Kaskus

Sports

robblackfieldAvatar border
TS
robblackfield
Rivalitas Manchester United vs Liverpool, Indonesia pemenangnya
Rivalitas Manchester United vs Liverpool, Indonesia pemenangnya

Ada satu momen dalam hidup yang pasti gak terlupakan. Lo masih kecil, umur 8 atau 10 tahun, nonton TV malem-malem banget, kadang jam 1 atau 2 pagi, terus tiba-tiba lo ngerasa: “ini dia, ini lebih dari sekadar match.”

Buat jutaan orang, “tim gede” itu ya dua klub EPL: Manchester United sama Liverpool. Dua tim dari pulau yang jaraknya 12 ribu kilometer dari sini. Tapi di sepak bola, jarak tuh relatif.

Momentum di Indonesia

Pertelevisian Indonesia mulai nayangin bola Inggris pada akhir 1980-an. Awalnya cuma potongan-potongan, lama-lama makin sering, sampai akhirnya Liga Premier jadi bagian dari hidup kita.

Manchester United lagi booming di masa itu. Eric Cantona, David Beckham, Roy Keane di bawah komando Alex Ferguson pasti bikin lo pengen ngikutin tiap minggu. The Red Devils jadi simbol sepak bola kelas atas dan klub pertama yang bener-bener diikutin banyak orang di sini.

Liverpool dateng dengan cara beda. Lebih kalem, tapi lebih ngena. Lewat anthem-nya, lewat cerita masa lalu yang gila, lewat atmosfer Anfield yang kerasa bahkan dari layar TV. “You’ll Never Walk Alone” jadi lagu yang banyak dari kita hafal bahkan sebelum lagu Inggris lain, dan nyanyinya juga pake perasaan.

Dampak gede

Indonesia tuh bukan cuma market buat sepak bola Inggris, tapi juga salah satu basis paling gede!

Menurut Nielsen Sports, Liverpool punya lebih dari 66 juta fans di sini, hampir setara sama populasi Inggris. Komunitas BIG Reds di Jakarta yang resmi diakui Liverpool, bahkan punya ribuan member dan cabang di mana-mana.

Waktu Liverpool ke Jakarta tahun 2013 buat tur pramusim, lebih dari 80 ribu fans memenuhi GBK buat nonton mereka langsung.

Manchester United juga punya cerita sendiri. Menurut ranking popularitas YouGov, klub ini nomor satu di dunia, bukan di Inggris atau Eropa, tapi di Indonesia, dengan skor 30,1.

Sejarah rivalitas

Liverpool dan Manchester United itu mewakili dua kota industri besar di Inggris utara, yang udah saingan jauh sebelum orang kepikiran nendang bola. Liverpool itu kota pelabuhan, gerbang perdagangan, dan distribusi bahan mentah. Manchester itu pusat industri kapas dan ngolah semua yang masuk lewat pelabuhan itu. Mereka udah saingan dari abad ke-19 aja.

Keduanya ngebawa rivalitas dagang ke sepak bola profesional di lapangan hijau. Pertemuan resmi pertama mereka terjadi tanggal 28 April 1894. Itu pertandingan penentuan buat masuk divisi teratas. Liverpool jadi tuan rumah dan menang 2-0 atas Newton Heath di Ewood Park, klub yang nantinya jadi Manchester United. Dari situ lahir salah satu rivalitas terbesar di industri sepak bola.

Liverpool makin jaya pada era 60-an sampai 70-an. Bill Shankly bangun fondasinya, Bob Paisley lanjutin sampai jadi dinasti dengan 4 trofi Liga Champions dan 18 trofi liga Inggris sampai tahun 1990. Sedangkan Manchester United masih stuck di 7 koleksi trofi Liga Inggris, hingga akhirnya Alex Ferguson dateng tahun 1986 dan ngoceh: “Gue bakal jatohin Liverpool dari singgasana mereka.”

Itu beneran kejadian dari 1993 sampai 2013, Ferguson raih 2 trofi Liga Champions dan 13 trofi liga Inggris.

Liverpool bales dengan caranya sendiri. Juara Liga Champions 2005 bakal dikenang selamanya. Terus muncul era Jürgen Klopp, yang bikin mereka juara Liga Champions 2019 dan juara liga Inggris 2020, setelah puasa selama 30 tahun!

Itulah serunya rivalitas berumur 130 tahun lebih ini. Gak pernah selesai. Kalo salah satu ada yang juara, maka yang lain bangkit, dan sebaliknya. Panasnya rivalitas itu ikut kebawa sampe ke Indonesia.

Bikin begadang

Sebelom Manchester United lawan Liverpool, kafe dan warung udah pasang info dari jauh-jauh hari. Orang-orang dateng sejam atau dua jam sebelum kickoff, pake jersey, bawa syal, atau minimal pegang HP buat live bet.

Kickoff biasanya deket tengah malam, tapi gak ada yang cabut. Ini udah jadi ritual. Lo jadi bagian dari masyarakat global di momen itu. Jutaan orang di seluruh dunia nonton pertandingan yang sama dan masing-masing dukung timnya. Lo tim Old Trafford atau Anfield, gak ada istilah netral.

Tiap kali kedua tim ini masuk lapangan, semuanya kayak pause beberapa menit. Ini udah jadi bagian dari sejarah kita, dan ceritanya masih lanjut terus.

gunungeer21Avatar border
gunungeer21 memberi reputasi
1
18
1
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Urutan
Terbaru
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan