:
Awal Mula Fans Fanatik dan Buzzer Jokowi Dijuluki 'Termul', Dipopulerkan Pertama Kali oleh dr Tifa
Tayang: Minggu, 19 April 2026 17:12 WIB
Diperbarui: Minggu, 19 April 2026 17:14 WIB
Baca tanpa iklan
Editor: Feryanto Hadi

Istimewa
A-A+
TERMUL - Pegiat media sosial serta alumni Universitas Gajah Mada (UGM), Tifauzia Tyassuma atau Dr Tifa. Dirinya menyebutkan ada sebutan baru yang lebih hina dibandingkan Buzzer, yakni Termul.
Ringkasan Berita:
Pernyataan Jusuf Kalla soal polemik ijazah Jokowi kembali jadi sorotan usai klarifikasi tegas.
Ia menegaskan ucapannya hanya nasihat, bukan untuk memperkeruh atau menjatuhkan presiden.
Kalla sempat menyindir “termul”, sebut Jokowi jadi presiden karena peran kolektif, termasuk dirinya.
Ia tetap netral, minta isu diselesaikan berbasis fakta dan hindari kegaduhan publik.
WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA- Pernyataan Jusuf Kalla terkait polemik ijazah Joko Widodo kembali menjadi sorotan publik. Hal ini mencuat setelah Kalla menyampaikan klarifikasi di kediamannya, Sabtu (18/4/2026), dengan nada yang dinilai cukup tegas.
Dalam keterangannya, Kalla menegaskan bahwa pandangan yang ia sampaikan sebelumnya bukan untuk memperkeruh suasana. Ia menyebut pernyataannya semata sebagai bentuk nasihat agar polemik yang berkembang tidak semakin meluas.
Namun, suasana sempat memanas ketika Kalla menanggapi pihak-pihak yang dianggap salah memahami posisinya. Ia menilai ada narasi yang menyeret namanya seolah-olah ikut mendelegitimasi Presiden.
Dalam momen tersebut, Kalla melontarkan pernyataan yang menyita perhatian. Ia mengatakan, “Kasih tahu termul-termul itu, Jokowi jadi presiden karena saya,” dengan nada tegas di hadapan awak media.
Istilah “termul” sendiri dipakai sebagai sindiran untuk pihak yang dianggap terlalu membela Jokowi
Meski demikian, Kalla menegaskan bahwa pernyataan tersebut bukan bentuk klaim sepihak. I
a menjelaskan bahwa proses politik selalu melibatkan banyak pihak dan tidak bisa disederhanakan hanya pada satu peran saja.
Kalla juga menegaskan posisinya tetap netral dalam polemik ini.
Ia berharap persoalan dapat diselesaikan secara jernih berbasis fakta, serta mengimbau semua pihak untuk tidak memperkeruh situasi yang berpotensi mengganggu stabilitas publik.
close
Pause
00:00
00:00
Mute
Powered by
GliaStudios
Dipopulerkan dokter Tifa
Frasa Termul sendiri berarti Ternak Mulyono. Mulyono merujuk kepada nama lain Presiden ke-7 Joko Widodo
Joko Widodo memang pernah menggunakan nama Mulyono saat kecil.
Menurut sejumlah kisah yang beredar, ia sering sakit ketika masih bayi, sehingga orang tuanya mengganti namanya menjadi Joko Widodo. Dalam budaya Jawa, pergantian nama seperti ini dipercaya bisa membawa harapan agar anak tumbuh lebih sehat atau beruntung.
Namun, nama resmi yang digunakan dalam dokumen dan sepanjang karier publiknya adalah Joko Widodo.
Pegiat media sosial serta alumni Universitas Gajah Mada (UGM), Tifauzia Tyassuma atau Dr Tifa dalam sebuah kesempatan menyebut fans fanatik dan buzzer Jokowi sebagai 'Termul'
Berawal ketika dokter Tifa mempertanyakan keaslian ijazah kuliah Jokowi.
Sejak itu, dia menjadi sorotan publik.
Dalam setiap postingan, banyak akun yang dinilainya sebagai 'buzzer' itu berargumentasi, mulai dari menegaskan dirinya bukan peneliti hingga membela Jokowi.
Jengah dengan kelakuan para buzzer, Dr Tifa pun mennyebutkan ada istilah lebih hina dari seorang buzzer.
Istilah tersebut adalah Termul.
Dijelaskannya dalam postingannya pada Senin (18/5/2025), Termul adalah akronim dari Ternakan Si Mul.
Meski begitu, dirinya tidak menjelaskan lebih lanjut siapa sosok 'Mul' yang dimaksud.
Termul disebutkannya adalah hina dibandingkan dengan buzzer.
Sebab, Termul katanya diternak oleh seorang pembohong, perampok, dan pengecut.
"10 tahun ada julukan Buzzer, artinya Lalat pendengung. Kita tahu lalat itu makhluk penyantap sampah. Suka sekali hinggap di kotoran hewan dan menyantap apa yang ada di depannya. Jadi julukan itu sangat hina. Sangat menjijikkan," tulis Dr Tifa.
"Sekarang ada lagi yang lebih hina: TERMUL. Ternakan si Mul. Sudahlah hewan ternak. Diternak oleh seorang Pembohong, Perampok, dan Pengecut. Sudah mentok ini, tidak ada yang lebih hina dan lebih rendah dari julukan ini," bebernya.
Firdaus Bikin Organiasi Termul
Firdaus Oiwobo, pendukung Jokowi belum lama ini membuat organisasi baru untuk memberikan dukungan kepada Jokowi.
Organisasi pendukung Jokowi itu dinamakannya Termul, akronim dari Ternak Mulyono.
Hal tersebut disampaikan Firdaus Oiwobo lewat reels instagramnya @m.firdausoiwobo_sh pada Sabtu (23/8/2025).
Dalam postingannya, Firdaus Oiwobo mengutarakan alasan dirinya membentuk Termul untuk menghadapi Roy Suryo Cs.
Organisasi itu memiliki logo monyet berwarna cokelat yang melamaikan tangan dengan tulisan termul di bawahnya.
VIRAL MEDIA SOSIAL - Firdaus Oiwobo dan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). Dukung Jokowi dalam kasus dugana ijazah palsu, Firdaus Oiwobo membentuk organisasi baru yang dinamakannya Termul, akronim dari Ternak Mulyono. (Instagram @m.firdausoiwobo_sh)
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hari ini pada tanggal 23 Agustus 2025, saya resmi mendirikan organisasi Ternak Muliono atau Termul. Saya sebagai ketua umum dan pendirinya akan mendeklarasikan dalam waktu dekat," ungkap Firdaus Oiwobo dalam videonya.
"Tujuan saya mendirikan organisasi Termul ini atau Ternak Mulyono adalah untuk melawan dalil-dalil hukum dari Roy Suryo dan Rismon Cs yang didampingi oleh Ahmad Khozinudin dan kawan-kawan," bebernya.
Oleh karena itu, bagi masyarakat yeng mendukung Jokowi bisa bergabung dengan organisasi yang diinisiasinya itu.
Tujuannya untuk melawan Roy Suryo yang disebutnya 'Panci' dan Rismon Sianipar yang dijulukinya 'betok' itu.
"Bagi masyarakat yang mau bergabung, silakan mari kita lawan arus-arus negatif dari provokasi yang mereka lakukan," ungkap Firdaus Oiwobo.
"Saya, Doktor Kandidat Muhammad Firdaus Oiwobo SH, MH, CFLS, CLA, LCA, CMK sebagai Ketua Umum Termul atau Ternak Mulyono akan melawan Roy Suryo Panci, dan Rismon Betok. Terima kasih. Bravo!" tutupnya bersemangat.
Mengenal Istilah Buzzer
Buzzer dalam bahasa Indonesia berarti pendengung.
Sebutan ini disematkan kepada seseorang yang bekerja untuk mendengungkan (buzz) pesan atau pandangan tertentu mengenai persoalan, gagasan, atau merek, agar terlihat sealami mungkin.
Buzzer berupaya memengaruhi opini publik agar sejalan dengan pandangan yang ingin mereka lumrahkan.
Pengamat sosial berbeda pandangan mengenai penggunaan akun: beberapa berpandangan bahwa seorang buzzer adalah seseorang yang secara khusus menggunakan akun-akun bodong atau siluman (sockpuppet)
Sedangkan yang lain berpandangan bahwa seorang buzzer bisa juga menggunakan akun-akun pemengaruh (influencer), bahkan keduanya.
Terdapat perbedaan pandangan pula di antara pengamat sosial mengenai kompensasi atau upah atas 'kerjanya'.
Beberapa menganggap seseorang hanya bisa dikatakan buzzer jika mereka menerima imbalan berupa uang.
Pengamat sosial yang lain beranggapan bahwa imbalan bisa berupa dalam bentuk lain seperti jabatan, jejaring sosial dan lainnya.
Umumnya Buzzer yang terlibat dalam penyebaran pandangan yang menyangkut pemilu, partai politik, serta kebijakan pemerintah dan perusahaan yang berdampak pada publik.
Dikutip dari Jurnal Universitas Chicago yang disusun Tony Rudyansjah and Pradipa P. Rasidi, istilah Buzzer di Indonesia muncul ketika Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dinyatakan bersalah atas penistaan agama dan dihukum dua tahun penjara pada 9 Mei 2017.
Berita vonisnya muncul di salah satu stasiun televisi nasional.
Dalam hitungan menit, linimasa Twitter dipenuhi retweet dan tanggapan dari para informan kami.
Ekspresi sedih, marah, dan campuran keduanya membanjiri platform.
Sebagian menyalahkan pemerintah karena menggunakan hukum kolonial yang ketinggalan zaman, sebagian lagi menuding rival politik Ahok yang mendorong vonis ini.
Meskipun kebijakannya kerap keras terhadap kaum miskin perkotaan, Ahok dihormati kelas menengah Jakarta sebagai birokrat yang cemerlang.
Keriuhan dalam lini masa Twitter terasa nyata.
Beragam komentar saling serang dituliskan dalam topik 'Vonis Ahok'.
"Melalui kasus buzzer, kami meneliti bagaimana tubuh dikonstitusikan di dunia virtual, sekaligus menunjukkan bahwa praktik ngebuzz berakar pada bentuk budaya Indonesia yang telah ada. Teori awal tentang tubuh dan dunia virtual sering memisahkan secara tegas antara virtual dan fisik (contoh di Richardson & Harper 2002). Misalnya, Michael Heim (dalam Richardson & Harper 2002) menggambarkan dunia virtual sebagai ruang di mana 'pikiran terhubung dengan pikiran, tanpa keterbatasan tubuh fisik'," tulis jurnal.
"Namun, gagasan 'pemisahan tubuh' (disembodiment) ini justru berakar pada dualisme pikiran-tubuh ala Cartesian. Bagi Descartes, diri terwujud melalui pengakuan atas pikiran rasional, sementara tubuh hanyalah wadah. Teknologi digital kemudian memperkenalkan gagasan bahwa 'diri tidak hanya terpisah dari tubuh, tetapi juga tidak terbatas pada pikiran yang terkurung dalam tubuh' (Richardson & Harper 2002)," bebernya.
Pandangan Pengamat Media Sosial
Dikutip dari Kompas.com, Pengamat media sosial Enda Nasution mengungkapkan bahwa buzzer merupakan akun-akun di media sosial yang tidak mempunyai reputasi untuk dipertaruhkan.
"Buzzer lebih ke kelompok orang yang tidak jelas siapa identitasnya, lalu kemudian biasanya memiliki motif ideologis atau motif ekonomi di belakangnya, dan kemudian menyebarkan informasi," ujar Enda.
"Kan tidak ada konsekuensi hukum juga menurut saya, ketika ada orang yg mau mem-bully atau menyerang atau dianggap melanggar hukum, dia tinggal tutup aja akunnya atau menghapus akunnya atau dibiarkan saja hingga tidak aktif lagi," lanjut dia.
Selain itu, menurut Enda, bila ada akun yang memiliki nama yang jelas dan latar belakang yang jelas, ia menyebutnya dengan influencer.
"Jadi kalo misalnya akun tersebut memiliki nama dan real orangnya, contohnya Denny Siregar, atau selebritis atau profesi lainnya yang punya follower besar dan punya sikap atau preferensi untuk mendukung sesuatu atau tidak mendukung sesuatu," kata Enda.
Menurutnya, dengan begitu akun tersebut tidak bisa seenaknya mengunggah sesuatu, karena bila salah atau terdapat orang yang tidak suka, dapat menimbulkan risiko terhadap pemilik akun tersebut.
"Dalam kategori influencer, mereka memiliki nama asli dan latar belakang yang jelas, misalnya orang-orang partai, politisi, orang bisnis, atau pengamat-pengamat politik, kita tidak bisa menyebut mereka sebagai buzzer, mereka adalah influencer yang punya preferensi dukung mendukung sesuatu isu atau orang," ungkap dia.
Menurut dia, fenomena buzzer sebenarnya sama seperti ketika media sosial pertama kali dijadikan ajang untuk perang opini dan berusaha memenangkan opini publik.
"Nah, dalam alam demokratis yang sifatnya kontestasi seperti ini, maka kemudian siapa yang menang secara opini, maka dia juga yg dianggap lebih populer, akhirnya kehadiran buzzer mulai muncul di situ," terang dia.
Hal itu dikarenakan ruang-ruang publik sekarang tidak lagi dipenuhi media mainstream, tetapi juga media sosial yang sama-sama mempengaruhi dan berusaha meyakinkan publik terhadap satu atau lain isu.
"Jadi sebenarnya konsekuensi real dari kehadiran ruang publik dan juga sistem demokrasi, makanya muncul lah buzzer-buzzer ini, kelompok-kelompok yang berusaha untuk berperang atau memenangkan opini di ruang publik," kata dia lagi.
Enda juga mengatakan, buzzer ada yang dibayar dan ada juga yang hanya sukarelawan.
Bila dia (sukarelawan), biasanya karena motif ideologis, karena memang dia setuju dengan isu ini.
Sedangkan buzzer yang dibayar biasanya memiliki motif ekonomi, artinya mungkin selain mendukung, ia juga profesional di bidang tersebut sehingga mendapat bayaran.
Menurut Enda, kehadiran buzzer memiliki dampak di masyarakat.
"Dampaknya yakni kebingungan dari masyarakat, siapa yang harus dia percaya, walaupun ada sumber-sumber yg kredibel misal media yang kredibel, pemerintah juga masih sebagai sumber yang kredibel," jelas dia.
"Tapi di zaman media sosial seperti sekarang, informasi tidak dilihat dari sumbernya yang mana, bahkan seringkali enggak tahu sumbernya dari mana karena merupakan hasil copy paste dari WhatsApp, atau status Facebook dan sebagainya," lanjut dia.
Sehingga, yang terjadi adalah masyarakat harus menentukan sendiri harus percaya dengan siapa.
Kebanyakan masyarakat mempercayai sesuatu melalui referensi yang telah ia miliki sebelumnya.
"Bila dia merasa kelompok A itu jahat, maka informasi yang mendukung referensi itu, akan ia percaya dan akhirnya ia sebarkan, begitu juga sebaliknya," kata Enda.
Jadi, menurut Enda banyak informasi yang sering kali membuat kita hidup dalam ketidakpastian.
"Bila akan terus begini, kita akan terjebak dalam popularism artinya seolah-olah yang paling populer itu yang benar, padahal kebenaran itu bukan masalah populer atau tidak," tutup dia.
Quote:
Original Posted By bersinarcoin►semoga bu dokter cantik milf cindo teguh terus memegang kebenaran dan keadilan. RH selalu mendampingimu disaat susah dan senang
ROy Suryo juga akan selalu menjadi pahlawan kebenaran dan kejujuran
Berjuang sampai ketok palu pengadilan! yakinlah kebenaran akan menang!
ROy Suryo juga akan selalu menjadi pahlawan kebenaran dan kejujuran
Berjuang sampai ketok palu pengadilan! yakinlah kebenaran akan menang!
Budok nggak akan pernah takut
Karena Budok tak akan pernah sendirian
Walaupun dalam lapas pun
Karena masih ada pak sipir
0
228
Kutip
9
Balasan
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan