Kaskus

Hobby

gtrapumaAvatar border
TS
gtrapuma
Kesejahteraan Tertinggi
Kesejahteraan Tertinggi


Semua makhluk ingin hidupnya sejahtera. Namun, kesejahteraan yang melekat pada faktor-faktor yang tidak bisa dikendalikan itu rapuh. Faktor-faktor ini tidaklah abadi, kadang ada dan kadang tiada. Apabila terjadi ketergantungan terhadap hal tersebut, diri akan menderita jika tidak mendapatkannya. Seseorang juga akan selalu merasa ingin memiliki lebih banyak jika ia bergantung kepadanya.

Apabila kesejahteraan seseorang melekat hanya pada hartanya, jika hartanya habis, ia akan sengsara dan jika ia berhasil mengumpulkan harta sampai jumlah tertentu, ia akan selalu menginginkannya lagi dan lagi. Apabila kesejahteraan seseorang melekat hanya pada keluarganya, jika keluarganya meninggalkannya, ia akan sengsara. Apabila kesejahteraan seseorang melekat hanya pada emosinya, jika emosinya berubah, ia akan sengsara dan ia akan melakukan segala hal untuk mencari atau menghindari emosi tersebut walaupun dengan cara yang justru akan menjauhkannya dari kesejahteraan tertinggi. Perlu ada faktor-faktor pembawa kesejahteraan yang selalu ada. Faktor-faktor ini akan membawa seseorang kepada kesejahteraan tertinggi, yakni kesejahteraan internal.

Faktor pertama adalah kesadaran bahwa segala sesuatu adalah sementara, tidak abadi. Hanya Gusti Allah yang abadi. Dia meliputi segala sesuatu yang ada, termasuk subjek itu sendiri. Untuk apa bersedih, toh ini semua akan berakhir? Bahkan, perasaan sedih yang dirasakan subjek pun akan berakhir, setidaknya sampai dia mati. Setelah itu, Sang Subjek akan mati dan tidak merasakan apa-apa. Kesadaran ini akan membuat subjek tidak melekat terhadap apa pun, kecuali kesejahteraan tertinggi. Kesadaran ini dapat diraih melalui ilmu, sembahyang, dan meditasi yang mendalam.

Faktor kedua adalah cinta terhadap Allah. Wujud cinta yang paling utama adalah mencintai apa pun di dunia. Sebab, Allah meliputi segalanya. Kemana pun manusia melihat, wajah Allah selalu terlihat. Setiap orang akan selalu berada di dalam-Nya sehingga hal itu adalah hal yang baik karena mereka berada di dalam objek yang dicintai-Nya.

Faktor ketiga adalah berbuat kebajikan tetapi tidak melekat terhadap hasil dari kebajikan tersebut. Berbuat baik adalah berbuat sesuatu yang dapat meningkatkan well-being diri sendiri dan sebanyak mungkin orang sesuai keadaan yang berlaku saat itu. Perbuatan baik ini bisa dilakukan sesulit apa pun keadaan subjek, baik keadaan eksternal maupun internalnya. Di tengah keterbatasan, subjek sebisa mungkin memilih tindakan yang paling baik. Di satu sisi, keterbatasan bisa mengakibatkan tindakan yang diniatkan untuk meningkatkan well-being menjadi sebaliknya. Tidak perlu melekat pada hasil, tetapi introspeksi terhadap kesalahan tindakan adalah hal yang harus dilakukan. Cukup sampai di situ. Jangan sampai menyesalinya sepanjang waktu sehingga menghasilkan perbuatan yang tidak baik. Berpikir secara logis, rasional, dan ilmiah; kemampuan mengendalikan diri; dan empati diperlukan supaya subjek menjadi bijaksana sehingga mampu berbuat kebajikan apa pun keadaannya.

Faktor keempat adalah bersahabat dengan penderitaan. Orang yang sudah terbiasa dengan kesenangan akan merasa menderita ketika kesenangan itu tiada. Orang yang sudah terbiasa dengan penderitaan, akan bisa menolerir penderitaan tersebut. Ia tidak akan atau sedikit menderita jika penderitaan datang. Salah satu cara untuk bersahabat dengan penderitaan adalah berpuasa.

Apabila seseorang berhasil melakukan ini, ia akan senantiasa sejahtera. Semoga semua makhluk berbahagia dan damai sejahtera.
0
10
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Komunitas Pilihan